jump to navigation

Aku, FKIP Unlam, dan Kesenjangan 2 Maret 2008

Posted by zulfaisalputera in Catatanku, Pendidikan.
Tags:
trackback

Tulisan Kedua dari Dua Tulisan

FKIP Unlam 1Aku ingin melanjutkan catatanku tentang FKIP Unlam tercinta ini. Ada banyak hal yang bisa aku catat dari beberapa kesempatan aku mengintip dan mengunjungi kampus FKIP Unlam yang berdiri formal sejak 8 Desember 1983. Sebagai salah satu alumnus sekolah pencetak tenaga kependidikan itu, aku tahu persis perkembangan kampus itu, baik secara administratif, akademis, maupun sarana prasananya. Secara fisik, terus terang, kampus FKIP sekarang jauh lebih baik  tampilannya bila dibanding saat aku masih jadi mahasiswa di sana hampir 18 tahun yang lalu.

 

Antara tahun 1986 - 1991 kampus FKIP hasil peleburan dua fakultas, yakni Fakultas Keguruan (FKg) dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) ini sangat gersang. Selain gedung, bertingkat dua untuk FKIP 2 dan gedung satu tingkat melingkar untuk FKIP 1, dengan warna cokelat tanah yang terkelupas, tak ada lagi pemandangan lain. Sekarang, halaman dalam yang dulu dipenuhi semak setinggi orang dewasa, sudah diwarnai dengan pohon-pohon dan tanaman hias dengan bangku dan meja taman yang tersebar. Bahkan di bagian tengahnya ada panggung beratap yang tampaknya menjadi semacam ruang terbuka publik serbaguna.  Sementara lantai tamanyan pun  sudah ditutupi dengan batako.

 

FKIP Unlam Banjarmasin yang memiliki 5 Jurusan dengan 11 Program Studi S1, 4 program Diploma III, Diploma II PGSD, dan PGTIK, dan 2 Program Pascasarjana (data 2005), ketika aku masuk tahun 1986 hanya punya satu dua doktor, sekarang sudah lumayan banyak. Bahkan dari segi usia para doktor-doktor yang ada sekarangi ini masih muda-muda. Makanya, FKIP Unlam sudah membuka perkuliahan untuk S2.  Hal ini sangat membanggakan aku dan teman-teman para alumnus. Dengan dibukanya jalur S2 di kampus ini, teman-teman yang ingin melanjutkan pendidikannya sangat tertolong karena tidak perlu jauh sampai harus ke Jawa.

 

Aku juga melihat fasilitas perkuliahan kampus FKIP Unlam sekarang ini makin lengkap dan memenuhi kebutuhan akademis mahasiswa. Konon, laboratorium untuk berbagai jurusan sudah semakin canggih karena dilengkapi dengan fasilitas TI. Ruang multimedia untuk keperluan perkuliahan, pelatihan, seminar atau belajar jarak jauh pun sudah ada. Bahkan, FKIP Unlam sudah hotspot area. Sekali pun dalam radius yang sempit, tapi dapat dimanfaatkan bagi mahasiswa untuk berinternet. Namun, aku tidak bisa memberi komentar untuk sarana di kelas-kelas, bagaimana papan tulisnya, bangku kuliahnya, atau bagaimana toilet-toilenya.  Aku tidak sempat melihat sampai sejauh itu.

 

Perkembangan FKIP Unlam yang begitu pesat tentulah membanggakan. Kelengkapan segala fasilitas perkuliahan akan sangat terasa manfaatnya bila sumber daya manusia pengelola dan pengguna jasa kampus itu bisa mengoptimalkan potensi dirinya. Dekan dan  jajaran kepemimpinan di kampus. dosen dan tenaga akademisi, dan para mahasiswa adalah orang-orang yang mempunyai andil dalam menunjang  kebanggaan itu.

 

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang kependidikan, sesuai dengan visi dan misinya. FKIP tentunya diharapkan dapat menjadi tempat ideal dalam menciptakan tenaga kependidikan yang handal. Tenaga kependidikan yang sudah mampu menjadi guru di sekolah-sekolah dan bukan sekadar mampu memberi ‘predikat’ guru.  Sebagai orang pernah ditempa selama empat tahun di FKIP dan cerita dari adik-adik kelas yang juga lulusan kampus itu, aku memperoleh gambaran bahwa FKIP hanya mampu memberi predikat guru dan belum sampai menjadi guru.

 

Seorang calon guru yang baru menyelesaikan pendidikannya di FKIP memang mempunyai banyak bekal untuk menjadi guru. Bekal yang terbesar adalah pengetahuan materi pembelajaran sesuai jurusan yang diampunya. Sisanya sedikit bekal mengenai teknik mengajar, administrasi pendidikan, kurikulum, penilaian, dan psikologi pendidikan. Sementara yang disebut dengan pengalaman mengajar hanya dititipkan pada PPL I dan II. Efektifkah?

 

Kebanyakan guru-guru lulusan FKIP yang sekarang aktif mengajar di sekolah-sekolah dasar dan menengah justru merasa mampu menjadi guru setelah belajar dari senior-seniornya dan siswa-siswanya di kelas. Teori pembelajaran yang diperoleh dari kampus sangat jauh dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Kondisi dunia persekolahan tempat pengabdian sekarang sangat berbeda dengan gambaran yang dibeberkan di ruang-ruang kuliah. Apalagi menyangkut kurikulum yang sedang diberlakukan, FKIP tertinggal selangkah.

 

Aku masih ingat beberapa tahun yang lalu pernah diundang lokakarya oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unlam untuk ikut memberikan pandangan terhadap perubahan Kurikulum SMA. Ketika itu, kurikulum yang berlaku adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tampak ada antusiasme kuat dari pengelola jurusan itu untuk mengikuti perkembangan kurikulum dan menyesuaikan materi perkuliahan dengan perkembangan itu. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutannya, karena beberapa bulan setelah itu kurikulum SMA berubah lagi dari KBK ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

 

Ada lagi catatan menarik yang juga terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika itu seorang dosen senior jurusan bahasa dan sastra yang akan menguji penampilan mahasiswanya mengajar di sekolah pada kegiatan PPL II bertemu denganku dan duduk di samping meja kerjaku di SMA 2. Sebagai seorang mantan mahasiswanya, aku menemani dan mengajak beliau berbincang banyak hal. Salah satunya adalah aku memperlihat sejumlah buku-buku fiksi bacaan siswaku yang tersusun di atas meja. Beberapa yang kuingat saat itu ada novel Supernova-nya Dewi Lestari, Saman-nya Ayu Utami, Mereka Bilang Saya Monyet-nya Djenar Mahesa Ayu. Dosen itu pun mengamati satu persatu buku-buku fiksi itu.

 

Setelah beberapa waktu, dosen itu memberi reaksi atas buku-buku fiksi tersebut. Dengan rendah hati dosen itu bertanya apakah ini buku-buku fiksi yang terbaru? Aku jawab buku-buku ini bukan terbaru sekali karena sudah beredar dua tiga tahun sebelumnya. Dosen itu menyela bahwa dia baru tahu ada buku fiksi-fiksi semacam ini. Lantas aku tanya apa saja isi perpustakaan di jurusan. Beliau menjawab masih buku-buku fiksi klasik. Dalam terawangku fiksi yang dimaksud adalah semacam Siti Nurbaya, Salah Asuhan, atau naik sedikit, semacam novel-novelnya Marga T., Motinggo Busye, Umar Khayam, dan lain-lain.

 

Aku hanya berpikir jika sebuah lembaga pencetak kader pendidik yang kelak dituntut harus menjadi sumber informasi perkembangan ilmu pengetahuan terdepan justru ketinggalan dalam sumber dan bahan pembelajaran, maka bisa dibayangkan apa yang terjadi. Tentu tengarai kondisi semacam tidak bisa digeneralisasikan pada seluruh jurusan yang ada di FKIP, tapi paling tidak ada semacam peringatan bahwa hal tersebut haruslah mendapat perhatian. Mungkin ada banyak contoh peristiwa lagi yang bisa diperoleh dari teman-teman alumnus yang sudah terjun di masyarakat tentang kesenjangan antara lembaga tersebut dengan lapangan yang bakal ditemui lulusannya. Seperti yang pernah disatir oleh Dr. Wahyudi, saat Aruh FKIP 2004 bahwa FKIP Unlam masih memberikan yang out of date sementara di lapangan (sekolah) memerlukan yang up to date.

 

Jika memperhatikan sumber daya yang ada, FKIP Unlam sebenarnya mempunyai banyak potensi untuk melakukan perubahan itu. Apalagi sekarang bertaburan dosen S3, muda-muda lagi. Sebut saja Pak Jumadi, Pak Tarto. Pak Wahyu, atau Pak Fatah (maaf tak semua aku hapal). Belum lagi dosen gaul semacam Pak Ersis, Pak Daud, Pak Sainul, Pak Bambang, dan beberapa nama lagi, yang walaupun belum S3, tetapi memiliki potensi luar biasa. Yang paling utama tentunya potensi Pak Sofyan, selaku dekan, yang dalam pandangan alumnus memiliki jiwa pembaharu dan dekat dengan mahasiswa. Apalagi saat diskusi panel jelang  pemilihan dekan saat itu, beliau sudah menyampaikan Mau Dibawa Kemana FKIP Unlam Oleh Dekan Yang Baru. Orang-orang inilah yang diharapkan bisa menjembatani kepentingan itu.

 

Sebagai pertanggungjawaban dari catatanku ini, aku mencoba mengajukan beberapa saran.

1. FKIP Unlam harus sesering mungkin melakukan dialog secara periodik dengan praktisi dunia pendidikan pemakai jasanya, seperti guru-guru SD, SMP, dan SMA yang masih aktif, untuk melihat sejauh mana perubahan, perkembangan, kemajuan dunia pendidikan sekarang, khususnya dunia persekolahan.

2. FKIP Unlam mesti senantiasa terus mengamati perkembangan kurikulum sekolah dasar dan menengah, apalagi setelah tanggung jawab kurikulum ditangani pihak BNSP, dengan cara mengundang berbagai pihak yang terkait dengan penanganan kurikulum.

3. FKIP Unlam kembali harus mewujudkan mimpinya untuk mengaktifkan ikatan alumni yang akan menjadi kontributor tetap bagaimana perkembangan keberhasilan dan kendala lulusan FKIP setelah terjun ke masyarakat, termasuk berapa banyak yang benar-benar jadi guru dan berapa lagi yang masuk ke bidang pekerjaan nonguru.

4. FKIP Unlam sebaiknya sering menerjunkan dosen-dosennya untuk memantau perkembangan dunia persekolahan secara langsung dengan cara, misalnya, mengamati langsung porses belajar mengajar pada tingkatan pendidikan dan kelas tertentu.

5. FKIP Unlam jangan hanya menyimpan dan membiarkan skripsi-skripsi mahasiswanya hingga menumpuk di perpustakaan, teapi selalu membaca dan mengkaji hasil penelitian itu sebagai data konkret perkembangan pembelajaran di sekolah-sekolah yang biasanya menjadi obyek penelitian mahasiswanya.

6. FKIP Unlam agar mau membuka diri terhadap kritik dan saran semua pihak dan menjadikannya masukan untuk melakukan pembaharuan, jika perlu, beberapa bagian dari kurikulum yang dipergunakan masing-masing jurusan sehingga apa yang diberikan kepada mahasiswanya tidak terlalu jauh senjangnya dengan kebutuhan pasar.

7. FKIP Unlam betul-betul mampu memanfaatkan potensi lebih yang dimiliki sumber daya yang ada, seperti dosen-dosen yang cerdas, progresif, dan berorientasi untuk kepentingan dunia pendidikan dan mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai tekad kuat untuk menjadi tenaga kependidikan yang handal.

 

Ini sekadar catatan biasa dariku sebagai bagian dari rasa sayang terhadap almamater. Peran FKIP sebagai pencetak tenaga kependidikan sangat dan makin diperlukan dalam menghadapi makin pesat perkembangan dunia pendidikan. Kerendahatian semua pihak di fakultas ini akan membuat FKIP makin menuju kesempurnaan dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya. FKIP Unlam harus maju! Terimakasih FKIP Unlam.

Tabik!

 

Banjarmasin, 2 Pebruari 2008

 

Tulisan terkait yang mengkritisi FKIP Unlam;

 

Komentar»

1. Ersis W. Abbas - 3 Maret 2008

Saya ‘pegang’ sarannya. Soal kondisi obyektif FKIP kini jauh lebih baik, tapi tetap saja jauh dari ideal. Ada kemajuan, namun masih bak kura-kura. Banyak hal telah saya tulis di koran atau disampaikan langsung pada Dekan, saya tidak peduli mau marah atau apa; pokoknya FKIP kudu berani berobah ke arah lebih baik.

Pernah, dibuat panitia ad-hoc Senat Fakultas menyidangkan tulisan (kritikan) saya, ah … biasalah. Saya, tetap saja saja kritik membangun. Aruh FKIP Unlam. Misalnya, saya adakan bukan berdana dari FKIP (40 juta), lho. Eh … karena saya sibuk, ngak ada yang melanjutkan.

Soal ketersambungan antara didikan di FIKP dan di lapangan, itu lagu lama yang selalu saya nyanyikan. Tapi, susah juga. Kini pakai strategi baru, lakukan saja sebisa. Banyak kog teman-teman yang merevolusi dengan cara sendiri.

Kalau saya, tetap saja yang paling ngaco, he he.
Salam.

Zul …

Terimakasih dulu karena sempat baca dan beri komentar atas postinganku ini.
Aku hanya ingin FKIP makin memahami fungsi dan peranannya.
Itu saja!

Tabik!

2. sainulh - 4 Maret 2008

Jika yang dimaksud FKIP Unlam dalam tulisan ini adalah juga saya, saya terima kritikan ini sepenuh hati. Terima kasih. Semoga bisa dibaca oleh lebih banyak orang yang terkait dengan perbaikan FKIP Unlam, gimana caranya pak Zul?

Zul …

FKIP bukan hanya sampeyan, Mas! Akan tetapi, termasuk aku.
Jika ada orang-orang FKIP yang baca, Alhamdulillah!
Jika ada reaksi dari FKIP atas tulisan ini, Subhannallah!
Jika FKIP selama ini tetap merasa benar, silakan.
Hanya saya akan mengatakan : astagfirullah!


Tabik!

3. Dewi Alfianti - 4 Maret 2008

Persoalan yg diungkap pak Zul adalah persoalan klasik tapi maish tetap up to date. Permasalahan output LPTK berjudul FKIP Unlam adalah masalah yg seperti tak memiliki penyelesaian. Atau memang tak mau diselesaikan. Demikianlah masalah ini diungkap kembali, semoga kali ini akan ada pencerahan, setidaknya ada rekasi cerdas dari orang2 yg terkena kritikan

Zul …

Sebagai mahasiswa yang progressif, aku mengajak Adik untuk ikut mengawal pencerahan di FKIP!

Tabik!

4. windbee - 28 Maret 2008

setuju banget pa! soalnya selama ini tuh banyak banget antara FKIP ma skul gak sinkron. kerasa banget pas PPL II. kayaknya FKIP lagi terserang virus bangun2 program studi baru, tapi yang lama blom dibenahin bener2. buktinya guru2 lulusannya gitu2 aja, tiap tahun pas UN ada aja siswa yang gak lulus. trus lagi kalo pun ada kerjasama ma skul paling banter jadi pengawas UN, apa dekan kita yang ada2 sekarang n yang dulu2 itu gak bisa buka link kemana2 yang ada atau bisa naikin skill alumnus FKIP ya,..

Zul …

Di FKIP Unlam itu banyak orang muda yang hebat-hebat!
Semoga saja tidak hanya pandai berdebat, tapi berbuat!

Tabik!

5. eswee - 20 April 2008

wah ketemu dengan kakak disini..gimana kabar Agapenya bahari? Pasti kada ingat lagi wan ulun…xixixi
ehhmm… *bernostalgia mode:on*
Mudah-mudahan FKIP unlam bisa mengalami lebih banyak kemajuan dengan hadirnya dosen-dosen mudanya ya…biar memberi kesegaran baru..biar FKIP Unlam terlihat cerah..secerah masa depan yang menanti mereka untuk berkarya bagi masa depan bangsa. Klise banget ya?..*blushing mode:on*
Anyway…Lun sebagai alumni FKIP rasa maras jua pank bila bulik ke kampus..suasananya masih kaitu2 haja..pina suram. tapi makin sedih lagi karna lun kada bisa ngasi masukan apa-apa jua gasan FKIP Unlam *supan mode:on*
Jadi selemah-lemahnya usaha..lun cuma mendoakan aja mudahan FKIP Unlam bangkit dan berbenah diri. Amin.
Kak Zul, Sukron Jazakumullah.

Zul …

Aku lebih tertarik dengan ucapanmu soal ‘Agape’mu.
Tak banyak orang pada masa itu yang tahu, kecuali yang terlibat dengan dunia sastra atau radio.
Terimakasih kembali hadir sekarang, sekali pun aku mencoba mengingat kebaikan-kebaikan dari Adik. Aku baca di blogmu, Adik guru di SMA 4 Banjarbaru, ya?
Kapan waktu ketemuan, biar bisa nostalgila lagi.

Tabik!

6. Dayat - 10 Juli 2008

Sebagai mahasiswa fkip sekarang aq sangat setuju dgn kritik dan saran dr kakak2 alumni fkip unlam,memang perubahan besar2n hrz dilakukan,agar fkip tdk lg dpandang sebelah mata oleh fakultas2 lain,bravo fkip unlam,bravo pak sofyan

Zul …

Mari sama-sama kita peduli dengan kampus FKIP Unlam kita.
Semoga penjaga gawang FKIP mau mendengar!

Tabik!

7. Syams al Ideris - 30 Juli 2008

Semua civitas akademika dan alumnus FKIP Unlam tentunya berharap agar lembaga pendidikan pencetak guru di Kalsel ini terus maju. Bernenah diri mengikuti perkembangan era globalisasi dan era informasi.

Oleh karena itu izinkan saya memperkenalkan hasil penelitian dan pengembangan berupa sistem informasi akademik FKIP Unlam yang online di http://simfkip.net63.net walaupun ini bukan versi resmi dari FKIP tapi hanya sekedar versi demo atau gambaran saja.

Mohon dukungan, komentar, saran dan kritik serta apresiasinya supaya sistem informasi ini bisa direalisasikan oleh FKIP Unlam agar data-data akademik selalu update, online dan dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Semua ini agar terjadi transparansi, akuntabilitas dan efisiensi akademik FKIP Unlam semakin baik.

Terima Kasih
Wassalam

8. naff - 6 Agustus 2008

assalamualaikum wr.wb.
sebelumnya saya minta maaf, umapatan manulis komentar.
saya sangat tertarik dengan visi dan misi FKIP UNLAM, dan tentang cerita bapak.
tapi apakah bener visi dan misi tersebut dapat tercapai dengan baik??
menurut saya, dalam sisi akademis seh, mahasiswa unlam itu sangat bagus dan unggul, tapi dalam sisi kepribadian atau akhlak ada bahakan banyak yang tidak sesuai denagn yang diharapkan dalam artian akan membawa dampak pada pencapaian visi dan misi tersebut.
contoh utama : coba bapak baca, simak, perhatikan koran Kalimantan Post Hari Rabu tanggal 6 Agustus 2008 halaman 2.
disitu ada sebuah judul yang membuat saya kaget dan rada-rada tegang. “MERAJUT CINTA DIKAMAR KOST, PASANGAN MAHASISWA DI GREBEK” ini adalah judul yang sangat menyakitkan bagi mahasiswa, dan didalamnya disebutkan bahawa yang melakukan hal tersebut adalah mahasiswa FKIP UNLAM.
sekali lagi saya minta maaf kalau saya lancang pak.
tapi saya ingin menumpahkan isi hati saya.
kalau calon guru itu harus mempunyai budi pekerti yang baik agar dapat menjadi contoh dan tauladan bagi murd2nya kelak. tapi apa yang terjadisekarang?? disintegrasi moral. menurut saya agar tidak terjadi hal2 yang demikian, mahasiswa FKIP UNLAM jangan hanya diajari hal2 yang bersifat duniawi saja tetapi juga diajari hal2 yang berkaitan dengan keagamaan, trus pendidikan budi pekerti sangat perlu ditingkatkan agar tercipta suatu guru yang benr2 berkualiatas.
bapak udah baca berita itu belum??
kalau belum silahkan baca di blog saya di http://www.kawasah.co.cc
salam kenal pak yah.
assalamualaikum wr.wb.