Apa yang Salah dari Guru?

Apa yang Salah dari Guru?

      Oleh : Zulfaisal Putera

 

      Saudara-saudaraku, aku telah menyaksikan kalian duduk di atas bukit emas kegembiraan, begitu bangga kalian dengan warisan-warisan dan menyimpannya seperti batangan emas murni dalam peti-peti yang terkunci rapat oleh rantai keinginan dan pemikiran kalian. Aku telah melihat dengan mata hatiku, kalian adalah para penakluk agung yang memimpin pasukan untuk menghancurkan benteng-benteng musuhmu. Tetapi ketika aku melihat lagi, aku hanya melihat hati yang kesepian, yang merana di belakang peti  simpanan emas, seekor burung yang kehausan dalam sangkar emas, karena tempat air minumnya kosong. (Kahlil Gibran : Suara Sang Guru)

      Adalah sebuah kewajaran apabila sekelompok orang menuntut haknya setelah mereka melaksanakan kewajibannya. Mereka telah bekerja dan melaksanakan tugasnya terlebih dahulu, tapi upah yang mereka terima belum sesuai dengan yang seharusnya diterima. Demikianlah yang terjadi pada kelompok profesi guru. Rapel gaji yang dijanjikan yang mengiringi kenaikan gaji sejak Januari 2001 belum mereka terima, walaupun besarnya ‘cuma’ enam bulan. Dan, penantian itu sudah memasuki bulan kedua.

      Apa yang salah dari profesi seorang guru hingga mereka diperlakukan demikian, sedang pada profesi lain, semua berjalan seperti yang seharusnya! Ada banyak guman yang bisa menyertai pertanyaan tersebut. Bisa jadi guru dianggap sebagai profesi yang tidak diutamakan. Guru adalah orang yang hidupnya pasrah dan tidak banyak menuntut. Guru sedang dalam posisi yang tidak semestinya diposisikan demikian. Semuanya ini perlu dicermati dengan lebih seksama.

      Sebagai seseorang yang profesional, profesi guru  sama seperti profesi lainnya. Apa bedanya loyalitas seorang guru terhadap pekerjaannya bila dibandingkan dengan dosen di perguruan tinggi, petani, pengusaha, ekonom, atau pandai besi sekali pun. Apalagi bila dikaitkan dengan statusnya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sah dari sebuah pemerintahan, maka tentu ada kesejajaran perlakuan. Perlakuan yang menyangkut hajat hidup semua orang yang bekerja untuk kemajuan bangsanya.

      Akan tetapi, anggapan selama ini seakan menempatkan profesi guru sebagai profesi yang tidak utama. Hal itu bisa dilihat dari kebijakan yang sering dikeluarkan oleh yang mengatasnamakan dirinya pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, yang sering terkesan terlambat dan menomorduakannya apabila kebijakan yang menyangkut guru. Contoh yang  mudah saja, persoalan gaji. Pemerintah cenderung ringan tangan dalam memutuskan besarnya kenaikan gaji anggota MPR/DPR dan semua pejabat yang bereselon tinggi dibanding kenaikan gaji guru. Ketimpangan ini sangat tampak dan jelas. Profesi guru terkesan profesi yang dapat nanti-nanti saja diperdulikan.

      Sementara itu, guru sebagai seorang manusia biasa terkesan tidak banyak menuntut dan pasrah menjalani kehidupannya. Kecendrungan seperti ini terkadang timbul dari pihak guru sendiri yang lebih mementingkan tugas dan pengabdiannya. Asyik dengan rutinitas dan kesehariannya sebagai manusia, bertemu dengan murid-murid dan sejumlah persoalan belajar-mengajar.Waktu yang tersisa sebagai pengajar yang sekaligus pendidik seakan tidak memberi ruang dan waktu bagi guru untuk memikirkan hal-hal di luar kepentingan sekolah dan belajar-mengajar.

      Rutinitas membuat guru lebih bernas. Kalau juga ada masalah, seperti minimnya penghasilan sebagai guru, biasanya coba diatasi sendiri dengan mengojek, menerima jasa menjahit pakaian, buka warung kecil di depan rumah yang ditunggu istrinya, atau usaha ‘kecil-kecilan’ dengan mengutangkan barang yang dibayar dua atau tiga kali. Adapun kesempatan untuk memikirkan kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah untuk kepentingan guru hanya dijalani sebagai sebuah wacana. Guru terkesan sebagai seorang terpidana yang siap menerima apapun putusan eksekutor tanpa bisa melakukan tawar menawar. Itulah, mengapa banyak orang menyangsikan keberanian guru untuk protes apabila ketidakadilan ditimpakan pada mereka. Akibat kesan pasrah dan tidak banyak menuntut itu, guru (dapat) diperlakukan semema-mena.

      Ada masa di mana guru diperlakukan sebagai orang yang istimewa dan terasa sangat dihormati. Itu terjadi pada zaman pergerakan sampai beberapa tahun di awal-awal kemerdekaan. Posisi guru saat itu disejajarkan dengan seorang amtenar yang membuat setiap orang secara reflek menundukkan kepala dan bahkan membungkukkan badan bila lewat atau berpas-pasan dengannya. Guru sering menjadi tempat bertanya segala persoalan, baik yang menyangkut pelajaran maupun persoalan kemasyarakatan. Lantas bagaimana dengan kondisi sekarang?

      Posisi guru sekarang sedang dalam posisi yang semestinya tak pantas diposisikan untuknya. Rasa hormat dan sungkan dengan guru sudah kurang dan sangat tipis. Jangan kata orang awam yang sering diidentikkan dengan gagap pendidikan dan rabun sopan santun, bahkan para pemimpin bangsa yang mengaku bermartabat seperti walikota pun tak sedikit pun menaruh hormat pada profesi guru. Mereka (pura-pura) lupa bahwa kecerdasan dan ilmu yang dimilikinya saat ini bercikal bakal dari sentuhan sang guru. Namun begitu, tetap saja guru diposisikan  seperti seorang pekerja kasar semacam tukang becak dan sejenisnya. Tak heran kalau kebijakkan mereka  pun mengabaikan kepentingan guru. Sekali pun dana untuk membayar rapel gaji yang diakui pejabat setingkat di atasnya sudah dicairkan, masih mereka coba tawar-tawar untuk ditunda pengucurannya.

      Guru memang tetaplah seorang guru. Dari masa ke masa tidak ada yang berubah. Tugas dan tanggung jawabnya berkembang seiring dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Begitu juga hak dan kewajibannya, tetap mengikuti kemauan zaman. Namun demikian, sebagai seorang manusia biasa, guru tetap punya perasaan dan naluri yang sama seperti manusia lainnya. Sehingga, perlakuan yang berbeda terhadap kelompok mereka dibanding dengan kelompok berprofesi lain, akan membuat luka yang dalam di hati mereka. Jadi, tak ada yang salah dari guru? Bagai api dalam sekam, jangan heran kalau guru juga bisa meledak apabila terlalu lama diabaikan.

     * Penulis adalah pemerhati masalah  sosial dan pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s