AADC, Taufik Ismail, Sastra Nol Buku, dan SBSB

Setahun yang lalu, ketika tengah mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di depan kelas di SMU 10, saya mendapat pertanyaan dari siswa apakah saya mempunyai buku sastra yang dipegang oleh Rangga (tokoh yang diperankan oleh Nikolas Saputra) dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC)? Saya belum pernah menonton film itu – dan mungkin juga siswa saya itu – karena kota ini sudah tidak punya bioskop lagi. Namun, saya sering melihat potongan film tersebut melalui promosi lagu temanya di salah satu televisi swasta. Dalam salah satu adegan, tokoh Rangga memang ada memegang sebuah buku sastra. Buku sastra yang dimaksud siswa saya tersebut adalah “Aku” karya Sjumandjaya.

 

Beruntung, saya punya buku yang dimaksud. Buku tersebut saya beli dengan harga Rp 3.000 di pusat buku loak sepanjang jalan Prapatan segitiga Senen, Jakarta, tahun 2001. Sebuah buku yang kulit depannya sudah terkoyak-koyak, terbitan PT Temprint, Jakarta, tahun 1987. Buku “Aku’ bukanlah sebuah novel atau kumpulan cerpen, tapi sebuah skenario film (karena penulisnya sendiri, Sumandja, adalah seorang sutradara) yang dibuat berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar. Buku “Aku” yang dicari-cari siswa tersebut saya bawa ke depan kelas. Mereka berebut untuk melihat. Ujung-ujungnya adalah berebut untuk meminjam. Akhirnya, buku itupun jadi piala bergilir antarsiswa untuk dibaca. Saya tidak tahu apa anggapan mereka terhadap buku tersebut setelah dibaca.

 

Yang menarik bagi saya bukanlah buku yang ditanyakan siswa tersebut, tapi ketertarikannya yang tiba-tiba terhadap buku sastra itulah yang membuat pikiran seperti dicubit-cubit. Sudah menjadi rahasia umum bagi dunia pengajaran sastra di sekolah, betapa susahnya membangkitkan gairah siswa untuk membaca buku sastra. Gempuran beragam permasalahan pengajaran sastra yang sangat kompleks dan carut marut persoalan dunia pendidikan makin menjadikan siswa jauh dari buku sastra. Jangankan melihat siswa duduk tekun dengan sebuah buku sastra di tangan, saat pengajaran apresiasi sastra di kelas pun siswa tampak kurang wawasan tentang sastra dan cenderung jadi pendengar yang baik. Apalagi mengharapkan siswa mempunyai inisiatif untuk mencari, mengejar, membaca, bahkan memiliki buku sastra.

 

Dalam kasus di atas, minat siswa untuk membaca buku sastra adalah setelah melihat buku tersebut dipegang-pegang tokoh pemeran utama dalam film yang telah mereka saksikan. Ternyata film – ataupun media yang dekat dengan kehidupan mereka – bisa menjadi perangsang yang ampuh bagi siswa untuk mulai menyenangi karya sastra. Waktu itu saya jadi berpikir, andaikan setiap pemeran utama dalam setiap film apa pun memegang sebuah buku sastra dalam salah satu adegan di film tersebut, pastilah makin banyak remaja – siswa – mencari-cari buku tersebut untuk membacanya. Hal ini seperti ini mungkin saja terjadi, seperti cepatnya seorang remaja meniru cara berpakaian, gaya bicara, atau sekadar aksesori seorang idola mereka setelah menyaksikan penampilannya di film atau televisi.

 

Film AADC adalah contoh betapa sebuah film bisa menstimuli siswa untuk mulai belajar menyukai sastra. Para guru yang sudah hampir putus asa bisa bergairah kembali mengajarkan sastra ke anak didiknya. Memang, kalau kita bermaksud untuk membuat sebuah kesadaran sejati dalam diri seseorang, kita harus bisa memulainya dengan menggapai sisi pragmatis dari orang tersebut. Dalam kasus ini, para sastrawan (telah) mulai berkonspirasi dengan para pembuat film untuk mengenalkan karya sastranya, baik secara eksplisit – seperti dipegang-pegang tokoh utama – maupun implisit dalam dialog antartokoh melalui medium yang paling poluler, yaitu film. Namun, persoalannya bukanlah selesai sampai di sini saja. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah siswa benar-benar menyenangi karya sastra tersebut.

 

Kekhawatiran seperti itu sudah pernah dijawab oleh Emha Ainun Najib. Dalam Kongres Bahasa Indonesia VI Tahun 1993, saat sesi diskusi yang dipandu Riris K. Toha Sarumpaet, Emha telak mengatakan kalau pada suatu hari ada buku kumpulan puisi yang laris atau pemanggungan baca sajak yang ditonton ribuan orang yang histeris, yang menjadi pusat perhatian sesungguhnya bukanlah sastranya, melainkan figur tokoh yang membawakannya. Kalau memang demikian, tentu kita akan berhadapan dengan pembaca-pembaca semu karya sastra yang mendekati karya sastra bukan karena substansinya tapi karena orang di baliknya. Persis seperti ketertarikan orang terhadap sebuah warung di kaki lima, bukan karena merasakan nikmatnya makanan yang disajikan tapi karena manisnya si penjaga warung.

 

Pada kasus lain, kita bisa melihat betapa masyarakat sudah mulai melupakan karya sastra. Contoh kecil yang mengindikasikan hal itu bisa kita lihat pada kuis-kusi yang ditayangkan stasion-stasion televisi. Dalam kuis Who Want To Be A Millionaire, misanya, soal-soal seputar sastra adalah soal-soal yang rata-rata tidak bisa dijawab peserta sekalipun persoalan sastra yang dikemukakan adalah persoalan mutakhir. Sementara persoalan-persoalan umum di luar sastra biasanya dengan baik dapat dijawab peserta. Contoh tersebut menunjukkan masih kurangnya perhatian masyarakat pada bidang sastra dibandingkan perhatian pada bidang-bidang lainnya. Belum lagi kalau kita lihat bagaimana minimnya, bahkan tiadanya kapling sastra di media-media massa, baik cetak maupun elektronik. Bagaimana sepinya perpustakaan dari peminat-peminat sastra. Bagaimana senyapnya masalah sastra dari isu dan gosip di masyarakat. Skeptiskah kita?

 

Saat Kongres Bahasa Indonesia VII, Tahun 1998, Taufiq Ismail – penyair ‘66 yang masih garang sampai saat ini – dengan gamblang menggambarkan bahwa karya sastra Indonesia seperti duduk mencangkung menyendiri, tak tampak kepalanya di tepi kerumunan masyarakat ramai yang tak habis-habisnya bersibuk diri. Sementara itu, sepanjang masa 3-4 dekade persoalan yang dihadapi sastra kita berulang berpusu-pusu terbentur-terbentur dari itu ke itu juga dalam monotomi yang konsistensinya menakjubkan. Wajar Taufiq Ismail berkata demikian karena dialah yang saat ini paling gigih mengusung segerobak masalah berkaitan dengan kegiatan bimbingan mengarang dan pengajaran sastra di sekolah. Dalam berbagai forum yang dia hadiri, Taufiq selalu melontarkan isu mengenai betapa kian merosotnya kegiatan mengarang dan apresiasi sastra di Tanah Air selama kurun 50 tahun terakhir. Berkali-kali, berulang-ulang! Apalagi sebelumnya dia mendapat berita yang diakuinya tidak sedap dicerna: bahwa sebagai bangsa kita kabarnya termasuk bangsa yang rabun membaca dan pincang mengarang pula.

 

Berangkat dari rasa “tersinggung” karena dicap sebagai bangsa yang rabun dan pincang – malah disindir sudah buta dan lumpuh – dalam dunia baca-tulis, Taufiq tentu saja geram. Sudah separah itukah? Bersama rekan-rekan sekerjanya di majalah sastra Horison, Taufiq mendiskusikan masalah ini guna menemukan akar persoalan yang sesungguhnya. Forum urun rembuk pun digelar. Hasilnya, sebagaimana ia sampaikan dalam berbagai kesempatan ketika tampil sebagai pembicara di berbagai diskusi atau berceramah tentang sastra Indonesia, terhimpun sekitar 21 butir masalah yang diduga sebagai penyebab mengapa bangsa ini menjadi rabun dan pincang dalam hal baca-tulis. Ke- 21 masalah sastra Indonesia mutakhir tersebut adalah :

 

  • (1) merosotnya minat masyarakat membaca karya sastra,

  • (2) rendahnya tiras buku sastra,

  • (3) susutnya mutu karya sastra,

  • (4) sepinya ulasan dan kritik sastra

  • (5) kurang menariknya jumlah pengulas dan kritikus sastra,

  • (6) susahnya menarik minat studi sastra Indonesia di perguruan tinggi,

  • (7) seretnya pertambahan S3 ilmu sastra dibanding dengan S3 ilmu eksata / sains dan ilmu ekonomi / sosial,

  • (8) cuma satu / majalah bulanan sastra

  • (9) masih adanya pelarangan karya sastra,

  • (10) lambatnya proses desentralisasi karya sastra,

  • (11) sangat kurangnya diadakan sayembara-sayembara sastra,

  • (12) jarangnya penghargaan pada karya sastra dan sastrawannya,

  • (13) sunyi dan lesunya lalu lintas fikiran di antara kalangan sastra (pengarang, kritikus, akademik, guru, penerbit, pembaca),

  • (14) sedikit sekali dikenalnya satra Indonesia di luar negeri melalui terjemakan bahasa asing.

  • (15) anemisnya ide atau tema berikut penggarapannya di dalam karya-karya sastra,]

  • (16) salah bebannya sastra yang dianggap betugas mengubah ketimpangan sosial-politik,

  • (17) kurangnya perhatian pada karya sastra Melayu klasik, sastra daerah klasik, dan karya sastra daerah kontemporer,

  • (18) lemahnya sastrawan Indonesia dalam berorganisasi,

  • (19) kurang terdedahnya sastrawan Indonesia dapa pergaulan sastra tetangga apalagi sastra dunia, terutama dalam bacaan dan juga kontak serta pertemuan,

  • (20) tidak adanya acara sastra dan pembicaraan buku sastra di media elektronik, dan

  • (21) tercecernya pengajaran sastra dan mengarang di sekolah.

(Taufiq Ismail, “Potret Layar Lebar Persoalan yang Dihadapi Sastra Kita”, 1998)

 

Salah satu etiologi yang menjadi sumber utama anomali terbesar yang menyebabkan pertumbuhan sastra kita menjadi abnormal begini adalah butir ke-21, tercecernya pengajaran sastra dan mengarang di sekolah. Mari kita sigi butir tersebut dengan merujuk kepada penerapan Kurikulum 1994 – yang sebentar lagi akan ganti kulit – di SMU kita. Taufiq Ismail menemukan enam garis besar keadaan yang terjadi di sekolah-sekolah kita, yaitu:

  • a. Dalam mengajar, sastra cuma ditumpangkan pada tatabahasa.

  • b. Sastra diajarkan sangat sedikit, 1 : 5 dibanding dengan tatabahasa.

  • c. Yang mengajar di SMU masih Guru Bahasa, belum guru sastra.

  • d. Buku sastra anemik di perpustakaan sekolah.

  • e. Pengajaran sastra Nol Buku, artinya tidak ada buku sastra yang diwajibkan dibaca sampai tamat, dan dibahas tuntas.

  • f. Bimbingan mengarang sangat-sangat-sangat terlantar.

Begitulah ketika Taufiq Ismail mengeluhkan masalah ini kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat itu, Wardiman Djojonegoro, dia malah diminta membuktikannya dengan angka-angka. Tentu saja Taufiq sempat terperangah. Jujur diakuinya, ketika masalah itu disampaikan kepada Wardiman- pada satu senja menjelang acara berbuka puasa di ruang kerja sang menteri; setelah pagi harinya Wardiman dilantik sebagai Mendikbud oleh Presiden (kala itu) Soeharto – dia tidak memiliki data kuantitatif sebagai pendukung.

Benarkah pengajaran sastra di Indonesia, terutama di sekolah menengah umum (SMU), sejak 50 tahun terakhir memang jauh merosot dibandingkan dengan pada masa kolonial? Lebih spesifik lagi: benarkah selama ini pengajaran sastra di sekolah lebih terfokus pada penyampaian pengetahuan tentang sastra dan bukan berkaitan dengan apresiasi terhadap karya-karya sastra? Benarkan siswa-siswa kita tidak lagi membaca buku-buku sastra? Benarkah fungsi guru bahasa dan sastra dalam kegiatan karang-mengarang untuk melatih nalar dan ekspresi estetika anak didiknya tidak berjalan sebagaimana seharusnya? Kalau memang kenyataannya begitu, apakah secara kuantitatif bisa dibuktikan?

Tantangan inilah yang direspons Taufiq Ismail dengan melakukan semacam survei sederhana, yakni dengan mewawancarai tamatan SMU dari 13 negara. Jangan membayangkan model pembuktiannya sama seperti kalangan akademikus melakukan penelitian yang kompleks dan rumit dengan metode yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Apa yang dilakukan Taufiq hanya semacam snapshot, potret sesaat, untuk menangkap gejala yang muncul ke permukaan.

Pertanyaan diarahkan pada persoalan seputar kewajiban membaca buku sastra, bimbingan menulis, dan pengajaran sastra di SMU tempat mereka belajar. Hasilnya? Jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, sementara di Jepang dan Swiss 15 buku, serta siswa SMU di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.

Mengejutkan? Memang! Angka nol buku ini diperoleh apabila buku sastra tidak secara spesifik disebut di kurikulum, siswa hanya membaca ringkasannya dan siswa tidak menulis mengenai buku tersebut, juga tidak ada di perpustakaan sekolah, serta tidak diujikan di sekolah bersangkutan. hasil snapshot ini semakin memperteguh asumsi selama ini bahwa pengajaran sastra dan bimbingan mengarang di sekolah-sekolah kita kian memprihatinkan. Dihadapkan pada kenyataan ini, pekerjaan besar pertama adalah bagaimana meyakinkan berbagai pihak-terutama para pengambil kebijakan-bahwa usaha perbaikan harus dilakukan. Pemahaman bahwa kegiatan membaca dan mengarang bagaikan dua saudara yang terpisahkan harus mulai ditanamkan. Bahwa, semakin siswa banyak membaca maka makin bagus karangannya. Dan, kegemaran membaca harus mulai dipupuk melalui buku-buku sastra, yang pada gilirannya akan melebar ke jenis bacaan lain. Begitu pun bimbingan mengarang (baca: menulis) bisa dimulai di kelas bahasa, lalu diperluas ke kelas dan bidang lain.

Menghadapi kenyataan ini, persoalan berikutnya adalah bagaimana membuat semacam gerakan untuk mendekatkan karya sastra (kalau perlu juga pengarangnya) ke lingkungan sekolah. Jika pintu sudah terbuka, dan pihak sekolah menyambutnya dengan penuh antusias, tujuan-tujuan ideal untuk menjadikan sekolah sebagai basis gerakan sastra akan menjadi lebih mudah diselipkan. Di bawah bendera Yayasan Indonesia dan majalah sastra Horison, Taufiq Ismail bersama penyair Hamid Jabbar, Agus R Sarjono, dan Jamal D Rahman lalu menyusun konsep: gerakan seperti apa yang memungkinkan digelar agar budaya membaca buku, kemampuan mengarang, serta apresiasi sastra di kalangan siswa bisa ditumbuhkan?

Disadari sepenuhnya bahwa membaca karya sastra dan pelajaran mengarang hanya batu loncatan untuk menumbuhkan budaya baca dalam pengertian luas. Latihan menulis lewat pelajaran mengarang juga bukan untuk menjadikan anak didik sebagai sastrawan, tetapi lebih dimaksudkan untuk melatih bagaimana siswa didik mengekspresikan diri lewat tulisan. Oleh karena itu, kelas harus dibuat menyenangkan, dan sastra harus dihadirkan sebagai sesuatu yang mengasyikkan.

Belajar tentang sastra tanpa membaca karya sastra secara utuh adalah sebuah keniscayaan. Kebiasaan lama yang hanya mengajarkan pengetahuan tentang sastra harus diubah. Buku-buku yang disebut dalam kurikulum harus dihadirkan di kelas sehingga anak bisa menikmati karya sastra tidak sepotong-sepotong seperti selama ini ketika mereka hanya mengenal isi buku sastra lewat ringkasan atau sinopsisnya. Kelas sastra juga perlu dibuat sedemikian rupa menjadi semacam laboratorium mini pendidikan demokrasi, yakni dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memberi tafsir seluas-luasnya terhadap isi suatu karya sastra. Tidak ada tafsir tunggal dalam sastra. Karena itu, perbedaan pendapat dan belajar menghargai perbedaan itu harus dipupuk.

Dengan kata lain, paradigma pengajaran sastra yang selama puluhan tahun memberi penekanan pada pengetahuan tentang sastra harus dirombak. Tentu saja guru menjadi salah satu pilar utama yang bisa diharapkan untuk membawa perubahan yang diinginkan tersebut. Sementara itu, kehadiran pihak luar lebih sebatas memberi dorongan dengan menciptakan ruang-ruang kreatif yang memungkinkan para guru bisa mengaksesnya. Dalam konteks inilah pentingnya dibuat semacam program pelatihan bagi guru agar (kelak) ia mampu membimbing anak didiknya dalam menikmati karya sastra dan bimbingan mengarang.

Serangkaian gerakan sastra pun akhirnya mulai dilakukan. Didukung oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Ford Foundation, dengan bernaung di bawah Yayasan Indonesia, Majalah Sastra Horison melaksanakan lima macam kegiatan secara berencana. Kelima kegiatan tersebut adalah:

  • 1. Sisipan Kakilangit di majalah Horison, sejak Nopember 1996, menampung karya sastra terpilih siswa-siswa SMU / MA / SMK / Pesantren seluruh Indonesia.

  • 2. Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra), sejak Februari 1999, sebagai tempat guru-guru bahasa dan sastra SMU di seluruh Indonesia melakukan pelatihan.

  • 3. SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya), sejak Februari 2000, mendatangkan para sastrawan ke SMU-SMU di seluruh Indonesia untuk membacakan karyanya dan berdialog dengan para siswa.

  • 4. SBMM (Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca), sejak April 2000 sampai Nopember 2001, mendatangkan sastrawan senior ke mahasiswa jurusan sastra Indonesia di beberapa PT di Indonesia.

  • 5. LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra ) dan LMCP (Lomba Menulis Cerita Pendek), sejak tahun 2000, telah menghasilkan guru-guru SMU pengulas karya sastra dan penulis cerpen berkualitas dari seluruh Indonesia.

Serangkaian gerakan sastra Horison, yang menempatkan komunitas sekolah sebagai basis kegiatan itu, diakui oleh sang penggagasnya ibarat menanam bibit pohon jati. Tidak seperti menanam benih sayur-mayur yang hasilnya dapat dipanen dalam dua atau tiga bulan, menanam pohon jati butuh waktu panjang; bertahun-tahun. Apa pun istilahnya, kerja besar itu sudah dimulai. Bibit telah disemai dan ditanamkan. Akan tetapi, seperti kata Chairil Anwar, “Kerja belum selesai. Belum apa-apa….”

* Penulis adalah Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA 2 Banjarmasin.

One comment

  1. Asslm,
    Pak makasih banyak ilmunya loh, sekarang saya mulai sedikit mengerti apa artinya esai,memang pada waktu saya SMA belum pernah diajarkan membuat esai,ato apa saya lupa btw makasih ya wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s