Tarawih (malam ke-11) : Tuhan Ada di Mana-Mana

Tempat : Masjid Iqra bismirabbikallaji halaq, jalan Brigjend H. Hasan Basry, Banjarmasin

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri  kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan  segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah  dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah  dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al Muzzammi : 20

Masjid Iqro bismirobbikallaji halaq Banjarmasin
Masjid Iqro bismirobbikallaji halaq Banjarmasin

Tak terasa sudah sepuluh malam pertama telah terlewati. Banyak hal yang tentunya harus dievaluasi apa saja yang sudah dilakukan sepanjang sepuluh malam berlalu. Apakah kita sudah betul-betul meraih rahmat sebanyak-banyaknya seperti yang dijanjikan Rasulullah SWA pada sepuluh malam pertama Ramadhan? Apakah amalan-amalan sunnah di luar kewajiban berpuasa dan shalat lima waktu telah mewarnai hari-hari kita di sepertiga pertama Ramadhan? Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Bertemu dengan malam ke-11 Ramadhan ini berati kita mulai memasuki sepuluh malam kedua. Rasulullah menjanjikan bahwa Allah akan menurunkan ampunan atas segala dosa dan kesalahan makhluknya. Ampunan yang tentunya hanya  diberikan sebagai balasan dan penghormatan atas puasa dan amalan yang telah dilakukan pada sepuluh malam sebelumnya. Jika kita termasuk orang yang pantas untuk itu, maka ini kesempatan terbaik untuk habis-habisan menyesali dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan. Percayalah, Allah maha pengampun!

Itulah hal-hal yang disampaikan oleh Ustaz  Abd. Hamid Masdar, penceramah yang bertindak sekaligus imam Tarawih pada malam ke-11 yang aku ikuti di Masjid Iqra bismirabbikallaji halaq. Ceramah yang hanya didengar sekitar 20 jamaah pria dan 25 jamaah wanita ini terasa berkesan karena kita diingatkan akan dua hal. Pertama, mengevaluasi puasa kita pada sepuluh malam pertama. Kedua, menyiapkan amaliah Ramadhan di sepuluh hari kedua ke depan. Sekarang, apakah kita memahami pesan berharga itu?

Malam ke-11 ini aku sengaja memilih masjid yang terletak di lantai 3 Gedung Iqro yang berada di sebelah kanan Gedung Wanita, jalan Brigjen. H. Hasan Basri, Banjarmasin ini. Alasannya, aku ingin tahu bagaimana perkembangan masjid yang menyatu dengan perkantoran manajemen Iqro ini. Ramadhan tahun ini merupakan kali ketiga aku Tarawih di sini. Tampaknya memang tak ada perubahan yang siginifikan, baik jumlah jamaahnya, ketertibannya, maupun penataan ruangannya.

Ustaz Abd. Hamid Masdar ketika mengingatkan tibanya 10 malam kedua
Ustaz Abd. Hamid Masdar ketika mengingatkan tibanya 10 malam kedua

Aku sebenarnya bisa memaklumi nasib sebuah masjid di sebuah perkantoran. Persoalannya, masjid ini tidak berada di sembarangan perkantoran. Namun, bagian dari Gedung Iqro, sebuah gedung berlantai tiga yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan disediakan khusus untuk pembinaan masyarakat Qurani. Gedung dengan arsitektur eksterior yang megah dan dengan desain kubah yang indah memang telah banyak menghasil generasi yang pandai membaca Al Quran.

Tampaknya, penetapan lantai 3 Gedung Iqro ini sebelumnya tidak didesain sekaligus sebagai masjid. Letak arah kiblat yang mengambil salah satu sudut gedung ini salah satu indikatornya. Sutrah pembatas jamaah wanita yang hanya diikat pada tiang utama yang justru tidak segaris dengan shaf ke arah kiblat. Begitu juga tempat wudhu yang hanya menyediakan dua keran air.  Belum lagi soal ketertiban dari para remaja tanggung yang hilir mudik naik turun tangga dan di halaman, tetapi bukan untuk shalat. Akibatnya suara perbincangan mereka sangar mengganggu. Hal ini sudah kutemukan 3 tahun lalu sampai sekarang.

Aku pikir, sekali pun masjid ini berada dalam perkantoran, tetapi tetaplah manajemen dan adab sebuah masjid diperhatikan. Ada beberapa masjid-masjid dalam perkantoran umum yang pernah kusinggahi untuk shalat tetap tampil seperti layaknya masjid yang manunggal. Untuk di Banjarmasin, misalnya, masjid di dalam perkantoran Samsat Banjarmasin atau di Polda Kalsel. Sementara di Jakarta, masjid di perkantoran BII Thamrin atau masjid di Depdiknas Senayan. Sayang jika masjid di sebuah lembaga yang terkait dengan agama tidak dikelola dengan serius.

Namun demikian, patut pula disyukuri bahwa masih ada tempat shalat di sekitar kita. Kemana pun kita berada dan tiba waktu shalat, maka tidak ada alasan tidak menemukan tempat untuk menghadap-Nya. Kita yakin, hamparan bumi ini adalah sajadah panjang dan Tuhan ada di mana-mana. Maka yakinlah selalu ada lahan untuk berdiri, duduk, dan bersujud kepada-Nya. Mengisi hari-hari ke depan, dari Ramadhan ke Ramadhan, dengan hanya mengharap rahmat, ampunan, dan kebebasan dari api neraka. Allah pasti memenuhi janji-Nya!

Iklan

7 comments

  1. Iqra Bulding mengingatkan kita dengan “Bayt Alquran” bangunan monumental bernuansa spiritual di Taman Mini Indonesia Indah (TMMI).

    Sebagai pusat kegiatan Islam, misi yang diemban Iqra Bulding sangat mulia. Keberadaannya sudah tepat dan tak perlu dipermasalahkan. Pertanyannya, sejauhmana pengelola mampu mengemban misi yang dipercayakan, sehingga tidak muncul tudingan sinis akibat ketidakmampuan memikul beban dan kepercayaan masyarakat.

    Jangan sampai bernasib malang seperti Gedung Bundar yang lebih di kenal sebagai gedung pesta kawinnya orang-orang berduit, namun miskin kontribusinya terhadap umat.

  2. saya selalu bersyukur krn makin hari saya lihat, dimanapun tempatnya, org2 semakin banyak yg ingat dgn tuhan, sholat dimanapun mrk berada; di mal2, gedung perkantoran, sekolah, etc

  3. Liat nama mesjidnya jadi inget jaman rosul menerima wahyu pertamanya di gua Hira. bagaimana keadaan rosul saat itu, dikatakan ummiy (Ummiy itu ialah pelajar secara luar biasa). Ketika malaikat Jibril menyuruhnya membaca Iqra’ bisamirobbikalladzii…khalaq dst….
    Semoga sarana2 ibadah di perkantoran atau dimana saja semakin dibenahi, semoga menunjang kekhusukan ibadah, amien
    BAngga melihat anak-remaja berbondong2 kemesjid dengan kopiah, dan mukena dikepalanya 😀
    MAkasih mengingatkan betapa pentingnya malam demi malam di bulan ramadhan ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s