Perkawinan Mustaqimah

Cerpen : Zulfaisal Putera

 

            Matahari mulai merunduk. Pelan-pelan menyimpan wajahnya di tepi-tepi  sungai kehidupan. Orang-orang mulai menyimpun diri ke rumah-rumah kesejukkan. Suara-suara riuh pun berangsur simpuh berganti gaung kaum melantun firman-firman Tuhan. Kampung Kuin mulai temaram. Seakan menyempurnakan keremangan hatiku.

Sehari dua ini, hatiku cukup terusik. Sebuah isu menarik mulai terdengar di kampungku. Seperti bara yang merayapi belukar kapuk, isu itu menyebar dari mulut ke mulut, membahana dari telinga ke telinga. Mustaqimah akan kawin!

            “Imus akan kawin, Ma!”

            “Imus yang mana?”

            “Imus di kampung inikan cuma satu, Ma!”

            “Imus …,” mama mencoba mengingat.

            “Imus anak Haji Fauji, Ma.”

            “Oo …! Siapa bilang?”

            “Orang-orang, Ma! Kampung kita kecil. Berita seperti itu pasti cepat menyebar.”

            Kampung Kuin. Tidak luas, tapi memanjang. Membalur sepanjang sungai Barito. Apa pun yang terjadi di kampungku ini akan segera diketahui oleh seluruh warga. Sebiji zarah pun informasi itu akan menyebar mengitari sepanjang sungai mengalir seperti arus yang mendorong perahu-perahu melintasi nafas kehidupan.

            “Apa urusannya denganmu?”

            Pertanyaan mama menggugat jiwaku. Ya, apa urusannya denganku? Aku bukan siapa-siapanya Imus.

            “Ya, gak ada urusan, sih Ma!” aku mencoba menentramkan diriku.

            “Kalo gak ada urusan, ya biarlah! Emang sudah jodohnya. Mau apa?”

            Sayup-sayup suara azan mulai bergema. Lirihnya menyusup ke dinding-dinding bumi. Menggugah lena penghuni seluruh alam.

Mama pun beranjak dariku. Dia menuju dapur untuk mengambil air wudhu. Sementara aku, masih terpaku. Pertanyaan mama tadi masih terngiang di jiwaku. Mustaqimah akan kawin. Apa urusannya denganku? Aku kan bukan siapa-siapanya Imus! Tapi …,

Wajah Imus seketika melindap di benakku. Galuh berambut panjang yang mengurai sepanjang hulu Barito. Bersorot mata tajam meranggas menembus bayang sedalam sungai. Berahang elok yang mengitari palung-palung di muara. Berhidung mancung menukik membelah air di buritan kapal. Dilingkari rona bulat telur, melintas memaksa ingatku.

Tak ada orang di kampung ini yang menampik kenyataan bahwa Imus adalah galuh yang paling bungas. Kecantikkannya menyerap semua pandang para pemuda. Menarik semua mata laki-laki di sepanjang jalan yang dilewatinya. Menyekap semua perhatian kaum adam yang mengidamkannya.

Jadi, kalau sekarang ada kabar yang menyatakan Imus akan kawin, tentu akan menaklukkan keganasan siang dan membangunkan keremangan malam. Siapakah di antara ratusan pemuda di kampung ini yang beruntung akan mendapatkannya? Yang akan meraihnya untuk sebiduk mengarungi laut dan samudera?

Lalu, apa urusannya denganku? Aku kan bukan laki-laki yang beruntung itu? Aku kan bukan siapa-siapanya Imus! Tapi …

Nang …! Ayo, ambil wudhu!” mama mencegat lamunku.

“Sudah, nanti dilanjutkan lagi khayalmu!” tukas mama dengan sedikit senyum sambil menggelar sajadah.

Aku pun bergegas.

Suara qamat sudah makin lamat.

 

***

 

Mama masih asyik berwirid. Aku sudah menutup shalat dengan doa. Serasa luruh sudah seluruh letih seharian setelah kuserahkan semua pada Tuhan. Saat seperti magrib inilah aku merasakan peraduan pertemuan paling nikmat dengan Tuhan. Di mana siang bertukar wajah dengan malam dan matahari bertukar tempat dengan bulan. Aku bertukar keletihan dengan kesegaran dalam ridha pencipta sekalian alam.

Seperti biasa pula, sehabis membuka malam, aku turun dari rumah. Aku biasa menghabiskan awal malam dengan duduk-duduk bersama teman-teman di mulut gang. Ada keasyikan tersendiri duduk-duduk seperti ini. Melihat geliat kehidupan malam di kampungku yang mulai ramai ini. Atau sekadar menikmati kerlap-kerlip lampu jukung-jukung yang menyandar dan lanting-lanting yang dipermainkan riak sungai. Dan tentu, yang membuat makin tak terasa menghabiskan waktu adalah saling bertukar cerita sesama teman. Apa saja isu yang menarik pasti akan lumat dikupas.

 Dengan sarung simpul di perut aku beranjak ke luar rumah. Menapak titian sepanjang gang.

“Nah, itu Anang datang!”

Seorang temanku sudah melihat kedatanganku. Di sampingnya masih ada dua orang lagi.

“Nah, ini orang ditunggu-tunggu! Sini, Nang!”

Sambil menggeser duduk, Daus, teman bersebelahan rumah denganku meraih lenganku dan mempersilakanku duduk di sampingnya.

“Ada kisah apa, nih? Kayanya gembira sekali.” Sapaku membuka omongan.

“Apanya yang gembira. Kita semua justru lagi sedih, Nang!”

“Iya, Nang. Kita harus bersedih. Sedih sesedihnya tu, pang!” timpal Bain mempertegas sembari mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Apa yang disedihkan? Ruginya pang sedih!” kataku sambil setengah bercanda.

“Imus hendak kawin, Nang ai!” suara Iyan menohok telingaku. Antara terkejut dan tidak dengan tema pembicaraan teman-temanku ini, aku berlagak tenang mendengar kabar itu.

“Imus kawin? Apanya yang disedihkan?”

Bungas ikam ni, Nang ai! Ya, wajar dong kita sedih! Imus, kawin!” Bain menyambar omongku.

Nang, coba pikir. Kalau Imus kawin, tidak ada lagi pemandangan nan indah dan permai di kampung ini!”

“Iya, Nang! Suram lagi kampung kita ni. Rugi tu pang!” kata Daus meledak-ledak sambil menepis-nepiskan telapak tangannya ke kiri ke kanan.

“Aku rasa aku nggak sampai serugi itu!” aku mencoba menurunkan stamina emosi teman-temanku.

Alaah, Kamu itu munafik, Nang ai!”

“Semalam-semalam Kamu memuji-muji habis Imus dan bilang padaku hendak melamarnya! Iya, kan?”

Dalam hati aku tidak bisa mengelak. Aku memang pernah memuji-muji Imus. Aku memang mengagumi semua yang ada pada diri Imus. Bukan sekadar kecantikkannya, tapi juga pribadinya. Penampilannya sederhana, sekali pun dia anak H. Fauji, pemilik wantilan terbesar di Alalak yang bersebelahan dengan kampung Kuin. Tutur katanya lembut dan tidak pernah sombong. Cenderung pendiam, tapi asyik bila diajak ngomong.

Cuma aku hanya bisa kagum. Dan ketika aku hendak melamarnya…

Nang, kenapa terdiam? Betulkan kataku?” Daus mengguncang bahuku.

“Kita jujur aja. Semua laki-laki di kampung ini, termasuk kita, pasti mengimpikan untuk memiliki Imus. Iya, kan?” kata Iyan dengan nada serius.

“Tapi, semua laki-laki di kampung ini, termasuk kita, akhirnya tidak bisa mengawini Imus.” Simpul Bain. Ujung jarinya menjentik abu rokok yang sudah memanjang di ujung batangnya.

“Lalu, siapa yang berhasil menyunting Imus?” aku mencoba mencari tahu dari teman-temanku ini tentang siapa laki-laki yang beruntung itu.

“Aku tidak tahu persis orangnya, tapi katanya orang Sungai Tabuk, anak langganan kayu abahnya jua. Namanya, nama panggilannnya, kalau tidak salah, Ulan, jar! Lengkapnya Muchlan,” jelas Iyan seperti seorang reporter.

“Oo …! Untungnya lah.” sungutku dalam hati.

“Kalau bersaing, jelas aja kita kalah. Anak juragan, dilawan. Yang namanya barang bagus, letaknya di wadah yang bagus jua. Tidak mungkin di wadah yang kusam, kumal, dan lecek!” kata-kata Daus bersayap bak pujangga.

“Kamu ini menghina diri sendiri.” Kataku setengah protes.

“Bukan menghina. Memang kenyataan. Imus itu anak orang sugih. Kawinnya dengan anak orang sugih juga!”

“Betul, Yan ai! Kita ini anak jaba. Orang tua kita aja pekerjaannya tidak tentu.  Ada yang di penggergajian. Ada yang di perhumaan. Seandainya milik sendiri, masih lumayan. Ini cuma mengambil upah. Mana imbang!”

Gak juga,” sanggahku, “Si Rajak, anak Pak Kacil Ibas yang berjualan ikan di pasar LKMD, bisa aja kawin dengan Eroh, anak Juragan klotok di Tamban!”

“Rajak itu kebetulan bernasib baik aja. Dia berjodoh dengan Eroh yang mama abahnya baik tabiatnya. Tidak memandang harta dan keturunan menantu. Lain dengan orang tua Imus, H. Fauzi dan bininya itu tidak mau rugi. Pilih menantu harus yang seimbang. Kalau tidak sama kedudukan dan derajat, mana mau! Menjodohkan anak seperti menjual barang. Siapa yang sanggup membayar mahal, itulah yang jadi menantu.” Tutur Bain dengan cukup panjang.

“Maksudnya membayar itu, apa?” Aku bertanya berlagak tidak mengerti.

“Coba bayangkan siapa yang sanggup membayar jujurannya yang berjuta-juta itu, sedangkan ….”

Jujuran. Kata itu langsung terngiang di otakku. Aku tidak lagi bisa menangkap lanjutan pembicaraan teman-temanku. Mendengar kata ‘jujuran’, kepala kontak pusing. Entah alergi atau tidak, kata itu betul-betul membuat pikiranku sontak bereaksi.

Semua juga tahu, jujuran atau yang sering disebut antaran yang menyertai maskawin adalah bagian dari acara pertalian, yaitu suatu upacara kecil untuk menyampaikan tanda-tanda bukti ikatan yang diserahkan oleh keluarga mempelai laki-laki sebagai calon suami kepada keluarga mempelai wanita sebagai calon isteri. Suatu budaya yang masih mentradisi di benuaku. Jujuran selain berbentuk barang, seperti baju kebaya, sarung, stagen, pakain dalam, selendang, selop, alat dan bahan make-up, dan barang perlengkapan seisi kamar, juga berupa sejumlah uang. Yang disebut terakhir inilah yang menjadikan kata jujuran itu jadi begitu penting.

Ingatanku langsung masuk pada suatu masa beberapa bulan yang lalu ketika aku meminta kepada mamaku untuk badatang ke orang tua Imus, yaitu datang untuk melamar

“Kamu sudah pikirkan masak-masak, Nang, keinginanmu itu?” tanya mama dengan nada lembut tapi menohok.

“Memang kenapa, Ma? Ulun kenal baik dengan Imus. Imus juga baik dengan ulun.” Kataku menjelaskan.

“Mama percaya. Cuma, apa Kamu siap kalau ditolak orang tuanya!” Mama coba mengingatkanku.

“Coba aja, Ma!” bujukku dengan memelas, “ulun tidak ingin Imus jatuh ke tangan orang lain!”

“Mama mau aja badatang, tapi persoalannyakan tidak semudah itu.”

“Mencari perempuan seperti Imus itu di zaman sekarang tidak mudah, Ma. Dia itu termasuk barang langka.” Kataku memperkuat alasanku.

“Iya, tapi juga tidak mudah untuk mendapatkannya!” tangkis mamaku.

Iya. Aku akui memang tak mudah. Beberapa anak muda di kampung ini sudah pernah ada yang melamar Imus, tapi tidak ada yang berhasil.  Aku tidak tahu alasan persisnya. Aku sendiri tidak perduli dengan itu.

Aku rasa, kedekatanku dengan Imus akan menjadi nilai tambah untuk memilikinya. Seringnya aku bertemu dengan Imus di wantilan abahnya menjadikan hubungan kami jadi dekat. Aku memang salah satu anak buah H. Fauji, abah Imus. Aku menggantikan posisi almarhum ayahku yang sudah lama menjadi tangan kanan beliau. Apalagi sejak aku dipercaya H. Fauji dibagian pencatatan barang. Makin banyak kesempatanku menjalin hubungan dengan Imus. Hanya hubungan ini kami jalin diam-diam. Tidak banyak yang tahu. Apalagi orang-orang di kampung.

“Ma, tolong ulun dilamarkan lah! Paling tidak basasuluh dahulu!” pintaku sekali lagi dengan mama.

Basasuluh dari kata ‘suluh’ yang artinya penerang adalah  usaha untuk mendapatkan keterangan-keterangan tentang calon isteri yang diinginkan.

Hati mama pun akhirnya luluh juga. Dengan ditemani paman, mama mau juga bertandang ke rumah Imus. Sekadar basasuluh, atau langsung badatang ke orang tuanya.

Saat itu, bulan Sya’ban dan bulan mulai menaik. Kata orang waktu yang baik untuk badatang. Dua minggu lagi bulan puasa. Dan itu adalah waktu yang tepat untuk menikah.

Ah, khayalku mulai melambung-lambung. Menikah dengan Imus, galuh yang paling langkar di kampung Kuin. Anak orang badahi, H. Fauji, juragan wantilan terbesar. Bos-ku sendiri.

Betapa indah pelayaranku bila aku bisa sebiduk dengan Imus. Gadis yang halus budi halus perangai. Lembut tutur kata dan enak di ajak bicara. Betapa nikmat perjalananku bila aku bisa seperahu dengan Imus. Aku bisa singgah berdua dengannya ke pulau mana pun di sungai Barito ini yang kami ingin rapati. Menghabiskan hari-hari seperti air sungai yang tak pernah habis sekali pun di saat surut.

Ah, khayalku terlalu melambung-lambung.

Namun, tiba-tiba semua impianku terapung tak tentu arah.

Mama muncul di pintu rumah,  pulang dari rumah H. Fauji. Paras mamaku terlihat kusut masai. Sementara terlihat rona memerah di wajah pamanku.

Terbayang warna-warna suram menghiasi dinding-dinding kepalaku. Impianku yang mengapung tadi pun sudah tak terlihat lagi entah ke mana.

Belum sempat aku bertanya, mama langsung mengungkap hatinya.

Nang, apa yang mama duga ternyata benar!”

“Benar apanya, Ma?” aku tidak sabar menunggu lanjutannya.

“Belum lagi mama menyampaikan keinginan untuk badatang, H. Fauji dan bininya sudah membuat pernyataan yang tidak mungkin kita sanggupi.”

Mama tersedak.

“Bukannya kita tidak sanggup, tapi rasanya tidak pantas kita menuruti nafsu orang tuanya Imus.”

Paman ikut berfatwa dengan suara yang keras.

“Kamu sebaiknya tidak usah lagi berharap untuk kawin dengan Imus!”  lanjut paman dengan semangat.

“Memangnya kenapa, Paman?”

Aku mengalihkan bertanya kepada Paman. Mama hanya diam. Matanya menatapku dengan pandangan kasihan.

“H. Fauji menjual anaknya sebesar dua puluh juta!” tegas paman.

“Bukan menjual, maksudnya minta jujuran dua puluh juta!” sergah mama menghaluskan ucapan paman.

“Itu bukan jujuran. Itu jual anak, namanya!” suara Paman makin meninggi.

Jujuran itu adalah kesanggupan dan sekadar syarat! Bukan dengan menawarkan nilai jujuran setinggi-tingginya. Sejak kakek nenekmu dulu, di kampung Kuin ini, mulai utara sampai selatan, bahkan sampai ke Alalak, belum ada anak gadis, yang paling langkar sekali pun minta dijujur sampai dua puluh juta. Empat sampai lima juta aja sudah untung! Dasar, H. Fauji. Serakah!”

Sekali lagi Paman berujar sumpah serapah.

Dua puluh juta? Sebegitu besarkah nilai seorang Mustaqimah?

Dua puluh juta? Sebegitu besarkan harga diri orang tua Imus?

Aku betul-betul tidak sanggup memahami. Aku tahu betul pribadi Imus. Sekali pun aku tidak pernah melihat dia menampakkan penampilan sebagai anak orang kaya. Pun dia tidak terlihat mengenakan perhiasan di leher dan telinganya, kecuali seutas cincin di jari kirinya. Tapi, mengapa ketika bicara jujuran nilainya sampai dua puluh juta?

Kemana aku bisa mendapatkannya? Haruskah aku mendapatkannya? Ah, gak mungkin aku bisa mendapatkannya. Dan aku tidak harus memenuhinya.

Tiba-tiba di atas kepalaku seperti di kelilingi lembarang-lembaran uang yang berputar-putar.

Nang! Ui, Nang! Diajak ngomong malah melamun!” suara Bain memangkas ingatanku.

“Uph.. iya!” sahutku gelagapan.

“Iya, kita tidak mungkin sanggup menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk seorang Imus,” kataku menanggapi pernyataan Bain sebelumnya.

“Jadi, kalau Imus kawin dengan orang lain, kita sebenarnya rugi atau untung?” timpal Iyan mencoba menawarkan pilihan.

Aku tidak menjawab. Bagiku soal cinta bukanlah soal untung rugi. Apalagi menyangkut mahligai perkawinan. Karena bagian dari ibadah, maka selayak perkawinan tidak menghitung untung rugi.

Bagaimana pun aku tetap menginginkan Imus.

 

***

 

Hari itu hari Minggu. Hari Ahad ke dua di bulan Rabiul Awal. Hari di mana Mustaqimah binti H. Fauji Rahman akan bersanding dengan Muhamad Muchlan bin H. Samadi Ilham.

Rombongan mempelai laki-laki sudah datang. Ada dua mobil yang mengangkut mereka. Jalan Kuin yang sempit makin terasa sempit dengan banyaknya undangan dan kendaraannya yang memenuhi sebagian badan jalan. Belum lagi, tepi-tepi sungai yang dirapati berbagai perahu yang memuat orang-orang undangan H. Fauzi dari berbagai kampung.

Sementara itu, rumah H. Fauji sudah dipenuhi rombongan mempelai laki-laki dan keluarga pihak perempuan. Penghulu Guru Masran pun sudah duduk di tempatnya. Menghadapi meja kecil tempat meletakkan map administrasi pernikahan dan mikrofon. Tampak Muchlan dengan jas hitam berpeci hitam duduk tenang berhadapan dengan penghulu.

Namun, suasana di ruang tengah sangat berbeda dengan di ruang dalam yang disekat dengan pintu bertirai. H. Fauji dengan wajah geram tampak mengusap-usapkan tanggannya ke dinding. Sementara isterinya terduduk lesu dengan menangis sesenggukkan. Begitu juga keluarga lainnya, seperti orang yang bingung, heran, marah, dan bertanya-tanya.

Sejak pagi sekali, H. Fauji dan isteri tak menemukan Imus di kamarnya. Sudah dicari ke mana-mana tapi tidak ketemu. Sampai saat akad pernikahan akan dilangsungkan Imus tetap tidak kelihatan paras mukanya.

Ya, sejak pagi itu Mustaqimah menghilang. Entah ke mana.

 

                                                                               Banjarmasin, Mei 2005

Keterangan kosa kata Bahasa Banjar:

–  galuh                 :  sebutan untuk anak perempuan

–  bungas              :  cantik

–  nang / anang    :  sebutan untuk anak laki-laki

–  jukung               :  perahu kecil takbermesin

–  lanting               :  rumah di atas air berandal pada bambu-bambu yang diapungkan

–  pang, ai             : untuk menegaskan pernyataan

–  ni, tu                   :  kependekan dari kata ini dan itu

–  wantilan             :  pabrik penggergajian kayu

–  sugih                 :  kaya

–  jaba                   :  istilah bagi orang biasa atau bukan keturunan ningrat

–  klotok                 : perahu bermesin

–  jujuran               : antaran dalam acara pranikah

–  badatang          :  melamar

–  basasuluh         :  kegiatan untuk mendapatkan keterangan tentang perempuan yang akan dilamar

–  langkar              : tubuh yang seksi

–  badahi               :  berdahi / mempunyai dahi; istilah untuk orang yang terpandang

–  ui                        :  kata sapaan mendamping nama atau benda yang disapa

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s