jump to navigation

SMS dan Kearifan Hati 13 Februari 2008

Posted by zulfaisalputera in Catatanku, Komunikasi.
Tags:
trackback

SMS1Setiap hari handphone-ku menerima hampir puluhan SMS (Surat Mini Sekali). Pengirimnya bisa dari mana saja. Kadang teman-teman yang jauh di seberang pulau. Kadang dari sahabat dan kerabat dekat. Kadang dari teman sekerja. Bisa pula dari siswa-siswaku. Isinya beragam. Kebanyakan sekadar informasi dan pertanyaan yang memerlukan jawaban. Sekali waktu isi curahan hati yang perlu dibantu atau sekadar minta dibaca.

 

SMS memang media komunikasi yang istimewa. Selain murah dan cepat, SMS juga sangat personal. Apa pun isinya, pastilah terbatas hanya diketahui antara pengirim dan penerima. Aku biasanya tak langsung menghapus isi SMS itu setelah dibaca. Kadang baru aku hapus jika sudah dijawab atau ditanggapi. Namun, ada juga SMS yang tak kuhapus berhari-hari, bahkan memakan hitungan minggu dan bulan. Biasanya SMS yang isinya begitu penting, lebih-lebih yang berkesan bagiku.

 

Dua hari terakhir ini, sambil menyela di saat istirahat kerja atau menjelang tidur malam, aku membuka kembali halaman demi halaman arsip SMS yang masih tersimpan di-inbox hp-ku. Beberapa yang kuanggap sudah kadaluarsa aku hapus. Namun, masih ada beberapa SMS yang setelah kubaca kembali tak kuhapus. Sebagian karena berisi info yang masih kuperlukan, sebagian lagi karena isinya yang agak unik.

 

SMS 2Keunikan SMS itu bisa karena berbagai hal. Bisa karena isinya sangat menyentuk lubuk hatiku yang paling dalam. Bisa juga karena kekonyolan ide yang disampaikan pengirimnya. Ada juga karena isinya bisa menjadi cermin bagi perjalanan hidup. Selebihnya karena pilihan kata yang ditulis pengirimnya sangat indah.

 

SMS berikut ini, misalnya, sangat berkesan bagiku. SMS masuk ke hp-ku, sore  pukul 06.06, tanggal 12 Pebruari tadi. Datang dari seorang ibu pekerja seni sekaligus pegawai di sebuah lembaga unit pelaksana kebudayaan di kotaku. Beliau bukan teman sejawatku, tapi aku sering terlibat dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan bersamanya, terutama yang ditangani oleh suaminya yang kebetulan budayawan dan pejabat di sebuah dinas kebudayaan.

 

Bunyi SMS ibu itu demikian :

 

As.W.W. 1 Peb 08 yll sy sdh purnatugas. Sy menyadari kl tgs dan pengabdian ini msh bnyk kekurangannya dan tak mngkin dpt smpurna krn kterbatasn yg ada pd diri sy. Dlm kesempatan ini sy mohon pamit dan maaf kpd semua rekan kerja smg prsahabatan yg kt bina slm ini ttp abadi smp akhir hayat amin.

Aku tahu SMS itu pasti bukan hanya dikirimkan padaku, tapi dikirim secara massal. Sebuah SMS pamit dari seseorang yang telah menyelesaikan masa tugasnya sebagai seorang pegawai. Dengan bahasa yang singkat dan sederhana, SMS yang ditujukan kepada semua sahabat dan rekan kerja ini telah mewakili ketulusan hati si pengirim yang memohon maaf dan tetap berharap persahabatan tetap terbina.

 

SMS berikutnya datang dari seorang sejawat kerjaku, perempuan. Dia bertugas di salah satu kabupaten di propinsiku. Kuterima 2 Desember 2007, pukul 06.39. pagi. Bunyinya demikian:

 

Ass.Wr.Wb? Apa kbr bp? Klo xxx dsini suntuk skl&sdh  ta tahan krja dtmpt ni. Sy ingin skl pndah kbjm tp saratx hrs kawin dg org bjm&pns jg. Bp tolg crikn sy suami!Bls

 

SMS tersebut agak menyentuh perasaan tapi sekaligus mengagetkan. Menyentuh karena membayangkan bagaimana situasi hati sahabatku itu yang sudah sangat jenuh bekerja di sebuah tempat yang jauh. Kondisi tersebut membulatkan keinginannya untuk berusaha pindah ke ibukota propinsi. Namun, ada syarat untuk bisa pindah, yaitu bersuami dengan orang yang tinggal di kota tujuan dan berstatus PNS agar bisa dijadikan alasan pindah karena ikut suami.

 

Yang mengagetkan adalah kalimat terakhir SMS itu, yaitu permintaan tolong untuk dicarikan suami. Inikan bukan persoalan mudah. Awalnya aku menganggap permintaan itu hanya keisengan belaka dari si pengirim yang sedang badmood. Belakangan, temanku itu menemuiku saat libur tadi dan menyatakan bahwa keinginannya itu serius sambil menagihku mana calon suami yang dipesannya. Memang cari suami gampang!

 

Ada lagi SMS yang sangat sensitif dari seorang teman di sebuah kota yang jauh di seberang sana. Dia seorang ibu satu anak yang sering curhat denganku lewat SMS. Ibu ini orangnya sangat emosional dan cenderung meledak-ledak jika menghadapi masalah. SMS-nya kuterima tanggal 17 Januari 2008, pukul 23.12. Anda tidak perlu kaget membacanya. Bunyinya begini,

 

Apa mnurutmu aku trmasuk istri yg tdk bs memuaskn suaminya di ranjang?

 

Temanku itu sudah sering membuat SMS yang sensasional semacam itu. Jadi, aku tidak kaget lagi. Secara logika tentu aku tidak bisa menjawab, dengan jujur sekali pun, apa dia memang istri semacam itu atau pun tidak. Yang pasti, tentu ada masalah besar yang sedang dihadapi temanku itu.terhadap kehidupan rumah tangganya. SMS itu baru kutanggapi esok malamnya. Aku Cuma menulis: Sudah ketemu jwbnnya? Beberapa detik kemudian dia membalas SMS-ku. Isinya tak perlu kutulis lagi di sini!

 

Beberapa saat setelah mantan Presiden RI Soeharto wafat, aku menerima SMS dari seorang teman di sebuah kota budaya. Temanku ini seorang sastrawan yang agak vokal terhadap rezim. SMS-nya kuterima pukul 02.45, Minggu, 27 Januari 2008.  Bunyinya begini,

 

Harto akan tuntut Tuhan lewat Mahkamah Agung karena Tuhan tak adil. Dulu dia gampang bikin mati orang. Sekarang dia mau mati saja dibikin begitu sulit.

 

SMS semacam ini sifatnya hanya sekadar informasi. Dibaca sekadar untuk diketahui. Aku sengaja tidak menghapus SMS ini karena aku merasa punya kesamaan pemikiran dengan penulisnya. Terlepas dari etika dan kepatutan atas penyampaian SMS itu disaat Soeharto baru saja meregang ajal, aku sesungguhnya sangat kasihan dengan penguasa 32 tahun negeri ini. Saat Pak Harto masih sakit berhari-hari dengan dibantu alat-alat yang bisa memperpanjang harapan hidup, aku bersungut dalam hati: kasih betul beliau, mau mati saja susah!

 

Terakhir, SMS dari temanku di bumi priangan. Dia teman se kampungku yang merantau di pulan seberang. Sehari-harinya bekerja di sebuah bank swasta besar. Tanggal 10 Pebruari 2008, pukul 10.44 malam, dia mengirim SMS padaku. Isinya,

 

BL INI USIAKU MMSKI 50 TH EMAS. TOLNG SMS K 08132014xxxx & KRMKN UCAPN BRUPA PUISI, KT MUTIARA & KOMENTAR KWN2 U/DMUAT D BUKU PUISI ‘LANKAP SENJA.”BY BUNG XXXX.

 

Ada dua hal yang kutangkap dari SMS ini. Pertama, bagaimana kesiapan dan kesadaran dia akan usianya yang sebentar lagi masuk setengah abad. Sangat banyak orang yang melewati begitu saja merambatnya usia tahun demi tahun tanpa ada satu monumen. Namun, temanku yang satu ini betul-betul menyiapkan monumen tahun emas kehidupannya, yaitu membuat antologi puisi.  Kedua, keinginannnya melibatkan teman-teman untuk meramaikan ulangan tahunnya dengan mengirimkan bahan untuk bukunya. Bukankah isi SMS ini sangat memotivasi kita yang membacanya?

 

SMS apa pun isinya tetaplah hanya sebuah media penyampaian pesan antarpersonal. Reaksi dari kita sebagai penerima dan pembaca SMS-SMS tersebut bisa apa saja. Aku mencoba mencermati apa pun SMS yang ditulis dan dikirimkan kepadaku. Sekalipun isinya sumpah serapah, apalagi pujian teramat manis, aku tetap mengedepankan keterbukaan untuk menerimanya. Yang terjadi kemudian adalah mencoba menata kearifan hati untuk memahami apa pun isinya. Setiap orang bisa mengirim SMS apa saja kepada kita. Dan risikonya adalah siap menerima apa pun isinya.

 

Tabik !

 

 

Banjarmasin, 12 Pebruari 2008

Komentar»

1. Sawali Tuhusetya - 17 Februari 2008

wah dari sms-an akhirnya bisa mengembangkan bakat pak zul jadi mak comblang, yak! hiks… hebat bener, semua bidang dikuasai, tak hanya main catur, hehehehehe :lol:
BTW, untuk apload template kayaknya agak rumit pak. saya pun seringkali lupa, sebab harus pakai ftp atau fantastico.
salam sejahtera buat pak zul. kondisi ibu gimna pak zul? mudah2an beliau segera sehat. belakangan ini saya jarang chat. ndak tahu juga yak. lagi ndak mood chatting aja.
kepareng, tabik!

Zul …

Soal isi SMS itu, aku sih terima saja. Jika ada kemampuan bantu, ya bantu! He he he.
Soal ibu, mohon doa saja, Mas!

Oh ya, Mas ini jarang chat aja tulisan di blog-nya hampir tiap hari muncul. Aku ga cukup energinya, Mas! Syukur seminggu ini aku mulai nulis lagi dan seperti yang Mas liat!

Tabik!

2. ogi fajar nuzuli - 21 Februari 2008

Tulisan yang sangat menarik, tentang hal-hal yang kerap kita pandang biasa saja, dalam aktivitas keseharian kita……tabik

Zul …

Tulisan biasa untuk hal yang tidak biasa, barangkali, Bang!
Trims, sempat singgah dan komentar.
Sukses buatmu, Bang!

Tabik!