Bu Najwa dan Apresiasi Sastra

Bu Najwa

dan

Apresiasi Sastra

Catatan Budaya Zulfaisal Putera*

Sabtu, 9 September 2006 tadi, ada peristiwa budaya yang menarik di Kotabaru. Peristiwanya sederhana. Bahkan, kalah pamor dibandingkan kegiatan Aruh Sastra III Kalimantan Selatan yang digelar di kota itu bulan Mei 2006 lalu. Kegiatan budaya dimaksud adalah hanya sebuah Diskusi Sastra. Ya, hanya sebuah diskusi sastra. Tidak lebih dari itu.

Lantas, apa menariknya? Bukankah diskusi sastra sudah sering dilaksanakan di banyak tempat, baik tingkat kota maupun nasional? Iya. Cuma peristiwa ini terjadi di Kotabaru, sebuah Kabupaten yang luasnya seperempat luas wilayah Kalimantan Selatan itu. Sebagai sebuah kota Kabupaten yang letaknya jauh di’buncu’, kegiatan diskusi semacam itu termasuk barang langka. Lain kalau pertunjukan musik atau olahraga.

Yang menariknya, diskusi tersebut tidak diselenggarakan oleh organisasi yang berhubungan dengan sastra, apakah itu dewan kesenian, himpunan satrawan, komite sastra, sanggar sastra, apalagi dinas pendidikan atau pun dinas kebudayaan. Yang menghadiri pun bukan para sastrawan atau budayawan, tapi para siswa-siswa sekolah menengah. Menariknya, kebanyakan mereka itu bukan siswa SMA jurusan bahasa, tapi siswa SMK.

Mengapa pesertanya siswa-siswa SMK? Ya, karena penyelenggara diskusi sastra tanpa tema itu adalah sebuah sekolah menengah kejuruan, yaitu SMK Negeri 1 Kotabaru. Anda tahu, tidak ada jurusan bahasa di sekolah kejuruan. Yang ada justru jurusan yang berhubungan dengan keterampilan, macam akutansi, sekretaris, penjualan, multimedia atau apa pun. Kalau juga SMK mau mengadakan kegiatan, pastilah berkaitan dengan kepentingan pembelajarannya.

Yang menarik lagi, selain menghadirkan pembicara dari Kotabaru sendiri, yaitu penghulu sastra bumi Saijaan, saudara Eko Suryadi (ES). panitia diskusi juga berani mengundang pembicara luar Kotabaru. Tentu keberanian ini tidak memakan sedikit biaya. Ada tiga narasumber yang diundang. Satu dari Banjarbaru, saudara Ali Syamsuddin Arsi (ASA). Dua dari Banjarmasin, saudara Tajuddin Noor Ganie (TNG) dan Zulfaisal Putera (ZP).

Masalah yang diusulkan untuk diusung pembicara dalam diskusi tersebut juga cukup serius. Bahkan, tak biasanya disajikan hanya untuk konsumsi siswa-siswa sekolah menengah. Materinya adalah ‘Kesusastraan Banjar dan Problematiknya’ (TNG), ‘Penulisan dan Pembacaan Puisi’ (ASA), ‘Penulisan Cerpen’ (ZP), dan ‘Perkembangan Sastra di Kabupaten Kotabaru’ (ES). Dengan melihat bobot materi seperti itu, beruntung sekali sebenarnya siswa-siswa tersebut.

Pelaksanaan diskusinya sendiri biasa-biasa saja. Menyajikan materi seperti itu di hadapan mayoritas siswa-siswa yang tidak punya latar pendidikan dan pengalaman sastra tentu tidak bisa berharap banyak. Kejadiannya malah bukan seperti sebuah diskusi di mana ada debat dan silang pendapat, tapi cenderung ke arah tanya jawab. Mirip seperti kegiatan belajar mengajar antara siswa dan guru di kelas.

Narasumber menyampaikan materi (atau lebih banyak pengalamannya), sedangkan peserta (selain siswa ada juga beberapa guru Bahasa Indonesia dari sekolah lain yang diundang) mengajukan pertanyaan dan permasalahannya. Saya jadi teringat dengan kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diusung Horison di beberapa sekolah di propinsi ini tahun 2003 lalu. Pertanyaan yang muncul lebih cenderung ke proses kreatif, terutama untuk materi ‘Penulisan Puisi’ dan ‘Penulisan Cerpen’.

Untuk materi ‘Perkembangan Sastra di Kabupaten Kotabaru’, tanggapan peserta lebih ke arah keluhan & harapan tentang situasi bersastra di kota tersebut. Yang agak memprihatinkan ketika materi ‘Kesusastraan Banjar dan Problematiknya’, tak ada satu pun tanggapan. Entah karena memang mereka tidak merasa tertarik atau justru merasa asing. Namun, ketika TNG mengentikan membaca makalahnya & beralih membacakan contoh mantra, peserta ternyata lebih perhatian. Mungkin perlu juga ada strategi khusus tampil di hadapan peserta remaja gaul macam siswa-siswa tersebut.

 

Nyali Najwa

 

Sebenarnya diskusi sastra hanya bagian kecil dari rangkaian kegiatan lainnya. Acara yang diselenggarakan dalam rangka HUT ke-42 SMK Negeri 1 Kotabaru tersebut juga menggelar bermacam kegiatan. Uniknya, dan justru inilah nilai lebihnya, dari sepuluh buah kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 4 s.d. 7 September itu, ada delapan kegiatan yang berhubungan dengan bahasa dan sastra. Sementara, hanya dua yang bukan. Satu, bidang olahraga, yaitu lomba voli, dan satu bidang sosial kemasyarakatan.

Hal semacam ini mungkin langka terjadi. Perayaan ulang tahun sebuah sekolah memasukkan agenda – bahkan cenderung memanjakan – kegiatan bahasa dan sastra. Saya agak terhenyak ketika menerima undangan yang disertai proposal dari panitia. Di sana tertulis, selain kegiatan Diskusi Sastra juga ada Lomba Baca Cerpen Bahasa Banjar, Lomba Bakesah Bahasa Banjar, Lomba Baca Puisi, Lomba Tulis Puisi (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Banjar), Lomba Pidato Bahasa Inggris, dan Lomba Debat Bahasa Inggris. Bukan main!

Kalau Anda lihat, ragam kegiatan semacam itu biasanya dimotori oleh Balai Bahasa atau pihak Diknas. Sangat mustahil diusung oleh sebuah sekolah, apalagi notebene sekolah menengah kejuruan. Nyatanya, SMK Negeri 1 Kotabaru telah membuktikan mampu menyelenggarakan ini. Sebuah tingkat apresiasi yang cukup tinggi dari sebuah lembaga pendidikan di sebuah kota kabupaten yang tak cukup riuh kegiatan sastranya. Hal ini juga membuat decak kagum seorang Eko Suryadi W.S. yang mengakui bahwa selama ini tidak ada kegiatan akbar semacam ini diselenggarakan di kota itu, apalagi oleh sebuah sekolah.

Sebenarnya siapa sih yang punya ide briliyan untuk memasukkan kegiatan bahasa dan sastra sebagai agenda perayaan sebuah ulang tahun di sekolah tersebut. Tidak gampang menggeber kegiatan semacam itu. Apalagi melalui pintu sekolahan. Yang dibutuhkan bukan hanya kreativitas, tapi juga nyali. Pihak sekolah punya banyak kepentingan untuk menjalankan visi dan misinya. Jangankan SMK, untuk sekolah semacam SMA saja – termasuk yang punya jurusan bahasa – atau jangankan sekolah di kabupaten, untuk sekolah di kota Banjarmasin sendiri tak akan sebanyak itu mau memainkan kegiatan bahasa dan sastra di tengah gempuran kegiatan olahraga dan musik.

Adalah seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMK tersebut yang mengusulkan ide tersebut. Guru yang biasa dipanggil Bu Najwa, lengkapnya Bu Helwatin Najwa, telah bertugas lebih dari sepuluh tahun di Kotabaru. Dia hanyalah guru biasa, bukan penulis, apalagi sastrawan. Namun, selain karena tanggung jawabnya sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia, Bu Najwa juga ternyata punya kecintaan yang dalam terhadap sastra.

Menurut pengakuannya, ide untuk menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan dengan bahasa dan sastra itu sudah lama ada dalam benak. Bahkan, sejak pertama kali dia memasuki dunia persekolahan. Ide itu makin mengkristal sejak lulusan FKIP Unlam Tahun 1991 ini mengintip kegiatan Aruh Sastra III di kota itu. Ditambah dengan komunikasinya yang makin intens dengan Zawawi Imron, kyai sastrawan asal Madura, dan dengan teman-teman masa kuliahnya yang sekarang sudah menjadi sastrawan, gagasan itu membuncah.

Kesempatan makin terbuka ketika sekolah tempat tugasnya mempercayakan kepadanya menjadi Ketua Panitia HUT. Ditumpahkannyalah semua ide tersebut untuk dijadikan bagian dari agenda HUT. Namun, tidak semudah itu diterima oleh anggota panitia yang lain (dan ini tentu juga dialami oleh teman-teman yang lain ketika menggagas sebuah atau beberapa kegiatan sastra). Perlu debat dan sejumlah argumen gombal hingga semua pihak mengangguk. Tentu, tak lepas dari dukungan Bapak Drs. Syamsurizal, Kepala SMK Negeri 1 Kotabaru, yang menyetujui bulat-bulat kegiatan tersebut dan peran aktif seluruh guru dan karyawan sekolah. Akhirnya, terjadilah gelaran beberapa kegiatan bahasa & sastra itu.

Saya pikir, untuk ukuran sebuah kota atau kabupaten di Kalimantan Selatan, SMK Negeri 1 Kotabaru patut berbangga diri sebagai satu-satunya sekolah menengah kejuruan yang sanggup dan berani mengadakan kegiatan apresiatif semacam itu. Dilaksanakan sendiri dan dengan beaya sendiri. Berbanggalah juga sekolah tersebut karena telah mempunyai guru seperti Bu Najwa dan guru-guru lainnya yang mau bersusah-susah mengawal agar kegiatan bahasa & sastra bisa berkibar di tengah kibasan musik & olahraga. Tabik!

 

Tradisi apresiasi

 

Semaraknya kegiatan bahasa dan sastra di SMK Negeri 1 Kotabaru minggu pertama September tadi adalah sebuah fenomena di tengah keringnya daya apresiasi sastra dunia persekolahan. Sepinya kegiatan sekolah dengan lantun santun sastra berbanding terbalik dengan hingar bingarnya kegiatan sain, musik, dan olahraga. Hal tersebut seakan jadi penampakan bahwa sastra memang makin asing di komunitas itu. Memang tidak semua sekolah punya iklim demikian, tapi sangat terlalu banyak yang tidak peduli.

Apakah sesunggunya yang terjadi? Bisa panjang pembahasannya kalau untuk menjawab hal itu. Menyalahkan kurikulum saja tidak beralasan. Pelajaran bahasa dan sastra sudah punya kuota yang seimbang dengan pelajaran lain. Faktor guru bahasa dan sastra pun tak bisa sepenuhnya salah. Mereka punya seribu alasan mengapa tidak menjadi provokator apresiasi. Pihak sekolah apalagi, kebijakan yang ditempuh kepala sekolah punya alasan tersendiri untuk tidak memanjakan sastra karena visi dan misi sekolah secara implisit sekali pun tak mengusung masalah itu.

Ada banyak pemikiran yang muncul dari fenomena tersebut. Perlu ke’rendah-hati’an berbagai pihak untuk menerima hal itu. Nyali SMK Negeri I Kotabaru tersebut sebenarnya merupakan sindiran bagi kita para ‘pemain’ di bidang sastra. Sudahkah kita ikut memikirkan pengadaan dan penyaluran sastra sebagai konsumsi tunas-tunas muda kita, baik yang berada di bangku sekolah atau pun yang menggelandang di luar jalur formal? Bukankah sastra itu karya yang agung, luhur, dan indah. Sangat cocok untuk asupan otak kanan. Dan inilah yang akan melahirkan kehalusan budi pekerti dan kepekaan sosial.

Sudah saatnya sekolah-sekolah, untuk semua jenjang, membuka diri untuk menjadikan kegiatan apresiasi sastra sebagai agenda budaya di sekolah. Secara periodek atau pun temporer menyelenggarakan diskusi dan lomba-lomba bersastra. Mengundang para sastrawan dan penyair ke sekolah dan mempertemukannya dengan siswa dalam situasi yang akrab. Mengembangkankan bakat kepenulisan siswa dan menyalurkannya ke dunia luar. Kelak, sekolah akan menelurkan banyak penulis-penulis sastra yang berkualitas, baik sebagai sebuah profesi atau pun hobi sampingan di luar profesi kesehariannya.

Akan lebih baik lagi kalau sekolah-sekolah mulai merintis membentuk sanggar sastra, sebuah sanggar yang membina siswa secara khusus di bidang membaca dan menulis sastra. Kalau di sekolah ada sanggar pramuka, sanggar tari, sanggar musik, PMR, Paskibra, klub basket, dan banyak lagi, mengapa tidak diberi kesempatan sanggar sastra berdiri. Rintisan SMA Negeri 2 Banjarmasin dan beberapa sekolah menengah lainnya di seluruh Indonesia untuk menumbuhkan sanggar-sanggar sastra patut untuk diikuti. Terbayangkah Anda asyiknya siswa-siswa kita menulis dan membaca karya sastra?

Bagaimana peran sastrawan sendiri? Selama ini, kita cukup bangga dengan karya kita dan status ke’sastrawan’an. Kita berkarya, berdiskusi, dan berkumpul dengan komunitas kita sendiri, bukankah tak jauh beda dengan kelompok yang eksklusif? Akan lebih berbangga lagi kalau kita mulai bisa berbagi dan bermanfaat bagi ummat. Turun gunung membina kader-kader penyuka sastra. Minimal mengenalkan apa itu sastra. Tidak usah harus menunggu diundang dan diundang. Kita masuk ke sekolah-sekolah. Kita tawarkan apa yang akan kita berikan. Kalau tawaran kita menarik, tentu akan di’beli’ oleh mereka.

Gerakan berskala nasional Majalah Sastra Horison bekerja sama dengan Diknas turun ke sekolah-sekolah patut menjadi inspirasi. Kegiatan SBSB telah membuahkan hasil bagi sekolah yang dikunjungi. Siswa mulai kenal dan bangga dengan sastrawan dan karya sastranya. Bukankah kita bisa mengadopsi pola tersebut. Hal ini sebenarnya sudah lama saya wacanakan dan ajukan kepada teman-teman sastrawan. Ayo masuk ke sekolah! Nanti saya bantu fasilitasi. Alhamdulillah, belum ada reaksi(?). Kalau ada yang mempersoalkan dana, itu wajar. Cuma bukan untuk diwacanakan, tapi dicari. Saya bersangka baik saja, mungkin menunggu waktu yang tepat.

Waktu yang tepat memang tidak pernah diduga datangnya. Namun, kemauan yang keras bisa dimunculkan kapan pun. Apa yang dilakukan oleh Bu Najwa dan SMK Negeri 1 Kotabaru adalah sebuah terobosan. Permulaan yang baik untuk menciptakan tradisi apresiasi. Tinggal sekarang, bagaimana kita meneruskan terobosan itu. Bukan sekadar diwacanakan, tapi untuk dikerjakan! Selamat buat civitas akademika SMK Negeri1 Kotabaru.

 

* Guru SMA Negeri 2 Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s