Mengenang Kejayaan Rubrik Dahaga di Harian Banjarmasin Post Tahun 80-an

Mengenang

Kejayaan Rubrik Dahaga

di Harian Banjarmasin Post

Tahun 80-an

Oleh : Zulfaisal Putera

 

Mengenang, bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Mengenang memerlukan banyak energi untuk melakukannya. Bukan hanya melibatkan otak kiri untuk mengingat kembali sejumlah data, tapi juga memerlukan partisipasi otak kanan untuk memilah-milah hal-hal yang pantas untuk dijadikan alasan sebagai sebuah kenangan. Apalagi objek yang menjadi kenang-kenangan sudah terlalu lama lewat dari kehidupan. Apalagi orang yang akan mengenang tidak terlibat jauh dengan objek yang dikenang. Tentu, memerlukan kearifan dan kesabaran untuk dapat menelusuri bagian demi bagian peristiwa yang akan dirangkai agar tidak ada titik-titik penting yang hilang, apalagi terputus.

Mengenang rubrik Dahaga di Harian Banjarmasin Post Tahun 80-an bukan sebuah pekerjaan mudah. Apalagi rubrik itu sudah lama terkubur dan tak pernah lagi terziarahi. Bukan hanya harus memangkas rumput ilalang yang memenuhi permukaannya, tapi juga terlebih dahulu harus menemukan di mana lokasinya. Dahaga, sebuah rubrik puisi yang pernah ada dan telah lama tiada harus dapat kembali direkonstruksi faktanya agar dapat dikenang dengan baik. 

Banyak jalan untuk mengenang. Sejumlah narasumber bersedia dan rela berbagai cerita. Sejumlah tempat yang masih menyimpan arsip dengan baik akhirnya didapat. Maka, pekerjaan riset pun tak dapat dihindarkan. Menemukan, memilah-milah, membuka halaman demi halaman, memberi tanda, dan mencatat hal-hal yang diperlukan adalah pekerjaan selanjutnya. Pada akhirnya, kekaguman tak dapat dibendung. Sejumlah data telah menunjukkan masa kejayaan rubrik Dahaga itu memang ada. Namun, ternyata juga ada masa kesuraman. Seperti sebuah pelayaran, ada situasi pasang dan ada situasi surut.

Pasang surut Dahaga

Rubrik Dahaga pertama kali muncul di Surat Kabar Harian (SKH) Banjarmasin pada tanggal 27 Oktober 1978. Rubrik ini hadir sebagai pengganti rubrik Persfektif, yang merupakan rubrik seni dan budaya, yang sudah ada sejak tahun tahun awal terbitnya SKH Banjarmasin Post yang pertama kali terbit pada tanggal 2 Agustus 1971. Pada awalnya rubrik Dahaga ini diasuh oleh tiga penyair “Tanah Huma”[2], yaitu Darmansyah Zauhidie, Hijaz Yamani, dan Yustan Aziddin[3]. Ketika itu, nama ketiga tokoh tersebut memang sangat berpengaruh dalam jagad raya kesusasteraan Kalimantan Selatan. Namun, di antara ketiganya, peran Yustan Aziddin sebagai salah seorang pendiri koran terbesar itu pastilah sangat besar. Nama ketiga pengasuh tersebut ditulis dengan cetak tebal di bawah sketsa rubrik Dahaga yang digambarkan dengan sebatang pohon tak berdaun yang tumbuh di tanah gersang berbatu dengan latar belakang sebuah lingkaran kecil seperti matahari.

Pada edisi perdananya, Yustan Aziddin memberi kata pengantar demikian:

“Kami dahaga. Anda mungkin juga dahaga. Dahaga akan kreativitas. Dahaga akan seni dan berbagai hiburan. Dahaga akan sesuatu yang mungkin paling tak dapat mengatakannya. Dari sebab itulah dengan adanya rubrik yang bernama Dahaga ini akan dapat kiranya mengisi rasa kedahagaan kita. Dan memang. Dahaga untuk menyatakan diri dalam karya sastra dan dahaga untuk menciptakan karya-karya sastra, bukan saja sekadar terpuaskan, tetapi tersangatpuaskan oleh adanya rubrik ini” (Fahrawi, 1989 : 2)

Dari pengantar tersebut tergambar keinginan pengasuh saat itu bahwa rubrik Dahaga adalah wadah untuk memenuhi ‘rasa dahaga’ orang yang akan ‘menyatakan diri dalam karya sastra’ yang dapat ditafsirkan sebagai eksistensi seorang sastrawan dan orang yang ‘menciptakan karya sastra’ yang dapat diartikan sebagai hasil karya seorang sastrawan. Keinginan pengasuh itu pun terjawab karena Dahaga akhirnya memang menjadi rubrik sastra yang mendapat sambutan luar biasa dari para penyair pada saat itu. Pada mulanya rubrik ini diisi dengan sajak-sajak dan esai sastra. Namun, selanjutnya hanya diisi dengan sajak-sajak.

Tidak diketahui dengan persis bagaimana tampilan awal dan sajak-sajak siapa saja yang dimuat pertama kali pada penerbitan perdana rubrik Dahaga. Tidak ada satu pun arsip koran Banjarmasin Post yang memuat edisi perdana Dahaga ini penulis dapatkan untuk mengetahui hal tersebut[4]. Hanya ada sedikit informasi yang diperoleh dari penuturan Tajuddin Noor Ganie[5] yang menyatakan bahwa (salah satu?) sajak yang dimuat pada rubrik Dahaga edisi perdana adalah karya Darmansyah Zauhidie yang berjudul “Hisab”.

Satu hal yang menarik, dan justru inilah keistimewaannya, beberapa waktu setelah kelahirannya, rubrik Dahaga mampu hadir setiap hari di surat kabar harian Banjarmasin Post tersebut. Bisa dibayangkan berapa banyak penyair dan berapa banyak sajaknya yang dimuat pada rubrik tersebut dalam hitungan hari, minggu, bulan, dan tahun. Kenyataan demikian sempat menarik perhatian sastrawan nasional Ajip Rosidi. Menurut pengakuan Yustan Aziddin[6] dalam sebuah pertemuan dengannya, Ajip menyebutkan bahwa satu-satunya penerbitan di dunia yang mampu menyajikan puisi saban harinya hanyalah (rubrik Dahaga Banjarmasin Post) di Banjarmasin.

Sebuah data yang referesentatif tentang jumlah penyair dan sajak dalam rubrik Dahaga telah dipaparkan oleh Tajuddin Noor Ganie. Walaupun hanya mengambil sampel penerbitan Banjarmasin Post sepanjang tahun 1981, secara kontinyu setiap bulannya Tajuddin Noor Ganie mendata dan menuliskannya dalam sebuah ulasan tentang sajak dan penyair yang muncul pada rubrik Dahaga di bulan tersebut dengan judul “Sekilas pintas ‘Dahaga’ bulan …”. Ulasan itu dimuat secara rutin tiap bulannya oleh Banjarmasin Post, satu tempat dengan halaman rubrik Dahaga.

Data selama tahun 1981 yang dikumpulkan dalam sebuah buku itu[7] ternyata sangat luar biasa. Dalam kata pengantarnya, Tajuddin Noor Ganie mengatakan bahwa sepanjang tahun 1981 tercatat sebanyak 252 orang penyair yang menulis untuk Dahaga, dengan perincian 41 orang penulis wanita dan 210 orang penulis pria. Jumlah sajak yang dimuat sepanjang tahun itu tak kurang dari 2.336 buah. Dari jumlah tersebut, 69 judul puisi ditulis dalam bahasa Banjar dan sisanya 2.267 puisi ditulis dalam bahasa Indonesia. Jika sepanjang tahun 1981 tampil sebanyak itu, maka rubrik Dahaga setiap bulannya memuat sekitar 194 buah puisi, atau rata-rata 6 sampai 7 buah puisi setiap harinya. Sebuah jumlah yang fantastis untuk sebuah rubrik sastra (puisi) di media massa. Mungkin, sampai sekarang pun belum ada media massa mana pun di dunia yang menyamai rekor Dahaga Banjarmasin Post.

Sebagai tambahan informasi, Tajuddin Noor Ganie bukan hanya membuat pencatatan kuantitas sajak di rubrik Dahaga, melainkan juga (secara pribadi) melakukan penilaian kualitas sajak-sajak tersebut. Saat itu, dia membuat peringkat mutu sajak dengan memberikan bintang dalam jumlah tertentu untuk sepuluh sajak yang (dianggap) berkualitas. Dia juga menetapkan siapa penyair yang mendapat penghargaan The Man (Woman) of The Month tiap bulannya dan The Man (Woman) of The Year pada akhir tahun itu. Sebuah gaya apresiasi yang agak ‘nyeleneh’[8], tapi cukup menarik perhatian. Sayangnya, Tajuddin Noor Ganie hanya melakukan pencatatan dan penilaian selama tahun 1981 dan hanya dia yang (berani) melakukan itu[9]. Selanjutnya, pada tahun sebelum atau sesudahnya, tak ada lagi pencatatan dan penilaian selengkap itu.

Karena harus hadir setiap hari, jelang tahun 80-an sajak-sajak yang dimuat pada rubrik ini (sepertinya) tanpa seleksi yang ketat. Sajak apa pun dan dari siapa pun bisa masuk dan hadir pada rubrik tersebut. Menurut Ahmad Fahrawi (1954-1990), karena mudahnya dimuat dan luasnya kesempatan untuk menciptakan karya-karya sastra bagi rubrik ini, dengan segera rubrik ini sangat banyak melahirkan penyair baru, baik penyair yang serius (?) maupun penyair-penyairan (?), di samping juga menjadi ajang penampilan karya-karya para penyair yang telah menulis lama sebelumnya[10].

Hal tersebut juga dikeluhkan Micky Hidayat[11] pada masa itu, dengan menyatakan bahwa dibandingkan dengan awal kemunculannya dulu, Dahaga sekarang ini sangat banyak mengalami perubahan. Karya-karya yang terpampang di rubrik Dahaga dulu cukup berbobot / bermutu, mungkin disebab penyeleksian dari pengasuhnya yang cukup hati-hati dan sangat selektif. Dahaga sekarang ini bolehlah dikata sangat sedikit yang mengarah kepada nilai-nilai berbobot (?). Kebanyakan para penyair Dahaga sekarang cenderung untuk bersikap asal tampil , cenderung untuk bermain-main (?). Dahaga bukan lagi dianggap ruang penampung dan penyalur karya-karya yang mempunyai nilai tinggi, tapi oleh sebagian penyair dijadikan sebagai ajang eksperimen.

Pendapat senada diungkapkan oleh penyair Ajamuddin Tifani di penghujung tahun 80-an, seperti kesaksian Maman S. Tawie[12]. Dalam sebuah pembicaraan informal, Ajamuddin pernah mengibaratkan rubrik Dahaga itu semacam kotak pos. Surat (puisi) apa saja bisa masuk. Apakah yang menjadi penyebab munculnya anggapan miring tentang penyair dan mutu sajak-sajak yang tampil di Dahaga? Apakah karena (harus) terbit tiap hari sehingga tidak banyak waktu untuk memilih-milih yang (dianggap) berkualitas? Atau, karena mundurnya satu persatu ‘tiga serangkai’ pengasuh awal rubrik Dahaga?

Walaupun demikian, rubrik Dahaga di SKH Banjarmasin Post harus diakui memiliki kharisma tersendiri sebagai sebuah rubrik sastra di media massa yang terbit di Kalimantan Selatan. Ada tiga surat kabar lain yang juga menyediakan rubrik sastra saat itu, yaitu Media Masyarakat, Gawi Manuntung, dan Dinamika Berita (d.h. Dinamika), Bahkan Dinamika Berita dengan rubrik ‘Lengking’nya bukan hanya memuat puisi, tetapi juga cerita pendek dan cerita bersambung – dan ini yang tidak dimiliki oleh Banjarmasin Post saat itu. Namun, secara kuantitas maupun kualitas, serta pengaruhnya bagi penciptaan dan perkembangan sastra di Kalimantan Selatan, rubrik-rubrik dari media massa lain itu tidak bisa menandingi rubrik Dahaga Banjarmasin Post. Hal ini diamini oleh Tajuddin Noor Ganie dengan mengakui agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa semua penyair Kalsel terpenting saat itu (periode 1980-1990) pernah mempublikasikan puisi-puisinya di rubrik Dahaga SKH Banjarmasin Post. Bahkan tidak cukup sebagai tempat kelahiran, tetapi sekaligus juga sebagai tempat pematangan (inkunabula)[13].

Seiring berjalannya waktu dan makin semaraknya perkembangan sastra dan kepenyairan di Kalimantan Selatan sepanjang tahun 1980-an, rubrik Dahaga mulai mengalami cobaan. Setelah sepuluh tahun berlayar di laut pasang dengan terbit setiap hari, tiba-tiba rubrik Dahaga berubah menjadi surut dengan terbit hanya dua kali dalam seminggu. Penerbitan SKH Banjarmasin Post, hari Minggu, tanggal 22 Mei 1988 adalah edisi terakhir rubrik Dahaga harian. Selanjutnya, Dahaga tampil setiap Sabtu dan Minggu, dan penerbitan tanggal 28 dan 29 Mei 1988 adalah rubrik Dahaga edisi perdana dua kali seminggu.

Tidak jelas penyebab perubahan drastis penerbitan rubrik Dahaga itu. Bisa jadi karena kebijakan redaksional SKH Banjarmasin Post yang makin banyak membutuhkan kolom-kolom kosong untuk kebutuhan materi baru persuratkabaran, atau bisa pula karena makin menurunnya energi pengasuh rubrik yang memang sudah cukup sepuh,

Perubahan frekuensi terbit rubrik Dahaga dari hadir setiap hari menjadi hanya dua kali seminggu tentu membawa pengaruh pada kuantitas sajak yang ditampilkan. Padahal jumlah sajak yang masuk ke redaksi tidak pernah berkurang[14], bahkan makin banyak dengan munculnya penulis-penulis muda. Namun, hal yang menarik adalah dengan semakin sedikitnya karya yang dimuat di Dahaga saban Sabtu dan Minggu itu justru menjadikan sajak-sajak yang ditampilkan lebih terpilih dan bisa (dianggap) berkualitas.

Ada peristiwa menyedihkan menimpa Banjarmasin Post setelah itu. Pada hari Kamis, tanggal 2 Nopember 1989, gedung redaksi harian ini ditimpa musibah kebakaran. Api mulai beraksi pukul 03.00 pagi melahap habis lantai 3 gedung yang banyak berisi arsip terbitan koran tersebut. Walaupun diluluhlantakkan oleh api, SKH Banjarmasin Post tetap terbit esok harinya walaupun dengan edisi khusus darurat. Dan rubrik Dahaga tetap hadir pada edisi hari Minggu, tanggal 5 Nopember.

Frekuensi terbit Dahaga sebanyak dua kali seminggu itu ternyata juga tidak bertahan lama. Bulan Juni tahun 1993, Dahaga mulai muncul hanya sekali dalam seminggu. Penerbitan Banjarmasin Post tanggal 19 Juni 1993 adalah pemunculan terakhir Dahaga edisi Sabtu. Selanjutnya, setahun kemudian, hari terbit Dahaga yang hanya setiap hari Minggu diubah lagi menjadi ke hari Sabtu dan tetap hanya sekali dalam seminggu. Penerbitan Banjarmasin Post tanggal 13 Februari 1994 adalah pemunculan terakhir Dahaga edisi hari Minggu dan muncul kembali di hari Sabtu, tanggal 19 Februari 1994,

Ada hal yang menarik dari tampilan rubrik Dahaga edisi Sabtu, 19 Februari 1994 itu. Kop rubrik Dahaga yang biasanya mandiri dengan sketsanya yang khas, lebih diperluas ukuran kolomnya dengan tambahan tulisan “Kawasan Sastra, Seni, dan Kebudayaan” pada bagian kirinya. Kemudian, ada sebuah pengantar dari pengasuh menyertai edisi itu. Kalimatnya begini :

Mulai minggu ini rubrik “Dahaga” berusaha berbenah diri. Ia akan tampil setiap Sabtu secara lebih mandiri. Isinya pun semakin diperluas. Bukan hanya puisi saja, tapi juga menampung tulisan yang menyentuh sastra, seni, dan kebudayaan. Itulah sebabnya rubrik ini diberi embel-embel dengan “Kawasan Sastra, Seni, dan Kebudayaan”.

Dari embel-embel tersebut implisit terkandung harapan dan keinginan turut serta menyumbangkan sesuatu yang menunjang bagi kreativitas dan pengembangan seni budaya, paling tidak untuk Kalimantan Selatan. Jelas harapan dan keinginan itu mengharapkan tunjangan. Tanpa tunjangan hanyalah tinggal dalam angan-angan. …

Dari kata pengantar tersebut tampak jelas ada keinginan pengasuh untuk lebih melebarkan cakupan rubrik Dahaga dari sekadar ruang pamer sajak, tapi juga menampung tulisan yang berhubungan dengan seni dan kebudayaan secara lebih luas, Keinginan tersebut sama persis dengan spirit awal tahun pertama munculnya rubrik Dahaga. Selain menampilkan puisi, edisi tersebut juga menyajikan sebuah kolom esai yang diberi nama rubrik “Tangkujuh”[15]. Rubrik ini digawangi oleh Burhanuddin Soebely[16] dan untuk edisi perdananya diisi dengan esai yang berjudul “Ikhwal Kecemasan Estetika”.

Usaha pengasuh untuk berbenah diri tampaknya terlihat pada lebih selektifnya pemilihan sajak-sajak yang ditampilkan di rubrik Dahaga edisi Sabtu ini. Hanya penyair-penyair dengan sajak (yang dianggap pengasuh) berkualitaslah yang bisa tampil. Sementara, untuk penyair pemula, sejak penerbitan Banjarmasin Post edisi Sabtu, 28 Mei 1994, telah disediakan sebuah rubrik khusus yang diberi nama “Kuncup dan Tunas” yang diletakkan pada lembaran halaman sebelum halaman rubrik Dahaga. Tampak ada perbedaan warna antara sajak yang ditampilkan pada Dahaga dengan sajak pada Kuncup dan Tunas. Perbedaan mencolok dari kematangan karya yang terlihat pada pilihan kata sajak yang ditampilkan. Lebih mencolok lagi adalah lebih dikenalnya nama-nama penulis yang masuk Dahaga tinimbang pada Kuncup dan Tunas.

Namun, sayangnya, semangat itu pun ternyata tak begitu lama bertahan. Rubrik alternatif Kuncup dan Tunas ternyata hanya mampu hadir beberapa edisi. Bahkan yang lebih menyedihkan, rubrik Dahaga yang cuma terbit seminggu sekali setiap hari Sabtu itu pun akhirnya tumbang. Rubrik sastra yang sejak awalnya sangat menggairahkan itu pun akhirnya menemui ajalnya ketika tengah menginjak tahun ke-17 usianya. Sabtu, tanggal 10 Juni 1995, betul-betul merupakan penampilan Dahaga edisi pamungkas[17]. Tak ada sepatah kata perpisahan pun diucapkan pengasuhnya di edisi terakhir itu dan pada penerbitan Banjarmasin Post hari-hari berikutnya Dahaga nyatanya sudah tak terlihat lagi.

Reaksi para penyair Kalimantan Selatan atas berhentinya rubrik Dahaga pada SKH Banjarmasin Post ini memang tidak begitu terdengar. Kecuali riak-riak kecil di antara segelintir penyair. Hal ini (mungkin) disebabkan sudah terkondisinya emosi para penyair menerima kenyataan perubahan kebijakan redaksi terhadap Dahaga sejak rubrik ini berubah frekuensi hadir dari harian menjadi dua kali seminggu dan seterusnya. Ditambah dengan beberapa kali perpindahan hari dari Sabtu ke Minggu dan sebaliknya. Jadi, ‘kematian’ Dahaga ini tampaknya sudah diprediksi. Walau pun demikian, hilangnya rubrik sajak sejuta penyair ini tetaplah disesalkan. Dahaga tidak hanya sebagai tempat eksistensi kepenyairan di daerah Kalimantan Selatan, tetapi namanya sudah menggema sampai ke luar daerah.

Apakah pasang – surut hingga tenggelamnya rubrik Dahaga ini semata-mata karena kebijakan redaksional surat kabar yang semakin hari tirasnya semakian banyak dan semakin membutuhkan kolom-kolom baru untuk memenuhi kebutuhan materi jurnalistiknya? Ataukah juga ada hubungannya dengan makin hilangnya semangat kepengasuhannya yang disebabkan meninggalnya satu persatu para pengasuhnya? Sulit untuk mencari penyebab yang pasti. Yang jelas, dua dari tiga pengasuh rubrik ini sudah wafat ketika Dahaga masih ada. Pertama, Darmansyah Zauhidie, penyair kota Kandangan kelahiran Muara Teweh, 24 Agustus 1934 ini wafat pada tanggal 12 Juni 1984. Kedua, Hijaz Yamani, penyair kota Banjarmasin kelahiran Banjarmasin, 23 Maret 1933 ini wafat pada tanggal 17 Desember 1971.

Sementara itu, tepat di hari ke-62 sejak matinya rubrik Dahaga, Yustan Aziddin sebagai satu-satunya pengasuh rubrik yang tersisa akhirnya ikut menyusul kedua rekannya yang terlebih dahulu berpulang. Tepat tanggal 12 Agustus 1995, penyair kelahiran Margasari, Tapin, 13 Mei 1933 ini meninggal dunia. Kepergian beliau sangat mengejutkan banyak pihak, terutama para penyair, seniman, budayawan, dan kalangan pers. Selain dikenal sebagai penggagas hadirnya rubrik Dahaga, beliau juga dikenal sebagai pencipta tokoh Palui[18] dengan cerita-cerita lucunya. Tokoh ini terus hidup dan melegenda sampai sekarang serta menjadi rubrik cerita rakyat yang hadir tiap hari di SKH Banjarmasin Post[19].

Lengkap sudah riwayat rubrik Dahaga. Selain habis kesempatannya untuk hadir mewarnai khazanah kesastraan daerah Kalimantan Selatan dengan berhentinya rubrik itu di SKH Banjarmasin Post, juga harus kehilangan satu per satu ketiga tokoh utama pengasuhnya. Seperti sudah diskenariokan oleh Tuhan, rubrik Dahaga dan pengasuhnya seakan dihadirkan satu paket sehingga ketika diambil pun tetap satu paket. Namun demikian, rubrik Dahaga tetap terasa sangat bermakna bagi perkembangan dan kemajuan sastra di Kalimantan Selatan. Rubrik ini telah menjadi wadah berkarya dan lahirnya para penyair-penyair Kalimantan Selatan generasi 80 sampai 90-an. Penghargaan terbesar tentu perlu juga diberikan kepada SKH Banjarmasin Post[20], baik kepada awak redaksinya, maupun kepada pemiliknya karena telah melahirkan sebuah rubrik sastra yang fenomenal yang bertahan selama lebih dari dua windu.

Penyair yang tumbuh dan besar bersama Dahaga

Ada hubungan saling menguntungkan antara sastrawan dan media massa. Sastrawan memerlukan wadah untuk mengaktualisasikan eksistensi dirinya. Sastrawan juga membutuhkan sarana untuk mendialogkan karyanya dengan orang lain. Salah satu (atau malah satu-satunya) wadah yang paling populer dan mudah dijangkau serta mempunyai cakupan publik sangat luas adalah media massa. Sementara itu pada sisi yang lain, media massa juga memerlukan kontributor materi yang dapat mengisi kolom-kolom halaman medianya. Bahkan, lebih dari itu, media massa memerlukan partisipasi publik figure untuk masuk ke dalam sajian redaksionalnya agar dapat mengangkat citra dan menciptakan opini publik yang sesuai dengan visi dan misi media tersebut.

Pada rentang tahun 70 sampai dengan 90-an, ketika media massa cetak masih merupakan andalan sebagai alat komunikasi dan penyebaran informasi, peran sebuah surat kabar dan majalah sangat vital. Para sastrawan masa itu betul-betul menjadikan media massa sebagai mitra dalam berkarya. Banyak sastrawan yang lahir dan besar karena peran media massa. Namun, tidak sedikit juga sastrawan yang muncul sebentar kemudian tenggelam karena tidak mampu beradaptasi dengan medianya. Banyak pula karya sastra yang menjadi perhatian publik karena tampil dan dibahas secara cerdas dan luas dalam media massa dengan risiko bisa mendapat pujian, bisa juga mendapat cacian dan dilupakan pelan-pelan.

Media massa ternyata juga mempunyai ‘kekuasaan’ tersendiri dalam menciptakan gaya. Apa pun misi idealisme media dalam mengapresiasi nilai-nilai seni dan budaya, tetap tidak bisa dilepaskan dengan kepentingan bisnis yang mengacu pada kebutuhan pasar. Jika media massa masih menyediakan kolom untuk pemuatan karya-karya sastra, misalnya, tetap redaksi akan menetapkan standar karya sastra seperti apa yang layak ditampilkan dan (ini yang penting) mampu memenuhi tuntutan pasar. Lepas dari persoalan kualitas karya sastra itu sendiri dan kualitas menurut siapa. Tidak heran, media massa bisa mengendalikan gaya penulisan karya sastra yang akan ditampilkannya.

Melihat kondisi demikian, sastrawan jadi dihadapkan pada pilihan. Tetap bertahan pada sisi idealisme berkarya ataukah mengikuti keinginan ‘penguasa’ media massa. Sastrawan yang masih kuat ‘iman’ bersastranya, tentu akan memilih media massa yang se’iman’ dengannya dan tidak akan asal mengirim karyanya ke sembarang media. Sementara bagi sastrawan yang tak punya beban idealisme, tidak akan mempersoalkan apa pun media massanya. Yang penting, karyanya bisa dimuat dan mampu berdialog dengan penikmatnya. Ada juga sastrawan yang sebelumnya lahir dan dibesarkan oleh media massa yang (dianggap) satu idealisme, tetapi kemudian memutuskan berhenti atau beralih ke media lain karena menangkap adanya perubahan visi pengasuh.

Terlepas dari persoalan di atas, kehadiran rubrik Dahaga, sebagai rubrik sastra (puisi) di SKH Banjarmasin Post, betul-betul menjadi catatan sejarah bagi perkembangan sastra di Kalimantan Selatan. Rubrik Dahaga sudah mampu menampung ‘rasa dahaga’ penyair pada saat itu, seperti yang diharapkan pengasuhnya di awal terbitnya. Maman S. Tawie, dalam sebuah tulisannya[21] menyebutkan, harian Banjarmasin Post dengan rubrik Dahaga merupakan media cetak yang sangat berjasa turut memberi nafas kepada para penyair Kalsel dekade 1980-an. Bahkan Burhanuddin Soebely, dengan sedikit beranalogi, menyebutkan Dahaga agaknya mirip vihara Shao Lin yang menyalurkan bakat membentuk dan menggembleng para pendekar sebelum terjun ke dunia kangouw. Di vihara Shaolin (Dahaga) setiap orang punya kesempatan yang sama untuk bisa maju. Punya porsi yang sama untuk membentuk dirinya. Namun, mereka yang bisa berhasil menjadi pendekar (penyair) jempolan cumalah orang-orang yang punya kemauan keras, tekun, dan tak kenal putus asa. Ungkapan “hadir atau tersingkur” benar-benar berlaku di sini[22].

Siapa sajakah penyair yang berhasil hadir, baik karena tumbuh dan besar bersama Dahaga atau sekadar singgah dari perjalanan sebelumnya? Menurut Maman S. Tawie, harus diakui rubrik Dahaga tidak sedikit melahirkan sastrawan-sastrawan muda Kalsel dekade 80-an, yang kini sebagian masih bertahan, bahkan di antaranya sudah ada tercatat namanya di tingkat nasional. Bahkan ditambahkan oleh Tajuddin Noor Ganie, rubrik Dahaga telah menjadi tempat pematangan bagi penyair Kalsel periode 1980-1990. Semua penyair Kalsel terpenting saat itu pernah mempublikasikan puisi-puisinya di rubrik Dahaga.

Para penyair yang mencuat namanya pada periode 1980-1990 ini antara lain adalah Abdul Karim, Ahmad Fahrawi, Ali Syamsuddin Arsi, Antung Kusairi, Arifin Noor Hasby, Eko Suryadi W.S., Burhanuddin Soebely, Hermansyah Kawie, Kony Fahran, Maman S. Tawie, Micky Hidayat, M. Rifani Djamhari, Miziansyah J., Muhammad Radi, Radius Ardanias, Noor Aini Cahya Khairani, Razi Akbar, Rietna Imran, Rudi Karno, Rosydi Aryadi Saleh, Rustam Effendi, Syamsuni Sarman, Sri Supeni, Tajuddin Noor Ganie, Tarman Effendi Tarsyad, dan Y.S. Agus Suseno[23]. Selain itu, tercatat juga nama Alex Leme, Astuti Dardi, Fani Sastra, Lasmi K.F., Mas Husaini Meratus, M.S. Sailillah, Murjani H.B., Nelawati Agen, dan R. Rangga[24]. Sementara itu, penyair periode 1990-an yang juga menonjol adalah Aan Maulana Bandara, Eddy Wahyuddin S.P., Erhan Effendi, Dewi Yuliani, Fajar Gemilang, Jamal T. Suryanata, dan Zulfaisal Putera[25].

Ada juga penyair yang telah menulis lama sebelumnya, muncul pula di rubrik ini, misalnya dari dekade 50-an dan 60-an, yaitu Hijaz Yamani, Ardiansyah M., Eza Tabri Husano, Salim Fakhry, Darmansyah Zauhidie, Andi Amrullah, Hamamy Adabi, Sabrie Hermantedo, dan Ajim Ariadi. Sementara dari dekade 70-an ialah Ajamuddin Tifani, Mujahiddin S., Bakhtar Suryani, Rasyidi Umar, Ibramsyah Amandit, Nayan Veha, Ismail Effendi, dan Syukrani Maswan[26].

Demikian data penyair Kalimantan Selatan yang tumbuh dan besar bersama rubrik Dahaga. Tumbuh dan besarnya orang-orang tersebut memang bukan mutlak semata karena tampil di Dahaga, tetapi karena kreativitasnya dalam berkarya, loyalitasnya terhadap profesinya, dan luasnya pergaulan dalam dunia sastra. Kebanyakan dari mereka tidak sekadar berkutat pada puisi, tetapi juga ranah sastra yang lain seperti cerpen, novel, drama, dan esai. Mereka bahkan bukan hanya memarkir karyanya di Dahaga, tetapi juga ke media massa lain, baik di dalam maupun di luar daerah. Beberapa nama dari sejumlah penyair yang telah disebutkan di atas ada yang akhirnya dikenal secara nasional hingga ke negara serumpun. Walaupun beberapa di antaranya sudah meninggal dunia, tetapi sebagian besar yang tersisa masih ada yang tetap berkarya sampai sekarang.

Belajar dari Kenangan

Rubrik Dahaga SKH Banjarmasin Post bukanlah sekadar wadah dari kolom-kolom kecil sebuah surat kabar yang terbit di daerah, tetapi sudah menjadi sebuah sejarah. Bahwa Dahaga pada masanya telah mampu melepaskan rasa dahaga para penyair di Kalimantan Selatan harus kita akui maknanya. Bahwa rubrik Dahaga telah mencatatkan dirinya sebagai satu-satunya rubrik puisi di sebuah koran harian yang pernah hadir setiap hari selama hampir 10 tahun sudah pasti kita acungi jempol. Bahwa Dahaga pernah melahirkan dan membesarkan banyak penyair di Kalimantan Selatan mesti kita syukuri. Bahwa Dahaga itu memang pernah ada dan besar, itulah sejarah. Sebagai penyair, atau minimal sebagai penikmat sastra, atau paling tidak sebagai warga biasa yang berbudaya, sepatutnya bangga karena pernah bertemu, atau minimal tahu, dengan rubrik Dahaga di sebuah koran daerah.

Sekarang ini, rubrik Dahaga di Banjarmasin Post memang tinggal kenangan. Akankah sejarah berulang, sangat tergantung pada kelapangan hati para redaksi. Apalagi di era komunikasi dan informasi yang makin terbuka dan beragam ini, sebuah surat kabar bukan lagi satu-satunya media massa untuk berkarya. Masih ada media massa lain, dari media cetak, media pandang-dengar, sampai media cyber yang juga memiliki rubrik sastra. Banyak selera, banyak pilihan. Menghadirkan kembali Dahaga bisa jadi hanya sebuah harapan. Namun, belajar dari kenangan, semua tetap semangat membuka hati untuk siap menerima perubahan. Paling tidak semangat rubrik Dahaga, semangat yang tak pernah ada kata : puas!

 

Banjarmasin, 17 Juli 1007

 


[1] Disampaikan pada kegiatan Dialog Borneo – Kalimantan, 3 – 5 Agustus 2007, di Brunei Darussalam

[2] “Tanah Huma’ adalah antologi puisi bersama Dharmansyah Zauhidie, Hijaz Yamani, dan Yustan Aziddin, diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1978

[3] Dharmansyah Zauhidie, Hijaz Yamani, dan Yustan Aziddin adalah penyair Kalimantan Selatan generasi 1950-an (Ganie, 1991)

[4] Penulis melakukan riset untuk melacak keberadaan Koran Banjarmasin Post yang memuat edisi perdana rubrik Dahaga tersebut. Pertama, ke kantor Redaksi SKH Banjarmasin Post. Redaksi ternyata sudah tidak punya arsip koran-koran lama karena telah habis dilalap api ketika peristiwa kebakaran Tahun 1989. Kedua, menghubungi Mbak Yeyen, salah seorang anak Alm. Yustan Aziddin. Menurutnya arsip koran (kliping rubrik Dahaga) yang mereka miliki sudah tidak terdokumentasi dengan baik lagi karena sudah pernah dipindahkan tempat penyimpanannya sehingga susunannya sudah tak beratur lagi dan sebagian besar dimakan rayap. Ketiga, Perpustakaan Nasional Kalimantan Selatan. Selama tiga kali penulis menggeledah gudang tempat penyimpanan koran dan majalah di perpustakaan itu, tetapi tidak ditemukan kumpulan koran Banjarmasin Post edisi bulan Oktober 1978. sedangkan untuk kumpulan bulan Januari s.d. .September 1978 justru masih ada. Keempat, menghubungi Saudara Tajuddin Noor Ganie dan mengunjungi rumah Maman S. Tawie. Keduanya diketahui sebagai orang yang memiliki pusat dokumentasi karya sastra para penyair di Kalimantan Selatan., tetapi ternyata juga tidak (sempat) mendokumentasikan Dahaga edisi perdana tersebut.

[5] Tajuddin Noor Ganie, penyair Kalimantan Selatan generasi 1980-an (Ganie, 1991). Aktif dalam dunia kepenulisan dan sebagai Penanggung Jawab Pusat Pengkajian Masalah Sastra (Puskajimastra), sebuah pusat dokumentasi sastra terbesar di Kalimantan Selatan. Pernyataan tersebut terdapat dalam tulisannya yang berjudul “Hisab-nya D. Zauhiddhie”, Banjarmasin Post, 26 Maret 1981.

[6] Lihat Yustan Aziddin, “Menanamkan Apresiasi” dalam Banjarmasin Post, 13 Maret 1987

[7] Lihat Tajuddin Noor Ganie, Dahaga BPost 1981, sebuah Kenang-Kenangan (Banjarmasin : 1982).

[8] Tidak berlaku seperti biasanya / umum (Jawa)

[9] Menurut Tajuddin Noor Ganie, sebenarnya dia juga melakukan hal yang sama di tahun 1982, sempat hadir untuk bulan Januari, Februari, dan Maret, tetapi ulasan-ulasan selanjutnya tentang sajak-sajak Dahaga yang dibuatnya tersebut tidak pernah dimuat lagi oleh Banjarmasin Post.

[10] Ahmad Fahrawi, Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan dalam Dekade 1980-an, sebuah makalah diskusi di Taman Budaya Banjarmasin, 21 Desember 1989.

[11] Micky Hidayat, penyair Kalimantan Selatan generasi 1980-an (Ganie, 1991). Anak dari Hijaz Yamani ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia sebagai pembaca puisi terlama (selama 5,5 jam) pada penampilannya tanggal 5 April 1997 di Taman Budaya, Banjarmasin. Pernyataan itu terdapat pada tulisannya yang berjudul”Tiga Tahun Usia Dahaga (Apa dan Mengapa Dahaga?)” dalam Banjarmasin Post (sebuah kliping, tanpa tanggal dan tahun terbit).

[12] Maman S. Tawie, penyair Kalimantan Selatan generasi 1980-an (Ganie, 1991), menceritakan hal tersebut kepada penulis ketika berkunjung ke rumahnya tanggal 28 Juni 2007.

[13] Lihat Tajuddin Noor Ganie, “Lintasan Sejarah Kesusasteraan Indonesia di Kalimantan Selatan (1930-1990)” dalam Banjarmasin Post, 8 Januari 1992.

[14] Menurut pengasuh Dahaga, seperti yang dituturkan kembali Samsul Wahidin, salah seorang penyair saat itu, dalam Surat Pembaca-nya di SKH Banjarmasin Post, 17 Februari 1981, jika pengiriman naskah (sajak) Dahaga itu di-stop, redaksi masih akan dapat bertahan (menerbikan Dahaga) sampai tiga bulan ke depan.

[15] Pada kata pengantarnya disebutkan Tangkujuh (bahasa Banjar) adalah genangan air sesudah turun hujan lebat. Air itu tergenang karena lahannya berlubak-lubak. Air itu tidak dapat mengalir karena tidak ada penyaluran atau riol pembuangan. Genangan air itu akan menjadi tempat nyamuk bertelur yang tentu akan mengganggu kesehatan. Pemakaian istilah ini sebagai nama rubrik agar menjadi tempat penyaluran ide atau kreativitas.

[16] Burhanuddin Soebely adalah sastrawan Kalimantan Selatan generasi 1980-an (Ganie, 1991)

[17] Dahaga edisi terakhir menampilkan tiga buah puisi penyair dari Purbalingga, Haryono Soekiran.

[18] Palui adalah nama tokoh utama dalam cerita rakyat urang Banjar di Kalimantan Selatan. Karakternya mirip tokoh Kabayan dari Jawa Barat atau pun kadang mirip tokoh Abu Nawas dari negeri 1001 malam. Alur cerita Palui kadang cedik, kadang bodoh, tetapi cerita ini selalu diakhiri dengan sesuatu yang lucu.

[19] Sepeninggal Yustan Aziddin, cerita Palui diteruskan penulisannya oleh salah seorang redaksi SKH Banjarmasin Post yang berinisial MHT. Namun, ada perbedaan mendasar antara Palui ciptaan Yustan Aziddin dengan Palui selain beliau, yaitu pada pemakaian kosa katanya. Di tangan Yustan, Palui benar-benar mengunakan bahasa Banjar yang masih asli dan tidak terkontaminasi bahasa Indonesia.

[20] Pasca berakhirnya rubrik Dahaga, SKH Banjarmasin Post masih ada sekali-sekali memuat sajak pada terbitannya. Sajak-sajak yang dimuat tampaknya bukan dalam rangka apresiasi semacam rubrik Dahaga, melainkan sekadar mengisi jika ada kolom yang masih kosong. Buktinya, sudah hampir sepuluh tahun terakhir ini tak ada satu pun lagi sajak (apalagi cerpen) ditampilkan harian ini.

[21] Lihat Maman S. Tawie, “Kepenyairan di Kalsel dalam Sastra Indonesia Dekade 1980-an, dalam Banjarmasin Post, 13 Oktober 1992.

[22] Kalimat tersebut dikutip dari kliping koran tulisan Burhanuddin Soebely di Banjarmasin Post yang (mohon maaf) tidak jelas judul dan tanggal pemuatannya karena terpotong sobekan.

[23] Lihat Tajuddin Noor Ganie, Penyair Kalsel Terkemuka Saat Ini (Banjarmasin: 1991)

[24] Lihat Maman S. Tawie, “Kepenyairan di Kalsel dalam Sastra Indonesia Dekade 1980-an, dalam Banjarmasin Post, 13 Oktober 1992.

[25] Lihat Tajuddin Noor Ganie, “Kesusateraan Indonesia di Kalsel Zaman Orde Baru 1990-1994” dalam Banjarmasin Post, 14 Mei 1994.

[26] Ahmad Fahrawi, Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan dalam Dekade 1980-an, sebuah makalah diskusi di Taman Budaya Banjarmasin, 21 Desember 1989.

 

Iklan

One comment

  1. ok. trims bung. Puisi saya termuat disitu yang edisi terakhir. tapi saya sangat senang sekali bila bisa dikirim korannya. untuk arsip sekaligus lihat ujud koran anda. tengkyu.
    salam budaya…..

    haryono soekiran. Jln. Wiramenggala 53 Penambongan,
    Purbalingga Jawa tengah. 53314.
    hp. 0815488 18123.
    email: haryonosoekiran@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s