Eror

Cerpen : Zulfaisal Putera

 

            “Kring … kring!”

            Aku lemparkan tas besarku di lantai. Kusapu seluruh ruangan ini dengan mataku. Mencari sumber bunyi.

            “Kring … kring!”

            Kuhempaskan pantatku pada kasur. Sembari membuka kancing ujung lengan panjang pakaianku, kembali kusapu seluruh ruang ini. Sekali lagi, kucoba mencari letak sumber suara telepon itu.

            “Kring … kring!”

            Aku baru saja tiba. Dering telepon itu pasti bukan untuk aku.

            Badanku masih terasa penat. Empat jam setengah aku terpenjara dalam angkutan sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini. Satu jam dalam mobil yang membawaku dari rumah ke bandara Syamsuddinoor. Satu jam setengah dalam pesawat yang menerbangkanku dari kotaku tinggal ke Jakarta ini. Dua jam dalam bus yang mengantarkanku sampai ke wisma ini.

            “Kring … kring!”

            Aku yakin betul suara telepon itu bukan ditujukan untukku. Aku baru tiba di wisma ini dua puluh menit yang lalu dan baru masuk kamar ini beberapa saat yang lalu. Mana mungkin ada orang yang tiba-tiba perlu denganku di kota ini. Kalau juga memang untukku, siapa juga dari sekian orang yang kenal denganku tahu bahwa aku ada di kota ini. Apalagi tahu aku menginap di wisma ini, di kamar ini.

Jakarta bukan kotaku. Tidak tiap waktu aku ke sini. Mana ada orang Jakarta yang kenal aku. Sesama orang Jakarta saja mereka tidak saling begitu kenal. Apalagi dengan orang luar seperti aku. Aku hanya tamu di sini. Ya, aku tamu saja.

            Sebulan lalu  aku dapat surat dari Jakarta yang memanggilku ke sini. Aku diundang untuk mengikuti kegiatan diklat lanjutan di kota ini bersama puluhan peserta dari daerah-daerah lain.

            Bagiku ini betul-betul kejutan. Aku tahu bakal ada kegiatan lanjutan setelah diklat pertama di daerahku. Namun, aku tak menyangka bakal dipanggil untuk mengikutinya lagi. Di Jakarta lagi. Untuk itulah, selama menunggu sebulan ini, aku betul-betul deg deg gan.  Ingin segera menemui hari yang dijanjikan itu, berangkat ke kota ini mengikuti kegiatan tersebut.

            “Kring … kring!”

            Bunyi itu betul-betul menggangguku. Lelah perjalanan belum habis terbuang. Sepatu yang kupakai sejak meninggalkan rumah belum lepas dari kakiku. Apa aku harus memperdulikan bunyi itu? Aku merasa tidak pernah bikin janji apa-apa dengan siapa pun setibanya di kota ini.

            Ketika mau berangkat dari kotaku beberapa jam  yang lalu, aku hanya banyak dititipi pesan. Baik dari orang rumah, maupun kawan-kawan sejawat di kantor tempatku bekerja. Biasa, titip untuk dibawakan oleh-oleh.

            “Jangan lupa tas kerjanya, ya Pak!”

            “Saya bawakan jilbab aja, Pak!”

            “Di Jakarta itu kaos murah-murah, lho Pak!”

“Kalau saya sih nggak minta oleh-oleh apa-apa, Pak! Cukup pulpen yang ada tulisan namanya. Itu aja kok!”

Begitulah gaya kawan-kawanku. Sebagai orang daerah, Jakarta adalah kota yang ‘wah’. Apa pun yang berasal dari Jakarta tetaplah dianggap luar biasa. Sehingga, kalau tahu ada  yang bakal berangkat ke Jakarta, baik karena perjalanan dinas maupun urusan pribadi, mereka pasti minta dibawakan oleh-oleh, sekali pun hanya untuk sebuah pulpen. Ada yang blak-blakan minta. Ada yang minta dengan nada menyindir. Agak mengganggu memang. Tapi, inilah dinamika pergaulan. Bagiku,  menyenangkan sahabat tetaplah hal yang menarik.

Kalau orang rumahku lain lagi. Baik ibu maupun istriku tidak secara eksplisit minta oleh-oleh kemana pun aku pergi. Mereka lebih banyak memberi doa dan pesan-pesan yang normatif.

“Hati-hati, ya Nak! Jaga kesehatan baik-baik:,” wanti-wanti ibu padaku.

“Jangan lupa shalat, Pah!” istriku mengingatkanku.

Kadang-kadang aku pernah juga bertanya pada mereka berdua, ibu dan istriku, oleh-oleh apa yang mereka inginkan sepulangku dari Jakarta atau dari mana pun. Mereka seperti sepakat membuat jawaban yang sama akan tawaranku.

“Kamu pulang selamat saja udah syukur”.

Luar biasa. Mereka memang orang-orang yang paling mengerti aku.

Itulah yang membuat aku kadang-kadang enggan lama-lama meninggalkan  rumah. Kedamaian hidup di tengah-tengah keluarga tercinta tidak bisa kutemukan di mana pun aku berada. Sering aku merasa harus segera pulang bila berada jauh dari rumah hanya untuk menjawab kerinduanku akan kedamaian bersama mereka.  Dan sekarang aku sedang jauh dari rumah, ratusan, bahkan ribuan kilometer. Di sini, di Jakarta.

“Kring … kring!”

Aku masih bimbang apa aku harus betul-betul mengangkat telepon itu dan mendengarkan dari siapa dan ada keperluan apa. Aku kembali meyakinkan diriku, aku betul-betul tidak  punya janji dengan siapa pun  untuk berkomunikasi lewat telepon secepat ini. Jangankan dengan orang lain, ibu dan istriku saja tidak pernah bikin janji untuk meneleponku, sesampainya di Jakarta misalnya. Apalagi tahu di kamar berapa aku diinapkan di wisma ini.

Aku mencoba terus cuek.

Aku ambil tas besar yang masih menggeletak di lantai. Aku letakkan di tepi ranjang. Sebuah tas berwarna hijau yang selalu setia menemaniku bila bepergian jauh menunggu pasrah di hadapanku Aku buka gembok kecil yang mengunci tas tersebut. Kutarik ritsliting yang melingkarinya. Tas itu pun terbuka. Barang-barang di dalamnya masih rapi dan tersusun. Baju, celana, sarung,  sejumlah bahan-bahan untuk pemeliharan tubuh, dari odol, sabun, minyak rambut, pencukur kumis, dan parfum, masih ada pada tempatnya. Tas berbentuk segi empat ini menampung semua barang dan bahan tersebut dengan baik. Semua ini, istriku yang menyusunnya.

Aku merasa beruntung punya istri seperti Sari, seorang perempuan Banjar asli yang kunikahi tujuh tahun yang lalu. Cantik, berkulit kuning langsat, dan lembut tutur katanya. Seorang perempuan karier yang tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Walau sesibuk apa pun, ia selalu menyempatkan diri untuk melayani kebutuhanku, termasuk menyiapkan keperluan untuk keberangkatanku ini.

Biasanya, istriku terlebih dahulu membuat catatan apa saja yang keperlukan. Tanpa aku dikte, dia sudah cukup hapal kebutuhanku untuk pergi tiga hari, seminggu, bahkan untuk sebulan. Ia semacam sekretaris pribadiku.

“Pak, semua sudah lengkap! Coba Papah periksa kembali. Jangan-jangan ada yang belum termuat ke sini,” Kata istriku.

Aku pun mulai mengontrol seluruh isi tas. Rasanya semua sudah lengkap. Pakain kerja cukup. Kaos dalam dan celana dalam ada. Sarung, sajadah, dan baju koko ada. Sepatu dan sandal juga ada. Dokumen pribadi pun ada terselip. Peralatan dan bahan MCK siap. Ini ada. Itu ada. Bla bla bla!

Cukup! Semua ada. Luar biasa!

Yang lebih luar biasa adalah kemampuan istriku memasukkan benda-benda sebanyak itu ke dalam tas ini dengan pengaturan yang tersusun rapi. Kadang aku iri dengan kemampuannya itu. Kalau aku disuruh menyusun seperti itu, mungkin aku perlu satu tambahan tas lagi.

Aku jadi berpikir lagi sungguh beruntung sekali aku mempunyai istri.

Aku teringat keluhan teman sejawatku yang sering bersama-sama pergi penataran denganku. Ia selalu kecewa dengan hasil kerjanya sendiri dalam mengemas barang-barang yang harus dibawa bila bepergian seperti ini, yaitu selalu ada saja yang tertinggal. Ya, pakaian. Ya, dokumen. Bahkan pernah ia lupa membawa surat tugas yang sebenarnya sudah disiapkan karena merupakan dokumen utama yang harus dibawa bila mengikuti kegiatan dinas semacam ini. Apa yang membuat temanku sampai seperti itu? Alasannya sederhana: ia masih bujang! Belum punya seorang istri yang siap membantu menyiapkan segalanya.

“Bagaimana, Pah? Sudah klop?” istriku mencoba konfirmasi.

Handphone, dompet, notes kecil, pulpen, balsem, sudah saya masukkan dalam tas pinggang.”  katanya lagi menutup pembicaraan.

Tas pinggang?

Iya, tas pinggang?

Aku baru ingat.

Kulempar segera mataku kembali ke seluruh ruang kamar ini.

Di mana tas pinggangku?

Aku ingat, sejak berangkat dari rumah, di pesawat, bahkan di bis tadi, tas kecil yang kubeli dua tahun lalu itu masih melilit di pinggangku.

Sekarang di mana?

“Kring … kring!”

Busyet! Telepon itu masih terus berbunyi.

Di saat bingung seperti ini, bunyi telepon itu terasa sangat mengganggu.

Mataku terus menjelajah setiap sudut di kamar ini.  Tas pinggang itu tak terlihat.

Apa mungkin dalam tas besar yang baru kubuka ini?

Bisa jadi.

Seperti orang kesetanan, kutarik semua benda di dalam tas itu. Kulemparkan sembarangan. Sudah banyak barang dari tas besar itu kukeluarkan, tapi tetap tas pinggang itu tidak terlihat batang hidungnya.

Mati aku!

Tas pinggang itu sangat berarti bagiku. Bukan sekadar karena ada hp di dalamnya, tapi justru di dompet yang ikut dalam tas pinggang itu berisi sejumlah dokumen pentingku seperti KTP, SIM, bahkan surat tugas.

Betul-betul kiamat kalau tas itu hilang tercecer.

Tapi, tercecer di mana? Ah, sekali ini aku benar-benar eror!

“Kring … kring!”

Ah, bunyi itu lagi!

Kudekati pesawat telepon. Kuraih gagangnya. Kuangkat sebentar, kemudian kuhempaskan kembali ke badannya.

Bruk!

Rasain! Kutukku dalam hati.

Ruang kamar pun jadi hening.

Aku duduk di tepi ranjang yang sejak tadi terus menyaksikan kebingunganku.

Otakku berputar, berpikir, di mana tas pinggangku itu tercecer?

Bagiku tas pinggang adalah sahabat kecilku. Ia selalu menemani perjalananku ke mana pun bila aku ke luar rumah selain ke tempat kerjaku. Apalagi bila aku ke luar kota. Dengan sebuah tas kecil yang melilit di pinggangku itu aku merasa pede bila bepergian. Di dalamnya aku bisa meletakkan sejumlah kebutuhanku. Selain hp, dompet, dan notes kecil, aku juga sering mengisinya dengan permen,  splash cologne, sisir, bahkan seuntai tasbih. Yang jelas, dengan mengenakan tas pinggang aku merasa lebih aman dari gangguan copet.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku menjalani hari-hari esokku di kota ini tanpa barang-barang yang ada di tas pinggang itu.

Memoriku terus berputar menggali kembali ingatanku yang takkunjung hinggap. Dingin kamar yang ber-AC ini makin membuat otakku beku.

Kamar ini makin hening.

Tok … tok … tok!

Ketukkan pintu kamar memecah lamunku.

Apalagi ini, sungutku dalam hati.

Tok … tok … tok!

Kuangkat pantatku dari tepi ranjang dan kudekati pintu dengan langkah lunglai.

Kuraih gagang pintu dan kubuka sedikit daunnya.

Seorang laki-laki berseragam berdiri tepat di depanku.

Laki-laki itu tersenyum. Dari seragamnya  tampak ia adalah petugas di wisma ini.

“Maaf, Pak!” katanya mencegat kagumku.

“Ee, ya, ada apa, Pak?” tanyaku dengan sedikit tersedak.

“Bapak peserta dari Banjarmasin?” tanya petugas itu.

“Iya, benar! Ada apa, Pak?”

“Tadi, saya coba menghubungi Bapak lewat telepon, tapi tidak diangkat-angkat!”

“Oo …,” gumanku sembari mengingat kembali tentang suara dering telepon yang membahana di kamar ini sejak kedatanganku beberapa saat yang lalu.

“Saya hanya ingin menyampaikan, ketika Bapak cek in di resepsionis di bawah tadi, tas pinggang Bapak ketinggalan. Saya baru tahu setelah Bapak naik menuju kamar. Ini tasnya, Pak!”

Aku terdiam melongo●

                                                     Banjarmasin, Juni 2002 – Agustus 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s