Malam Lebaran

Cerpen : Zulfaisal Putera

 

 Malam Lebaran*

Bulan di atas kuburan

Dug dug dug dug dug dug dug dug dug …

Lamat-lamat suara bedug menyeruduk telingaku. Harmonisasi bunyi pukulan yang saling berpeluk. Bagai derap langkah malaikat dan bidadari yang turun ke bumi, menggiringku menyusuri jalan ini. Jalan sempit, becek, dan cukup jelek. Aku tidak tahu apakah ini masih pantas disebut jalan, sebuah lintasan setapak yang hanya seukuran sepasang kaki.  Beberapa bagiannya bahkan  tergenang air dan di kedua sisinya dirubung rumput yang menyemut.

Hampir tiap waktu aku melewati jalan ini. Inilah jalan utamaku sehari-hari. Dari rumah tinggalku yang  berada di balik pagar pembatas tanah ini, jalan setapak inilah yang terdekat bagiku untuk mencapai tepi jalan raya. Tak makan waktu lama. Ada memang jalan lain yang lebih lebar dan bersih yang semestinya dapat dilewati. Tapi cukup jauh. Untuk mencapai jalan raya, kita harus mengelilingi areal tanah ini. Dan itu bisa makan waktu tiga kali lebih lama.

Tanah tempatku melintas ini memang cukup luas. Ada sekitar satu hektar. Keluasannya bukan karena ada banyak bangunan di atasnya. Atau sengaja dibikin luas agar bisa dijadikan tanah lapang tempat anak-anak kampung bermain bola. Bukan! Tanah  yang bentuknya agak menggembung seperti perut yang habis busung itu hanya diisi gundukan-gundukan tanah yang tersusun rapi dan teratur. Pada bagian ujung masing-masing gundukan itu tertancap kayu-kayu yang bagian ujung atasnya  berbentuk kuncup. Mirip kubah di menara mesjid. Orang menyebut kayu-kayu yang menancap itu sebagai nisan. Areal seluas itu adalah sebuah kompleks pekuburan.

Aku dan keluarga tinggal di sisi sebelah barat areal pekuburan ini. Dalam sebuah rumah kayu bubungan tinggi yang beberapa bagian bangunannya sudah mulai miring. Dari sela pagar pembatas, aku bisa memandang seluruh bagian komplek pekuburan itu. Lama aku dan keluarga tinggal di sini, tapi jauh lebih lama kuburan-kuburan itu. Ketika abah memutuskan untuk membangun rumah di sepetak tanah pemberian kakekku, kuburan itu sudah penuh tiga perempatnya. Bahkan kakekku yang sampai akhir hayatnya mengabdi sebagai juru kunci pekuburan itu pun tak pernah cerita kapan tanah di sana mulai ditanami jasad manusia.

Sampai dua puluh  tahun kemudian, di saat aku sudah dewasa seperti sekarang, kuburan itu sudah dipenuhi ratusan jasad. Rasanya tak ada tempat lagi yang tersisa untuk memakamkan jenazah baru. Walaupun terkadang aku merasa heran, karena selalu ada saja bagian yang bisa ditanami jenazah bila ada warga yang meninggal. Entah memang masih ada sedikit kapling, atau mungkin membuat makam baru di atas makam lama yang sudah tak bertuan. Tapi aku sangat yakin bahwa komplek pekuburan ini sudah penuh sesak.  Kecuali menyisakan jalan setapak panjang, jalan yang sedang kulewati saat ini.

 

***

Dug dug dug dug dug dug dug dug dug …

Malam ini, aku kembali melewati jalan ini. Namun, ini bukan seperti malam-malam lain, atau seperti hari-hari lain biasanya aku lewat. Ini adalah malam lebaran. Malam paling menggembirakan bagiku, bahkan bagi seluruh umat Islam di negeriku. Malam saat Tuhan menabur butir kasih sayang-Nya. Malam kerinduan kaum muslimin setelah menahan lapar dan dahaga selama sebulan. Malam kerinduanku untuk menumpahkan perasaanku pada orang-orang yang aku sayang.

Selepas bedug magrib dan menyantap menu buka puasa hari terakhir, aku bergegas menyiapkan diri. Dengan sarung dan peci yang masih melekat, aku beranjak keluar rumah. Keluar meninggalkan rumah bukan untuk ke mana-mana. Aku hanya ingin melewati jalan ini. Kebiasaan yang sudah kulakukan setiap malam lebaran lima tahun terakhir ini.

Aku melewati jalan ini bukan untuk sekadar melewati atau sebagai lintasan untuk menuju jalan raya di ujungnya. Aku memasuki jalan setapak ini  karena memang untuk masuk ke areal ini dan bertahan di dalamnya. Ya, aku masuki jalan ini dan berhenti tepat di tengah lintasan, separu dari luas komplek pekuburan ini. Aku bertahan tepat di punggung agak tinggi dari seluruh bagian tanah ini. Di puncak segala nisan yang membujur kaku. Di tengah-tengah kerumunan makam-makam yang kesunyian.

Tak ada orang lain yang tahu kehadiranku di sini. Orang-orang di rumahku pun tak pernah tahu. Mereka tahunya aku keluar rumah untuk menyambut malam lebaran, seperti yang dilakukan anak-anak dan kaum muda di daerahku. Keluar rumah, melintasi jalan setapak, menuju jalan raya. Mungkin untuk melihat keramaian malam lebaran, menyaksikan keriangan manusia melepas dendam ramadhan, mengalunkan takbir pujian lalu lalang keliling kampung, atau sekadar untuk menikmati nyala petasan kemewahan yang dimainkan orang-orang kelebihan.

“Jangan lama-lama, ya Nang!” pesan mamaku ketika aku mau beranjak keluar rumah.

“Cepat balik. Nanti tidak sempat bayar fitrah! Mama udah siapkan berasnya untuk kamu bawa fitrah!”

Aku ingat saja pesan mamaku itu. Pesan itu begitu aku hapal karena selalu aku dengar setiap aku mau keluar rumah di setiap malam lebaran. Dan aku selalu bisa memenuhinya. Namun, setelah aku selesai menuntaskan hajatku. Ya, hajatku untuk berada di sini.

Malam itu aku menuntaskan hajatku di tengah-tengah areal pekuburan ini. Tak ada sedikit pun rasa takut bagiku untuk berada di sini. Anggapan bahwa komplek pekuburan itu angker dan mengerikan tak ada dalam kepalaku. Keseharianku di sini. Siang malam aku hidup di sini. Nafasku bertukar udara dengan nafas makam-makam yang ada di sini. Cekaman kesunyian pekuburan ini  adalah nada merdu yang menyejukkan hatiku. Kegelapan malam yang mulai menyergap adalah cahaya yang memayungiku.

Selembar koran kugelar di sedikit bidang tanah yang ada. Kuhempaskan pantatku di atasnya. Aku atur dudukku seperti seorang pendekar di film-film silat. Kaki bersila dan kedua telapak tangan yang kutemukan tepat di depan dada yang kubusungkan. Aku bayangkan diriku bagai seorang budhis yang bertapa di puncak-puncak candi. Aku mulai memejamkan mata pelan-pelan agar dapat segera berkonsentrasi.

Belum sempat seluruh kelopak mataku menutup, tiba-tiba aku lihat sesuatu yang tidak biasanya. Mengejutkan. Langit gelap di sekelilingku seketika terang benderang. Dinding-dinding angkasa yang sebelumnya hitam serentak berubah semarak seperti disiram senarai cahaya dari sebuah bola lampu raksasa. Biasan-biasan cahaya memantul ke segenap penjuru bumi. Mataku bergegas melacak sumber cahaya itu. Sebuah bulan bulat terang menggantung jauh tepat di atas kepalaku.

Bulan? betulkan itu bulan?

Kalau betul itu bulan, bukankah ini malam lebaran?

Sepanjang hidupku menikmati malam lebaran, tak pernah ada bulan yang muncul. Seiris pun tidak. Apalagi bulat penuh seperti ini.

Sejenak aku terpaku dengan pemandangan ganjil ini. Kutegakkan dudukku, kuluruskan kembali arah pandangku setelah mendongak takjub. Kusimpan keterkejutanku dalam sanubari yang paling bawah. Kembali kupejam mataku pelan-pelan. Kelopaknya menutup seluruh retina. Sementara telingaku kubiarkan terbuka lebar menyebar, menangkap simphoni takbir yang bertalu-talu dari puncak-puncak iman di menara-menara mesjid.

Allah hu Akbar, Allah hu Akbar, Allah hu Akbar!

Gendang telingaku memangsa buas bunyi takbir itu. Melumatnya, bagai orang kelaparan yang rakus menikmati makanan pemberian tuannya. Makin lama , terasa makin cepat ritme alunan takbir itu bergema. Aku pun seperti makin rakus meringkusnya. Aku seperti mendengar raungan sepeda motor yang kejar mengejar dalam sebuah pertunjukkan tong setan. Yang kutangkap di telingaku sekarang hanya kata: Allah!

Pelan-pelan bulan di atas kepalaku mulai bergerak dari porosnya. Bulan itu seperti turun. Turun dan makin turun. Aku merasakan bulan itu makin merendah menuju arah kepalaku. Aku mulai didera ketakutan. Aku membayangkan kepalaku, atau bahkan tubuhku, akan hangus terbakar bila bulan makin mendekatiku. Tubuhku mulai menggigil. Butiran keringat menyembul dari balik poriku dan menuruni kulit tubuhku. Ketakutanku mulai memuncak!

Bulan sekarang betul-betul mendekati kepalaku. Anehnya, tak ada perubahan suhu yang aku rasakan di ubun-ubunku. Tak ada rasa panas yang menyengat apalagi membakar kulit kepalaku. Sekali pun posisi bulan sudah seperti topi yang jadi cungkup kepalaku namun rasanya tetap sejuk. Sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Seketika langit nun jauh di sana seperti gelap tak terlihat, tertutup oleh buasnya cahaya bulan yang seakan menerkam lingkup pandang mataku. Di sekelilingku terasa seperti jadi terang benderang. Kubuka pelan-pelan kedua kelopak mataku dan kubiarkan retina mataku menemukan jawab perasaanku.

Sejenak kelopak mataku mengerjap, terkejut oleh biasan cahaya yang menyilaukan. Benar perasaanku, di sekelilingku terang benderang. Areal pekuburan ini jadi seperti berpindah ke laut lepas. Tak ada batas yang gelap. Semua tampak. Gempuran cahaya dari bulan yang letaknya hanya sejengkal di kepalaku itu membilas habis ke setiap sudut makam-makam yang ada.

Cahaya bulan itu pun mulai menembus bumi. Menelisik pori-pori tanah pekuburan ini. Dari tempatku duduk, tampak terlihat kotak-kotak tabela jasad-jasad yang ditanam di tanah ini. Tak pernah terbayangkan olehku mampu melihat susunan tabela yang terbenam di dalam tanah ini tanpa harus menggali atau menyingkirkan tanahnya. Kebuasan cahaya bulan itu benar-benar membuat semuanya jadi transparan.

Dan sinar bulan itu makin menusuk ke sela-sela tabela. Tampak akhirnya olehku pocong-pocong kain kafan yang membungkus tubuh dan tulang belulang. Subhannallah! Ada yang kainnya masih utuh dan membungkus tubuh yang masih utuh pula. Namun, ada pula kain kafan yang sobek, bahkan tinggal sesobek, mengepung jasad yang sudah tidak utuh, tinggal tulang beberapa. Hampir tak ada satu sudut pun tempat di dalam tanah itu yang luput dari sergapan cahaya bulan.

Aku tetap duduk bersila, namun mataku makin nyala. Mulailah aku menajamkan pandangku menelisik setiap wajah yang masih ada di balik kafan-kafan itu. Aku mulai menyelidik setiap raut. Aku mencari seseorang. Aku mulai menemukan. Kutatap dengan seksama agar aku yakin betulkah wajah ini yang aku cari.

Sepotong wajah kaku dan beku bersemayam di balik kafan yang masih utuh itu. Kutarik sedikit cahaya bulan agar makin tajam menyorot sosok jasad di depanku. Aku mencoba cermati. Rambutnya yang mulai memutih. Kerut-kerut di dahi dan ujung mata bagaikan sayatan pasir pantai yang ditinggal ombak. Tampak gurat-gurat perjuangan terlukis pada raut jasad beku yang ada di depanku.

Allah hu Akbar, Allah hu Akbar, Allah hu Akbar!

Angin tiba-tiba berembus keras. Keras dan deras! Menggoyang rumput-rumput yang menyemut di atas tanah-tanah pekuburan itu hingga tercerabut melayang, beradu terbang dengan kayu-kayu nisan yang malang melintang. Suasana jadi bising. Angin pusing.

Tubuhku tak beranjak sedikit pun dari posisiku. Tapi justru emosiku mulai labil. Guliran air mata mulai mendesak di sudut-sudut mataku. Aku tak bisa menahan. Barangkali inilah saatnya aku harus menangis. Lama aku menunggu suasana seperti ini. Menangis adalah barang langka bagiku. Setiap tahun, setiap malam lebaran aku ke sini, tapi tak pernah aku sampai menangis. Paling aku hanya merenung dan tercenung.

Air mataku mulai keluar. Mengalir, menetes, dan tumpah ruah. Kubiarkan diriku menangis sejadinya. Kubiarkan tubuhku dibasuh air mata sesukanya. Ditingkahi suara isakku yang menggelegar. Seketika itu pun, aku melihat dan mendengar, jasad-jasad beku di balik kafan itu di sekelilingku ikut berisak, menangis, dan histeris. Serentak sebuah orkestra tangis dipertunjukkan di areal pekuburan itu.

Tanah pekuburan itu pun basah. Kain-kain kafan di dalam tabela-tabela itu pun basah.

Semua menangis, semua histeris. Kecuali satu jasad yang tepat di hadapanku. Wajahnya tetap kaku. Tak ada ekspresi. Ujung matanya tetap kering. Tapi, justru pemandangan itulah yang membuat aku makin histeris.

“Abah …! Abah … !”

“Ampun ulun, Abah …! Ampun!”

Ulun menyesal, Abah …!

“Abah …!”

Aku menjerit menjadi-jadi. Tangisku jadi hilang oleh teriakkanku. Aku panggil-panggil sapaan jasad kaku di hadapanku. Aku merunduk. Tanganku mencakar-cakar tanah pekuburan itu. Sekali pun jasad itu tampak dekat di hadapan, tapi jari-jari tanganku tak mampu meraih, hanya menyentuh tanah yang basah oleh air mata itu.

“Abah …! Ampun, ulun ampun …!”

Aku memang menyesal. Aku memang patut menyesal. Lama aku ingin menyatakan penyesalanku. Tiap malam lebaran aku ingin menyatakan menyesal, baru pada malam lebaran kali ini aku benar-benar meyakini penyesalanku.

Mestinya  abah belum menghuni tanah ini. Mestinya abah tetap hidup di bumi. Aku yang salah. Abah meninggal delapan tahun yang lalu. Aku telah menghunuskan sebilah belati pada dadanya di suatu pagi tanpa sebab yang aku tahu pasti. Saat itu, aku hanya mencoba kasihan dengan mama yang coba dikhianati abah yang ingin kawin lagi. Tapi orang-orang mengatakan itu bukan alasan yang tepat untuk menghabisi nyawa abahku.

Aku ditangkap polisi dan diperiksakan ke psikiater. Kesimpulannya, dokter jiwa mengatakan aku tidak bisa dihukum karena menderita kelainan jiwa.

Aku pun dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Tiga tahun aku dibina, diajarkan, dididik, dan disadarkan kembali.

Sekarang, sejak lima tahun kemarin, aku bebas!

Aku dikeluarkan dari rumah sakit jiwa bukan karena aku sadar dan sembuh, tapi karena aku sudah terlalu lama di sana dan rumah sakit jiwa itu sudah terlalu penuh daya tampungnya. Rupanya sudah terlalu banyak orang-orang di daerahku yang sakit jiwa.

“Abah …! Ampun, Abah …!”

“Maukah Abah memaafkan ulun?”

“Ulun menyesal, Abah …!”

Aku masih meratap memohon-mohon.

Sementara malam makin meninggi.

Cahaya benderang bulan makin pecah tak berbentuk. Semua di sekitarku seakan-akan putih melompong. Kosong!

Di tengah-tengah kecamuk perasaan dan rintihan penyesalan, sebuah suara yang kukenal terdengar memanggilku.

“Anang …! Anang …!”

Itu suara mamaku.

“Anang …! Kemana aja kamu ini?”

“Dasar gila! Buat apa duduk-duduk di kuburan malam-malam begini?”

Mama? Ya, betul. Itu mamaku.

“Ayo pulang! Nanti, tidak sempat fitrah lagi!”

Tanganku ditarik ibu.

Suaranya masih sumpah serapah. Suara bedug masih berpelukan.

Dug dug dug dug dug dug dug dug dug …

Jakarta – Banjarmasin,  Juni 2002

 

* puisi karya Sitor Situmorang

Keterangan :

–     bubungan tinggi    :     atap rumah yang tinggi / rumah adat Banjar

–     abah                        :     panggilan untuk orang tua laki-laki bagi masyarakat Banjar

–     Nang / Anang         :     panggilan untuk anak laki-laki

–     tabela                      :     peti mayat

–     ulun                         :     pengganti kata saya apabila menyapa yang lebih tua

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s