Tarawih (malam ke-17) : Tertib Shalat di Tempat yang Tertib 17 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
3 comments
Tempat : Masjid At Tanwir, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan , maka , sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Al Baqarah : 185
Malam ini adalah malam ke-17 Ramadhan. Bagi muslim Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara, malam ini dikenal sebagai malam Nuzulul Quran. Kata ‘nuzulul’ berasal dari ‘nuzul’ yang berarti ‘penurunan’. Nuzulul Quran sering dimaknakan sebagai ‘hari turunnya Al Quran’. Banyak pihak yang menyangsikan apakah benar Al Quran diturunkan pada tanggal itu. Padahal nyata disebutkan dalam kitab bahwa Al Quran justru diturunkan pada malam Lailatul Qadar.
Al Quran memang diturunkan kepada Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril tidak sekaligus, tetapi dalam beberapa fase. Ada dua keterangan di Al Quran yang merujuk kepada fase kapan diturunkannya Al Quran, yaitu Surah Al-Qadr : 1 dan Surah Al-Baqarah : 185. Namun, ada keterangan lain yang menyebutkan salah satu fase turunnya Al Quran adalah pada tanggal 17 Ramadhan.
Keyakinan bahwa Al Quran juga diturunkan pada 17 Ramadhan itu berlandaskan pada firman Allah di Surah Al Anfal : 41, yang berbunyi “Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu hari bertemunya dua pasukan.” Para mufassir dan sebagian besar ulama konservatif memaknai ‘hari Furqan‘ sebagai hari pecahnya Perang Badar, yaitu pada 17 Ramadhan.
(Ada cerita dari Nurcholis Madjid soal 17 Ramadhan. Baca lagi lanjutannya …)
Tarawih (malam ke-16) : Memberikan yang Terbaik untuk Allah yang Baik 16 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
2 comments
Tempat : Masjid Al Ikhwan, Jalan Veteran, Banjarmasin
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap mesjid , makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Al Ara’af : 31
Sejauh mana ummat menyemarakkan Ramadhan? Banyak hal yang bisa menjadi ukuran. Yang bisa terlihat adalah dipenuhinya masjid dan mushala oleh ummat untuk melakukan peribadatan malam. Begitu juga dengan makin gemuruhnya suara orang-orang bertadarus Al Quran dari menara-menara masjid. Sungguh sebuah suasana yang hanya hadir selama satu bulan dari dua belas bulan tiap tahunnya. Dan hanya orang-orang beriman yang mampu menjalani dan menikmati hari-hari terindah di bulan penuh rahmah ini.
Allah memang mengkhususkan bulan Ramadhan ini hanya untuk orang-orang yang beriman. Bulan Ramadhan yang di dalamnya ada kewajiban berpuasa. Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Tidak mudah untuk menjalankan kewajiban dan segala amalan yang diperintahkan. Wajar bila bulan penuh ampunan ini hanya bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang beriman. Firman Allah mempertegas hal ini dengan mengawali Surah Al Baqarah : 183 yang membicarakan kewajiban berpuasa dengan frase pembuka “Hai orang-orang yang beriman, …”
Ada hal lain yang juga membuat semarak Ramadhan yang kutemukan setiap hendak melakukan peribadatan malam di setiap masjid yang kukunjungi. Aku melihat kegembiraan terpancar di wajah ummat ketika memasuki lingkungan masjid. Kegembiraan itu juga terpancar dari pakaian yang dikenakannya. Kaum hawa mengenakan jilbab dan pakaian panjang. Sebagian sudah mengenakan mukena bagian atas tubuhnya (barangkali sejak rumah). Sementara, kaum adam, umumnya mengenakan sarung dan baju koko.
(Wah, betul juga ke masjid kudu pakaian yang indah-indah. Trus …)
Tarawih (malam ke-15) : Memakmurkan Masjid, Mengagungkan Al Khaliq 15 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
1 comment so far
Tempat : Masjid Jami Al Amin, Jalan Banua Anyar, Banjarmasin
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
At Taubah : 19
Banua Anyar, sebuah kampung di tepian Sungai Martapura, memiliki sebuah masjid yang cukup besar. Nama masjid itu adalah Masjid Jami Al Amin. Tidak ada catatan yang jelas sejak kapan masjid ini dibangun. Namun, melihat ada tambahan istilah Jami di belakang kata masjid ini menjadi indikasi bahwa usia masjid ini cukup tua. Barangkali, sama tuanya dengan usia kampung tempat masjid ini berdiri, Banua Anyar. Hal ini ditambah lagi dengan bahan bangunan asli masjid tersebut yang keseluruhannya terbuat dari kayu ulin.
Dari mulut ke mulut diperoleh informasi bahwa Banua Anyar merupakan sebuah daerah baru pada masa Banjarmasin tempo doeloe. Kehadiran para pendatang dari Negara, Hulu Sungai Utara, yang kebanyakan pedagang, membuat komunitas baru di ujung Kampung Sungai Bilu itu. Daerah tersebut kemudian dijadikan pengembangan pembangunan kota Banjarmasin saat itu sehingga disebut Kampung Pangambangan. Dan komunitas baru penduduk pendatang itu menyebut daerahnya sebagai Banua Anyar.
Sebagai sebuah daerah baru yang penduduknya beragama Islam, ada kebutuhan untuk membangun sebuah tempat ibadah. Seperti sejarah masjid-masjid di Kalimantan Selatan dan sistem budaya masyarakatnya yang tinggal di tepian sungai, dibangunlah juga sebuah masjid di tepi sungai . Begitulah asal muasal berdirinya Masjid Jami Al Amin. Letak masjid ini tak jauh berseberangan sungai dengan masjid pendahulunya, yaitu Masjid Jami Sungai Jingah, yang bangunan asalnya juga berdiri di tepi sungai.
(Kok banyak masjid didirikan pada zaman dulu? Teruskan baca untuk bertemu jawabannya)
Tarawih (malam ke-14) : Saat Puasa dan Al Quran Memberi Safaat 14 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
5 comments
Tempat : Masjid As Syafaah, Jalan Kuripan Banjarmasin
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
Huud : 114
Sebuah yang hadist yang jarang kudengar dan ternyata maknanya bagiku sangat luar biasa aku dapatkan saat shalat Tarawih malam ke-14 tadi. Hadist itu disampaikan dalam ceramah singkat jeda antara Tarawih dan Witir di Masjid As Syafaah, Jalan Kuripan Banjarmasin. Uniknya, ceramah yang berlangsung 5 menit itu dan hanya membacakan hadist tersebut beserta tafsirnya disampaikan oleh salah satu jamaah yang cukup berumur dan duduk di shaf depan sambil tetap duduk membelakangi jamaah di belakangnya.
Hadist yang diriwayatkan Ahmad, Al Hakim, Abu Nu’aim itu menyatakan Rasulullah SAW pernah bersabda: “Puasa dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata: “Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, berilah dia syafaat karenaku, dan Al Qur’an pun berkata: “Aku telah menghalanginya dari tidur dimalan hari, berilah dia syafaat karenaku.” Maka keduanya memberi syafaat.”
Luar biasa hadist itu. Bagiku ucapan Rasulullah itu makin memberi bukti bahwa Ramadhan itu benar-benar bulan luar biasa. Pahala Ramadhan bukan hanya didapatkan langsung dari Allah SWT, tetapi juga kumulatif dari berbagai komponen, antara lain safaat dari puasa sebagai ibadah yang dilakukan dan Al Quran sebagai kitab yang dibaca dalam bulan Ramadhan ini. Betapa Allah sebenarnya memberikan otoritas kepada banyak pihak untuk memberi reward kepada ummatnya yang berpuasa.
(Trus, apa lagi yang harus dipertimbangkan? Baca aja lagi …)
Tarawih (malam ke-13) : Masjid-Masjid yang Dirindukan 13 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
1 comment so far
Tempat : Masjid Muhammadiyah, jalan Kelayan B Muara, Banjarmasin
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
At Taubah : 18
Masjid memang bisa membuat seseorang rindu untuk mengunjunginya. Rindu sebagai tempat shalat. Rindu sebagai tempat i’tikaf karena ruangannya yang adem. Rindu sebagai tempat janji untuk bertemu dan berbincang dengan sahabat dan kerabat karena tempatnya yang strategis. Yang pasti rindu sebagai tempat untuk menumpahkan curhat dengan Al Khalik.
Salah satu masjid yang aku rindukan adalah Masjid Muhammadiyah, Jalan Kelayan B Muara, Banjarmasin. Secara fisik, bangunan masjid ini biasa saja dan terkesan sangat sederhana. Bangunannnya seperti sebuah kubus besar. Sebagian besar bangunannya berdiri di atas air, tepatnya di sisi Sungai Kelayan. Karena lahan yang terbatas itulah, bangunan masjid ini tak bisa berkembang. Halaman pun hanya selebar 2 meter bersisian dengan jalan.
Ada banyak alasan yang membuatku selalu rindu untuk mengunjungi masjid ini, paling tidak setahun sekali. Pertama, masa kecil sampai dewasaku yang tinggal di kampung itu dan pendidikan dasar di Muhammadiyah menjadikan aku sering memanfaatkan masjid itu untuk shalat. Jika tiba bulan Ramadhan semacam ini, aku kecil sering jalan kaki sekitar 2 km dari rumah hanya untuk Tarawih di sini. Shalat masa kecilku di masjid ini membuatku bisa bertemu teman-teman.
Tarawih (malam ke-12) : Mengagungkan Ramadhan di Masjid yang Agung 12 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
1 comment so far
Tempat : Masjid Agung Miftahul Ikhsan, Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin.
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan , maka , sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Al Baqarah : 185
Ramadhan adalah sebuah nikmat yang agung dari Allah SWT jika kita mengapresiasinya. Jika tidak, Ramadhan ini akan berlalu begitu saja tanpa sempat memetik manfaat apa pun. Rasulullah pernah berseloroh, “Jika manusia mengetahui apa itu bulan Ramadhan, niscaya ummatku akan berharap agar setahun penuh menjadi bulan Ramadhan.” Tentu ada rahasia besar di balik keagungan Ramadhan sehingga Rasulullah berani menyatakan itu. Beruntunglah manusia yang mengetahui rahasia itu.
Malam ke-12 Ramadhan ini, di teras sebuah masjid yang terletak di persimpangan pusat kota Banjarmasin, aku sempat berpikir. Jika seluruh ummat Islam kota ini sangat memahami keagungan Ramadhan, pasti mereka akan menghentikan kegiatan duniawinya ketika tiba waktu shalat. Lalu lintas simpang empat jalan di depan masjid ini pasti tak seramai ini. Setiap orang akan menghentikan langkah, menepikan motor dan mobilnya, segera mengambil air wudhu, dan berdiri takjim siap mendirikan shalat. Subhannallah!
Di teras masjid ini aku juga sempat berilusi bahwa tiba-tiba seluruh tempat, baik di lantai satu maupun dua masjid ini seperti tak tersisa sejengkal pun. Semuanya dipenuhi oleh makhluk-makhluk Allah yang bersegera mengangkat takbir menghadap-Nya. Aku lempar pandang ke halaman yang cukup luas, ternyata juga sudah dijejali jamaah bershaf-shaf yang siap menjadi makmum peribadatan malam Ramadhan ini. Sayangnya, itu hanya ilusiku. Mungkin suatu saat benar-benar akan jadi kenyataan, jika semua ummat memahami keagungan bulan penuh berkah ini.
Tarawih (malam ke-11) : Tuhan Ada di Mana-Mana 11 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
7 comments
Tempat : Masjid Iqra bismirabbikallaji halaq, jalan Brigjend H. Hasan Basry, Banjarmasin
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al Muzzammi : 20
Tak terasa sudah sepuluh malam pertama telah terlewati. Banyak hal yang tentunya harus dievaluasi apa saja yang sudah dilakukan sepanjang sepuluh malam berlalu. Apakah kita sudah betul-betul meraih rahmat sebanyak-banyaknya seperti yang dijanjikan Rasulullah SWA pada sepuluh malam pertama Ramadhan? Apakah amalan-amalan sunnah di luar kewajiban berpuasa dan shalat lima waktu telah mewarnai hari-hari kita di sepertiga pertama Ramadhan? Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung.
Bertemu dengan malam ke-11 Ramadhan ini berati kita mulai memasuki sepuluh malam kedua. Rasulullah menjanjikan bahwa Allah akan menurunkan ampunan atas segala dosa dan kesalahan makhluknya. Ampunan yang tentunya hanya diberikan sebagai balasan dan penghormatan atas puasa dan amalan yang telah dilakukan pada sepuluh malam sebelumnya. Jika kita termasuk orang yang pantas untuk itu, maka ini kesempatan terbaik untuk habis-habisan menyesali dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan. Percayalah, Allah maha pengampun!
Itulah hal-hal yang disampaikan oleh Ustaz Abd. Hamid Masdar, penceramah yang bertindak sekaligus imam Tarawih pada malam ke-11 yang aku ikuti di Masjid Iqra bismirabbikallaji halaq. Ceramah yang hanya didengar sekitar 20 jamaah pria dan 25 jamaah wanita ini terasa berkesan karena kita diingatkan akan dua hal. Pertama, mengevaluasi puasa kita pada sepuluh malam pertama. Kedua, menyiapkan amaliah Ramadhan di sepuluh hari kedua ke depan. Sekarang, apakah kita memahami pesan berharga itu?
Tarawih (malam ke-10) : Menikmati Firman saat Ramadhan di Bawah Hujan 10 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
4 comments
Tempat : Masjid Mujahiddin, Jalan A. Yani, Gambut, Kabupaten Banjar
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Al Baqarah : 129
Apa yang paling dirindukan dan dinikmati pada bulan Ramadhan selain saat sahur dan berbuka? Jawabnya adalah tadarus Al Quran. Jika pada hari-hari biasa kita biasanya membaca Al Quran sendiri-sendiri, maka pada bulan penuh berkah ini kita banyak menemukan sekelompok orang bertadarus membaca Al Quran pada malam sesudah Tarawih yang dilaksanakan di mushala dan masjid. Sungguh sebuah kenikmatan jika bisa menyimaknya, apalagi ikut mengumandangkan ayat-ayat Tuhan itu.
Satu hal lagi yang tidak kita temukan di luar Ramadhan adalah adanya kebiasaan membaca surah-surah dalam Al Quran pada shalat Tarawih yang mencapai satu juz setiap malamnya sehingga mampu khatam Quran ketika Ramadhan usai. Ada beberapa masjid yang secara khusus memprogramkan shalat Tarawih dengan bacaan satu juz. Untuk itu, biasanya panitia Tamir Ramadhan masjid setempat menyiapkan imam-imam yang hapal Quran. Salah satunya adalah Masjid Mujahiddin, yang terletak di tepi jalan A. Yani, Gambut, Kabupaten Banjar.
Masjid yang sangat besar ini tampaknya juga menargetkan untuk khatam Quran di Ramadhan tahun ini. Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini dimulai. Dua tahun yang lalu aku juga sempat Tarawih di masjid ini, tetapi rasanya belum menggunakan bacaan 1 juz dalam satu kali Tarawih. Malam ke-10 ini, di bawah hujan, aku kembali memilih masjid ini. Ada kenangan saat beberapa tahun yang lalu, ketika pengajian guru sekumpul masih aktif di masa hidup beliau, aku selalu shalat Isya di masjid ini sepulang dari pengajian sekumpul yang biasanya berakhir usai Magrib.
(Bagaimana masjid itu pada malam ke-10? Lanjutkan bacanya …)
Tarawih (malam ke-9) : Indahnya Shalat, Indahnya Bershaf-shaf 9 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
2 comments
Tempat : Masjid Ar Rahim, Jalan Sultan Adam - Perumnas, Banjarmasin
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Ash Shaff : 4
Kewajiban seorang imam shalat ketika akan memulai shalat adalah mengingatkan makmum untuk merapikan shaf agar menuju kepada kesempurnaan shalat. Hal ini pasti kita temukan jika mengikuti kegiatan shalat berjamaan di mana pun. Hanya yang jadi pertanyaan, apakah setelah itu kita selaku makmum benar-benar mengatur dan merapatkan shaf antara kita? Sebagian yang aku lihat hal tersebut kebanyakan hanya terjadi dan dilakukan oleh shaf terdepan tepat di belakang imam. Sementara shaf-shaf seterusnya tetap saja tidak rapat.
Keharusan merapatkan shaf sebenarnya merupakan perintah Rasulullah SAW. Ada banyak riwayat yang menggambarkan betapa Rasulullah sangat memperhatikan hal tersebut. Bukhari dan Muslim meriwayatkan pada suatu hari, ketika Rasulullah akan mengimami kami shalat dan sudah hampir akan bertakbir, beliau melihat seorang laki-laki (dari kami) yang tidak meluruskan shafnya karena memajukan dadanya dari yang ada di sebelahnya di shaf itu. Ketika itulah Rasulullah menegur : Kamu harus benar-benar meluruskan shafmu, atau (bila tidak;) maka Allah akan menjadikan hati-hatimu berselisih.
Rasululullah memang tauladan yang baik bagaimana meluruskan shaf yang sebenarnya. Muslim mengibaratkan bahwa Rasulullah biasa meluruskan shaf shalat kami, seakan-akan beliau meluruskan busur panah yang lurus, sehingga beliau tahu bahwa kami telah memahami perintah beliau untuk meluruskan dan merapatkan shaf itu. Maka itulah dalam sebuah Hadis riwayat Anas bin Malik disebutkan Rasulullah pernah bersabda: Luruskanlah barisan kalian. Sesungguhnya kelurusan barisan salat termasuk bagian dari kesempurnaan salat.
(Trus, kenapa masih banyak yang ga meluruskan shaf-nya? Silakan lanjut …)
Tarawih (malam ke-8) : Memuliakan Ramadhan di Masjid yang Dimuliakan 8 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
1 comment so far
Tempat : Masjid Baiturrahim, Jalan A. Yani KM 3., Banjarmasin
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,
An Nuur : 36
Apakah yang paling menarik untuk dinikmati dari sebuah bangunan masjid? Tentu banyak. Bisa bentuk bangunannya, bisa arsitekturnya, bisa interior dan eksteriornya, bisa fasilitas yang melengkapinya, bisa mihrabnya, atau bisa pula sekadar menara dan kubahnya. Apa pun, sebagai sebuah bangunan, mestinya masjid punya daya tarik tersendiri. Paling tidak, ada sesuatu dari masjid tersebut yang bisa menarik perhatian jamaah.
Seperti kita ketahui, zaman Rasulullah masjid bukanlah sekadar sebagai tempat ibadah. Masjid dibangun tak sekadar memenuhi fungsi sebagai tempat shalat. Masjid juga sebagai wadah untuk berdakwah, majelis ilmu, rapat-rapat yang menyangkut hajat hidup ummat, pusat informasi Negara untuk masyarakat, bahkan pada masanya juga dipakai sebagai tempat untuk mengadili sebuah perkara.. Dengan fungsi yang beragam, pembangunan sebuah masjid harulah dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Dalam pengalamanku shalat tarawih berkeliling selama dua Ramadhan lewat sampai memasuki Ramadhan tahun ke-3 ini, aku mempunyai catatan tersendiri bagaimana tampilan masjid-masjid yang kukunjungi itu dikelola. Terlepas dari cara dan gaya peribadatan yang dilakukan di masjid-masjid tersebut, aku menangkap bahwa tak semua masjid-masjid itu dikelola dengan serius dan professional. Sebagian kecil dikelola asal gugur kewajiban sekadar berfungsinya masjid sebagai tempat shalat.
Tarawih (malam ke-7) : Bulan Tuhan ‘Cuci Gudang’ 7 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
3 comments
Tempat : Masjid Al Mujahiddin, Jalan Belitung Laut, Banjarmasin
Dan , ketika Kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
Al Baqarah : 125
Malam ke-7 ini aku memilih masjid di bawah binaan Muhammadiyah sebagai tempat shalat malam. Ada banyak masjid di bawah naungan organisasi keagamaan tersebut, salah satunya adalah Masjid Al Mujahiddin yang terletak di jalan Belitung. Secara fisik, masjid ini termasuk yang paling luas ruangannya dibanding masjid binaan Muhammadiyah lainnya. Bentuk masjid ini memanjang karena ada tambahan pengembangan pembangunan di belakang yang besar dan luasnya sama dengan bangunan awal.
Aku sudah lama mengenal Muhammadiyah, baik sebagai sebuah organisasi maupun tempat beribadah. Sejak kecil aku sudah akrab karena selama 6 tahun dididik di sebuah SD Muhammadiyah jalan K.S. Tubun Banjarmasin antara tahun 1974 s.d. 1980. Aku tidak tahu alasan orang tuaku menyekolahkan aku di SD tersebut yang jaraknya 3 kilo dari rumahku. Padahah masih ada beberapa SD yang lebih dekat. Padahal setahuku juga orang tuaku sendiri termasuk penganut Islam kaum Nahdiyyin.
Hubungan dengan Muhammadiyah semakin dekat ketika aku bergabung dan menjadi Angkatan I Remaja Masjid Al Jihad, di jalan Cempaka Raya. Di organisasi inilah aku makin mengenal lagi tokoh-tokoh dan berbagai hal mengenai Muhammadiyah. Salah satunya adalah mengapa shalat Tarawih yang dilaksanakan Muhamadiyah itu hanya 8 rakaat dua kali salam. Bagi jiwaku yang labil saat itu tentu shalat Tarawih mengikuti Muhammadiyah tidak terlalu melelahkan karena hanya 8 rakaat dan 3 witir.
(Lantas apa alasanku shalat di masjid ini? Baca aja terus …)
Tarawih (malam ke-6) : Masjid adalah Sekolah Sesungguhnya 6 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
2 comments
Tempat : Masjid Jami Teluk Tiram, Jalan Teluk Tiram Darat, Banjarmasin
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.
Ibrahim : 40
Bulan Ramadhan bulan kegembiraan ummat Islam. Nabi pernah menyatakan bahwa siapa yang hatinya gembira dalam menyambut bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya atas api neraka. Anak-anak adalah salah satu yang merasakan kegembiraan itu. Keriangan mereka terasa saat sahur, berbuka, dan tarawih. Dengan keterbatasan pemahaman tentang puasa dan Ramadhan, tak dipungkiri anak-anak adalah kelompok ummat yang ikut memenuhi masjid dan mushala saat peribadatan malam. Hal ini tentu sesuatu yang baik, mengingat anak-anak adalah penerus dakwah dan eksistensi Islam mendatang.
Di samping sajadah tempatku shalat Tarawih di Masjid Jami Teluk Tiram malam ke-6 Ramadhan ada seorang anak kecil berusia sekitar 6-7 tahun. Tampaknya dia bersama ayah yang berada di sampingnya. Di ujung sajadahnya terletak buku kegiatan Ramadhan yang agak lecek karena sering dipegang. Pada bulan Ramadhan semacam ini biasanya sekolah memberi tugas kepada siswanya untuk mencatat dan melaporkan aktivitas shalatnya selama Ramadhan. Anak di sampingku ini mungkin salah satu siswa tersebut.
Anak ini menarik perhatianku bukan karena ribut atau melakukan gerakan yang mengganggu jamaah lain, tetapi reaksinya setiap usai dua rakaat shalat. Anak itu selalu mengangkat kedua tangannya dan menjetikkan jarinya untuk menghitung jumlah rakaat yang sudah dan belum dilakukan. Uniknya, setelah menghitung sendiri, dia menginformasikan itu kepada temannya yang berada 3 shaf di belakangnya. Kadang mereka berbantahan dan konfirmasi dengan menggerakkan mulut tanpa suara. Selalu begitu, selalu menghitung.

















































