Tarawih (malam ke-16) : Memberikan yang Terbaik untuk Allah yang Baik 16 September 2008
Posted by zulfaisalputera in Agama, Catatanku, Ramadhan.Tags: Catatanku
trackback
Tempat : Masjid Al Ikhwan, Jalan Veteran, Banjarmasin
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap mesjid , makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Al Ara’af : 31
Sejauh mana ummat menyemarakkan Ramadhan? Banyak hal yang bisa menjadi ukuran. Yang bisa terlihat adalah dipenuhinya masjid dan mushala oleh ummat untuk melakukan peribadatan malam. Begitu juga dengan makin gemuruhnya suara orang-orang bertadarus Al Quran dari menara-menara masjid. Sungguh sebuah suasana yang hanya hadir selama satu bulan dari dua belas bulan tiap tahunnya. Dan hanya orang-orang beriman yang mampu menjalani dan menikmati hari-hari terindah di bulan penuh rahmah ini.
Allah memang mengkhususkan bulan Ramadhan ini hanya untuk orang-orang yang beriman. Bulan Ramadhan yang di dalamnya ada kewajiban berpuasa. Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Tidak mudah untuk menjalankan kewajiban dan segala amalan yang diperintahkan. Wajar bila bulan penuh ampunan ini hanya bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang beriman. Firman Allah mempertegas hal ini dengan mengawali Surah Al Baqarah : 183 yang membicarakan kewajiban berpuasa dengan frase pembuka “Hai orang-orang yang beriman, …”
Ada hal lain yang juga membuat semarak Ramadhan yang kutemukan setiap hendak melakukan peribadatan malam di setiap masjid yang kukunjungi. Aku melihat kegembiraan terpancar di wajah ummat ketika memasuki lingkungan masjid. Kegembiraan itu juga terpancar dari pakaian yang dikenakannya. Kaum hawa mengenakan jilbab dan pakaian panjang. Sebagian sudah mengenakan mukena bagian atas tubuhnya (barangkali sejak rumah). Sementara, kaum adam, umumnya mengenakan sarung dan baju koko.
Masjid bukan lagi sebagai tempat shalat. Masjid juga sebagai simbol rumah Allah. Maka selayaknya ummat yang akan menjadi tamu harus memakai pakaian yang terbaik untuk bertemu-Nya. Dan Allah sudah sepantasnya menerima penampilan yang terbaik dari hamba-Nya saat menghadap-Nya. Seperti malam ke-16 ini, saat aku memilih Masjid Al Ikhwan, aku juga melihat keindahan dari penampilan jamaah yang memenuhi shaf-shaf ruangan masjid yang terletak di jalan Veteran ini.
Aku sendiri sudah punya kebiasaan sejak muda untuk mengenakan sarung dengan baju koko dan kopiah haji jika shalat, baik di rumah, lebih-lebih di masjid dan mushala. Ada kepercayaan diri yang begitu tinggi untuk mengenakan pakaian has Melayu itu jika shalat. Bahkan aku sangat mengagumi bila melihat orang-orang yang mengenakan pakaian gamis putih-putih. Alangkah indahnya dan syahdunya shalat dengan pakaian yang terbaik dan terindah yang kita punya. Bukankah Allah juga telah memberikan banyak hal yang terbaik untuk hidup kita?
Masjid Al Ikhwan malam ke-16 itu dipenuh jamaah hampir separu ruangan. Shalat Tarawih 20 rakaat dan Witir 3 rakaat malam itu dipimpin oleh imam H. Utuh Lamberi. Ada sesuatu yang berbeda aku temukan di masjid yang cukup luas itu disbanding dengan masjid-masjid lain. Di tengah-tengah ruang masjid bertingkat dua itu, panitia menyalakan dupa pengharum. Bau khas dupa itu sempat ‘mengganggu’ pikiranku saat shalat karena teringat dengan bau tanda-tanda ada orang yang meninggal. Aku kemudian menjadi maklum setelah melihat asal bau itu.
Aku tidak bisa memberikan komentar apa hukumnya memasang atau menyalakan dupa harum di dalam masjid. Aku yakin niat baik dari pengelola masjid adalah untuk memberi aroma wewangian di ruangan masjid. Seperti yang pernah kubaca, seperti diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi, bahwa Aisyah r.a. pernah berkata, “Rasulullah saw perintah agar masjid-masjid itu dibangun di dalam rumah-rumah dan hendaknya masjid-masjid itu dibersihkan dan diberi wangi-wangian.” Semoga aroma wangi itu menambah semangat untuk terus mendirikan shalat di rumah-rumah Allah.








































Namun, tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat, dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.
Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. ” (Al-A’raaf: 26).
Ada sesuatu yang berbeda aku temukan di masjid yang cukup luas itu disbanding dengan masjid-masjid lain. Di tengah-tengah ruang masjid bertingkat dua itu, panitia menyalakan dupa pengharum … wah jadi tertarik nich. Yang wangian, tapi … dupa (?).