Air Mata Samirah

Cerpen : Zulfaisal Putera 

            Samirah menangis. Air matanya tumpah ruah mengisi relung bumi. Bukit dan lembah basah seketika. Palung palung tanah menampung air tiba-tiba. Mengalir ke ruang-ruang lepas di sekitarnya. Menelusuri akar-akar pohon dan urat-urat tanah.

            Samirah menangis. Awan-awan beradu menutup matahari. Menenggelamkan cahayanya di ketiak mega. Jari-jari langit mengikat angkasa dengan siraman kilat kait mengait. Mendesak debu-debu yang terbang. Menghitamkan alam.

            “Aku ingin berhenti jadi perempuan!”

            Sontak gelegar genderang serentak dipukul bertalu-talu dari langit. Telinga-telinga yang ada di langit dan di bumi memusat ke puncak dan membuka daunnya lebar-lebar.

            “Ya, aku ingin berhenti jadi perempuan!”

            Samirah mengulang pernyataannya sambil tetap membiarkan guliran-guliran air menyelinap di cekungan pipi ranumnya.

            “Kau sadar yang Kau ucapkan?”

            “Ya!”

            “Pernyataanmu memekakkan gendang telinga penghuni alam ini!”

            “Apa perduli mereka?”

            “Kau satu-satunya lagi perempuan di bumi ini. Kalau Kau berhenti jadi perempuan. Siapa lagi yang jadi perhiasan di dunia ini? Hanya Kamu satu-satunya lagi yang ada!”

            “Itulah egoisnya Kau. Egoisnya laki-laki!”

            “Uhp! Bukan begitu maksudku. …”

            “Aku harus berhenti jadi perempuan!”

            Cegat Samirah.

            Lobang di sudut matanya makin meluas. Air matanya mengalir bagi jatuh dari talang. Jatuh menyiram apa pun di bawahnya.

            Lantai tempat Samirah duduk sudah mulai menggenang.

            Merayap naik pelan-pelan.

            “Eh, tapi Samirah …”

            “Apa hakmu menahan keinginanku?”

            “Aku tidak menahan keinginanmu. Aku hanya ingin Kau memikirkan kembali rencanamu itu.”

            “Aku sudah pikirkan masak-masak.”

            “Sejak kapan?”

            “Sejak aku merasa aku tidak mampu lagi jadi perempuan.”

            “Kau masih mampu! Kau masih diperlukan, Samirah!”

            “Diperlukan untuk memenuhi keperluan kalian, laki-laki!”

            Suara Samirah makin parau. Seperti suara angin yang mendera atap-atap langit. Menggesek-gesekkan tubuhnya pada permukaan langit. Tangisnya benar-benar menguras energinya. Seluruh sendi tubuhnya melemah. Tak ada yang bisa digerakkan kecuali pundi-pundi air matanya yang tak pernah kering.

            Samirah terus menangis.

            “Aku bersedia jadi perempuan karena sebelumnya aku beranggapan sebagai perempuan aku lebih mulia.”

            “Kau sudah dimuliakan, kan?”

“Aku memilih jadi perempuan karena aku yakin hidupku akan lebih terhormat!”

“Kau memang sangat terhormat di sini, Samirah!”

            “Mulutmu!”

            “Kau satu-satunya perempuan di sini. Tak ada makhluk lain di bumi ini yang berhak mendapat kemuliaan dan kehormatan menyandang gelar ‘empu’, perempuan!”

            “Mulutmu. Laki-laki di mana-mana mulutnya sama!”

            Samirah menggigit bibirnya. Menahan kegeraman terhadap suara-suara di sekitarnya.

            Di luar, badai menepuk-nepuk dinding langit. Memutar daun-daun melingkar menari-nari. Pori-pori langit membuka sedikit demi sedikit. Bumi mulai digedor hujan.

            Air langit mulai mencurah. Rebah ke bumi. Menukik ke dalam kubangan air mata Samirah.

            Sementara genangan air di lantai makin beringsut. Mendaki kaki-kaki ranjang tempat Samirah meratap.

            “Berabad-abad aku jadi perempuan, meninggalkan sorga bersama Kau, tapi tidak pernah aku merasa diperlakukan jadi perempuan!”

            Samirah kembali menumpahkan kegelisahannya.

            “Berabad-abad aku mematut diri jadi perempuan. Berpuluh-puluh tahun memelihara diri, menghabiskan bedak sepanjang pantai,  memulas selautan lulur, meneteskan jutaan embun pengharum, dan bekeping-keping telaga cermin, tapi tetap kalian mengganggapku bukan sebagai perempuan!”

            “Akh, itu hanya anggapanmu, Samirah!”

            “Selama ini kami tetap menganggapmu dan memperlakukanmu sebagai perempuan!”

            Mata Samirah mulai membengkak.

            Kegeramannya terhadap suara-suara di sekelilingnya makin mendesak kelopak-kelopak matanya. Sementara, air matanya seperti tak perduli. Terus jatuh menjuntai dari sudut-sudutnya.

            “Bukankah selama berabad-abad ini kami sudah memenuhi segala persyaratanmu agar menjadi perempuan?”

            Suara-suara itu melanjutkan lagi jelajahnya.

            “Bukankah kami sudah berikan kain-kain indah sepanjang pelangi di langit? Bukankah pula kami telah sediakan permata emas, berlian, dan mutiara sebanyak isi lautan? Bukankah kami juga gelar permadani bumi untuk kau langkahi di atasnya dengan sepatu terindah? Bukankah kami pun telah pilihkan sebuah peraduan yang tiang-tiangnya dari pohon-pohon jati pilihan dan kasurnya dari busa-busa yang diambil dari gumpalan-gumpalan awan agar tetap empuk untuk Kau rebahi sepanjang bumi ini masih terus berputar?”

            “Ya! Dan di atas keempukan itulah setiap waktu Kau menusuk-nusukkan kelaki-lakianmu ke selangkanganku!”

            Terasa suara Samirah seperti ingin teriak, tapi tersedak.

            Wajah Samirah beringas. Rona merahnya seperti darah karena terus dilewati air matanya.

            “Kau memberikan semua kepadaku tapi bukan untuk aku, perempuan, tapi untuk kesenangan kau, laki-laki!’

            “Kau menyiapkan segalanya untuk kupakai sebagai perempuan bukan untuk keindahanku tapi untuk menambah indah pemandangan di matamu hingga membuat nafsumu makin memuncak!”

            “Aku tidak mengerti maksudmu, Samirah.”

            “Kau tidak pernah bisa mengerti aku, mengerti perempuan!”

            “Kau meminta-minta kepada Tuhan untuk disediakan teman hingga Tuhan memenuhinya dan mengambil sebagian dari rusuk kananmu untuk menciptakan aku, tapi nyatanya aku tidak pernah Kau jadikan teman.Sebaliknya, aku tetaplah jadi santapan empukmu. Dasar laki-laki!”

            Emosi Samirah makin memuncak.

            Di lepasnya lipatan kakinya yang sedari tadi menggantung di bibir ranjang. Di lemparnya keras-keras seluruh bagian persendian kakinya hingga memecah gelombang-gelombang genangan air yang sudah melumat ujung jarinya. Air-air itu pun pecah jadi partikel-partikel yang menyergap seluruh penjuru ruang dan menembus batas-batas kenisbian alam.

            Kemudian partikel-partikel air itu kembali luruh ke bumi dan menyatu lagi dengan genangan air lainnya yang makin menyembul-nyembul ke atas.
Kaki-kaki ranjang semakin tinggi dilahap

            Sementara langit makin beringas membilas alam.

            Sementara air mata Samirah makin buas meranggas ke seluruh tubuhnya.

            “Laknat, Kau laki-laki!”

            “Samirah, Kau sadar yang Kau ucapkan? Kau perempuan, tak sepantasnya kata-kata seperti itu keluar dari bibir seorang perempuan seperti Kau!”

            “Oo, tak pantas?”

            “Jadi yang pantas hanya kata-kata manis, seperti yang selama ini Kau senangi: sayang, peluk aku sayang, cium aku sayang, dekap erat, ah, uh, begitu? “

            “Bukan, bukan begitu!”

Suara-suara itu makin menjengkelkan. Jantung Samirah seperti mau meledak menahan kejengkelan itu.

            Sementara itu ruangan makin terasa dingin. Dingin dan menggigilkan. Air mata Samirah yang bersenyawa dengan air hujan terus mengejar ketinggian di tempat itu.

            Kaki-kaki ranjang tempat Samirah sudah tenggelam.

            Helaian benang-benang alas peraduan mulai bersentuhan dengan permukaan air.

            Dan Samirah merasa waktunya hampir habis. Dia harus menghentikan dirinya sebagai perempuan.

            Jari-jari tangannya mulai membuka seperti hendak mencakar.

            “Samirah! Kau hendak apa? Kenapa tanganmu?”

            Samirah tak menjawab.

            Bibirnya lekat mengatup.

            “Samirah, sadar Samirah! Alam ini masih memerlukanmu. Percayalah!’

            “Kau lupa Samirah. Sebagai perempuan Kau pernah jadi apa saja di bumi ini. Kau pernah jadi seorang Ratu Bulkis yang cantik dan kaya. Kau pernah jadi seorang Cleopatra yang diperebutkan pemuda-pemuda satu negeri. Kau pernah jadi Matahari sang mata-mata yang ditakuti musuh-musuh negeri. Kau pernah jadi Raden Ajeng Kartini yang dijadikan simbol kebangkitan perempuan di sebuah negeri. Kau pernah jadi Ratu Elizabeth yang memimpin jutaan laki-laki di sebuah negeri. Kau pun pernah jadi Bunda Theresia yang bijak dan maha penolong. Kau juga pernah jadi Margareth Teacher, Corazon Aquino, bahkan Megawati yang didaulat jadi pemimpin negeri-negeri di sini. Kau juga …”

            “Sudah! Sudah! Jangan diteruskan!

            Samirah menyeringai.

            Bulat matanya seperti hendak meloncat.  

            “Tapi, Samirah …”

            “Diam! Kataku”

            “Sepanjang apa pun hidupku, untuk pernah jadi apa pun, di balik itu aku tetap jadi perempuan yang Kau perbudak. Yang harus membuka pakaian kebesaran dan bertelanjang bulat di depanmu untuk kemudian Kau santap seperti macan lapar yang bertemu sepotong daging di tengah hutan!”

            Suara Samirah sudah menyeruak ke angkasa.

Memecah langit-langit kedukaan

            Hujan sudah tak berbatas menyambar bumi. Menyatu dengan air mata Samirah. Menenggelamkan bumi.

            Samirah mulai menggerakkan kedua tangannya yang sudah bersiap mencakar.

            Secepat nafasnya, kuku-kuku jari-jari tangannya mencabik-cabik sutera yang membungkus badannya.

            Satu persatu benang-benang emas terlepas dari helai-helai rajutan kain bajunya. Makin cepat tangannya merobek-robek busana yang membalut tubuhnya, makin terlihat mulusnya kulit tubuhnya.

            Walau dibasuh oleh guliran air mata yang tak henti-hentinya, kehalusan kulitnya sebagai perempuan tetap tampak.

            Jari-jari tangannya makin mencabik-cabik seluruh kain-kain pembungkus tubuhnya. Sobekan-sobekannya berhambur ke segala arah. Makin terlihatlah indahnya lekuk tubuh seorang perempuan. Sepasang bukit kecil yang menyembul di dadanya menyiratkan betapa hebatnya Tuhan memberikan anugerah buat seorang makhluk bernama perempuan. Guliran-guliran air mata Samirah dengan lembut mengalir di sela-selanya.

            Air mata itu sudah saling menumpuk dengan air hujan. Genangan air sudah menelan seluruh badan ranjang. Frekuensi air sudah tak bisa berkejaran dengan nafas Samirah yang tak perduli dengan genangan yang makin meninggi.         

            “Sa …sa… mirah?!!! …”

            Suara itu muncul lagi.

            Mata-mata nyalang sekeliling alam meneguk air liur melihat indahnya tubuh Samirah.

            Samirah tahu apa yang ada di kepala mereka melihat dirinya bugil seperti ini.

Samirah tetap seakan tidak perduli. Dia terus melepaskan sisa-sisa helai benang emas yang tertinggal.

            “Selamat tinggal perempuan …!”

            Suara Samirah melayang lamat-lamat.

            Sementara kuku-kuku jari-jari tangannya mulai mengoyak-mengoyak kulit dan daging di tubuhnya. Semburat darah memancar dari garis-garis yang ditorehkan oleh kukunya. Darah-darah itu mewarnai genangan air yang sudah memangkas kakinya. Terus beranjak dan mendaki tubuhnya. Mulai memerah dan makin memerah.

            Kulit dan daging tubuh Samirah mulai terkoyak-koyak. Payudaranya yang indah sudah tinggal rongga dada. Daging-dagingnya mulai berceceran. Sebagiannya menempel pada ujung kuku-kukunya. Tapi kuku-kuku itu terus menggerogoti sisa-sisa daging yang masih utuh pada bagian lehernya.

            Berkejaran dengan genangan air yang merangsak menenggelamkan tulang-tulang tubuhnya, kuku-kuku jari-jari itu memangkas habis kulit dan daging pada leher jenjangnya, pada dagu lebahnya, pada bibir tipisnya, pada hidung mancungnya, pada pipi ranumnya, telinga , dahi, kulit kepala Samirah.

            Serakan kulit dan daging merebak ke seluruh sudut.

Kemudian tenggelam pelan-pelan pada lautan air bercampur darah yang sudah memenuhi seluruh ruangan.

            Bau amis menyergap alam.

Tulang-tulang Samirah sudah lantak pada dasar genangan.

            Sementara itu, kuku-kuku jari-jari tangannya sudah saling mencakar dan merobek karena hanya pada bagian itulah lagi yang masih tersisa sedikit daging.

            Kuku-kuku itu pun mulai terlepas karena tidak ada lagi tempatnya menempel.

            Hanya satu bagian dari tubuh Samirah yang masih utuh: matanya.

            Mata itu tetap cantik.

Mata itu mengapung-ngapung dan terus menggulirkan air mata.

            Air mata Samirah. Air mata perempuan.

           

                                                                                   Banjarmasin, Oktober 2005

Iklan

2 comments

  1. kerennnnnnnnnnnn

    Zul …

    Mas Hady sudah baca sampai selesai?
    Trimslah sudah sempat tengok blog aku.
    Cerpen ini sudah dimuat dalam antologi cerpen Lomba Penulisan Cerpen Akademi Kebudayaan Yogyakarta Tahun 2006.

    Trims

    Tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s