Tarawih (malam ke-13) : Masjid-Masjid yang Dirindukan

Tempat : Masjid Muhammadiyah, jalan Kelayan B Muara, Banjarmasin

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

At Taubah : 18

Kesederhanaan Masjid Muhammadiyah Kelayan B
Kesederhanaan Masjid Muhammadiyah Kelayan B

Masjid memang bisa membuat seseorang rindu untuk mengunjunginya. Rindu sebagai tempat shalat. Rindu sebagai tempat i’tikaf karena ruangannya yang adem. Rindu sebagai tempat janji untuk bertemu dan berbincang dengan sahabat dan kerabat karena tempatnya yang strategis. Yang pasti rindu sebagai tempat untuk menumpahkan curhat dengan Al Khalik.

Salah satu masjid yang aku rindukan adalah Masjid Muhammadiyah, Jalan Kelayan B Muara, Banjarmasin. Secara fisik, bangunan masjid ini biasa saja dan terkesan sangat sederhana. Bangunannnya seperti sebuah kubus besar. Sebagian besar bangunannya berdiri di atas air, tepatnya di sisi Sungai Kelayan. Karena lahan yang terbatas itulah, bangunan masjid ini tak bisa berkembang. Halaman pun hanya selebar 2 meter bersisian dengan jalan.

Ada banyak alasan yang membuatku selalu rindu untuk mengunjungi masjid ini, paling tidak setahun sekali. Pertama, masa kecil sampai dewasaku yang tinggal di kampung itu dan pendidikan dasar di Muhammadiyah menjadikan aku sering memanfaatkan masjid itu untuk shalat. Jika tiba bulan Ramadhan semacam ini, aku kecil sering jalan kaki sekitar 2 km dari rumah hanya untuk Tarawih di sini. Shalat masa kecilku di masjid ini membuatku bisa bertemu teman-teman.

Hal kedua yang membuat aku rindu masjid tersebut adalah letaknya yang bersisian dengan sungai. Sering, seusai shalat, aku dan teman-teman menghabiskan sedikit waktu dengan duduk di pelataran belakangnya untuk memandang bebas kegiatan warga dan lalu lintas perahu di sungai. Bahkan irama bunyi klotok (perahu bermesin) begitu menyatu dengan telinga aku dan jamaah masjid, terutama ketika sedang khusyu shalat.

Hal yang paling membuat aku rindu dengan Masjid Muhammadiyah yang sebagian bagunannya dibuat bertingkat dua itu adalah bertemu dan mendengar nasihat dan ceramah yang diberikan tokoh-tokoh Muhammadiyah saat itu. Pada saat khotbah Jumat dan usai shalat Tarawih dan Witir aku mendapat banyak siraman rohani. Belakangan aku dengar, setelah puluhan tahun, tokoh-tokoh Muhammadiyah yang aku kagumi itu satu persatu telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Ustaz Abdul Gani saat menyampaikan tausyiah
Ustaz Abdul Gani saat menyampaikan tausyiah

Ada perubahan yang sangat tampak aku temukan saat setiap Ramadhan shalat malam di masjid itu. Perubahan terjadi pada menurunnya jumlah jamaah. Aku masih ingat, di sekitar tahun 80 s.d. awal 90-an, jamaah yang shalat malam masjid itu penuh sampai ke lantai dua. Lantai satu untuk jamaah pria dan dua untuk wanita. Sepuluh tahun belakangan ini lantai dua sudah kosong. Lantai satu berbagi tempat jamaah pria dan wanita. Padahal, fasilitas masjid sudah lebih baik daripada dulu. Tempat wudhu dan wc sudah refresentatif.

Apakah penyebabnya? Bukankah dengan jumlah penduduk yang bertambah mestinya jamaah masjid tidak berkurang? Aku yakin kadar iman warga di sekitarnya masih tetap tinggi. Menurutku, dalam dua puluh tahun ini pertumbuhan masjid dan mushala baru semakin banyak, termasuk di wilayah Kelayan B dan sekitarnya. Dan kenyataan ini benar-benar aku lihat jika memasuki sepanjang jalan dan gang-gang di wilayah Banjarmasin Selatan itu.

Perlu juga dipahami bahwa dengan makin banyaknya tumbuh masjid dan mushalla baru akan membuat ummat menjadi banyak pilihan. Berdasarkan data Departemen Agama Kota Banjarmasin, untuk Tahun 2007 terdapat 141 buah masjid dan 872 buah mushalla di kota ini. Masjid dan mushalla yang tidak mengembangkan diri, baik fisik maupun sarana dan prasananya pasti tidak begitu banyak diminati. Apalagi hampir semua masjid dan mushalla melengkapi lantainya dengan keramik, karpet-karpet yang tebal, dan kipas angin yang banyak, tentu menjadi pertimbangan ummat, selain siapa imam, siapa penceramah, dan cara peribadatannya.

Malam ke-13 Ramadhan ini Masjid Muhammadiyah Kelayan menampilkan imam dan penceramah muda Ustaz Abdul Gani. Jamaah pria mengisi kurang lebih 6 shaf pendek dan wanita kurang lebih 7 shaf.  Salah satu yang khas dari masjid ini adalah ceramah disampaikna bukan antara Tarawih dengan Witir, tetapi sesudah Witir. Tetap ada kekhusyuan shalat di masjid yang kurindukan ini. Tetap ada suara klotok yang kadang melintas kekhidmatan surah-surah yang dibacakan imam. Tetap ada suasana malam-malam Ramadhan yang indah ketika setiap orang berbondong-bondong merebut berkah yang ditebar Allah di masjid-masjid yang dirindukan.

Iklan

One comment

  1. Masjid seyogyanya menjadi pusat pusaran yang menarik setiap energi kaum muslimin menuju Allah dan Dunia-Akhirat yang hasanah. Masjid mesti menjadi tempat perumpamaan; bagai ikan di dalam aquarium” bukan perumpamaan “bagai burung dalam sangkar.” Juga masjid, bukan tempat yang di jadikan ajang tarik-menarik kepentingan duniawi. Beberapa kasus, sering tidak disadari masjid dijadikan sebagai arena “kampanye” tidak sehat.

    Setiap kita bertanggung jawab harus memainkan peran yang elegan agar daya tarik masjid tetap prima dan tidak ditinggalkan pelan-pelan oleh penghuninya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s