jump to navigation

Tarawih (malam ke-8) : Memuliakan Ramadhan di Masjid yang Dimuliakan 8 September 2008

Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.
Tags:
trackback

Tempat : Masjid Baiturrahim, Jalan A. Yani KM 3., Banjarmasin

Bertasbih  kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,

An Nuur : 36

Keindahan Masjid Baiturrahim yang minimalis

Keindahan Masjid Baiturrahim yang minimalis

Apakah yang paling menarik untuk dinikmati dari sebuah bangunan masjid? Tentu banyak. Bisa bentuk bangunannya, bisa arsitekturnya, bisa interior dan eksteriornya, bisa fasilitas yang melengkapinya, bisa mihrabnya, atau bisa pula sekadar menara dan kubahnya. Apa pun, sebagai sebuah bangunan, mestinya masjid punya daya tarik tersendiri. Paling tidak, ada sesuatu dari masjid tersebut yang bisa menarik perhatian jamaah.

Seperti kita ketahui, zaman Rasulullah masjid bukanlah sekadar sebagai tempat ibadah. Masjid dibangun tak sekadar memenuhi fungsi sebagai tempat shalat. Masjid juga sebagai wadah untuk berdakwah, majelis ilmu, rapat-rapat yang menyangkut hajat hidup ummat, pusat informasi Negara untuk masyarakat, bahkan pada masanya juga dipakai sebagai tempat untuk mengadili sebuah perkara.. Dengan fungsi yang beragam, pembangunan sebuah masjid harulah dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Dalam pengalamanku shalat tarawih berkeliling selama dua Ramadhan lewat sampai memasuki Ramadhan tahun ke-3 ini, aku mempunyai catatan tersendiri bagaimana tampilan masjid-masjid yang kukunjungi itu dikelola. Terlepas dari cara dan gaya peribadatan yang dilakukan di masjid-masjid tersebut, aku menangkap bahwa tak semua masjid-masjid itu dikelola dengan serius dan professional. Sebagian kecil dikelola asal gugur kewajiban sekadar berfungsinya masjid sebagai tempat shalat.

Malam ke-8 Ramadhan ini aku kembali menemukan sebuah masjid, yang menurutku, dikelola dengan sungguh-sungguh. Dikelola dengan sungguh-sungguh ini diukur dari bagaimana tampilan masjid tersebut. Hal ini bisa dilihat, misalnya, bagaimana sajadah sebagai alas shalat, dari penataan dan pemilihan warna yang harmonis, sampai kepada kebersihan dari alas shalat itu; bagaimana interior yang menghiasi lengkung pintu ruang imam, tempat wudhu;  bagaimana sutrah pembatas; dan bagaimana tempat wudhu.

Ustaz Drs. Syarbani saat memberika ceramah

Ustaz Drs. Syarbani saat memberika ceramah

Masjid tempat shalat Tarawihku malam itu adalah Masjid Baiturrahim yang terletak di Jalan A. Yani KM 3, sisi kanan arah ke luar kota Banjarmasin. Dua hal yang aku bisa nikmati di masjid 3 lantai ini, yaitu kebersihan dan interiornya.  Salah satu yang kukagumi adalah kebersihan sajadahnya. Sekali pun sudah memasuki malam ke-8, aku tak menemukan satu butir pun debu yang menempel di dahiku - yang masih basah bekas wudhu - seusai sujud. Dan bukan kebetulan, baik tempat saat aku shalat sunnat, maupun tempat kedua saat mulai shalat Isya.

Pada beberapa masjid yang pernah kushalati saat malam Ramadhan, aku selalu menemukan ada kotoran yang menempel di dahi setelah sujud. Apalagi jika sudah memasuki minggu kedua, semakin banyak debunya. Sebuah masjid yang menggunakan karpet atau sajadah yang berbulu tebal harusnya betul-betul mengelola kebersihannya secara rutin. Minimal menyapu dengan sapu lidi atau vacuum cleaner setiap hari. Apalagi jika masjid tersebut terletak di tepi jalan umum di mana mobilitas shalat sangat tinggi. Betapa nikmat dan bikin betah jika shalat beralaskan sajadah atau karpet yang bersih.

Masjid Baiturrahim telah membuktikan hal itu bisa dilakukan. Masjid yang dalam renovasi pembangunannya telah mempelopori pengumpulan dana melalui pungutan sumbangan di jalan raya pada tahun 90-an ini juga mempunyai interior yang bagus. Dibangun tiga tingkat dengan gaya minimalis, masjid ini juga dihiasi dengan kaligrafi yang sangat indah. Sekali pun dibuat dengan sederhana - lukisan tangan - tetapi pemilihan dan penempatan hurupnya sangat artistik. Masjid ini telah memberikan contoh bagaimana sebuah masjid ditampilkan.

Malam itu, bertindak selaku imam dan penceramah adalah Ustaz Drs. Syarbani. Dalam ceramah yang disampaikan antara shalat Tarawih  dan Witir ini, ustaz menyampaikan perlunya zikir mengingat Allah dalam kehidupan ini. Apalagi dalam bulan suci Ramadhan ini, maka amaliah zikir akan makin mendekatkan diri kita kepada Allah. Menjadikan masjid yang mulia sebagai tempat untuk bertakbir, tasbih, dan tahmid sepanjang bulan ini sangatlah tepat. Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat pada masanya dalam menikmati kemuliaan Ramadhan.

Komentar»

1. taufik79 - 10 September 2008

Menghidupkan Kembali Risalah Masjid

Perkara 1
1. Asas binaan harus berdasarkan takwa, bukan bermegah2.
2. Org yang memakmurkannya bukan yg kagak takut ama tuhan.
3. Penjaganya bukan kayak jin yg menjaga taman larangan.
4. Masjid rumah Allah, bukan rumah kita. Maka, jangan dikunci.
5. Masjid bukan setor menyimpan barang2 mahal.
6. Kurangkan benda keduniaan di dalam masjid, agar jemaah dpt rasakan hawa2 akhirat di dalamnya.
7. Enforce adab2 dan tertib masjid.

Perkara 2

1. Masjid tempat atur strategi dakwah.
2. Masjid tempat menyatukan semua amalan.
3. Masjid tempat mengajar Ilmu.
4. Masjid tempat berkhidmat kpd org2 miskin, anak2 yatim, musafir dan org yang sangat membutuh pertolongan.

apa lg ya?… silah nambah dong.