Bulan Bulat di Ujung Atap

Cerpen : Zulfaisal Putera

            Malam baru tiba. Gelap mulai menyergap. Batang sepi. Sungai tenang. Tak ada riuh dan geliat air dipermainkan orang-orang yang mandi seperti sepanjang pagi dan sore.

            Malam baru menyapa. Lampu-lampu telah dinyalakan pada sumbu-sumbu. Sebagian cahayanya menyiram ujung batang. Sebagian lagi menyapu sepanjang titian. Tapi tetap kebisuan yang tampak. Karena begitulah batang setiap awal malam.

            Malam baru bersua. Seperti biasa. Sepasang kaki bersendal menapak titian menuju batang. Kaki yang bersih dengan jari-jari indah. Susul menyusul susuri papan-papan berhalang. Sesekali berhenti karena ada bagian titian yang patah papannya. Seterusnya bergegas.

            Aku ingin menanti dia.

            Aku tidak ingin kehilangan kesempatan menyambut dia.

Wajah Mariam memancar harapan. Ditariknya sedikit sarungnya agar kedua kakinya lebih luas melangkah. Makin cepat. Makin dekat.

Mariam sampai di batang. Langsung ia mendekat ke bibirnya. Berdiri.

Matanya mulai di arahkan ke muara sungai. Sepi tak ada siapa-siapa. Tak ada perahu yang merayap. Tak ada kecipak kayuh yang dipukulkan ke badan sungai. Tak ada riak-riak yang terbelah oleh ujung jukung.

Yang ada hanya bayangan lampu-lampu lanting dan rumah penduduk di tepi sungai. Memantul pada permukaan sungai membentuk siluet cahaya yang dipermainkan riak air.

Mariam terus berdiri. Ujung kerudung di rambutnya berlari dielus angin yang pulang.

“Dia tak akan pulang sekarang, Imar!”

Selalu begitu kata mamanya bila Mariam akan keluar rumah selepas magrib untuk menuju batang.

Sidin pasti pulang!”

“Pabila sidin bilang seperti itu?”

Mama seperti ragukan keyakinan Mariam. Matanya teduh tatap mata Mariam. Seakan ada hal yang masih tersimpan di baliknya. Cahaya lampu semprong di dinding redup. Wajah Mariam menyala. Selalu ada harapan yang tumbuh  setiap malam datang.

“Kau ke batang lagi, Imar?”

“Sebentar lagi sidin datang, Ma!”

Kerudung kuning diraihnya dan dikalungkan pada kepalanya sekenanya. Ditinggalnya sedikit senyum di ujung bibir. Mariam beranjak.

Ia menghindari tatapan matanya

“Kasian sidin, kalau pas datang ulun tidak menyambutnya.”

“Mar, hati-hati!”

“Kak Imar ke batang lagi?”

Jailani, adik laki-laki Mariam menyela.

Ulun ikut!”

Tangannya menarik ujung sarung Mariam.

“Jai, biarkan kakakmu”, kata Mamanya sambil membetulkan selimut Rukayah, adik Mariam yang masih berumur 5 tahun. Tertidur sejak senja. Nyenyak. Seakan tidak perduli kebiasaan kakaknya selepas magrib.

Rukayah selalu tertidur menjelang magrib setelah lelah bermain sore hari.

Ulun hendak ikut menunggu sidin. Sidin pasti datangkan, Kak Imar?”

Suara Jailani larut membujuk. Tangannya masih kuat mencengkram ujung sarung. Mariam merunduk. Ia elus rambut lurus adiknya.

Ikam tunggu di rumah saja. Biar kakak yang menyambut sidin!”

“Ijai!”, mama menyalak.

Jailani mengendurkan cengkraman tangannya pada ujung sarung Mariam. Sejenak kemudian melepas. Berikutnya, seperti biasa, Jailani balik badan dan lari ke belakang. Ujung dapur adalah tempat paling tepat untuk melarikan kekecewaan.

Mariam keluar rumah. Malam menyambut. Seperti biasa. Seperti malam-malam sebelumnya. Kakinya melangkah tegas menuju batang.

***

Mariam  mulai mematung.

Berdiri di bibir batang.

Matanya tak berkedip. Menyeruak di sela-sela gelap. Berharap ada gerak muncul tiba-tiba di ujung sana.

Tapi sungai tetap tenang.

Tak ada sedikit pun gerak yang mengusik ketenangan sungai.

Bulan masih bersembunyi di balik atap-atap kehidupan

Saat-saat begini, semua makhluk bumi telah menyimpuh diri. Setelah sehari mencari kehidupan di ladang Tuhan. Semua lalu pulang.

Matahari pulang, Orang-orang pulang. Burung-burung pulang. Plankton dan jasad renik pulang. Semua telah pulang. Tapi ada yang belum pulang.

Dan itulah yang selalu dinanti oleh Mariam.

Mariam yakin bahwa malam ini pasti pulang. Keyakinan yang setiap malam ia tanamkan, tapi setiap malam juga ia menemukan kenyataan: yang dinanti tidak datang.

Abah akan pulang, Imar!”

Kalimat itu selalu terucap setiap kali abah akan berangkat.

Setiap kali pula Mariam melepas abahnya dengan senyum sambil memasukkan semua keperluan yang akan dibawa abah.

Sebagai anak,  Mariam selalu membantu abahnya menyiapkan segala perangkat dan perbekalan untuk seharian mencari nafkah.

Sarung, handuk kecil, termos, rantang berisi nasi dan lauk secukupnya.

            Pagi, selepas subuh. Mariam memasukkan semua barang itu ke perahu abahnya. Sebuah perahu besar tidak bermesin. Orang-orang di kampung menyebutnya  dengan jukung tiung. Seluruh badannya terbuat dari kayu ulin yang tahan beratus-ratus tahun. Digerakkan cukup dengan dayung besar atau dengan buluh bambu panjang yang ditusuk-tusukkan ke dasar sungai kalau air sedang surut. Dan kalau perahu itu bermuatan penuh biasanya digandengkan dengan klotok sebagai penariknya.

            Abah memeriksa dinding-dinding perahu. Kemudian menimba air yang tergenang di dasarnya. Setelah itu, abah pun siap berangkat.

            Abah memandang sejenak kepada Mariam.

            “Abah pergi! Bantu mama, ya!”

            “Inggih!” Mariam mengangguk.

            “Abah akan ke Kuin dulu, ke wantilan Haji Salman. Semalam banyak kayu datang. Barangkali abah dapat membawa beberapa kubik mengantar ke langganan sidin“.

            “Inggih! Pian tidak bermalamkan?”

            “Abah akan pulang, Imar!”

            Itulah perbincangan yang rutin keluar dari mulut abah dan anak.

            Mariam melepas abah di bibir batang. Setiap pagi. Setiap hari.

            Sementara mama Mariam, hanya melepas di pintu rumah. Setelah itu, mama harus membangunkan Jailani dan Rukayah. Jailani menyiapkan diri untuk sekolah. Sedangkan Rukayah dibawa mama ke pasar.

Setiap pagi sampai menjelang siang, mama Mariam mengambil upah membersihkan sisik ikan dan membuang isi perutnya sampai bersih. Biasanya mama mengambil tempat di samping orang menjual ikan. Selalu saja ikan-ikan itu dipercayakan kepada mama untuk dibersihkan setelah pembeli sepakat membelinya.

            “Berangkat, Pak Basri!”

            Seorang laki-laki sambil menggosok-gosokkan sabun ke badannya memberi senyum.

            “Iya, Pak!”

            Pada saat-saat seperti itu, sejak matahari mulai mengintip. Orang-orang mulai memenuhi batang-batang seberang menyeberang. Tua muda, anak-anak, laki-laki dan bini-bini, asyik beraktivitas. Mandi, cuci pakaian, berenang, atau buang air di jamban. Atau sekadar duduk dan melamun.

            Sementara di permukaan sungai, sudah mulai melintas beberapa perahu. Melayari alur kehidupan, mengangkat harapan, menuai rezeki sehari-hari. Bunyi kecipak air yang ditimba dengan gayung dan disiramkan ke tubuh, berpadu harmonis dengan bunyi gerak air yang menggiring perahu membelah alur. Komposisi lagu yang merdu di pagi hari di sepanjang sungai.

Perahu abah Mariam pelan-pelan bergerak. Badannya yang kurus tapi berkesan kuat juga bergerak. Sambil meniti di sisi-sisi perahu, tangannya menusuk-nusukkan ujung bambu besar ke dasar sungai agar badan perahu terdorong.

            Perlahan, perahu itu mulai bergerak stabil. Menjauh, menuju ke muara sungai. Menjauh dari Mariam yang mulai bersiap-siap untuk mandi. Begitulah setiap pagi. Setiap hari.

            Keberangkatan abah Mariam sudah jadi pemandangan biasa bagi orang-orang di batang. Seperti biasa menyaksikan matahari yang berkunjung saban pagi. 

            Dan seperti biasa pula, setelah sehari penuh, abah akan tiba kembali ke batang itu selepas magrib. Saat batang sudah mulai sepi dan malam mulai menyergap.

Abah merapatkan perahunya dan mengikatkan tali perahu pada paku besi yang tertancap pada badan batang. Dan Mariam yang setia menyambutnya bergegas mengambil perbekalan abah dan sedikit oleh-oleh yang dibawa. Biasanya sesisir pisang atau sebungkah ubi kayu.

Namun, keindahan selepas magrib itu sudah tidak dirasakan oleh Mariam. Sudah memasuki minggu ke empat ini, abah tidak pernah pulang. Perahu besarnya tidak pernah merapat lagi di batang itu.

Dan Mariam tidak pernah menyadari itu. Mariam tetap menanti abah pulang. Selepas magrib, di batang. Seperti malam ini.

Hampir satu jam Mariam menunggu. Matanya tetap nyalang memandang ke muara. Sesekali ia duduk di bibir batang. Ia biarkan kakinya yang indah berjuntai dan tercelup ke air. Lebih sering ia berdiri  gelisah.

Sementara, lamat-lamat, suara azan menyapa di pucuk-pucuk menara. Waktu isya tiba.

Mariam menghela nafas. Malam ini, abah masih belum pulang juga. Ada sebersit kecewa. Tapi, tetap lebih banyak binar harapan di wajah Mariam. Mungkin esok malam abah akan pulang,

Sungai tetap angkuh dengan kesunyiannya. Mariam mulai balik badan. Melangkah gontai. Sesekali matanya masih melirik-lirik ke muara. Kakinya lemah menapak papan-papan titian. Pulang kembali ke rumah.

Abah belum pulangkan, Imar?”

Suara lembut mama menyambut Mariam di depan pintu. Sebuah mukena putih terpasang membalut tubuhnya.

Mariam diam dan hanya mengangguk kecil.

Cahaya lampu semprong di rumahnya tetap redup.

Rukayah asyik bermain dengan Jailani.

“Ayo, shalat?”

Satu malam lagi telah lewat.

***

Mariam lagi sendiri. Pagi baru tiba. Mamanya dan Rukayah sudah ke pasar. Jailani sedang menuju sekolah.

Mariam duduk di tangga ulin teras rumah panggungnya. Seperti biasa, bersarung dan berkerudung.  Badannya disenderkannya ke anak tangga. Ujung-ujung jari tangannya memainkan ujung-ujung kukunya.

Jalan setapak di depan rumah Mariam sudah mulai ramai. Orang-orang berlalu lalang. Menebar diri mencari rezeki.

Seorang anak kecil bertelanjang berlari kencang dari batang. Tangannya berayun memutar-mutar pakaiannya yang basah. Dua anak lagi menyusul di belakangnya. Mereka asyik dengan keriangannya. Sebuah sepeda yang sedang melaju dan dikemudikan seorang laki-laki agak tua hampir ditabrak oleh anak-anak itu. Untung laki-laki itu sempat mengerem. Orang-orang sekitar menjerit. Tak sempat kena. Dan anak-anak itu terus berlari masuk ke dalam gang di samping rumah Mariam. Menyanyi-nyanyi. Tertawa-tawa. Tidak perduli dengan keterkejutan si pengemudi sepeda.

Tapi Mariam juga tidak perduli. Matanya lepas hanya memandang ke batang. Tinggal sedikit orang yang  beraktivitas di sana.

Sudah lama Mariam tak melihat bayangan abahnya di batang.

Di rumah, apalagi.

Pernah Mariam bertanya kepada mamanya.

Abah belum bisa pulang, Imar!”

“Kenapa?”

“Aku belum bisa cerita kepadamu,  kenapanya.”

Mama halus berkelit.

“Tapi, pabila abah pulang, Ma?”

Abahmu pasti pulang!”

“Kapan?”

“Entahlah”.

Mama mengunci keingintahuan Mariam. Setelah itu, kembali mereka saling diam. Dan Mariam tetap dalam bejana kebingungan.

Kenapa abah belum pulang?

Sudah puluhan tahun abah membawa perahu besar. Mengunjungi wantilan-wantilan yang ada di muara sungai Barito. Berharap ada kayu-kayu jadi yang sudah dipesan untuk di antar ke pelanggan-pelanggan. Mengantarnya juga tidak terlalu jauh. Masih di wilayah Banjar. Paling jauh sedikit sampai ke sungai Tabuk.

Abah sudah lama jadi langganan wantilan-wantilan itu. Yang paling sering memakai jasa abah adalah Haji Salman. Dia dikenal sebagai raja kayu di Kuin. Wantilannya luas. Kayunya juga beragam. Dari ulin, lanan, marijang, balau, sampai kayu jati. Entah dari mana dia dapat pasokan kayu sebanyak itu.

Konon di belakang Haji Salman, ada cukong besar dari Jakarta yang menyiapkan dana untuk menyuplai beragam kayu itu. Banyak orang-orang besar di Jakarta yang mengantongi izin HPH hutan-hutan di Kalimantan. Mereka memiliki kekuasaan penuh untuk membabat di hutan mana saja dan pohon apa saja. Mereka tidak pernah perduli akan habisnya paru-paru dunia. Sekali pun mereka punya kewajiban untuk melakukan reboisasi, tapi tak pernah dilakukan sepenuhnya. Tak ada yang mengontrol karena pejabat-pejabat yang punya tugas untuk itu sudah kecipratan hasil penggundulan hutan itu.

“Haji Salman itu baik sama kita, Mar”, suatu hari abah menceritakan pada Mariam.

“Kadang abah dibayar lebih oleh Pak Haji.”

Jukung tiung ini pun abah dapatkan dari Pak Haji dengan cara mencicil”

Aku ingat. Beberapa tahun yang lalu, abah masih masih pakai perahu kecil. Cukup memuat satu kubik kayu. Sekarang dengan perahu besar, abah bisa membawa puluhan kubik kayu sekali jalan.

“Kita banyak dibantu oleh Pak Haji, Nak!”

Abah memang tidak pernah melupakan kebaikan orang lain.

Apalagi kebaikan Haji Salman.

Sayangnya, Mariam tidak pernah bertemu Haji Salman.

Sekali pun anak pertama, tapi karena Mariam anak perempuan, ia tidak pernah dibawa abah berperahu ke Kuin.

Kalau Jailani pernah. Beberapa kali hari Minggu, Jailani diajak abah berperahu. Cuma ia masih kecil. Di usia sembilan tahunan, Jailani tidak punya kemampuan banyak merekam apa yang lihat dan dengar. Kalau ditanya bagaimana sosok Haji Salman, Jailani hanya tertawa dan bilang tidak tahu.

Di mana abah? Mengapa belum pulang sampai sekarang? Hati Mariam terus berjibaku dengan pikirannya.

Angin mulai agak hangat. Udara sudah membawa debu ke mana-mana. Matahari mulai menanjak. Orang-orang makin berserak. Mariam tetap duduk tak bergerak. Matanya tetap tajam menatap.

Sebuah perahu bermesin merapat dan berhenti dekat batang. Sementara pengemudinya mengikat tali perahu ke salah satu tiang, seorang laki-laki bertopi turun dari perahu. Tampak laki-laki itu mengajak berbicang seseorang yang sedang mandi. Sejenak kemudian, orang yang sedang mandi itu berbalik badan dan menunjuk-nunjukkan ujung jarinya ke arah rumah Mariam. Laki-laki itu mengangguk dan melempar mata ke arah yang sama.

“Assalamualaikum!”

Suara laki-laki bertopi itu mengejutkan lamun Mariam.

Bergegas Mariam berdiri.

“Waalaikum salam!”

Seorang laki-laki gagah tegak berdiri di hadapan Mariam.

Ia memberi senyum.

Mariam membalas. Matanya bersitatap dengan laki-laki di depannya. Seterusnya disapunya pandangan ke sosok orang yang dihadapannya. Seorang laki-laki bertopi. Mukanya bersih. Berpakaian rapi. Pakai ikat pinggang dan bersepatu. Tangan kanannya memegang sebuah bungkusan besar.

Bini Pak Basri ada?”

“Mamaku?”

“Ya, mamamu. Ada?”

Mata Mariam masih menyelidik. Rasanya ia pernah melihat laki-laki ini. Laki-laki bertopi ini pernah ke rumahnya. Ya, Mariam ingat. Sekitar tiga minggu yang lalu, laki-laki ini datang menemui mamanya. Saat itu Mariam sedang di kamar. Ia sedang bingung. Saat itu sudah sehari abahnya tidak pulang.

Ia pikir, laki-laki itu hanyalah seseorang pejalan kaki yang sedang menanyakan sesuatu kepada mamanya yang saat itu sedang berada di depan rumah.

“Ee, mama lagi di pasar. Pian siapa?”

Dengan suara yang tersedak, Mariam memberanikan diri menjawab keingintahuannya.

Mata laki-laki itu mulai menelisik jauh ke dalam rumah Mariam yang pintu dan jendelanya terbuka.

“Aku Bani. Aku disuruh Haji Salman menemui mamamu!”

Haji Salman? Nama yang baru dilamunkannya itu tiba-tiba diusung laki-laki itu di telinganya.

“Ee, pian naik dulu ke rumah”, ajak Mariam bermanis-manis.

“Tidak usah. Aku sebentar saja. Biar di sini saja! Kamu anak Pak Basri?”

“Iya. Ada apa?”

Mariam agak menegang. Matanya makin menyala menatap laki-laki itu.

“Ini ada titipan surat dari Pak Haji buat mamamu”, kata laki-laki bertopi itu. Tangannya meraih sebuah amplop putih dari dalam kantong baju yang tak berkancing.

“Tolong sampaikan kepada mamamu. Bilang, ini surat dari Pak Haji!”

Tangan Mariam bergetar. Amplop itu sudah beralih ke tangannya.

“Dan ini, oleh-oleh dari Pak Haji!”

Laki-laki itu meletakkan bungkusan besar yang ada di tangannnya ke sisi kaki Mariam.

Mariam terdiam.

“Aku permisi dulu! Sampaikan salam dari Pak Haji buat mamamu.”

Mariam masih terdiam. Berjuta hal mulai berkecamuk di kepalanya.

Sementara laki-laki bertopi itu sudah berbalik menuju batang.

Matahari terus menanjak. Panas mulai membilas kulit. Butiran keringat mulai menggulir di kepala Mariam.

Mariam mulai terjaga. Sejenak matanya mencari laki-laki bertopi tadi. Tak sempat ia mengucapkan terimakasih.

Suara perahu bermesin sudah mulai terdengar. Laki-laki itu sudah duduk di dalamnya. Perahu itu mulai beranjak.

Mariam mulai bergerak.

Surat di tangan dan bungkusan besar itu dibawanya ke dalam rumah.

Hampir tak kuat Mariam mengangkat bungkusan itu. Mengintip sedikit. Isinya beras.

Bungkusan itu diletakkannya di samping tajau di dapur. Kemudian Mariam duduk. Bersender pada pintu dapur. Tangannya menimang-nimang amplop putih itu.

Haji Salman. Surat dari Haji Salman buat mamanya. Apa isinya?

Ditelisiknya seluruh sisi persegi empat panjang amplop itu. Pintu amplop itu ternyata tidak diberi perekat.

Mariam memasukkan jarinya ke dalam amplop. Ada sejumlah uang dan sehelai surat. Ditariknya kertas yang berlipat rapi itu. Tak sabar, surat itu dibuka.

 

Bu, keadaan pak Basri baik-baik saja.

Seperti yang pernah saya ceritakan dulu, Pak Basri masih dalam penahanan polisi. Peristiwa kemarin bukan kesalahan Pak Basri. Sewaktu Pak Basri mengantar kayu-kayu itu, polisi perairan sedang melaksanakan razia. Ibukan tahu, kayu-kayu kami tidak pernah disertai surat macam-macam. Maka, tertangkaplah Pak Basri. Dia tak bisa menunjukkan SAKO (surat angkut kayu olahan). Akhirnya, Pak Basri dan perahu beserta isinya ditahan.

Tapi ibu tenang saja. Saya masih mengurus pembebasan semuanya. Komandan polisi itu sudah bertemu dengan saya. Kami sudah menyepakati uang tebusannya. Insyaallah, sekitar seminggu lagi Pak Basri sudah bisa berkumpul dengan Ibu dan anak-anak.

 Ini ada sekadar oleh-oleh dan sedikit uang dari saya. Semoga bisa meringankan beban ibu.

Salam dari saya, Haji Salman.

***

            Selepas magrib, Mariam kembali ke batang. Seperti biasa, ia berdiri di bibirnya. Matanya menatap ke muara. Berharap abahnya pulang.

Hampir satu jam sudah Mariam. Matanya tetap nyalang memandang ke muara. Sesekali ia duduk di bibir batang. Ia biarkan kakinya yang indah berjuntai dan tercelup ke air. Lebih sering ia berdiri. Tapi kali ini Mariam tidak  gelisah.

Malam mulai terang. Wajah dewi malam sudah mulai membulat.

Satu bulan sudah Mariam menghabiskan waktu awal malam di batang. Sampai suara azan menyeruak keheningan. Waktu isya tiba. Mariam pun mengakhir penantian malam itu.

Abah masih belum pulang. Tapi kali ini Mariam tidak kecewa. Tampak lebih banyak binar harapan di wajah Mariam. Mungkin esok malam abah akan pulang.

Mariam melangkah pulang. Kaki indahnya tegar menapak. Di tengadahkannya kepala ke atas. Bulan bulat diujung atap. Semua jawab sudah Mariam dapat. Tinggal menunggu perahu abah merapat.

                                                               Banjarmasin, Mei 2004 – Juni 2006

Keterangan:

–     batang                        :     bangunan panggung di atas air yang disangga oleh kayu gelondongan mengapung, digunakan untuk kegiatan MCK penduduk.

–     jukung                         :     perahu kecil tak bermesin terbuat dari kayu ulin

–     jukung tiung                :     perahu besar, biasanya membawa kayu-kayu

–     klotok                          :     perahu kecil bermesin

–     lanting                         :     rumah di atas air yang disangga oleh rangkaian bambu-bambu besar mengapung.

–     sidin                            :     beliau

–     lampu semprong       :     lampu teplok

–     ulun                             :     saya ( kepada orang yang lebih tua)

–     ikam                            :     kamu (kepada orang lebih muda atau seusia)

–     abah                           :     ayah

–     inggih                          :     iya, tanda setuju (kepada orang yang lebih tua)

–     bini                              :     istri

–     bini-bini                      :     wanita (jamak)

–     wantilan                      :     tempat usaha penggergajian kayu sekaligus tempat penjualannya

–     pian                             :     kamu (kepada orang yang lebih tua)

–     tajau                            :     tempat air yang besar terbuat dari tanah liat, dinding luarnya biasanya berhiaskan gambar naga dan sejenisnya

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s