Cerpen : Mencari Mariana

Seorang lelaki. Matanya terik. Memijar sepanjang jalan yang dilalui. Sudut matanya tarik-menarik. Menelisik setiap sisi. Kadang mendelik. Lebih-lebih seperti menyelidik. Keramaian daratan dan kesepian tepian sepertinya tak beda dalam pandangan matanya. Lelaki itu. Matanya seperti tak pernah lelah.

“Apa yang Kau cari, Lelaki?”

Aku mencegat hiraunya.

Lelaki itu menahan langkahnya. Mematok kakinya pada tepian. Matanya menyapu, mencari sumber suara.

Aku kayuh sedikit lagi agar jukungku makin mendekat ke tepian.

Permukaan sungai tak begitu beriak, sekali pun ujung kayuhku memukulnya. Sekitarku hening. Hanya aku dan jukungku yang meretas sepanjang alur.

Ui, apa yang Kau cari lelaki?

Kukeraskan suaraku sambil menepi.

Mata lelaki itu menyorot ke arahku. Pandangannya meredup. Ujung bibirnya mengulas renyah.

“Kau, Nang!’

“Maaf, aku pikir hari ini sungai-sungai sepi. Sepanjang langkahku tadi, tak kulihat satu pun perahu melintas.!” lanjut lelaki itu memecah kebekuan sesaat.

“Aku juga heran, mengapa hanya jukungku yang mengaliri alur ini! Padahal biasanya tak sesepi begini!”

Aku menjulurkan tangan dan lelaki itu menarikku untuk naik ke tebing.

Lelaki itu menggenggam erat tanganku. Tangan kirinya merangkul bahuku sambil menepuk-nepuk.

“Kemana saja Kau selama ini? Lama aku tak melihatmu?” sambut lelaki itu ramah.

“Ada! Tak kemana-mana. Masih di kota ini. Di sungai ini, hilir mudik. Sepanjang pagi dan siang. Aku biasa mengisi libur Ahad dengan meunjun!”

“Aku lewat tiap hari sepanjang tepian ini, tapi aku tak pernah melihatmu!”

“Iya, karena Kau tak pernah mencariku, kan?

Lelaki itu tersenyum. Matanya beralih dari tatapku. Dilepasnya kembali pandangannya ke sepanjang tepian.

“Kau sebenarnya sedang mencari siapa?” aku kembali mengulang tanyaku.

“Apa kau lihat aku seperti sedang mencari sesuatu?'” sahutnya.

“Dari matamu!”

“Apa cukup dari mata saja Kau pastikan aku sedang mencari sesuatu?”

“Akukan sahabatmu. Sudah lama kenal, Kau!  Ya, sudahlah kalau Kau tak ingin ditanya,” tukasku tak ingin memperpanjang, “sekarang Kau ingin ke mana?”

“Katanya sudah tak ingin bertanya!” sergahnya sambil tertawa kecil.

“Ya, sudah! Aku boleh ikut Kau bajukung?”

“Tidak Kau tanya dulu aku mau ke mana?” aku balik bertanya.

“Ke mana pun! Yang penting aku bisa sejukung denganmu. Barangkali aku bisa menemukan yang kucari!” katanya lirih.

Aku tak ingin terpancing lagi untuk mengulang kembali bertanya.

Kami segera turun ke jukung. Lelaki itu membantuku menolak badan jukung dari tepian dengan ujung kakinya. Aku mendesak air dengan kayuh di tangan agar jukungku bisa beranjak ke tengah sungai.

Siang mulai turun. Matahari mulai merangsak. Kami dan jukung sudah mengalir bersama air.

***

“Kau mau ke mana?”

Lelaki itu memecah kebekuan. Sejak menjauh dari tepian, kami belum mengucap sekata pun. Aku masih mengatur jalan perahuku. Air sedang berarak ke muara. Aku melawan arus. Kayuh ini harus tegas kuayunkan untuk mencuri alur.

Lelaki itu mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Sebatang rokok. Ia mulai menyelipkan di celah bibirnya. Menyalakan ujungnya.

“Kau merokok?” kata lelaki itu. Bungkus rokok yang terburai itu dijulurkannya ke depanku. Matanya senyum.

“Tidak! Kau kan tahu aku tidak biasa merokok,” tolakku.

Perahuku sudah menemukan alurnya. Tanganku tak perlu keras lagi memukulkan kayuh. Mataku sudah mulai bisa memandang ke mana pun. Termasuk kepada lelaki di depanku ini.

Lelaki itu duduk bersila di lantai jukung. Badannya tegap. Bajunya licin, seperti terbiasa disetrika. Ujung kainnya simpun ke dalam celana katun warna hitam. Rambutnya  lurus, rapi.

Lelaki itu mengisap pelan pangkal rokoknya. Meneguk asapnya. Mengembuskan asap putih melingkar seperti spiral. Jakunnya turun naik. Sejenak diisap lagi dan dihembuskannya kembali.

 “Ada apa?  Ada yang aneh dariku?” Lelaki itu sadar aku pandangi.

“Ah, nggak. Aku lama tidak melihatmu!”

“Oo, silakan. Pandanglah!” katanya sambil menyisa tawa di tengah asap putih dari mulutnya.

Bungas, kalu!”  sungutku sambil menyiramkan air dari ujung kayuhku.

“Eh, Kau belum jawab. Kau mau ke mana?”

Lelaki itu kembali menggugatku.

“Aku mau pulang!”  sahutku sambil kembali mengatur gerak perahu sisi kiri kanan perahuku yang sudah diapit beberapa jukung lain. Ini memang waktunya untuk kembali pulang setelah sehari penuh melayari sungai kehidupan ini.

“Rumahmu masih yang dulu?” tanya lelaki itu kembali.

“Iya! Ke rumahku, yuk! Kau kan lama tak ke rumahku”.

“Nantilah!”

Lelaki itu memang lama tak ke rumahku. Kami juga lama tak bertemu. Empat tahun terakhir, rasanya. Ia temanku sekolah saat di pesantren. Kami pernah satu pondokan, satu kamar. Berdamping tempat tidur.

Jika libur, kadang ia suka main ke rumahku dulu. Bahkan menginap satu dua hari. Setelah itu baru pulang ke kampungnya di hulu sungai

Setelah selesai belajar di pondok, kami  sama-sama mengabdikan diri kembali di pondok itu sebagai tenaga pendidik.  Setelah sepuluh tahun lebih lelaki itu menjadi guru bersamaku di situ, ia pun pindah mengajar ke pesantren lain. Sejak itu kami hampir tak pernah bertemu.

“Kau tidak langsung pulangkan?”

Lelaki itu kembali bertanya. Ia seperti ingin menawar waktuku. Matanya tak berkedip melihat suasana sepanjang tepi sungai. Sebentar ke kanan. Sejurus kemudian ke kiri.

Memasuki sungai kecil ini suasananya memang mulai ramai. Banyak orang memenuhi batang-batang yang mengapung sepanjang alur. Laki, perempuan. Rutin. Mandi, cuci, buang air, atau sekadar duduk-duduk melihat tingkat anak-anak kecil yang bercebur dan berenang.

“Ei, jangan lama-lama memandang. Nanti dikira sengaja melihat orang mandi!” godaku melihat tingkat lelaki di depanku yang  tak henti melempar pandang ke arah beberapa perempuan bersarung di dada yang sedang asyik mandi.

“Tidak. Tidak! Aku tidak minat melihat itu. Aku sedang mencari seseorang. Aku mencoba mengenali wajah-wajah perempuan itu. Siapa tahu dia ada di antara mereka!”

Tepat apa yang kuduga. Sejak bertemu dengan lelaki itu di tepi jalan tengah kota tadi aku melihat ia seperti mencari-cari sesuatu.

Aku mencoba untuk menahan diri untuk tidak bertanya. Aku terus asyik mengayuh.

“Kau masih ingat Mariana?”

Mariana? Pertanyaan lelaki itu mencegat tak acuhku.

“Mariana yang mana?”

Aku mencoba memilah-milah memoriku.

“Ah, Kau pura-pura tak ingat. Santri kita dahulu di pondok!”

“O …” gumamku.

“Sudah ingatkan?”

“Ingat, ingat!” kataku tersedak.

Mariana. Nama itu cukup lekat dalam ingatanku. Dia memang pernah jadi santri kami. Tiga tahun di tingkat aliyah. Dia sudah lama tamat. Beberapa waktu setelah lelaki itu pindah mengajar ke pesantren lain.

Aku mencoba tetap menahan diri untuk tidak bereaksi. Jukung kukayuh pelan. Beberapa anak tampak berenang menghalang di depan jukungku. Beberapa lagi menguntit di buritan. Sesekali mereka menggantungkan tangannya di dinding jukung hingga sedikit oleng.

“Kenapa dengan Mariana?” tanyaku balik.

“Aku kehilangannya. Lama …”

“Kehilangan?”

“Ya!”

Lelaki itu masih melepas matanya, tapi sekali ini terlihat kosong. Seperti ada yang berhenti pada pikirannya.

“Kapan terakhir Kau bertemu dengannya?” selidikku.

“Aku sudah lupa. Cukup lama”.

“Tapi,” sambungnya, “aku masih sering berkomunikasi dengannya melalui surat”.

“Kapan itu?”

Aku langsung menyambar kata-katanya. Aku jadi ingin tahu banyak apalagi yang akan dia sampaikan.

Aku ingin lelaki itu terus bercerita.

Byarrr …

Gumpalan air menerjang bahuku. Seorang anak kecil yang terjun ke sungai, menekan air terlalu keras sehingga air itu menolak dan menyiramku.

Ujung kayuh aku pukulkan ke badan air sehingga balas menyiramnya. Anak itu tertawa. Lelaki di depanku juga ikut tertawa. Ujung rokok yang masih tersisa sedikit itu dilontarkannya ke arah anak kecil itu. Telat. Anak kecil itu sudah menenggelamkan tubuhnya ke dalam sungai.

Lelaki itu kembali mengambil bilah rokoknya dan menyalakan ujungnya.

“Dia punya tetangga. Kebetulan tetangganya itu santri di pesantren tempatku bekerja sekarang. Lewat santri itulah aku berkomunikasi dengan Mariana”.

Sambil menjelaskan, lelaki itu mengisap dalam-dalam pangkal rokoknya. Tak tahu berapa banyak kadar asap yang masuk ke paru-parunya. Barangkali sudah berton-ton. Barangkali semua isi paru-parunya adalah asap rokok itu. Itulah yang membuat aku tak suka merokok. Ayahku meninggal karena paru-parunya rusak akibat mengisap nikotin itu.

“Kok, merasa kehilangan. Bukannya masih ada santrimu sebagai penghubungmu dengannya?” lanjutku memancingnya.

“Santri yang menjadi penghubungku itu sudah tamat dua tahun yang lalu. Sejak itu aku kehilangan jejaknya”.

“Kabar terakhir yang Kau dengar saat itu?”

“Katanya dia akan menikah!”

Suara lelaki itu melemah.

Aku sendiri tak bisa berpikir apa-apa. Ingatanku mulai melayang ke rumah. Matahari sudah mulai menyimpun diri di Barat. Saat begini aku biasanya sudah sampai di rumah.

“Aku suka padanya!”

Lelaki itu memecah lamunku.

“Aku tahu. Sejak di pondok dulu Kau memang suka padanya” kataku menimpali.

“Dia perempuan terbaik yang pernah kutemukan. Pribadinya sangat berbeda dibanding santri lain. Lembut, sederhana, dan …”

“Cantik!” cegatku.

“Ya, itu pasti. Hanya saat itu aku adalah gurunya. Tak mungkin rasa suka itu kutumpahkan. Kau tahu sendirikan bagaimana rasa itu kupendam dan hanya kuceritakan kepadamu”.

***

Ya, saat itu, hanya akulah tempat lelaki itu menumpah  segala gelisahnya. Apa saja yang menggores di hatinya soal Mariana selalu diperlihatkannya catatan itu padaku. Apalagi bila catatan itu mengoyak-ngoyak hatinya, maka kepadakulah dia beberkan sobekan-sobekannya.

Lelaki itu mengakui mulai suka dengan Mariana saat santrinya itu duduk di kelas dua.

“Mariana itu pendiam, tetapi dia punya kekuatan untuk merusuhkan hatiku,” kata lelaki itu suatu hari padaku.

“Bila aku berhadapan dengannya, menatap gemerlap permata di matanya, menikmati kemasan senyum kulumnya, aku seperti melupakan segala perangkat yang membungkus diriku sebagai gurunya,” kata lelaki itu kemudian.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Aku seperti lupa bahwa aku adalah gurunya dan Mariana itu santriku,” jelas lelaki itu kemudian.

“Ya, hanya seperti lupa sajakan?” tanggapku.

“Justru itulah aku masih menjaga diri agar tetap masih bisa menampilkan diri sebagai guru”.

“Tapi, aku lihat di depan Mariana sikapmu sangat berbeda, lebih ramah, lebih lunak, jika dibandingkan di depan santri-santri yang lain,” gugatku.

“Aku tidak bisa menyembunyikan itu. Dan aku yakin Mariana juga bisa membaca itu,” aku lelaki itu.

“Teman-teman Mariana juga tahu Kau ada hati dengan Mariana”.

“Apa salah seorang guru seperti aku jatuh hati kepada santrinya?”

Aku tidak bisa menyalahkan lelaki itu jika harus terpikat dengan santrinya. Persoalan cinta tidak memandang status dan kedudukan seseorang. Apalagi sekadar antara guru dan santrinya. Bertemu setiap hari di pondok, bersitatap setiap sempat, dan berbincang di saat luang, tentu tak bisa menghindarkan dari tumbuhnya perasaan suka.

Budaya guru suka dengan santrinya bukanlah hal luar biasa. Di kalangan pondok pesantren dan dunia sekolah, sudah sering terjadi guru yang menjalin hubungan pribadi dengan santrinya. Bahkan, kebanyakan guru, atau yang sering disebut ustadz, sering beristrikan mantan satrinya. Jadi aku sebenarnya tidak mempersoalkan apa yang terjadi pada diri lelaki itu.

Begitu pula soal status lelaki itu sebenarnya.

“Pa, katanya sidin itu sudah punya istri, ya?” tanya Mariana pada suatu kesempatan kepadaku.

“Kalau sudah punya istri, memang kenapa?” jawabku sambil balik bertanya.

Mariana hanya tersenyum dan tidak melanjutkan obrolan itu. Namun, dari senyumannya aku bisa membaca bahwa Mariana tengah mencoba memahami pendekatan yang dilakukan lelaki itu selama ini dengannya.

Lelaki itu memang sudah beristri. Perempuan yang menjadi istrinya itu bahkan sangat cantik. Aku cukup heran kenapa lelaki itu masih juga berminat terhadap perempuan lain, bahkan kepada santrinya sendiri.

“Ada banyak kemiripan sifat Mariana dengan istriku!”

Begitulah alasan lelaki itu seperti penuturannya suatu hari denganku.

Aku tidak harus mematahkan alasannya itu karena di mataku sendiri Mariana memiliki banyak kelebihan sebagai seorang perempuan.

Sayangnya Mariana adalah salah seorang santri di pondokku.

***

“Kau sekarang sudah beristri?” lelaki itu memecah lamunku.

“Ee… sudah! Maaf. Aku tak sempat mengundangmu waktu itu”.

“Tidak apa-apa. Sekali waktu kenalkan aku dengan istrimu!”

“Wah, senang sekali aku kalau Kau bersedia! Sekarang saja, sekalian ikut aku pulang,” ajakku,

“Lain kali saja. Aku masih harus mencari Mariana dulu,” tukasnya.

Aku tetap tak habis pikir mengapa lelaki itu masih mencari Mariana. Apakah dia masih punya impian terhadap mantan santrinya itu.

“Kenapa harus mencari Mariana?”

Aku memberanikan diri untuk mencari tahu lebih banyak.

Lelaki itu diam sejenak sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Dulu, aku pernah bilang denganmu. Aku suka sifatnya. Mirip dengan istriku. Aku sering mengimpikan lebih  tentangnya”, sahutnya setelah itu.

“Jadi, itu yang membuat Kau harus mencarinya berhari-hari?”

“Ya …”.

Aku pun terdiam. Tanganku masih memegang kayuh. Kubiarkan menggantung, tak kuayunkan. Sekadar menahan agar jukungku tak dibawa arus. Jukungku mengapung.

Lelaki itu tiba-tiba berdiri.

“Ah, aku turun di sini saja!” pintanya.

“Kok, turun?” aku terkejut mendengar keinginannya. “bukannya mau ikut ke rumahku?”

“Tolong tepikan jukungmu. Turunkan aku di batang itu saja!” katanya sambil menunjuk.

Aku tidak menawar. Aku kayuh kuat-kuat jukungku untuk menepi ke batang yang dimaksud. Beberapa orang yang sedang beraktivitas di atasnya memandang kami. Mereka menggeser tubuh mereka seakan memberi jalan jika jukung kami merapat dan menurunkan penumpang.

“Nah, kebetulan ada warung di sana. Rokokku habis. Aku ingin membelinya”, tukas lelaki itu sambil jongkok dan mengayuhkan  telapak tangannya untuk menarik air agar jukungku lebih cepat merapat.

“Setelah ini Kau mau ke mana?” tanyaku sembari memegang tiang yang menancap di sisi batang agar jukungku bisa bertahan di sampingnya.

“Aku akan mencari Mariana …!” teriak lelaki itu sambil meloncat ke atas batang.

“Terimakasih, ya! Sampai ketemu lagi!” katanya sambil mempercepat langkah menaiki tebing.

Beberapa orang di batang melempar pandang ke arah lelaki itu.

Aku memandangnya sampai lelaki itu tenggelam dalam warung di tepi jalan.

Aku pun melepas jarak dari batang kembali ke arus sungai.

Jukungku mulai mengaliri air sepanjang jalan. Menuju pulang.

***

Cahaya bara mengintip di balik ufuk. Lantunan azan menyergap telinga langit dan bumi. Air sungai mulai legam.

Jukungku sudah masuk ke sela dua tiang rumah panggungku.

Air mulai surut sehingga bawah rumahku bisa kujadikan garasi jukungku.

Seorang perempuan cantik dengan mukena terpasang separu badan menatapku tanpa berkedip. Di sebelah kiri perempuan itu berdiri seorang anak kecil.  Tangan kecilnya melambai-lambai menyambutku. Itulah istri dan anakku, tempat berpulang segala lelah, tempat bermanja segala asa. Mungkin mereka terlalu rindu karena hari Ahad sekali ini aku pulang agak landung9).

Kurapikan alat unjunku. Sambil memangku ember yang berisi tangkapan ikanku hari ini, aku menaiki tangga rumahku yang berdiri di atas air.

“Kok, Pian10) baru pulang sekarang?” tanya istriku, “ulun11) khawatir terjadi apa-apa!”

Dia sambut ember dan alat unjunku bertukar dengan anakku yang segera merangkul bahuku.

“Rafly lama nunggu abah, ya?” tanyaku sambil mengecup pipi raja hatiku.

Mata kecilnya menyorotku seakan mengangguk.

Anak kecil itu pun mengalungkan tangannya di leherku.

“Dik,” sapaku pada istriku sambil memasuki pintu rumah.

“Kau masih ingat dengan Pak Supian? Gurumu di pondok dulu”.

“Masih. Pian ketemu sidin kah tadi?”

“Ya.  Dia ternyata mencari-carimu selama ini!”

Istriku hanya terseyum sambil menutup pintu.

 

 

                                                                      Banjarmasin, 15 Maret 2008

 


jukung        : perahu kecil tak bermesin

ui                 : kata sapaan saat teriak memanggil dari jauh

meunjun    : memancing

bajukung    : menggunakan perahu

bungas        : tampan

kalu             : kalau

batang        : tempat penduduk melakukan aktivitas MCK

                      terbuat dari kayu glondongan yang diikat mengapung

sidin           : kata ganti untuk orang ketiga yang lebih tua

landung     : terlalu sore

pian            : kata ganti orang ke dua sapaan untuk orang yang lebih

                      tua

ulun           : saya, disampaikan apabila berbicara dengan orang yang

                      lebih tua

 

Iklan

4 comments

  1. Pencarian apa saja tidak akan menemukan sesuatu … sebab segala hal ada pada kita, pada diri, di pikiran pada hati.

    Bagimana menurut Sampeyan?

    Zul …

    Mencari itu bagian dari tantangan.
    Soal ditemukan atau tidak, ga masalah.
    Tapi proses pencarian itu mengasyikkan.

    Tabik!

  2. pak… kerennnn
    ,, guru bisa cinta murid…
    wow…..,, ini sudut pandang ke berapa pak?

    Zul …

    Apanya yang keren? Yang nulis atau ceritanya?
    Menurut Kamu sudut pandangnya apa? Kan anak jurusan Bahasa.

    Tabik!

  3. Bagus, bagus,…kalau Korrie Layun Rampan dengan ciri dayaknya, Zulfaisal Putera dengan banjarnya…

    Zul …

    Jadi ingat Pak Tino Sidin: bagus …, bagus …!
    Trims Mas.
    Aku mencoba mengedepankan unsur lokalitas saja.

    Tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s