Guru Kencing Berdiri, Murid Kencingi Guru

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencingi Guru

(Masihkah sekolah

sebagai galeri keteladanan?)

Oleh : Zulfaisal Putera*

 

tn_edu35.jpgWe should honor our teachers more than our parents, because while our parents cause us to live, our teachers cause us to live well

 

Pembaca, kalimat di atas adalah ucapan dari seorang penyair Yunani yang bernama Philoxenus, yang hidup antara tahun 435 – 380 SM. Terjemahan bebasnya adalah: kita harus menghormati guru kita lebih baik daripada orang tua kita, karena meskipun orang tua kita menyebabkan kita hidup, guru kita membuat kita hidup baik. Sengaja penulis pasang kalimat bijak tersebut untuk mengawali tulisan ini karena saat ini citra guru sedang dipertaruhkan. Guru sebagai pengajar sekaligus pendidik sedang berada dalam labirin kepercayaan. Apakah benar guru masih bisa membuat hidup kita lebih baik, atau malah masih ada guru yang justru menjerumuskan kita ke kehidupan yang buruk, tanpa masa depan.

Berita koran hari Selasa (14/5) kemarin telah menyentak dunia pendidikan kota ini. Dengan huruf yang besar dan dicetak tebal warna merah, tertulis malentang: “Jual Ineks, Guru SMU Disel” (Radar Banjar, 14/5). Terasa menggigil batin kita setelah mengikuti dengan seksama alur berita, bahwa seorang guru ditangkap polisi karena mengedarkan ineks kepada siswa-siswanya. Sekalipun status guru tersebut hanyalah seorang tenaga honorer, namun terasa menyedihkan karena, berdasarkan pengakuannya, kegiatan pemasyarakatan obat terlarang tersebut kepada para siswa sudah berlangsung sekitar dua bulan. Bisa dibayangkan betapa waktu dua bulan itusudah lebih dari cukup untuk membuat para konsumennya ketagihan.

Isu bahwa adanya oknum guru yang merangkap sebagai sales obat-obat jenis zat aditif tersebut sebenarnya sudah lama beredar dari mulut ke mulut para siswa. Bahkan, penyebaran obat-obatan ini kepada kalangan pelajar sempat meresahkan guru-guru di salah satu SMP Negeri favorit di kota ini, tempat di mana oknum guru tersebut juga menjadi tenaga honorer. Hanya karena ketiadaan nyali kepala SMP tersebut untuk berusaha membuktikannya, maka kegiatan oknum guru tersebut aman-aman saja. Berbeda dengan di SMU, kepala sekolahnya punya keberanian untuk menghabisi sepak terjang oknum guru tersebut, yaitu bekerja sama dengan siswa dan pihak aparat.

Terlepas dengan keberhasilan pihak sekolah dan aparat kepolisian membekuk oknum guru pengedar obat tersebut, yang menjadi masalah bagi kita semua adalah bahwa pelaku perbuatan kotor tersebut adalah seorang guru. Sebuah profesi adiluhung yang bagi bangsa ini masih mempunyai kedudukan sangat terhormat. Bagaimana mungkin kita bisa menerima kenyataan bahwa ada seorang guru yang tega meracuni keluhuran profesinya dengan merusak anak didiknya dengan obat-obat terlarang. Apakah ini hanya sebuah pengecualian yang langka dan kemustahilan yang sementara dari kemestian seorang guru. Atau, jangan-jangan kelakuan oknum guru yang amoral tersebut hanyalah puncak gunung es yang pada bagian bawahnya ternyata lebih banyak lagi kejadian yang melibatkan guru-guru.

Dalam diskusi kecil bersama beberapa orang guru yang kebetulan bertemu penulis siang itu, selepas selesai membaca berita tersebut, muncul komentar bahwa kejadian memalukan yang menimpa oknum guru tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak kejadian memalukan lainnya yang dilakukan oleh oknum-oknum guru. Hanya karena untuk menjaga nama baik sekolah dan demi stabilitas kegiatan belajar-mengajar, maka ada kecenderungan sekolah yang mengalami peristiwa semacam itu menyelesaikannya secara kekeluargaan dan melakukan tindakan administrasi kepada oknum guru yang berbuat. Namun demikian, masih ada beberapa peristiwa yang melibatkan oknum guru yang tercium oleh pers.

Kalau pembaca mengikuti berita-berita di media massa tentang perilaku oknum guru yang semacam itu tentu masih ingat dengan beberapa peristiwa memalukan yang telah terjadi. Misalnya, perilaku seorang oknum guru SD yang melakukan pelecehan seksual kepada siswanya. Cerita tentang seorang guru yang melarikan siswa putrinya karena di antara mereka terjalin hubungan cinta lain jenis. Kejahilan seorang oknum guru pelatih pramuka yang memuaskan nafsu seksnya dengan meminta anak asuhnya melakukan oral. Skandal antara bapak guru yang bagandakkan dengan ibu guru, padahal keduanya sudah saling berumah tangga. Peristiwa oknum guru yang berbaku hantam dengan kepala sekolahnya karena keinginannya untuk mutasi selalu dihambat. Dan seterusnya.

Sebagai seorang manusia memang masih sangat manusiawi kalau seorang guru juga bisa berbuat hal-hal negatif yang biasa juga dilakukan manusia lainnya. Namun, hal ini menjadi sangat ironis kalau guru yang identik sebagai seorang pendidik harus berbuat hal yang tidak bersifat mendidik.Apalagi dalam kesehariannya guru berhadapan dengan sejumlah anak manusia yang bernama siswa yang merupakan aset bangsa. Kepada mereka diharapkan mempunyai perilaku positif untuk membangun diri dan bangsanya. Dan pelajaran tentang itu selayaknya didapat oleh para siswa tersebut dari seorang yang bernama guru. Jadi, apa lacur kalau justru seorang guru berbuat sesuatu hal yang jauh dari unsur-unsur mendidik Perbuatan yang destruktif dan menghancurkan nilai-nilai pendidikan itu sendiri.

Guru adalah sebuah istilah yang berkesan eksklusif. Sebagai sebuah istilah, guru sama nilainya dengan istilah ulama, pendeta, biksu, rahib, dan kaum sufi. Walaupun fisiknya manusia, tapi jiwanya dianggap seperti dewa. Berbuat hanya untuk menghasilkan yang baik-baik saja. Berucap hanya untuk menyuarakan kata-kata bijak dan yang merdu-merdu saja. Melangkah hanya untuk menapaki jalan-jalan dan tempat yang bersih dan indah-indah saja. Tangannya diciptakan hanya untuk memberi dan pantang untuk menerima apalagi meminta. Tak ada sedikit pun cacat cela berharap hinggap pada dirinya. Walau sekadar selembar daun kering yang jatuh tertiup angin. Metafora semacam ini menjadikan istilah guru menimbulkan kesan luhur dan suci. Jauh dari kesan kotor atau pun yang bersifat buruk.

Akan tetapi, guru tidak berada dalam kuil, candi, atau pun tempat-tempat suci di mana tempat para biksu, rahib, dan kaum sufi menjalankan misinya. Guru berada di tengah-tengah bangunan masyarakat yang bernama sekolah. Guru berkubang di ladang-ladang kehidupan yang serba majemuk. Dihadirkan bukan di tempat yang rapi dan harum rindang, tapi di tempat yang masih kusut, kusam, dan gersang. Kehadiran guru memang bukan untuk menikmati, tapi berbuat. Melicinkan yang kusut-kusut, memberi warna pada yang kusam, dan menyuburkan yang gersang-gersang. Sungguh bukan sebuah pekerjaan mudah kalau guru diciptakan untuk hal demikian. Diperlukan suatu semangat juang bak pahlawan yang memerdekakan kebodohan dengan penuh pengorbanan.

Di lembaga yang bernama sekolah, guru dihadirkan. Sekolah sebagai ladang pendidikan menggantungkan nasibnya pada garapan sang petani penggarap yang bernama guru. Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Ia adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan pemegang peranan penting dalam proses pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan formal di sekolah, figur guru mestilah menjadi aktor utama pembicaraan. Hal ini tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. Sebagian besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di rumah dan di masyarakat. Sekolah, rumah, dan masyarakat adalah tiga tempat yang memiliki karakter yang berbeda yang kesemuanya tentu ikut membentuk dan mempengaruhi kepribadian sang guru.

Peran guru bukanlah sekadar pengajar, tapi yang lebih utama adalah pendidik. Sebagai pengajar ia menularkan ilmu-ilmu yang dimilikinya kepada anak didiknya, sedangkan sebagai pendidik ia membimbing anak didiknya untuk bersikap yang baik, santun, dan berkepribadian. Guru harus menyadari bahwa ia bukan sekadar lumbung ilmu, tapi juga kran sikap dan sifat yang setiap saat harus siap digali dan dikucurkan kepada anak didiknya. Untuk itu, tak ada alasan kalau seorang guru meniadakan atau mengabaikan salah satu peran tersebut. Seorang guru yang hanya mengajar, mirip robot yang bergerak menjalankan program yang sudah diplot di otak kirinya. Sementara guru yang hanya mendidik, mirip seniman yang dengan otak kanannya menikmati karya seninya siang malam tanpa bisa berbuat sesuatu agar karyanya itu dapat berdaya jual mahal.

Dari kedua peran tersebut tentu ada peran yang dominan dan menjadi dasar dari proses itu sendiri. Peran yang menjadi payung tersebut adalah sebagai pendidik. Ya, guru adalah pendidik. Siswanya disebut anak didik, bukan anak ajar. Seorang guru yang menjadi pendidik dituntut tidak sekadar mampu memberi tahu mana yang baik dan mana yang benar, tapi juga menjadi model dari yang baik dan yang benar itu sendiri. Di sinilah persoalannya, mampukah seorang guru berperan purna, selain sebagai instruktur juga sebagai model. Kemampuan memadukan peran menyuruh dan menjadi contoh tentu akan menjadi sebuah ramuan pendidikan yang ampuh dan mujarab. Anak didik akan cepat mendulang ilmu dan menampung sikap-sikap yang positif karena mereka mendengar teori sekaligus melihat contohnya. Setelah menyaksikan keteledanan hadir di depan mata, maka mereka pun sudah dapat menirunya sekejap gurunya mengedipkan mata.

Suksesnya proses pendidikan itu sendiri sesungguhnya adalah kalau guru dan warga sekolah mampu mengusung keteladan dalam setiap langkah dan kebijakannya. Sekolah adalah galeri keteladanan. Mari kita lihat di sekolah kita masing-masing, berapa banyak guru-guru yang bisa diteladani. Tidak usah untuk hal-hal yang besar, persoalan kecil dan yang rutin saja misalnya. Berapa banyak guru yang dapat diteladani tepat waktu masuk dan keluar kelas. Berapa banyak guru yang berpakaian dan berpenampilan layaknya seorang guru yang dapat diteladani. Berapa banyak guru yang berbaris lebih rapi dan tertib untuk diteladani ketika upacara bendera. Berapa banyak bapak guru yang perokok mampu menahan diri untuk diteladani tidak merokok di lingkungan sekolah. Berapa banyak ibu guru yang cantik dan berkelebihan mampu menahan diri untuk diteladani tidak berhias yang menor dan memakai perhiasan yang berlebihan.

Contoh keteladanan di atas adalah hal-hal yang bersifat fisik. Bagaimana keteladanan mental seorang guru. Berapa banyak guru yang minta maaf kepada siswanya karena kemarin tidak masuk, baik sebab sakit atau pun ada tugas luar. Berapa banyak guru yang mengucapkan terimakasih kepada siswanya karena ditolong diambilkan air minum atau pesanan makanan di warung. Berapa banyak guru yang memberikan ucapan selamat kepada siswanya yang mendapat prestasi atau kemenangan atas suatu kegiatan. Berapa banyak guru yang meluangkan waktu menjenguk siswanya atau orang tua siswa yang lama terbaring sakit. Berapa banyak guru setiap akhir tahun ajaran menyediakan waktu dievaluasi oleh siswanya melalui potongan kertas yang disediakan. Dan berapa banyak guru yang minta ikhlas kepada siswanya karena tahun pelajaran sudah berakhir sedangkan materi pelajaran yang menjadi hak mereka belum tuntas.

Apa yang bisa diteladani oleh anak didik kita kalau kita sendiri sebagai guru tidak bisa menunjukkan keteladanan. Memulai dari keteladanan hal-hal yang sederhana tentu akan menumbuhkan kepercayaan untuk keteladanan hal-hal yang kompleks. Seorang guru bahasa dan sastra tentu akan lebih mudah mengajarkan dan menugasi anak didiknya menulis puisi dan cerpen kalau dia sendiri mempunyai kemampuan membuat puisi dan cerpen. Seorang guru olahraga akan lebih berhasil mengajarkan cara bermain basket kalau dia sendiri mampu bermain yang sama. Seorang guru kesenian akan lebih lancar mengajarkan melukis atau memainkan alat musik kalau dia sendiri mampu menghasilkan sebuah lukisan dan memainkan sebuah alat musik. Mampu mengerjakan terlebih dahulu untuk hal yang akan ditugaskan kepada anak didik adalah contoh keteladanan yang lebih kompleks.

Lantas, bagaimanakah kondisi anak didik kita kalau gurunya pemakai bahkan pengedar narkoba? Bagaimanakah perilaku anak didik kita kalau gurunya suka berbuat cabul dengannya? Bagaimanakah sikap anak didik kita kalau gurunya membawa lari teman putrinya? Bagaimana hebohnya anak didik kita kalau melihat skandal antara bapak dan ibu gurunya? Bagaimana tanggapan anak didik kita kalau gurunya bacakut dengan kepseknya? Bagaimana nasib pendidikan kita kalau tak ada satu pun guru kita yang bisa diteladani oleh anak didiknya? Kemana anak didik kita mencari keteladanan? Anak didik kita akan mencari teladan di luar sekolah, di jalan-jalan, di pasar-pasar, dikafe-kafe, di diskotek-diskotek, di tv-tv, di majalah-majalah, di vcd-vcd, di ruang-ruang gelap hampa udara!

Apakah yang sesungguhnya hilang dari sebagian kecil guru-guru kita hingga tidak bisa diteladani? Banyak sebab dan banyak jawab. Menjadi guru tidak bisa sekadar berdasarkan tuntutan pekerjaan, karena itu adalah hal yang mudah. Namun menjadi guru karena panggilan jiwa dan tuntutan hati nurani adalah hal yang sulit, karena kepadanya dituntut suatu pengabdian kepada anak didik dan dunia pendidikan itu sendiri. Wajar kalau dikatakan bahwa guru adalah cermin pribadi yang mulia. Figur yang rela hati menyisihkan waktunya untuk kepentingan anak didik, membimbing, mendengar keluhan, menasihati, membantu kesulitan anak didik dalam segala hal yang bisa menghambat aktivitas belajarnya. Merasakan kedukaan anak didik, bersama-sama dengan anak didik di waktu senggang, berdialog dan bergaul di luar jam kegiatan interaksi di kelas, bukan hanya duduk di kantor dengan dewan guru dan membuat jarak dengan anak didik.

Keteladanan seorang guru tercermin dari kepribadiannya dalam bersikap dan berbuat, tidak saja ketika di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Guru harus menyadari bahwa dirinya adalah figur yang diperhatikan oleh semua pihak. Keteladanannya sebenarnya bukan hanya untuk anak didiknya, tapi juga bagi masyarakatnya. Guru adalah bapak rohani bagi anak didiknya. Dosa besar kalau guru justru meracuni rohani anak didiknya. Kebaikan rohani anak didik tergantung dari pembinaan dan bimbingan guru. Tanggung jawab guru dalam mendidik adalah meluruskan tingkah laku dan perbuatan anak didik yang kurang baik yang dibawanya dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Bukan sebaliknya membawa penyakit masyarakat ke sekolah. Kalau hal ini yang terjadi, maka jangan heran kalau murid kencingi guru karena gurunya kencing sambil berdiri.

Mengakhiri tulisan ini, tidak salahnya kalau kita merenungi apa yang disuarakan oleh penyair Lebanon, Kahlil Gibran dalam bukunya Suara Sang Guru. Secara sederhana, ia sampaikan betapa guru adalah figur yang seharusnya patut diteladani: “Sedangkan Sang Guru, tidakkah ia telah menghabiskan hari-hari dalam kehidupannya bagi kebaikan umat manusia? Adakah di antara kalian yang tidak pernah meminum kesegaran mata air hikmatnya? Maka,jika kalian ingin menghormatinya, sanjungkanlah kidung pujian dan ucapan syukur untuk jiwanya yang diberkati, dan bukan dengan lagu-lagu memilukan dan tatapan hati. Jika kalian ingin memberikan penghormatan padanya, ikrarkanlah kesanggupan kalian untuk memenuhi ajaran kitab-kitab hikmat yang telah dia tinggalkan sebagai warisan bagi dunia“.

 

 

*Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan dan sosial, tinggal di Banjarmasin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s