Kerja Belum Selesai, Belum Apa-Apa

Kerja Belum Selesai, Belum Apa-Apa[i]
Sebuah Otokritik buat Tuan Rumah KCI V

Oleh : Zulfaisal Putera*

Dua tahun yang lalu, tetapnya tanggal 29 Nopember 2005, sehari sebelum Kongres Cerpen Indonesia (KCI) IV berakhir, di ruang sidang Hotel Nuansa, Pekan Baru, Riau, Maman S. Mahayana (MSM), menemui saya dan Micky Hidayat. Beliau menanyakan apakah (kota) Banjarmasin bersedia menjadi tuan rumah KCI V Tahun 2007. Pertanyaan itu tentu mengejutkan sekaligus menyenangkan. KCI yang baru akan menyelesaikan kali ke-4, saat itu, sudah menggadang-gadang Banjarmasin untuk menjadi penyelenggara kali ke-5. MSM membutuhkan jawaban segera dari pihak peserta Banjarmasin, apakah bersedia atau tidak.

Saat itu juga, kontingen peserta KCI IV dari Banjarmasin langsung berkumpul di sebuah ruang di belakang ruang sidang. Dipimpin oleh Bapak Syarifuddin R. (SR), sebagai Ketua Kontingen, Micky Hidayat, Burhanuddin Subly, Jamal T. Suryanata, Agus Y.S. Suseno, Sandy Firly, Rifani Jamhari, Harie Insani Putra, dan Saya pun mendiskusikan hal itu. Sekali pun kongres tersebut untuk konsumsi para sastrawan, khususnya penulis-penulis cerpen, tetapi karena akan bersinggungan juga dengan kepentingan pemerintah daerah, kami pun memutuskan untuk segera menghubungi salah satu pejabat daerah Kalimantan Selatan untuk meminta pendapat.

Atas saran SR, saat itu juga, saya diminta menelepon Bapak H. Rosehan N.B., selaku Wakil Gubernur Kalimantan Selatan (dan belum menjadi Ketua Umum DKD seperti sekarang). Dalam pembicaraan jarak jauh yang singkat itu, dengan disaksikan dan didengar langsung oleh teman-teman, karena speaker handphone saya buka, Rosehan menyetujui jika Kalsel (Banjarmasin) ditunjuk jadi Tuan Rumah KCI V dengan klausa yang masin saya ingat: “ambil aja (tawaran) itu …!” Dengan ‘restu’ orang nomor dua di propinsi ini, kami pun menyampai jawaban kesediaan tersebut kepada MSM. Akhirnya, pada hari terakhir persidangan KCI IV di Pekanbaru diputuskan bahwa Banjarmasin akan jadi tuan rumah KCI V Tahun 2007 (nanti).

Itulah sekelumit sejarah dua tahun yang lalu saat Banjarmasin ditawar dan ditunjuk menjadi tuan rumah KCI. Sekarang, setelah dua tahun berlalu, hajatan Kongres Cerpen Indonesia V itu pun sedang berlangsung di kota kita ini. Sejak Jumat malam kemarin (26 Oktober) KCI sudah dibuka dengan dihadiri para cerpenis dan sastrawan dari (hampir) seluruh Indonesia. Dan jika berjalan lancar, malam ini (28 Oktober) kongres ini akan berakhir dan ditutup. Sebuah kebahagiaan karena amanat besar ini bisa ditunaikan dengan baik dan sesuai rencana.

 

Sekalinya ia datang dengan tugu dalam genggaman

Pamitnya ia gonggong disayang di tangan kanan

Tugu yang setinggi-tingginya sedang disayang begitu dicinta

Dalam hati meruyak tanya-tanya[1]

 

Ada sebuah pertanyaan besar yang masih bergayut pada saya sampai saat ini: mengapa Banjarmasin diberi tawaran (dan akhirnya diamanatkan) untuk menjadi penyelenggara KCI V Tahun 2007? Ada puluhan kota di Indonesia yang punya banyak kemungkinan yang sama untuk jadi penyelenggara KCI. Ada puluhan daerah yang kuat basis sastra dan kepenulisannya yang punya potensi yang sama untuk menjadi tuan rumah KCI. Jika dihitung dari jumlah penyelenggaraan KCI sejak 1999, KCI di Banjarmasin adalah perhelatan yang ke-5 kali. Artinya, terlepas dari asumsi ini objektif atau tidak, Banjarmasin termasuk kota yang diperhitungkan dalam dunia per-cerpen-an Indonesia.

Sebagai catatan, kita bisa lihat kota-kota penyelenggara sebelumnya. KCI I dilaksanakan di Parangtritis – Jogyakarta pada tanggal 21-22 September 2000; KCI II, berlangsung di Negara – Bali pada tanggal 1-3 Februari 2002; KCI III, diselenggarakan di Bandar Lampung – Lampung pada tanggal 11-13 Juli 2003; dan KCI IV digelar di Pekan Baru- Riau pada tanggal 26-30 Nopember 2005. Keempat buah kota tersebut diakui memiliki potensi seni dan budaya, khususnya dalam tradisi kepenulisan, yang sangat lama dan besar. Banyak nama sastrawan dan cerpenis dari kota-kota tersebut yang mewarnai peta sastra Indonesia secara nasional. Ada banyak daerah lain lagi sebenarnya yang punya potensi sama dengan keempat kota tadi. Sebut saja Jakarta, Banten,Jawa Barat, Jawa Timur, atau beberapa daerah di Sumatera. Jika Banjarmasin – Kalimantan Selatan, kemudian, diberi kesempatan menjadi penyelenggaran KCI berikutnya, tentu kita boleh berbangga diri. Paling tidak, daerah ini dianggap pantas untuk itu. Pembaca bisa tafsirkan sendiri bagaimana kepantasan itu.

Memang diakui, dibandingkan propinsi lain di Pulau Kalimantan, Kalimantan Selatan masih lebih banyak potensi sastrawan dan cerpenisnya. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Korrie Layun Rampan (KRL), tokoh sastra dari Kalimantan pada saat sesi tanya jawab sebagai pemakalah pada Dialog Borneo-Kalimantan IX, di Brunei Darussalam, tanggal 3-5 Agustus 2007. Ketika ada pertanyaan daerah manakah di Kalimantan yang paling semarak kegiatan bersastranya, KRL mengatakan bahwa Kalimantan Selatan adalah propinsi yang kaya dengan sastrawan dan tradisi kepenulisannya di banding Kalimantan Timur dan Kalimantan lainnya.

Pertanyaan saya di atas itu pun saya temukan sendiri jawabnya. Kepercayaan kawan-kawan sastrawan dan cerpenis Indonesia kepada Banjarmasin untuk menjadi tuan rumah KCI bukan tanpa alasan. Paling tidak, kota ini dianggap sama pantasnya dengan empat kota penyelenggara lainnya. Yang muncul kemudian adalah sejumlah impian bagaimana hajatan itu benar-benar dilaksakan kelak di daerah ini. Yang mendesak di benak adalah apa yang saya dan teman-teman bisa perbuat untuk suksesnya pesta itu. Dan yang paling melambungkan perasaan adalah inilah kesempatan baik bagi sastrawan dan penulis Kalimantan Selatan untuk menampilkan dirinya dalam forum sastra tingkat nasional.

Seperti layaknya kegiatan-kegiatan lain di tingkat nasional, tuan rumah penyelenggara diberikan wewenang lebih untuk mengatur dan menjalankan skenario kegiatan. Kota yang menjadi tuan rumah bukan saja menjadi tempat lokatif penyelenggaraan, tapi juga diberi kesempatan untuk memberi peran yang lebih. Paling tidak, kota penyelenggara diberi kuota lebih sebagai peserta. Hal ini terjadi pada semua bidang kegiatan, seni, budaya, dan olahraga. Ada peluang lebih besar kota penyelenggara untuk tampil sakandak dibanding peserta tamu. Saya berpikir, beruntunglah daerah ini bisa menjadi tuan rumah KCI V. Bisa menampilkan potensi sastra dan cerpennya secara maksimal.Tampulu! Pabila lagi kaguguran indaru seperti ini.

Terlintas banyak impian di kepala saya tentang bagaimana kawan-kawan sastrawan dan cerpenis Kalimantan Selatan tampil pe de di hadapan kawan-kawan propinsi lain. Ada beberapa yang tampil sebagai pemakalah, beberapa lagi membacakan cerpennya sendiri di atas pentas, ada satu dua buku cerpen karya teman-teman diluncurkan atau dibedah bersama, ada pameran bersama karya para sastrawan dan cerpenis, ada workshop penulisan fiksi untuk calon-calon penulis masa depan. Impian ini menurut saya wajar. Mengingat kesempatan untuk itu ada dan tinggal kita selaku tuan rumah, pandai atau tidak memanfaatkannya.

Dari empat kali penyelenggaraan KCI yang ada, bisa kita saksikan bagaimana tuan rumah penyelenggara memanfaatkan momentum itu. Sebagai contoh kecil, saat KCI IV di Pekanbaru. Teman-teman di sana sangat jeli merebut kesempatan itu untuk unjuk potensi. Dari 13 pemakalah, ada tiga orang yang berasal dari Riau dan sekitarnya, yaitu Taufik Ikram Jamil, Gus T.F. Sakai, dan Hasanuddin W.S. Hampir semua diskusi dipandu oleh moderator lokal. Salah seorang sastrawannya, Fakhrunnas M.A Jabbar, meluncurkan antologi 16 cerpen “Sebatang Ceri di Serambi” hasil karyanya. Sementara itu, ada pameran (jualan) buku-buku yang didominasi penulis-penulis lokal. Hal ini tentu sangat membanggakan bagi orang Riau sebagai penyelenggara saat itu.

Kalimantan Selatan pun saya pikir tidak akan kalah jika KCI V itu benar jadi diselenggarakan di Banjarmasin. Banyak sastrawan dan cerpenis negeri seribu sungai ini yang mampu tampil di pentas KCI. Ada banyak potensi yang dimiliki oleh teman-teman di sini yang apabila diberi kesempatan tampil di forum besar semacam KCI akan kelihatan bahwa mereka pun pantas tampil. Apalagi, untuk menampilkannya tidak perlu banyak energi dan biaya (untuk transportasi, misalnya, jika kegiatan biasanya diselengarakan di luar daerah). Yang diperlukan adalah kemauan baik para perancang acara dan panitia lokal (yang notabene bubuhan saurang) untuk berkenan memberi kesempatan dan rekomendasi kepada teman-teman sendiri.

Terlintas di otak saya sejumlah nama teman-teman yang bisa ditampilkan sebagai pemakalah, baik karena eksistensi dan keluasan pengetahuannya akan bidang sastra dan kepenulisan yang digelutinya, pengalamannya tampil dalam diskusi-diskusi semacam ini, maupun kadar kemampuannya dalam menyampaikan argumen dan orasi. Sebut saja Syarifuddin R., Jamal T. Suryanata, Burhanuddin Soebely, Rifani Jamhari, Tajuddin Noor Ganie, Ersis Warmansyah Abbas, Jarkasi, Radius Ardaniah, Setia Budi, Taufik Arbain, Sandy Firly, Sainul Hermawan, dan banyak lagi. Tanpa melihat mereka satu komunitas atau tidak, sepaham atau tidak, dikenal di forum nasional atau pun tidak, nama-nama tersebut dan beberapa lagi yang lainnya memberi harapan pada saya untuk ditawarkan tampil.

Tergambar juga di memori saya tentang teman-teman yang sudah menerbitkan karya-karya sastranya dalam bentuk, baik sendiri-sendiri atau pun antologi bersama; dicetak bagus atau pun masih fotokopian; baru diterbitkan atau pun sudah lama; untuk disediakan ruang dan meja pada KCI V nanti buat dipamerkan (dan dijual). Apalagi jika karya-karya itu baru diterbitkan dan belum diluncurkan, maka momen KCI bisa dimanfaatkan untuk itu, syukur-syukur dibedah bersama. Dalam bayangan saya, pastilah peserta-peserta KCI dari propinsi lain makin yakin bahwa memang pantas Kalimantan Selatan dijadikan tuan rumah karena karya-karya sastranya luar biasa.

Sempat juga tercetus di benak saya bahwa akan ada orasi budaya dari pejabat atau budayawan daerah ini. Akan terbaca bagaimana sikap dan pendapat tokoh itu akan persoalan kesastraan dan kebudayaan untuk tingkat lokal atau pun nasional. Saya juga ingin beberapa teman-teman cerpenis daerah ini tampil di panggung menampilkan cerpen kebanggaannya dengan gayanya sendiri. Bisa dalam bentuk pembacaan langsung, dramatisasi cerpen, sendratari, atau pun musikalisasi cerpen. Dengan begitu, rekan-rekan sastrawan dan cerpenis tamu yang melihat berdecak kagum dan menyimpan kesan bahwa ternyata Kalsel mempunyai banyak potensi yang belum tergali. Dan KCI V betul-betul menjadi ajang pengenalan diri bagi sastrawan dan penulis daerah akan kemampuannya.

Saat Banjarmasin diputuskan akan menjadi tuan rumah KCI V dua tahun lalu, saya berpikir cukup waktu untuk menyiapkan diri. Merancang acara, merecanakan dan mengajukan anggaran, pendekatan kepada pejabat dan lembaga terkait, mengkoordinasi para penampil, menyiapkan sarana prasarana, dan menumbuhkan sikap mental untuk menjadi tuan rumah yang baik. Untuk itulah, sepulang dari KCI IV di Pekan Baru saat itu, ada semangat untuk mengajak teman-teman terus berkarya dan berkaya agar dapat tampil pada saatnya nanti.

 

Matahari hari ini

Menyilaukan

Padahal tidak menatap kepadamu[2]

 

Syukur alhamdulillah, hampir dua tahun telah berjalan, kesempatan Banjarmasin untuk menjadi tuan rumah KCI tibalah. Sejak Jumat pagi (26 Oktober) kemarin, mulailah peserta-peserta dari berbagai propinsi dan kota di luar Banjarmasin berdatangan. Pada malamnya, gong pembukaan KCI V telah dibunyikan dan pesta para cerpenis se-Indonesia pun mulai digelar. Komplek Taman Budaya pun sejak itu mulai hingar bingar. Ada perasaan senang dan bangga karena Banjarmasin benar-benar telah menjadi penyelenggara. Sekarang, terwujudkah impian seperti yang sebutkan di atas?

Ada beberapa impian yang terwujud, tapi lebih banyak yang terpuruk. Mengikuti beberapa rapat panitia saat persiapan sejak awal tahun 2007 dan membaca skenario acara yang sudah final jelang pembukaan kegiatan, saya mulai banyak merenung. Mengapa KCI V di kota sendiri jadi begini? Mungkin tak ada alasan yang kuat untuk memaksakan impian saya itu pada KCI ini. Namun, paling tidak, impian saya masih sangat normatif dan akan diimpikan oleh siapa pun yang kelak akan menjadi tuan rumah kegiatan serupa. Saya beranggapan, Banjarmasin memang betul-betul telah menjadi ‘tuan rumah’ yang baik!

Ada cerita yang bisa jadikan analogi. Di sebuah keluarga yang hampir seluruh anggotanya bisa bermain musik akan mengadakan pesta. Rumah mereka akan kedatangan banyak tamu. Rencananya tamu-tamu itu akan bermain musik bersama anggota keluarga itu. Gembiralah anak-anak keluarga itu karena di samping akan melihat kemampuan bermusik tamu-tamunya, mereka juga akan mempertunjukkan kemampuan bermusiknya. Namun, ketika kumpul-kumpul menjelang persiapan acara, ayah dan ibu mereka mengajak omong anak-anaknya. Karena akan banyak tamu yang tampil, maka hanya satu anaknya yang boleh tampil. Anak yang dipilih adalah yang paling berprestasi dan sudah diketahui tetangga kiri kanannya. Sekali pun juga punya prestasi, anak-anaknya yang lain diminta untuk tidak ikut tampil. Maka, berlangsunglah pesta itu para tamu itu dengan tambahan hanya satu anaknya yang ikut bermain musik.

Kesan seperti situasi dalam cerita di atas tampaknya terjadi pada KCI V ini. Dari tujuh orang pemakalah dan tiga instruktur workshop yang telah tampil hari Sabtu (27 Oktober) kemarin, serta dua orang pemakalah yang akan tampil hari ini, Minggu (28 Oktober), hanya satu orang yang berasal dari tuan rumah, yaitu Jamal T. Suryanata. Sementara cerpenis Lan Fang sendiri, sekali pun kelahiran Banjarmasin, tapi lebih tepat mewakili Surabaya karena domisilinya di sana. Sisanya, teman-teman dari propinsi lain. Yang agak unik, justru lebih banyak pembicara yang berdomisili di Jawa Tengah atau Jogjakarta. Sebut saja Saut Sitomurang, Katrin Bandel, Joni Ariadinata, dan Agus Noor. Mereka memang cerpenis yang handal dan pantas untuk diundang sebagai pembicara pada KCI V ini. Yang jadi masalah, justru keterwakilan Kalimantan Selatan sebagai tuan rumah tidak seimbang. Ada apa?

Saya tidak ingin bicara lebih jauh, misalnya, mengapa ada beberapa propinsi lain tidak terwakili sebagai pembicara. Sebut saja cerpenis dari Aceh, Bali, Medan, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat. Apakah alasan sehingga mereka tidak diundang sebagai pembicara. Dan justru tertumpuk di Jawa Tengah. MSM sempat mengatakan pada saya bahwa sayang sekali Kalimantan Selatan tidak terwakili secara proposional dalam KCI ini. Yang terkesan, kembali kata MSM, KCI V ini seperti Kongres Cerpen Jogya dengan meminjam tempat di Banjarmasin. Saya pikir, itu hanya gurauan seorang MSM, walaupun saya sempat terpikir juga mengapa sampai terjadi begini? Bukankah panitia KCI V, dalam hal ini SC (yang diisi lebih banyak oleh tuan rumah), punya wewenang penuh untuk memilih. Siapa yang membuat skenario ini?

Pada KCI V ini sayangnya tidak terlihat adanya acara Peluncuran dan (apalagi) Bedah Buku cerpen karya sastrawan dan cerpenis tuan rumah. Ada banyak buku cerpen yang terbit tahun 2007 ini. Yang paling baru, misalnya, buku kumpulan cerpen siswa (sebagai cikal bakal cerpenis masa depan daerah ini) yang berjudul ‘Bantu Saya Menikmati Cinta’ sebagai kumpulan cerpen pertama yang beredar secara nasional (buku ini dijadikan Joni Ariadinata sebagai model dalam workshop KCI V hari Sabtu kemarin). Jamal D. Rahman, pemred Horison, yang memberi pengantar di buku itu, mengakui cerpen-cerpen siswa itu sudah masuk lingkup sastra dan titip pesan agar buku itu ikut ‘diperkenalkan’ pada KCI V ini. Belum lagi buku-buku cerpen yang terbit di Banjarbaru dan sekitarnya. Akan sangat lucu, jika yang dipajang pada gerai penjualan buku justru didominasi oleh buku-buku yang dibawa oleh tamu.

Okelah, jika memang sudah begini adanya. Barangkali, panitia lokal KCI teramat sangat rendah hati dan tidak mau menyombongkan diri (untuk tidak menyebut sebagai suatu ketakutan yang berlebihan) sehingga ‘tidak berani’ menampilkan teman-teman sendiri di hadapan tamu-tamu terhormat. Semoga bukan karena merasa sebagai pihak yang berhak menentukan bahwa cerpenis-cerpenis tuan rumah belum (apalagi tidak) pantas ikut tampil bersama cerpenis-cerpenis dari provinsi dan kota lainnya. Semoga juga bukan karena ‘kalah pengaruh’ dengan teman-teman panitia dari daerah lain sehingga hanya melaksanakan skenario yang sudah disiapkan dari seberang.

KCI V tinggal sehari lagi, hari ini Minggu (28 Oktober 2007). Dua pembicara akan tampil, yaitu Ahmadun Yosi Hertanda (redaktur harian Republika Jakarta) dan Katrin Bandel, Ph.D.. Siangnya, selepas rehat siang, Maman S. Mahayana, dibantu Micky Hidayat dan Burhanuddin Soebely, akan memimpin sidang pleno Keputusan KCI V dan finalisasi AD/ART pembentukan Komunitas Cerpen Indonesia. Dan malam ini, KCI V akan ditutup dengan pembacaan hasil-hasil KCI V dan Pengurus Komunitas Cerpen Indonesia, serta pentas kesenian. Semoga acara penutupan malam ini betul-betul meriah dan berkesan. Tidak seperti malam pembukaan (Jumat, 26 Oktober) yang (tiba-tiba) tidak dihadiri pejabat tertinggi di daerah ini, sehingga hanya amanat tertulis dan tanpa orasi budaya, sekali pun acara ini bersifat nasional.

Tulisan ini hanya sebuah otokritik. Bisa jadi cermin bagi saya sendiri, tapi bisa pula jadi kaca pantul bagi penyelenggara KCI VI tahun 2009 nanti. Teman-teman panitia tentulah sudah bekerja keras sehingga terlaksananya aruh ganal ini. Untuk itu, patutlah kita sampaikan rasa salut dan ungkapan terimakasih. Terimakasih pula disuguhkan untuk tiga rekan yang sangat membantu sejak persiapan KCI V hingga pelaksanaan, yaitu Izbedy Setiawan S.Z. (Lampung), Maman S. Mahayana (Bogor), dan Raudal Tanjung Banua (Jogyakarta). Terimakasih juga kita sampaikan kepada teman-teman sastrawan dan cerpenis dari seluruh Indonesia yang sudi datang ke Banjarmasin. Berkat partisipasi teman-teman, KCI V menjadi semarak dan sukses.

Kerja besar memang belum selesai, belum apa-apa. Masih banyak yang harus dilakukan untuk kemasyuran cerpen Indonesia. Namun demikian, KCI V telah mengabadikan nama kota Banjarmasin dalam sejarah cerpen Indonesia sebagai kota yang pernah ikut mengibarkan bendera kejayaan cerpen Indonesia. KCI V semoga juga dapat berimbas pada semakin maraknya tradisi penulisan cerpen di Banjarmasin, umumnya di Kalimantan Selatan. KCI V harus menjadi pemicu tumbuhnya cerpenis-cerpenis baru dan berbakat di daerah ini. Mari kita terus menulis cerpen. Sajikan karya-karya cerpen yang berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa ini. Berilah kesempatan kepada setiap anak bangsa untuk mengeksplorasi kemampuan menulisnya. Kurangi bicara dan banyaklah berkarya. Tabik!

Kembangkan sayap, kekar dan lebar

Dan terbanglah, terbanglah,

Terus lurus membumbung tinggi

Melampaui gunung memecah mega[3]

* Penulis adalah Guru SMA 2 Banjarmasin, Seksi Persidangan Panitia KCI V Tahun 2007.


[i] Dikutip dari puisi Chairil Anwar “Kerawang Bekasi”[1] Dikuti dari puisi Yustan Aziddin “Tuhan dan Tugu”

[2] Dikuti dari puisi D. Zauhiddie “Matahari yang Lain”

[3] Dikuti dari puisi Sultan Takdir Alisyahbana “Dalam Lingkungan Keabadian”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s