jump to navigation

Efektivitas Ujicoba Ujian Nasional 28 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Catatanku, Pendidikan.
Tags:
5 comments

 

Foto UjicobaSejak Selasa (25/3) kemarin ujicoba Ujian Nasional (UN) kembali dilaksanakan untuk kelas 9 SMP/Mts dan kelas 12. SMA/MA. Selanjutnya, pada hari Kamis (27/3) tadi juga dilaksanakan ujicoba UAS-BN untuk kelas 6 SD/MI. Ujicoba ini merupakan kali kedua setelah pelaksanaan pertama 25 Pebruari yang lalu. Kita tentu menyambut gembira kegiatan ini sebagai upaya mempersiapkan diri siswa untuk menghadapi UN yang akan berlangsung kurang lebih sebulan lagi.

Istilah ujicoba dapat dimaknai sebagai kegiatan pendahuluan dalam menyiapkan diri untuk menghadapi kegiatan sesungguhnya. Dalam ujicoba dilakukan segenap percobaan-percobaan yang dikondisikan sedemikian rupa, persis, atau paling tidak mendekati kondisi sebenarnya yang akan terjadi. Kegiatan semacam ini mirip seperti gladi kotor atau gladi bersih sebuah pertunjukkan. Berkaitan dengan UN, maka ujicoba mencoba menguji soal-soal yang refresentatif dengan soal UN sebenarnya.

(lebih lanjut…)

Cerpen : Mencari Mariana 18 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Cerpen, Fiksiku.
Tags:
4 comments

Seorang lelaki. Matanya terik. Memijar sepanjang jalan yang dilalui. Sudut matanya tarik-menarik. Menelisik setiap sisi. Kadang mendelik. Lebih-lebih seperti menyelidik. Keramaian daratan dan kesepian tepian sepertinya tak beda dalam pandangan matanya. Lelaki itu. Matanya seperti tak pernah lelah.

“Apa yang Kau cari, Lelaki?”

Aku mencegat hiraunya.

Lelaki itu menahan langkahnya. Mematok kakinya pada tepian. Matanya menyapu, mencari sumber suara.

Aku kayuh sedikit lagi agar jukungku makin mendekat ke tepian.

Permukaan sungai tak begitu beriak, sekali pun ujung kayuhku memukulnya. Sekitarku hening. Hanya aku dan jukungku yang meretas sepanjang alur.

Ui, apa yang Kau cari lelaki?

Kukeraskan suaraku sambil menepi.

Mata lelaki itu menyorot ke arahku. Pandangannya meredup. Ujung bibirnya mengulas renyah.

“Kau, Nang!’

“Maaf, aku pikir hari ini sungai-sungai sepi. Sepanjang langkahku tadi, tak kulihat satu pun perahu melintas.!” lanjut lelaki itu memecah kebekuan sesaat.

“Aku juga heran, mengapa hanya jukungku yang mengaliri alur ini! Padahal biasanya tak sesepi begini!”

(lebih lanjut…)

Ayat-Ayat Cinta : Menilik Titik Perbedaan Antara Novel dan Film 8 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Catatanku, Sinema.
Tags:
125 comments

AAC 1Ephoria film Ayat-Ayat Cinta (AAC) masih berlangsung. Bahkan, pekan-pekan ini sedang dalam puncak kegaduhannya. Sebuah peristiwa budaya biasa dari tradisi bangsa ini. Ketika sebuah warna berbeda muncul di tengah warna-warna  yang  sudah biasa, maka yang terjadi adalah kerinduan untuk ikut menikmati keindahan baru itu. Begitulah yang terjadi ketika AAC muncul di tengah kejenuhan film horor dan cinta anak muda, maka berbondonglah penikmat sinema menuntaskan dahaganya.

Ada alasan lain dari meluapnya animo pencinta film untuk menyaksikan visual AAC,  yaitu membayar imajinya selama ini tentang alur, tokoh, latar, dan segala sesuatu yang sebelumnya telah mereka lahap dari sebuah karya teks sebuah novel dengan judul yang sama. Mereka inilah penikmat karya yang sebenarnya dari fenomena AAC. Membaca tuntas novelnya dan menonton puas filmnya. Soal sesuai atau tidak, itu relatif. Persoalannya kemudian adalah timbulnya semangat  untuk membanding hasilnya.

(lebih lanjut…)

Nonton Film Ayat-Ayat Cinta Bareng Siswa : Sebuah Pembelajaran 4 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Apresiasi Sastra, Didaktika.
Tags:
39 comments

Nonton bareng 1Belajar bisa di mana saja, kapan saja, dengan cara apa saja, dan dengan media apa saja. Belajar akan efektif jika pembelajar mampu memanfaatkan sumber belajar dengan baik dan mendapatkan pengalaman belajar langsung dari materi yang dipelajari. Belajar akan lebih bermakna apabila pembelajar mampu menemukan, menguraikan, membandingkan, dan menyimpulkan sendiri secara mandiri permasalahan yang diberikan padanya.

Belajar bagaimana  bertani akan efektif jika sekali waktu pembelajar turun ke sawah melihat proses penanaman padi. Belajar bagaimana ekonomi mikro berlangsung akan lebih cepat dipahami bila pembelajar diajak melihat langsung proses jual-beli di pasar atau transaksi keuangan di bank. Belajar bagaimana proses pencampuran zat-zat yang merusak kehidupan biota sungai atau laut akan lebih cepat ditemukan faktanya jika pembelajar langsung meneliti di sungai atau laut-laut yang tercemar.

(lebih lanjut…)

Aku, FKIP Unlam, dan Kesenjangan 2 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Catatanku, Pendidikan.
Tags:
9 comments

Tulisan Kedua dari Dua Tulisan

FKIP Unlam 1Aku ingin melanjutkan catatanku tentang FKIP Unlam tercinta ini. Ada banyak hal yang bisa aku catat dari beberapa kesempatan aku mengintip dan mengunjungi kampus FKIP Unlam yang berdiri formal sejak 8 Desember 1983. Sebagai salah satu alumnus sekolah pencetak tenaga kependidikan itu, aku tahu persis perkembangan kampus itu, baik secara administratif, akademis, maupun sarana prasananya. Secara fisik, terus terang, kampus FKIP sekarang jauh lebih baik  tampilannya bila dibanding saat aku masih jadi mahasiswa di sana hampir 18 tahun yang lalu.

 

Antara tahun 1986 - 1991 kampus FKIP hasil peleburan dua fakultas, yakni Fakultas Keguruan (FKg) dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) ini sangat gersang. Selain gedung, bertingkat dua untuk FKIP 2 dan gedung satu tingkat melingkar untuk FKIP 1, dengan warna cokelat tanah yang terkelupas, tak ada lagi pemandangan lain. Sekarang, halaman dalam yang dulu dipenuhi semak setinggi orang dewasa, sudah diwarnai dengan pohon-pohon dan tanaman hias dengan bangku dan meja taman yang tersebar. Bahkan di bagian tengahnya ada panggung beratap yang tampaknya menjadi semacam ruang terbuka publik serbaguna.  Sementara lantai tamanyan pun  sudah ditutupi dengan batako.

(lebih lanjut…)

Ersis, FKIP Unlam, dan Ruang Belajar 1 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Catatanku, Pendidikan.
Tags:
4 comments

 Tulisan Pertama dari Dua Tulisan

Ersis 1Catatan ini agak tertunda aku buat. Sayang jika tak kusampaikan. Kamis siang, 21 Pebruari yang lalu, aku menyempatkan diri mampir ke kampus FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Sejak lulus dari kampus itu tahun 1991, sekali-sekali aku masih suka menengok-nengok ke sana. Biasanya karena ada kegiatan ilmiah atau sebab keperluan bertemu teman yang kebetulan dosen di fakultas itu. Begitu pula dengan kunjungan siang itu, yaitu  janji untuk bertemu dengan seorang teman, yaitu Ersis Warmansyah Abbas, seorang dosen jurusan sejarah di kampus itu.

 

Aku sudah teramat sering bertemu dengan Bang Ersis, demikian aku biasa menyapanya. Biasanya dalam acara-acara budaya atau pun ilmiah. Akan tetapi, pertemuanku dengan Bang Ersis siang itu terasa istimewa karena untuk kali pertama kulakukan dengan sengaja. Sudah berkali-kali berjanji untuk bertemu, tak pernah terpenuhi. Aku maklum,  Bang Ersis adalah orang yang banyak teman dan banyak agenda. Apalagi beliau dikenal sebagai orang yang ‘ringan tangan’, tentu harus membagi waktu dan diri untuk ‘bersilaturrahmi’ dengan siapa pun.

(lebih lanjut…)