Guru sebagai Model Pembelajaran

Guru

sebagai

Model Pembelajaran

Oleh Zulfaisal Putera*

 

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah karena sebagai guru kita tidak membuatnya menjadi mudah. Berbagai keluhan sementara guru-guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia adalah betapa lelahnya dalam membelajarkan sastra kepada siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah lelah itu karena kemauan guru untuk membelajarkan sastra sangat kurang atau karena kemampuan guru itu sendiri yang sangat minim.?

Mari kita runut berapa faktor yang sering dijadikan alasan bagi guru agak ogah-ogahan membelajarkan sastra. Pertama, kurangnya buku-buku penunjang pembelajaran, seperti buku pegangan guru dan siswa; dan buku-buku karya sastra sebagai bahan bacaan siswa. Kedua, kurangnya pengetahuan guru terhadap materi pembelajaran sastra itu sendiri dibanding materi bahasa Indonesia. Ketiga, rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran sastra di kelas.

Kalau kita perhatikan ketiga alasan tersebut secara seksama, tampaknya ada tiga pihak yang menjadi cikal penyebab, yaitu faktor sekolah – dalam hal ini perpustakaan, faktor guru, dan faktor siswa itu sendiri. Ketiga faktor ini memang merupakan satu kesatuan yang sudah sangat kita maklumi menjadi faktor penting dalam segala persoalan persekolahan. Jadi, terlalu naif kalau persoalan pembelajaran sastra ikut-ikutan menjadi beban bagi persoalan persekolahan secara umum.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau guru tidak mau berusaha menjadi guru yang terbaik bagi siswa didiknya. Menjadi guru yang terbaik tidak harus sempurna sebagai guru. Paling tidak, seorang guru pembelajaran sastra harus betul-betul menjadi menjadi sosok yang dapat dijadikan motivasi bagi siswa. Motivasi untuk berpikir, bertutur, dan bertindak dalam memahami dan mengekspresikan dirinya di bidang sastra.

Mari kita kaji kembali apa tujuan pemelajaran sastra menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi. Secara umum disebutkan sebagai berikut:

1. siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.;

2. siswa mampu mengekspresikan dirinya dalam medium sastra; dan

3. siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Apa yang bisa kita, selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia, lakukan untuk mengantarkan siswa-siswa kita mencapai tujuan pemelajaran itu? Sepatutnya kita bisa belajar dari sosok seorang guru mata pelajaran lain di sekolah kita. Percaya atau tidak, guru olahraga adalah salah satu guru yang selalu menjadi model bagi siswa didiknya. Lihatlah ketika seorang guru olahraga ingin mengajarkan dan meminta siswanya lompat tinggi atau loncat jauh, maka guru tersebut memberi contoh bagaimana melakukan itu (dan tentunya guru tersebut melakukan lompat tinggi atau loncat jauh terlebih dahulu di hadapan siswa).

Percaya atau tidak, seorang guru pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) haruslah mampu mempraktikan bagaimana menggunakan komputer, bagaimana berselancar di dunia maya, membuat e-mail, bahkan mendownload program-program melalui internet. Apalagi kalau kita melihat guru-guru bidang kesenian. Seperti seorang guru tari yang pastilah mampu menari. Seorang guru musik yang tentu pandai memainkan musik dan sekali-sekali menyanyi. Dan banyak contoh-contoh lainnya lagi yang menampakkan diri betapa guru harus menjadi model.

Sekarang bagaimana kita selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia? Bayangkanlah bagaimana kita memosisikan diri ketika siswa meminta kita mencontohkan bagaimana membuat puisi, bagaimana menulis cerpen, bagaimana meyusun sebuah karangan esai. Bayangkan juga bagaimana sikap kita ketika siswa kita memohon agar kita bisa mencontohkan bagaimana membaca puisi atau cerpen yang sebenarnya, bagaimana memerankan seorang tokoh dalam sebuah lakon drama. Dan rasakan juga ketika siswa ingin melihat bagaimana berpidato yang baik?

Kalau setelah membaca sejumlah pembayangan di atas kita sebagai guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia lantas memberikan tanggapan dengan pernyataan bahwa semua yang diminta siswa itu bisa dipenuhi dengan menghadirkan contoh melalui kaset, video, atau mendatangkan seorang sastrawan ke dalam kelas. Ini adalah pernyataan untuk menutupi kekurangan yang dimiliki guru sekaligus upaya mengambil jalan pintas. Memang bisa, tapi tidak baik bila menjadi biasa. Karena selamanya guru sangat ketergantungan.

Selama ini kita sering mendengar keluhan kurangnya, bahkan hampir tidak adanya fasilitas penunjang pembelajaran di sekolah – terutama sekolah-sekolah pinggiran dan pedesaan. Misalnya, tidak tersedianya tape recorder, vcd player (apalagi dvd player), apalagi LCD dengan perangkatnya. Kalau juga ada, muncul lagi masalah tidak adanya colokan listrik di kelas, atau malah terbatasnya persediaan listrik di sekolah. Bagaimana ingin merealisasi pernyataan di paragraf sebelumnya, kalau setelah itu tetap muncul keluhan masalah sarana.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau kita tidak mau dan tidak mampu menjadi model dalam pembelajaran. Betapa menyenangkannya saat mengajar kalau kita dapat memenuhi harapan siswa. Ketika siswa ingin belajar menulis puisi, kita tunjukkan beberapa puisi kita. Ketika siswa ingin mengetahui bagaimana seluk beluk menulis cerpen, maka dengan rasa bangga kita perlihatkan cerpen yang pernah kita buat (bahkan pernah dimuat di media massa). Pun juga ketika siswa meminta kita membacakan puisi, cerpen, atau bahkan bermain peran, alangkah lebih terhormatnya kita mampu mencontohkan itu semua.

Apalagi kalau kita ingin menjadi guru yang bisa memompa prestasi siswa dalam bidang bahasa dan (khususnya) sastra dengan mengikutkan mereka dalam lomba-lomba penulisan atau pembacaan puisi atau cerpen. Tentu, dengan bangga kita bisa membagi pengalaman dan memberi kiat-kiat mengikuti kegiatan tersebut karena kita pernah mencoba ikut. Harapan siswa sebenarnya sangat sederhana bagaimana kita bisa menjadi guru utamanya dalam pembelajaran. Dan bukan televisi, internet, atau media massa.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau kita tidak mau belajar dengan teman-teman guru bahasa dan (khususnya) sastra di sekolah dan tempat lain. Sudah teramat banyak teman-teman guru kita yang sudah betul-betul menjadi model di kelasnya. Selain aktif menjadi guru di sekolah, juga sebagai pribadi aktif dan intensif melakukan kegiatan tulis menulis dan berprestasi dalam bidang itu. Bisa disebut beberapa nama, seperti Bapak. Erwan Juhara, guru SMA 10 Bandung; Ibu Iis Wiati, guru SMA 5 Bogor; Ibu Dian Aksanti, guru SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo; Ibu Eulis Anggia Budiarti, dari SMA 1 Jayapura; atau si kembar Cahyono dari Jawa Tengah. Ada lagi Bapak Abel Tasman, di Pekan Baru dan Bpk. Jamal T. Suryanata di Batu Ampar, Kalimantan Selatan, yang sama-sama guru SD. Dan banyak lagi kalau mau disebut.

Sesungguhnya mereka telah membuktikan keberhasilannya dalam pembelajaran sastra, bukan sekadar membelajarkan, tapi sekaligus menjadi model. Indikasi keberhasilan tersebut adalah mampunya siswa didik mereka mengeskpresikan dirinya dalam bidang sastra. Berkarya dan mempublikasikannya di media-media yang ada. Tentunya juga peningkatan prestasi akademiknya dalam bidang kognitif. Dan yang lebih membanggakan adalah karya dan prestasi guru itu sendiri dalam bidang sastra dan kepenulisan yang menyebar, baik tingkat lokal, maupun nasional.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau setelah membaca pengalaman guru ini kita selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia tetap tidak mau mengubah citra sebagai guru. Alangkah berdosanya kita kepada siswa-siswa kita kalau kita tidak bisa memegang amanat sebagai guru, seseorang yang patut digugu dan ditiru. Bagaimana bisa menjadi guru kalau sedikit pun yang ada dalam diri kita yang bisa ditiru oleh siswa. Sayang, kalau sebagai guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia belum menjadi model bagi materi pembelajaran kita sendiri.

Jadi, tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah!

Banjarmasin, 9 Pebruari 2006.

Iklan

10 comments

  1. trims nama saya disebut-sebut. sayang, pemerintah hanya ‘mau’ menguji kecerdasan anak-anak kita dari segi kognisi. padahal terlalu banyak aspek yang kudu diukur.

    Zul …

    Perasaan bukan nyebut nama Iisiswi, tapi Iis Wiati.
    Emang orangnya sama, ya?
    Senang banget sudah disinggahi!
    Soal peran pemerintah dalam menguji kecerdasan anak-anak kita, ntar aku bikin tulisan tentang itu

    Tabik!

  2. alhamdulillah…..
    bu dian aksanti adalah sesosok guru yang mempunyai tanggung jawab yang besar kepada murid2 nya.
    semoga sukses bagi bu dian aksanti.
    dan semua siswa sms muhammadiyah 1 ponorogo.kususnya alumni tahun 2007/2008. kelas 12 i a 1
    maju terus pantang mundur
    “SMA muhipo unggul dalam ilmu santun dalam perilaku”

    Zul …

    Salam buat Bu Dian Aksanti.

    Tabik!

  3. Ass,
    Saya sering membuka-buka blogspot khusus guru bahasa indonesia bermaksud untuk mencari contoh-contoh silabus KTSP yang memuat tugas berstruktur takberstruktur, kegiatan tatap muka nontatap muka, tapi saya kecewa karena tidak ada yang memuat hal tersebut. Tolong kalau ada ditulis yah.


    Zul …

    Semoga ada teman guru-guru yang lain bisa membantu.
    Jika ga ketemu juga blog guru yang memuat itu, ya jangan kecewa, Bu!
    Bagaimana kalau Ibu bikin juga, biar bisa bantu teman guru yang lain juga.

    Tabik!

  4. salam buat semua guru di Muhipo…. saya blm kenal sama Bu Dian… saya alumnus 1994…. sukses selalu buat MUHIPO

    Zul …

    Salam buat Bu Dian sudah kusampaikan via SMS.
    Sekali-sekali, Bu Dian katanya baca juga komentar siswanya di Ponorogo pada blog aku ini.
    Sukses buat Anda!

    Tabik!

  5. Kapan lagi ya.. ada reuni akbar spt yg pernah dilaksanakan sktr thn 93 an… soalnya sejak keluar thn 1994 blm pernah sekalipun masuk ke SMA Muhipo aplg ketemu sama guru2 nya…. yg plg aq ingat sama Guru Kimia Bpk Edy S kl dak salah, guru yg plg ditakuti waktu itu….

  6. Salam kenal….
    Saya Yudi (Shehoo) alumni MUHIPO 1992.

    Slm buat temen2 angkatan 1992 yang lain.
    Untuk teman2 yang punya info anak-anak alumni 1992 tolong email ke alamat ini.

    Matur suwun

  7. assalamu`alaikum….
    Ibu Dian Eksanti…semua murid-muridnya hanya bilang wah…gak ada komentar yang jelek untuk Bu Santi. Terima kasih banyak Bu Santi atas semua yang telah Ibu berikan kepada saya dan teman-teman sehingga saya dapat melanjutkan jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Dan tak lupa salam buat semua Bapak dan Ibu Guru SMA Muh. 1 Ponorogo. Sukses terus untuk SMA Muh. 1 Ponorogo. Ananda Hardian Syah….
    wasalamu`alaikum

  8. asw
    buat kakak kakak ku alumni muhipo,tanggal 4 ktober besok setelah lebaran sma muhipo akan mengadakan reuni akbar,tempat sma muhipo.datang ya kakk….
    wss

  9. gimana nich…. kok ada reuni akbar gak undang2….. aq kan gak tau kl ada reuni gtu…… salam buat tmn2 semua para alumnus SMA Muhipo… utamanya thn 1994….. Muhipo semoga semakin sukses…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s