Tarawih (malam ke-12) : Mengagungkan Ramadhan di Masjid yang Agung

Tempat : Masjid Agung Miftahul Ikhsan, Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin.

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir  di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan  barangsiapa sakit atau dalam perjalanan , maka , sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.  Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Al Baqarah : 185

Masjid Agung Miftahul Ikhsan dipandang dari halaman Pusat Perbelanjaan Pangeran Antasari
Masjid Agung Miftahul Ikhsan dipandang dari halaman Pusat Perbelanjaan Pangeran Antasari

Ramadhan adalah sebuah nikmat yang agung dari Allah SWT  jika kita mengapresiasinya. Jika tidak, Ramadhan ini akan berlalu begitu saja tanpa sempat  memetik manfaat apa pun. Rasulullah pernah berseloroh, “Jika manusia mengetahui apa itu bulan Ramadhan, niscaya ummatku akan berharap agar setahun penuh menjadi bulan Ramadhan.” Tentu ada rahasia besar di balik keagungan Ramadhan sehingga Rasulullah berani menyatakan itu. Beruntunglah manusia yang mengetahui rahasia itu.

Malam ke-12 Ramadhan ini, di teras sebuah masjid yang terletak di persimpangan pusat kota Banjarmasin, aku sempat berpikir. Jika seluruh ummat Islam kota ini sangat memahami keagungan Ramadhan, pasti mereka akan menghentikan kegiatan duniawinya ketika tiba waktu shalat. Lalu lintas simpang empat jalan di depan masjid ini pasti tak seramai ini. Setiap orang akan menghentikan langkah, menepikan motor dan mobilnya, segera mengambil air wudhu, dan berdiri takjim siap mendirikan shalat. Subhannallah!

Di teras masjid ini aku juga sempat berilusi bahwa tiba-tiba seluruh tempat, baik di lantai satu maupun dua masjid ini seperti tak tersisa sejengkal pun. Semuanya dipenuhi oleh makhluk-makhluk Allah yang  bersegera mengangkat takbir menghadap-Nya. Aku lempar pandang ke halaman yang cukup luas, ternyata juga sudah dijejali jamaah bershaf-shaf yang siap menjadi makmum peribadatan malam Ramadhan ini. Sayangnya, itu hanya ilusiku. Mungkin suatu saat benar-benar akan jadi kenyataan, jika semua ummat memahami keagungan bulan penuh berkah ini.

Fardhu shalat Isya dan Sunnat Tarawih malam ke-12 ini aku lakukan di Masjid Agung Miftahul Ikhsan yang terletak tepat di perempatan Jalan Pangeran Antasari – Jalan Kolonel Sugiono, Banjarmasin. Sebuah masjid milik pemerintah kota yang didirikan khusus untuk memenuhi kebutuhan peribadatan warga yang berada di pusat kesibukan kota. Itulah sebabnya masjid ini didirikan tepat di pusat kota, di samping sebuah pasar terbesar, dengan harapan  warga tidak akan lama dan jauh meninggalkan aktivitasnya ketika akan melakukan ibadah.

Jamaah Masjid Agung saat shalat Tarawih
Jamaah Masjid Agung saat shalat Tarawih

Setiap kota besar di Indonesia selalu memiliki masjid dengan sebutan masjid agung. Istilah ‘agung’ sebenarnya tak beda dengan istilah ‘raya’ atau pun ‘jami’ yang berarti ‘besar’ atau ‘banyak’. Dalam perkembangannya istilah masjid jami lebih menunjukkan kepada masjid besar yang berusia tua, masjid raya merujuk kepada masjid yang baru (dan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi), sedangkan masjid agung adalah masjid besar yang dibangun di dekat pusat keramaian atau alun-alun dan menjadi tanggung jawab pemerintah kota.

Masjid Agung Miftahul Ikhsan yang meniru arsitetur Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta ini dibangun di atas sebuah lahan mushala dan kuburan bersamaan dengan dibangunnya Pusat Perbelanjaan Pangeran Antasari, diresmikan pada tanggal 30 Desember 1994 oleh Gubernur Kalimantan Selatan ketika itu. Sepanjang pengalaman shalat di masjid itu, seperti malam ke-12 ini, aku melihat tak ada perkembangan kea rah lebih indah, Ruangan dalam  masjidmiskin ornamen dan kaligrafi. Bahkan karpet sajadahnya tampak sudah sangat tua. Yang ada hanya lapisan cat dinding  yang diperbaharui dengan matex putih.

Namun demikian, sebagai sebuah Masjid Agung, Miftahul Ikhsan, minimal, sudah memenuhi syarat. Pertama, posisinya yang berada di pusat keramaian. Kedua, risiko berada di pusat keramaian, selain bisa dijadikan tempat shalat, masjid ini juga bisa menjadi tempat rehat dari kepenatan. halaman yang luas, anak tangga dan teras yang lumayan, tempat wudhu dan wc yang refresentatif. Yang aku belum tahu fungsi bangunan di lantai dasar. Jika berkaca kepada Masjid Agung Sunda Kelapa di Jakarta Pusat dan Masjid Agung Al Azhar di Jakarta Selatan, maka sejatinya Miftahul Ikhsan juga mempunyai aula pertemuan yang bisa disewakan, koperasi, dan ruang-ruang lain untuk dakwah dan bisnis.

Peribadatan malam di Masjid Agung malam itu diimami oleh H. Mukhlis A.S., Shaf-shaf yang disediakan tak terisi penuh.  Itu pun hanya di lantai 1. Ada 7 shaf jamaah pria dan 5 shaf jamaah wanita. Peribadatan Isya dan Tarawih 23 rakaat ini berjalan cepat kurang lebih  1 jam. Sebenarnya tak masalah karena masjid-masjid yang berada di pusat keramaian semacam masjid agung  ini memang harus memenuhi semua kepentingan pemakainya. Ibadah jalan, perniagaan juga jalan. Hanya kembali kepada ilusiku di atas tadi, semoga semua makhlum mengerti betapa Ramadhan itu sangat agung!

Iklan

One comment

  1. Suasana masjid di awal Ramadhan sangat padat. Jamaah sampai meluber ke pekarangan masjid. Tidak jarang masjid-masjid sampai harus menggelar karpet tambahan serta tenda di luar masjid untuk menampung jamaah yang membeludak.

    Inilah fenomena yang sering terjadi di Indonesia, hari pertama sangat penuh, hari berikutnya, mulai ada kemajuan. Maksudnya, shaf-nya makin lama makin maju. Saat hari-hari terakhir, malah sudah semakin maju. Alias cuma ada dua baris. Menyedihkan ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s