Kelambu

Cerpen : Zulfaisal Putera

 

Malam mulai jalang. Mata bulan memicing runcing. Menyisipkan cahayanya ke lantai-lantai bumi, ke sela-sela batang-batang[1] yang mengapung menahan beban, ke wajah-wajah sungai yang sepi. Kesenyapan pun sudah menyusup ke keping-keping daun bakau dan pepohonan. Mengibaskan angin, menebas segala penghalang. Meresap ke kulit tipis papan-papan rumah berayun. Menerobos ke lobang-lobang angin. Menyapa ke setiap penghuni lanting[2] sepanjang hulu. Setiap malam. Angin seakan memberi tanda saatnya melepas kepenatan. Mengimbau untuk menuju peraduan.

Maka, mulailah aku mengerjakan tugas paling akhir dari kehidupanku setiap hari sepanjang hari. Menidurkan anak dan menyiapkan tempat tidur untukku dan suamiku.

Setelah yakin buah hatiku satu-satunya itu mulai lelap, aku pun merapikan tempat tidur untukku dengan suamiku. Mengencang-ngencang sprei yang tak pernah licin. Menepuk-nepuk bantal-bantal yang sudah tak punya angin. Dan memasang kelambu. Sejenak setelah itu, aku dan suamiku sudah merebahkan diri. Menyimpulkan kehidupan di atas dipan. Maka, mulailah terang meredup pelan. Lampu-lampu diredam dan padam. Keremangan pun membayang di setiap bangunan-bangunan yang mengambang. Senyap. Lelap. Begitulah setiap malam.

Namun, ketika suatu malam, setelah sepuluh tahun berumah tangga, dingin angin di rumahku tiba-tiba seperti tak berbatas. Deras menerabas kamarku. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu, suamiku menolak menggunakan kelambu pada ranjang tidur kami.

Aku kaget, ketika suatu malam, setelah mulai memasuki tahun ke sebelas perkawinan kami, saat aku mulai memasang ke empat ujung kelambu yang diikat dengan tali dan akan kukaitkan pada paku yang menancap pada dinding kayu kamarku, tiba-tiba dicegat suamiku.

“Mulai malam ini, kita tidak usah pakai kelambu!”

Aku terkejut. Aku lempar sejenak pandang ke arah suamiku yang sedang menyimpul sarungnya. Laki-laki yang wajahnya selalu merunduk kalem itu temaram oleh redup cahaya lampu. Tampak biasa-biasa saja. Seperti setiap malam aku memandangnya setiap bersiap tidur. Aku menganggap suamiku sedang bercanda. Seperti canda yang selalu ia gulirkan di setiap mau tidur dengan cara menghujam tubuhku dengan gelitikkan yang membuat aku geli dan terpingkal. Canda yang selalu kubutuhkan.

Setiap malam kami selalu tidur pakai kelambu. Bukan hanya ranjang aku dan suamiku, dipan kecil anakku pun juga ditutup pakai kelambu. Jadi, pastilah suamiku sedang bercanda kalau ia tidak ingin pakai kelambu. Aku pun tetap meneruskan kerjaku, mengaitkan ujung-ujung tali kelambu pada paku.

“Sayang, aku bilang tidak usah pakai kelambu!” cegah suamiku kembali sambil tangannya menepuk lembut betis kakiku.

Sekali ini, aku benar-benar terkejut. Sejenak aku tertegun dengan permohonan suamiku. Sentuhan tapak tangannya pada betis kakiku adalah aliran larva yang melecutku, membuatku jadi langsung patuh dan tidak bertanya kenapa dia memintaku untuk tidak memasang kelambu. Kelembutan sapaan dan kehalusan sentuhan tangannya sering meluruhkan segala keinginanku, seperti angin merontokkan daun-daun Termasuk pertanyaan apa pun yang mendesak pikiranku. Soal tidak udah pakai kelambu ini, misalnya.

Aku pun melepas kaitan ujung tali kelambu yang baru terpasang salah satu ujungnya itu. Aku tepis anggapan bahwa suamiku bercanda. Aku hanya menduga mungkin suamiku ingin mencoba suasana tidur yang lain.

Ya, suasana tidur yang lain.

***

Sepuluh tahun berumah tangga, tentu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah kebiasaan. Selama sepuluh tahun, tidur dengan orang yang sama, lelap di ranjang yang sama, dan selama itu pula kami selalu menggunakan kelambu yang sama untuk mengurung tidur kami. Hal itu, bisa jadi mulai menjenuhkan.

Aku dan suamiku hidup dengan kesederhanaan. Sejak beberapa minggu setelah perkawinan kami, sepuluh tahun yang lalu, kami sudah tinggal di tempat ini, sebuah rumah lanting di tepi sungai Martapura. Rumah berdinding kayu hutan dan beratapkan daun rumbia kering, berandal pada dua batang kayu gelondongan yang mengapung permanen di permukaan sungai. Tak luas, tapi juga tak sempit. Tak banyak perabot yang memenuhinya. Itu pun yang dulu-dulu juga. Tak punya cukup uang bagi kami untuk menambah atau membeli yang baru. Termasuk ranjang dan kelambu yang setia setiap malam menjadi saksi aku dan suamiku.

Ranjang yang kami rebahi adalah mahligai yang sepuluh tahun lalu dibelikan suamiku dan dijadikan barang antaran ketika melamarku. Sebuah ranjang ukuran nomor 2 berbahan kayu ulin takberukiran. Begitu juga kelengkapannya. Kelambu ini, misalnya, adalah kelambu teramat sederhana yang berbahan kain kasa. Warna putihnya pun sudah takjelas pendarnya. Tak ada corak dan hiasan seperti ropol dan sulaman bunga-bungaan, kecuali sedikit renda pada ke dua sisi pintunya. Itu pun sudah tidak jelas motifnya. Kebanyakan yang tampak adalah kain-kain perca yang ditambal sana-sini karena sobek. Seperti dinamika kehidupan rumah tangga kami yang dimakan waktu.

Sejak itulah, kelambu merupakan bagian dari kelengkapan tidur aku dan suamiku. Tak ada satu malam pun tidur kami tanpa kelambu. Apalagi kami tinggal di atas sungai, di mana nyamuk sudah menjadi sahabat yang setia menyanyikan lagu malam kami sambil sekali-sekali mengigit kulit tubuh ketika kami lengah atau terlalu asyik. Dan ketika kami lelap tidur, kelambulah yang mengelakkan kami dari gigitannya. Nyamuk-nyamuk itu pun hanya meronda mengelilingi kami dari balik tirai.

Namun, malam itu, aku betul-betul tidak bisa nyenyak. Mencoba menuruti keinginan suamiku untuk pertama kali tidur tanpa kelambu, benar-benar membuatku gelisah. Aku merasa tiba-tiba tidurku bukan hanya ditemani suamiku, tapi juga nyamuk-nyamuk itu, yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah seranjang dengan kami.

Tak henti-hentinya tanganku menepuk bagian-bagian kulit tubuhku yang coba disentuh runcing ujung mulut makhluk kecil itu. Sekali-kali aku menggaruk permukaan kulit yang mulai gatal. Sementara laki-laki di sampingku tak sesibuk yang aku lakukan. Sekali sekali saja ia menepuk-nepuk dan menggaruk. Namun, ia tak segelisahku. Matanya tetap terpejam rapat. Tubuhnya tetap pada jalur tidurnya. Sarungnya pun tak begitu tersibak.

Malam itu, malam pertama tanpa kelambu, benar-benar membuatku layu. Separu malam hanya kuhabiskan dengan kegelisahan.

Esok harinya aku mencoba melupakan kegelisahanku. Aku tetap beranggapan bahwa suamiku hanya ingin mencoba suasana yang lain sambil berharap semoga malam nanti ia kembali ke jalan yang benar: tidur menggunakan kelambu.

Namun, ternyata malam itu pun kembali suamiku meminta agar aku tidak memasang kelambu. Dan bukan hanya malam ke dua. Malam ke tiga, ke empat, ke lima pun, bahkan sudah seminggu ini, aku dan suamiku sudah benar-benar tidur tanpa kelambu. Aku betul-betul sudah tidak tahan.

“Kak, kenapa sih jadi pian[3] tidak mau mengenakan kelambu lagi?” sungutku ketika akhirnya aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.

“Ya, ga apa-apa!” katanya dingin.

“Tapi, ulun[4] jadi tidak bisa tidur nyenyak seminggu ini! Benar-benar menyiksa!”

“Ah, itu hanya soal belum biasa”, tukasnya ringan.

Belum biasa?

Aku mengakui bahwa aku memang belum biasa dan sudah sangat terbiasa tidur pakai kelambu. Apalagi sepanjang perjalanan biduk rumah tangga kami, terlalu banyak hal yang sudah jadi pembiasaan. Sebagai seorang istri, aku menurut saja apa pun yang akan dibiasakan oleh suamiku dalam kehidupan kami. Kebiasaan tinggal di rumah lanting yang hidupnya mengapung di atas sungai dan melakukan segala aktivitas di atas air. Kebiasaan hidup pas-pas-an dari sedikit nafkah yang didapatkan suamiku sebagai seorang guru honorer di sebuah madrasah di kampung darat dan sekali-kali mengambil upah menggergaji kayu di wantilan[5] seorang juragan kayu apabila musim penebangan hutan mulai marak. Kebiasaan makan dengan menu seadanya, berpakaian dengan sederhana, berdandan apa adanya. Termasuk kebiasaan rendah hati dan tidak banyak protes terhadap apa pun nasib menimpa hidup kami.

“Sekarang, lupakan kelambu! Nanti Kamu juga akan terbiasa tidur tanpa kelambu”, bujuk suamiku sebelum merebahkan tubuhnya di sampingku.

Jujur, aku harus protes. Di awal-awal perkawinan kami, suamikulah yang semangat sekali menyelubungkan kelambu pada tempat tidur kami. Aku sendiri, waktu bujang, dan masih tinggal dengan orang tuaku di hulu sungai, tidak terlalu mempedulikan kelambu.

“Kelambu itu mahkota!” kata suamiku suatu hari di awal-awal pelayaran kami.

“Kelambu bukanlah sekadar tirai pelindung dari nyamuk atau laron-laron yang sering mengelilingi bola lampu yang menggantung di langit-langit rumah kita. Kelambu adalah lambang romantisme. Kelambu ikut menciptakan suasana tidur dan kemesraan yang dahsyat”, demikian argumen yang ia kemukakan.

Aku mengakui suamiku adalah seorang laki-laki yang romantis. Keindahan dan manisnya perkawinan sangat kurasakan dari keromantisannya di tempat tidur. Ia bukan hanya pandai membuatku geli karena sering digelitiki pada bagian-bagian tertentu tubuhku, tapi juga kehangatannya menjadikan diriku benar-benar sebagai perempuan. Apalagi ia punya kebiasaan kalau tertidur selalu meletakkan salah satu tangannya pada payudaraku. Dan ini bukan hanya membuatnya lelap, tapi juga membuatku tidur dengan nikmat.

Dan peran kelambu benar-benar membantu kesyahduan suasana itu. Kelambu juga sebagai pembeda rasa antara di luar dan di wilayah peraduan kami. Apalagi sejak anak pertama kami yang lahir dua tahun setelah perkawinan dan sekarang sudah kelas 3 SD itu sudah bisa memaknai apa pun yang dilihatnya, tentu kelambu menjadi pembatas pandang anakku yang kami tidurkan di sebuah dipan kecil yang juga berselubung kelambu berjarak 1,5 meter dari ranjang kami.

Suamiku pernah menuturkan bahwa peran kelambu itu sudah sangat begitu penting sejak zaman dahulu, zaman kerajaan, bahkan zaman nabi Isa. Sebagai seorang tamatan pesantren, suamiku dengan lancar menceritakan bagaimana ketika Isa mengunjungi tempat sesembahan orang yahudi, nabi itu menemukan banyak sekali kelambu-kelambu yang terbuat dari kain-kain berlapis emas dan menemukan kaum Waliyun, Farisiun, dan kaum Shaduqiyun yang sedang melakukan tapa di dalamnya. Juga bagaimana Ka’bah sebagai kiblat umat Islam sedunia diberi kelambu oleh kaum muslimin di zaman Rasullullah agar lebih indah dan terlindungi dari debu dan panas.

Kelambu juga digunakan untuk melindungi pendopo pada zaman kerajaan. Bahkan khusus kelambu berwarna kuning sering menjadi perlambang bahwa benda yang berlindung di baliknya mempunyai sifat kekeramatan dan magis, seperti kelengkeng besi, guci, gong, arca, bahkan kereta kuda yang sering disebut dengan kyai. Pun dalam legenda Nek Maraga dan Peti Mati di puncak bukit Alokng di daerah Garantukng, hulu Sungai Mempawah, kelambu dijadikan media menguji Ramaga untuk menemukan puteri jelita Dara Irakng di antara tujuh kelambu yang antara lain juga diisi dengan orang berpenyakit kudis, kurap, orang tua renta, orang buta, dan orang lumpuh.

Aku sih kagum-kagum saja dengan sejumlah referensinya tentang kelambu. Namun, persoalannya sekarang kenapa suaminya jadi tidak mau lagi mengurung tidurnya dengan kelambu.

“Ka, tolonglah! Katakan sebabnya kenapa pian tidak mau berkelambu lagi? Apa karena kelambunya sudah sangat buruk dan perlu diganti. Nyaman ulun beli hari ini jua!” aku mencoba menggugah hatinya sambil berharap mendapat kejelasan.

“Sudahlah, kalau Kamu tidak tahan tidur tidak pakai kelambu, jangan tidur denganku. Tidur saja dengan Anang!” ujarnya sambil memberi jalan padaku agar memilih alternatif tidur dengan anakku.

Aku sungguh tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi pada suamiku setelah melewati sepuluh tahun penyatuan kami. Bahkan ‘kerelaannya’ menyuruhkan tidur dengan anakku kalau tetap tidur berkelambu. Sebuah ketidakbiasaan sepanjang hidup kami di mana tak pernah sehari pun aku pisah tidur dengannya.

Sebulan lebih sudah ranjang aku dan suamiku tak diselubungi kelambu. Aku sudah mulai tidak perduli lagi dengan kelambu yang biasa menggantung di tepi ranjang kami. Aku sendiri sudah seperti kutu loncat. Ketika ingin menjadi perempuan bagi suamiku, aku tidur seranjang dengannya tanpa kelambu. Ketika aku mulai merasa tak tahan dengan nyamuk dan mulai gatal, aku pindah tidur ke samping anakku yang berkelambu. Begitu seterusnya setiap malam dan sepertinya mulai menjadi kebiasaan.

Aku tetap tak menemukan jawabannya dari mulut suamiku.

***

Pagi mulai memenuhi janji. Matahari mulai memijar segar. Menyiram sinarnya ke paras bumi, ke ruas-ruas sungai, membentuk irisan-irisan pada air yang begitu indah. Keramaian kehidupan sudah merebak bersama air yang dimainkan anak-anak dan orang-orang yang sedang mandi sambil bermain. Menselancarkan jukung-jukung[6] dan klotok[7] yang hilir mudik membelah sungai, mengayuh nasib, menangguk rezeki.

Aku pun bagian dari keramaian pagi itu. Sambil berjongkok di teras lantingku, beberapa cucian tengah aku garuk dengan sikat. Begitu juga batang banyu[8] di seberang sungai dari lantingku, beberapa perempuan dan anak-anak tengah asyik. Tangan-tangan perempuan-perempuan itu cekatan menggaruk, mengucek, menghempaskan kain-kain yang tengah dicuci. Di atas batang ini seakan tengah ada parade mencuci. Sementara itu, beberapa anak kecil asyik saling bercebur di sungai yang sudah tak jernih lagi. Naik ke batang, terus bercebur. Naik lagi, bercebur lagi. Sejenak bertepuk tangan, sejenak kemudian mengguman. Sebuah melodi air tengah mereka buat komposisinya.

Yang tak kalah harmoninya adalah suara-suara yang keluar dari mulut-mulut perempuan-perempuan itu. Sambil sekali-sekali mengolok dan tertawa-tawa. Dengan nada gusar, kesal, dan kadang kagum. Berbagai cerita mengurai lancar, saling menebar dari lidah mereka. Tentang anak. Tentang harga-harga barang. Tentang si A dan si B. Juga, ini yang membuatku tertarik dan menajamkan telinga: tentang kelambu!

“Iya, suamiku sudah tidak mau lagi memakai kelambu!’

“Kelambunya sudah kuganti, tetap saja lakiku[9] itu tidak pernah lagi tidur berkelambu!”

“Susah aku memahami abahnya[10] itu. Kenapa sekarang jadi suka tidur tanpa kelambu?”

“Aku sudah merajuk-rajuk, sampai mengancam akan tidur ke rumah orang tuaku, tetap saja sidin[11] itu tidak mau tidur berkelambu!’

“Aneh juga laki-laki di kampung kita ini. Mengapa tiba-tiba anti-kelambu?”

“Sepertinya suami-suami kita sudah alergi kelambu!”

Kok mereka bisa kompak untuk sama-sama tidak lagi menyelubungi ranjang kita dengan kelambu”.

“Bayangkan saja, sangat tidak enak kalau lagi melayani suami tanpa dilindungi kelambu”.

“Betul-betul aneh suami-suami kita ini sekarang!”

“Apa ada yang tahu, apa yang menyebabkan semua ini?”

Bla, bla, bla!

Aku tidak mampu lagi dengan jelas memaknai setiap butir kata yang mereka tuturkan. Cerita-cerita mereka tentang suami-suaminya dan kelambu itu sudah cukup memberi pengertian padaku tentang apa yang tengah terjadi di kampung ini. Termasuk apa yang tengah terjadi dengan kaum laki-lakinya, yang salah satunya adalah suamiku.

Pakaian-pakaian di tanganku sudah tuntas kucuci. Aku bergegas berdiri. Aku harus segera menyiapkan bubur untuk makan pagi suamiku. Sejak kemarin badannya panas tinggi. Kata mantri di kampung darat, ia terserang malaria. Aku suka sedih kalau ia sakit begini. Bagaimana pun juga tentu sangat mengganggu keseharian kehidupan kami. Walaupun begitu, aku tidak ingin menghubungkan sakitnya ini dengan ketidaksukaannya lagi menggunakan kelambu sebagai pelindung tidurnya. Sebagai orang biasa hidup seadanya, soal sakit adalah nasib yang harus kami terima, sedangkan kelambu adalah soal lain.

Aku sudah mulai berpikir bahwa suamiku sudah melupakan cerita-ceritanya tentang agungnya sebuah kelambu. Suamiku sudah meniadakan fungsi kelambu sebagai pelindung dan lambang sebuah peraduan. Suamiku sudah tidak menganggap kelambu bagian dari romantisme. Namun yang membuat aku tetap kagum adalah perubahan sikapnya terhadap kelambu, tak diikuti sedikit pun dengan perubahan yang lain pada dirinya. Ia tetap suamiku. Ia tetap laki-laki sejati yang kukenal sejak pertama kali ia tidur di sampingku. Tetap lembut, tetap manja, tetap romantis, dan tetap memegang payudaraku kalau sedang tertidur lelap.

Banjarmasin, Januari 2006


[1] Kayu-kayu gelondongan yang disusun berjajar dan terikat sebagai panggung tempat melakukan kegiatan di atas air.[2] Rumah di atas air yang biasanya berandal pada batang kayu besar atau bambu-bambu panjang[3] Kata sapaan untuk orang lebih tua[4] Kata ganti diri ketika berbicara terhadap orang yang lebih tua

[5] Tempat penggergajian kayu

[6] Perahu tak bermesin

[7] Perahu bermesin

[8] Batang di atas air

[9] Kata lain dari suamiku

[10] Ayah anak-anak atau suami

[11] Kata ganti untuk orang ketiga yang dituakan

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s