Ketika Mendiknas Mampir ke SMA 2

Mendiknas ke SMA 2 - 1

 

 

Rabu, 7 November 2007, pukul 13.30, kemarin, SMA 2 Banjarmasin kedatangan tamu yang istimewa. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mampir ke sekolah tempatku bertugas. Kunjungan Mendiknas itu sebenarnya untuk melihat pelaksanaan Ujian Paket C, sebelum hadir di Stadion 17 Mei untuk menutup kegiatan Pomnas 2007. Kebetulan kegiatan ujian yang dilaksanakan oleh Diknas Kota tersebut meminjam tempat di SMA 2.

Sejak mendapat informasi pada pagi hari bahwa SMA 2 akan dikunjungi oleh Mendiknas, semua warga sekolah dikerahkan untuk melakukan kegiatan kebersihan. Maka bergeraklah para siswa dan guru untuk membersihkan apa pun yang dianggap belum bersih. Merapikan apa pun benda yang letaknya dianggap belum rapi. Meletakkan pot-pot tanaman pada tempat yang dianggap perlu untuk diberi sentuhan penghijauan.

Suatu hal yang biasa kita lihat di mana pun di Indonesia, apabila akan ada kedatangan pejabat negara atau akan ada penilaian untuk suatu lomba yang berhubungan dengan kebersihan, maka biasanya (baru) tampak ada gerakan untuk membersihkan tempat itu (secara tiba-tiba). Ada kegiatan atur sana atur sini, dengan maksud agar kelihatan indah dan rapi. Ada kesibukan yang sangat luar biasa untuk menyiapkan segalanya agar tampak luar biasa.

Pengalaman semacam ini aku lihat ketika kota Banjarmasin kedatangan Soesilo Bambang Yudhoyono, presiden negeri ini. Sejak terdengar berita bahwa presiden akan hadir di kota ini untuk membuka Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) 2007 pada hari Jumat , 2 November 2007 lalu, tampak kota kecil ini mulai dipoles sana-sini. Jalan-jalan yang akan dilewati oleh rombongan presiden dibuat semakin mulus dengan aspal tambal sulam. Pedagang kaki lima (PKL) di kiri kanan jalan sementara diminta untuk tidak menggelar dagangannya. Umbul-umbul, bendera, dan pohon-pohon baru ditanam di sepanjang jalan.

Cerita menarik adalah tentang mesjid yang akan menjadi tempat shalat Jumat presiden. Mesjid Jami, sebuah mesjid tua dan besar di kotaku (kebetulan dekat rumahku), dibenahi dengan luar biasa oleh pemerintah daerah. Walau sebelumnya sudah asri, tapi mesjid itu tetap diberi cat baru sana sini, ke bagian kubahnya. Akses jalan depan dan halaman diperbaiki dan dirapikan batakonya. Trotoar depan halaman, pagar, lampu hias betul-betul dibuat jadi (terkesan) baru. Apalagi interior mesjid, seperti karpet, diperbaharui. Sebagai umat islam, jujur aku sangat senang mesjidku menjadi lebih baik.

Yang unik adalah penghijauan di lingkungan mesjid. Sehari sebelum hari ‘h’, tampak kegiatan penanaman pohon-pohon dan tanaman-tanaman penghias di halaman depan. Mesjid itu tampak hijau. Aku berpikir, syukurlah jika halaman mesjid ini juga dipenuhi dengan pohon dan tanaman, tentu menjadi lebih asri. Namun, sehari setelah presiden shalat di mesjid itu, pohon dan tanaman tadi sudah tak terlihat. Betul-betul sim salabim. Rupanya halaman mesjidku hanya hijau sehari saja. Hanya untuk menyenangkan mata sang tamu saja.

Mendiknas ke SMA 2 - 2

Kembali ke soal kunjungan Mendiknas ke SMA 2. Siang itu, setelah ditunggu hampir satu jam oleh sebagian guru, menteri pun datang. Selain diikuti oleh para direktorat jenderalnya, Pak Bambang juga didampingi pejabat daerah, dari gubernur sampai walikota, dari kepala diknas propinsi sampai diknas kota. Begitu tiba, Mendiknas langsung meninjau pelaksanaan Ujian Paket C yang tengah berlangsung. Menteri sempat memasuki empat ruang ujian. Ada perasaan kaget di wajah peserta ujian, yang kebanyakan sudah berumur. Namun, tampak wajah sumringah terlihat pada rona para pengawas, yang semuanya orang-orang diknas kota.

Yang  mengesankan adalah, setelah (hanya) sejenak menengok kegiatan Ujian Paket C, Pak Bambang berkenan (agak lama) melihat lingkungan SMA 2 Banjarmasin. Walau pun memang diarahkan sengaja oleh kepala diknas, kesediaan menteri memperhatikan lebih seksama sekolah cukup membanggakan. Dengan tujuan agar nantinya mendapat bantuan pembangunan, Mendiknas (digiring untuk) sempat melihat ruang-ruang kelas XI sebelah timur halaman dan ruang-ruang kelas X yang terletak di bagian belakang. Menteri tampak serius memperhatikan dan bertanya beberapa hal yang menyangkut kondisi ruang (yang memang rusak) dan lingkungan sekitarnya.

Begitu juga ketika beranjak meninggalkan ruang-ruang kelas X, sambil menyusuri selasar penghubung, Mendiknas tampak juga bertanya sana sini sambil menunjuk beberapa sudut sekolah. Serius atau sekadar basa basi, perhatian menteri itu tentu berpengaruh kepada pejabat di bawahnya, seperti dirjend, gubernur, atau walikota. Sembari menjabat tangan, Pak Yudhi Wahyuni, Walikota Banjarmasin, menyampaikan padaku bahwa sekolah kami disetujui untuk dibantu. Dengar-dengar, ruang-ruang kelas XI akan direnovasi untuk dibangun dua tingkat! Berita ini tentu sangat membanggakan bagiku dan bagi warga sekolah lainnya. Kedatangan Mendiknas membawa manfaat luar biasa bagi SMA 2 Banjarmasin.

Di balik adanya kegiatan persiapan (semu)  yang dilakukan oleh kita terhadap lingkungan kota atau kerja kita ketika akan dikunjungi oleh pejabat negara, ada banyak manfaat yang pastinya bisa kita peroleh. Paling tidak, lingkungan sekitar kita jadi lebih bersih, lebih rapi, dan lebih asri. Jalan-jalan di sekitar kita jadi lebih mulus. Trotoar dan sisi kiri kanan jalan jadi lebih lapang karena bebas PKL. Lebih dari itu, jika bernasib baik, pejabat yang berkunjung akan memberi perhatian dan bantuan kepada kita. Hal ini tentu memerlukan strategi tersendiri bagaimana bisa meyakinkan pejabat tersebut bahwa kita memang pantas dibantu.

Aku mencatat dalam peristiwa ini bahwa ada baiknya kita tetap bersangka baik dengan kunjungan dan kehadiran pejabat negara di lingkungan kerja dan kota kita. Tidak ada ruginya kita berpikir positif karena dapat menghadapi pejabat tersebut dengan senyum dan menyampaikan keinginan kita dengan lebih tenang dan lebih baik. Akan banyak kerugian jika menyambut kehadiran pejabat dengan sangka buruk. Selain wajah kita tak bisa senyum lepas, juga kita tidak bisa menyampaikan keinginan kita dengan lebih leluasa. Alih-alih dapat bantuan, kita mungkin hanya mampu jadi penonton di tepi jalan yang dilaluinya.

 

Banjarmasin, 8 November 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s