Penulisan Cerpen : Saatnya Menjadi Dewa

Penulisan Cerpen:

Saatnya menjadi Dewa*

Oleh : Zulfaisal Putera

Cerita pendek, atau biasa disebut cerpen, adalah sebuah karya yang unik. Dari sudut pandang mana pun keunikan cerpen akan terlihat. Sebagai sebuah hasil tulis menulis, cerpen bisa memuat semua unsur yang terdapat dalam dunia tersebut. Unsur fakta yang dimiliki oleh karya tulis ilmiah dapat dengan lega menjadi bagian cerpen, apalagi unsur fiksi yang memang sudah menjadi ruh-nya. Termasuk wilayah abu-abu antara fakta dan fiksi, antara yang masuk akal dan yang mematahkan logika. Cerpen bisa muncul dengan menyelipkan bahasa puitis, bahkan dalam bentuk puisi sekali pun, atau pun kata-kata sulit yang di’klaim’ sebagai milik bidang ilmu tertentu.

Sebagai sebuah karya fiksi, cerpen sudah mendaulat diri sebagai sebuah ‘cerita’ dan tidak membungkus diri dengan istilah lain, seperti halnya istilah puisi, drama, atau novel, yang sesungguhnya mengandung unsur cerita di dalamnya. Cerpen juga satu-satunya karya dalam belantara kepenulisan yang membatasi diri dengan batasan dan ukuran tertentu, yaitu penyertaan kata ‘pendek’ setelah kata cerita. Bandingkan dengan puisi atau pun drama, esai atau pun kritik, tidak secara eksplisit menyertakan kata-kata yang bersifat ukuran, sekali pun banyak ditemukan puisi dan drama yang panjang-panjang, juga esai dan kritik yang berhalaman-halaman hingga menjadi sebuah buku. Bahkan, bagi novel yang memiliki cerita yang berpanjang-panjang sekali pun tidak memberi identitas diri sebagai cerita panjang.

Keunikan cerpen lainnya adalah sebagai satu-satunya karya sastra yang mendapat kepedulian paling besar dari media massa cetak. Hampir semua media cetak di dunia ini, apakah koran, tabloid, atau majalah menyediakan halaman khusus untuk cerpen yang dimunculkan secara periodek. Termasuk media cetak yang sebenarnya sangat serius dan tidak bersentuhan langsung dengan dunia fiksi, ternyata juga menyisipkan satu dua halamannya untuk cerpen. Bahkan ada beberapa majalah yang mengkhususkan diri sebagai majalah cerpen. Dan hal itu juga merupakan daya tarik tersendiri bagi pasar pembaca.

Hal-hal yang unik tentang cerpen tersebut sengaja diungkap mengawali tulisan ini dengan maksud agar semua pembaca mempunyai kesepahaman bahwa membicarakan masalah penulisan cerpen adalah sangat menarik. Sama menariknya dengan saat kita membaca sebuah cerpen. Tak ada keterpaksaan bagi pembaca untuk melahap sebuah cerpen sampai tuntas karena cerpen memang telah memberikan waktu yang ideal bagi seorang pembaca untuk menikmatinya. Selanjutnya, pembicaraan penulisan cerpen akan makin menarik jika diungkap beberapa perspektif, yaitu persfektif sejarah, persfektif bentuk, dan persfektif pembelajaran.

 

Cerpen di Indonesia

 

Dalam torehan sejarah tulis menulis di Indonesia, cerpen merupakan genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi, novel, drama. Riwayat penulisan cerpen dimulai pada awal 1910-an, yaitu ketika dikenalkannya cerita-cerita yang pendek dan lucu yang ditulis oleh M. Kasim bersama Suman Hs. Cerpen ‘Bertengkar Berbisik’ (1929) karya M. Kasim dianggap sebagai cerpen pertama di Indonesia, sedangkan Teman Duduk (Balai Pustaka, 1936) karya Suman Hs adalah kumpulan cerpen pertama. Memasuki tahun 1930-an penulisan cerpen di Indonesia mulai bergairah dan semakin semarak karena didukung oleh terbitnya dua majalah penting saat itu, yaitu Pedoman Masjarakat dan Poedjangga Baroe. Tema-tema yang semula hanya mengungkap hal yang ringan dan lucu, mulai berkembang ke tema serius yang menyangkut kemanusiaan, pergerakkan dan kebangsaan, serta tema-tema revolusi.

Sementara itu di Kalimantan Selatan, gema penulisan cerpen masih terdengar sekalipun hampir tenggelam oleh popularitas para penyair dengan karya-karya puisinya. Cikal bakal penulisan cerpen di propinsi ini, walaupun tidak spesifik, masih tercatat diawali oleh Merayu Sukma dalam bentuk roman (dicetak di Medan). Kurun berikutnya mulailah muncul nama Maserti Matali dan Arthum Artha. Mereka cukup produktif di sekitar tahun 30-an dan 40-an. Di tahun-tahun selanjutnya bermunculan nama-nama penulis cerpen lainnya. Namun sayangnya, cerpen-cerpen mereka hanya populer di daerah asalnya dan tidak tercatat sebagai karya-karya fenomenal dalam sejarah cerpen di Indonesia saat itu.

Masuknya Jepang ke Indonesia dan memproklamirkan diri sebagai Kemakmuran Asia Raya, makin memarakkan penulisan cerpen. Karangan cerpen dianggap ‘lebih efektif dalam mendukung tujuan bersama’ karena sifatnya lebih pendek (dibanding novel) dan lebih komunikatif (dibanding puisi). Pemerintah Jepang pun memfasilitasi beragam kegiatan lomba cerpen dan membuka rubrikasi cerpen pada koran Djawa Baroe dan Asia Raja yang merupakan media propaganda Nipon.

Tercapai atau tidaknya tujuan yang diharapkan pemerintahan Jepang, situasi itu telah ikut mendorong cerpen sebagai genre sastra yang cukup penting di Indonesia. Kekecewaan atas ingkarnya Jepang akan janji-janjinya tercermin pada karya cerpen-cerpen saat itu yang bersifat kritis dan sinis yangm muncul setelah berakhirnya pemerintahan Jepang. Hal tersebut terlihat pada karya Idrus, yang oleh H.B. Jassin disebut sebagai pembaharu cerpen modern di Indonesia. Idrus dianggap lebih realistis dan apa adanya dibanding dengan cerpen periode sebelumnya yang semata-mata mengungkap hal-hal yang baik dan menyenangkan. Kecendrungan khas Idrus itu makin menguat pada era 50-an hingga 60-an. Zaman itu muncul majalah-majalah yang khusus menampung beragam jenis cerpen, seperti majalah Tjerpen, Kisah, dan Prosa. Akibatnya, penulisan cerpen makin meroket dan pesat.

Tahun 1960 hingga 1965 adalah masa-masa suram penulisan cerpen, juga genre sastra yang lain. Gejolak politik dan polemik ideologi telah membuat kacau situasi. Tarik menarik antara pendukung Manifes Kebudayaan dan Lekra mengakibatkan tidak banyaknya kelahiran dan publikasi karya sastra. Karya-krya pada saat itu kebanyakan hanya disimpan di laci pengarangnya. Setelah itu, tahun 1966, iklim kepenulisan mulai kondusif lagi. Lahirnya majalah Horison pada Juli 1966 telah menjadi ruang publikasi segar bagi penulis-penulis cerpen. Dari majalah itulah muncul nama-nama: Iwan Simatupang, Umar Kayam, Budi Darma, dan Putu Wijaya.

Pergeseran tema dan bentuk penulisan cerpen mulai terjadi pada tahun 70-an dan 80-an, ketika semakin banyaknya koran-koran yang menyediakan rubrik sastra, khususnya cerpen. Penulis-penulis pada masa itu mulai mengiatkan diri dengan publikasi cerpennya melalui koran. Hal ini sebenarnya juga disebabkan mulai bergugurannya majalah-majalah sastra pada saat itu, kecuali Horison yang masih bertahan. Ledakan penulisan cerpen menjadikan majalah Horison tidak bisa menampungnya sehingga banyak karya pada saat itu tertumpuk pada koran-koran tersebut. Makin kuatnya cengkraman Orde Baru terhadap media massa juga mengakibatkan penulisan cerpen makin semarak karena dianggap sebagai tulisan yang paling komunikatif dan aman.

Memasuki tahun 1900-an hingga 2000-an sekarang ini jumlah koran dan majalah yang menyedian rubrik cerpen makin bertambah. Tentu jumlah cerpen yang diproduksi pun makin banyak dan beragam. Ditambah dengan makin seringnya lomba penulisan cerpen, maka makin terdorongnya penerbitan cerpen, baik berupa antologi maupun sendiri-sendiri. Beragam jenis tema, gaya, dan bentuk cerpen yang ditulis makin mengukuhkan keunikan cerpen. Sejumlah nama penulis cerpen pun makin lekat dalam peta cerpen Indonesia. Mereka adalah Danarto, Kuntowijoyo, Budi Darma, Umar Kayam, Korrie Layun Rampan, Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, Taufik Ikram Jamil, Gus Tf Sakai, Seno Gumira Ajidarma, Joni Ariadinata, Puthut EA, Oka Rusmini, atau Raudal Tanjung Banua.

 

Batasan Cerpen

 

Apakah beda antara cerpen dan novel, sering menjadi pertanyaan klasik yang disampaikan oleh sementara orang, terutama oleh para pelajar. Apakah cerpen itu pendek dan novel itu panjang (entah dari mana dan dengan alat apa mengukurnya)? Ataukah cerpen itu harus habis dibaca sekali duduk sedangkan novel harus menghabiskan berhari-hari dan beberapa kali duduk untuk membacanya sampai selesai? Mungkinkah cerpen hanya mempunyai satu konflik sedangkan novel dengan konflik takberbatas? Bisa jadi nasib tokoh utama di cerpen tak mengalami perubahan sedangkan tokoh utama di novel bisa berubah-ubah nasibnya tergantung maunya penulis? Jawabannya, sebagian bisa benar, sebagian lagi bisa salah.

Karya fiksi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu cerpen (short story), novelet (novelette) dan novel. Perbedaan di antaranya memang ada walaupun sangat tipis. Hal yang menjadi pembedanya dapat dilihat dari segi panjang-pendeknya karangan (kuantitas). Biasanya berdasarkan jumlah kata atau jumlah halaman. Selain itu, kualitas struktur, seperti kepadatan alur dan intensitas jalan ceritanya.

Dari ketiga jenis fiksi tersebut, cerpen adalah bentuk fiksi yang paling pendek. Biasanya berisi sekitar 500 s.d. 10.000 kata atau antara 2 s.d. 25 halaman kuarto dengan spasi 2. Kendati sama-sama pendek, bukan berarti semua cerita yang pendek digolongkan sebagai cerpen. Panjang cerpen bervariasi menjadi 3 macam. Pertama, cerpen yang sangat pendek (short short story), atau biasa disebut cermin ‘cerpen mini’. Kedua, cerpen dengan panjang sedang (middle short story) yang selama ini dikenal sebagai cerpen. Sementara yang ketiga, cerita panjang (long short story) dan bisa digolongkan sebagai novelet atau novel kecil. Pada kenyataannya ada pula cerpen yang panjangnya mencapai 40-an halaman (sekitar 15.000 kata) sehingga sulit membedakan mana cerpen mana novelet. Hal tersebut berbeda jauh dengan novel yang panjangnya minimal 60 halaman (sekitar 20.000 kata).

Perbedaan ketiganya dapat dirujuk dengan contoh-contoh karya tertentu yang sudah lazim. Beberapa contoh karya cermin (short short story) adalah Pengakuan (Anton Chekhov), Membunuh Orang Gilang (Sapardi Joko Dmaono), dan beberapa karya Arswendo Atmowiloto. Cerpen dengan panjang sedang (midle short story) contohnya adalah Kumpulan Saksi Mata (Seno Gumira Ajidarma), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gus Tf Sakai), Kali Mati (Joni Ariadinatana), Ziarah bagi yang Hidup (Raudal Tanjung Banua), Mereka Bilang, Saya Monyet (Djenar Mahesa Ayu), dan Kuda Terbang Maria Pinto (Linda Christanty). Sementara itu, Cerita dari Blora (Pramoedya Ananta Toer), Lukisan Perkawinan (Hamsad Rangkuti), Di Bawah Matahari Bali (Gerson Poyk), atau Kimono Biru buat Istri (Umar Kayam) dapat disebut dengan cerita panjang (long short story), sedangkan Sri Sumarah dan Bawuk (Umar Kayam) serta beberapa karya Leo Tostloy dikategorikan sebagai novelet.

Persoalan bentuk memang bisa jadi sesuatu yang relatif ketika sejumlah teori dari berbagai sumber dipertemukan. Tipisnya perbedaan antara cerpen – novelet – novel makin mengkristalkan bentuk cerpen itu sendiri. Orang Tua dan Laut (Hemingway), panjangnya 20.000 kata. Satu pihak mengatakan, karya itu adalah novelet. Pihak lain mengatakan itu adalah cerpen. Di Malaysia dan Indonesia, juga Brunei, terdapat pengarang-pengarang cerpen yang gemar menulis cerpen panjang. Zaid Ahmad, Umar Khayyam, dan Muslim Burmat adalah contohnya. Walaupun kemudiannya muncul kalangan pengarang muda yang gemar menulis cerpen pendek atau cerpen mini (cermin), tetapi secara konvensional sebuah cerpen adalah sebuah karangan cerita yang memakan sekitar 15 halaman kertas kuarto.

 

Bagaimana memulai menulis?

 

Menulis cerpen itu mudah atau susah? Jawabnya: tergantung! Kalau mau dibuat mudah, pasti mudah. Kalau mau dianggap susah, pasti tak akan pernah mampu menulis. Masalahnya hanya satu, punya minat, atau tidak? Kalau tidak berminat, sebaiknya tidak usah mencoba, apalagi memaksakan diri menulis. Lain persoalan kalau sudah lama berminat untuk menulis cerpen, tapi belum pernah mencoba. Maka, mulai sekarang, seriuslah berlatih untuk menulis cerpen.

Syarat utama untuk mampu menulis cerpen adalah suka membaca. Ya, membaca. Membaca apa saja: sobekan koran atau koran seutuhnya, majalah, buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi, jurnal-jurnal, ensiklopedia, kamus-kamus, kitab-kitab suci. Apalagi kalau suka membaca cerpen atau novel pengarang-pengarang yang belum terkenal atau pun sudah, tentu sangat membantu niat untuk menulis.

Mengapa suka membaca sebagai utama? Dengan membaca kita memperoleh banyak hal. Pertama, memori otak kita jadi penuh oleh pengalaman orang lain dan pengetahuan tentang berbagai macam hal. Sejumlah pengalaman dan pengetahuan itu kelak akan menjadi referensi penting untuk penulisan cerpen kita. Referensi itu bisa menjadi bahan utama, bisa juga menjadi bahan pembanding ketika kita membutuhkannya ke dalam bingkai cerita.

Kedua, dengan membaca otak kanan kita akan semakin cerdas dan kreatif. Alasan sulitnya menemukan ide untuk membuat cerpen akan teratasi dengan seringnya kita membaca. Persoalan dan sejumlah kasus yang kita temukan dalam teks bacaan akan menjadi tabungan ide yang tak terbatas. Ketika membaca kasus lumpur panas Lapindo Brantas di Sidoarjo, misalnya, akan menumbuhkan banyak ide yang bisa dituangkan dalam cerita. Atau situasi pascagempa di Jogjakarta, pasti akan banyak ide cerita yang bisa digarap.

Ketiga, dengan sering membaca cerpen atau novel karya orang lain akan membuat kita sebagai calon penulis jadi punya banyak contoh model penulisan. Mulai dari cara bercerita, gaya bahasa, teknik penguatan tokoh, kalimat dialog, bagaimana membuat ending cerita, bahkan sampai kepada bagaimana cara penulisan yang menyangkut penggunaan ejaan dalam teks narasi akan bisa dipelajari dari karya yang kita baca. Bukankah dengan hanya membaca kita dapat belajar tanpa harus merasa digurui?

Kalau membaca sudah bukan persoalan, maka pertanyaan berikutnya mulai dari mana melangkah untuk menulis cerpen? Jawabnya tentu harus dimulai dari sebuah ide. Apa yang akan ditulis, itulah ide. Ide bukanlah sebuah konsep abstrak, tapi bentuk nyata. Ide bisa berupa sebuah kata, sebuah tema, atau sebuah paragraf yang berisi kasus yang sudah lengkap terdiri dari masalah sampai solusi. Ide tidak mesti orisinil. Bisa saja meniru atau adaptasi dari ide orang lain. Karena yang penting adalah bagaimana pengembangannya nanti. Ide bisa saja sama, tapi ketika menjadi cerpen seutuhnya, ide itu sudah menjadi milik sipenulis.

Yang belum pernah menulis cerpen sekali pun, bisa mengawali dengan metode copy the master. Metode yang dikembangkan Taufik Ismail dan Ismail Marahimin dalam membina ribuan guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam program Menulis Membaca dan Apresiasi Sastra (MMAS) selama 5 tahun terakhir ini ternyata membawa hasil luar biasa, terutama bagi siswa-siswa yang menjadi tanggung jawab pengajaran guru-guru tersebut. Metode tersebut dimaksudkan sebagai meniru contoh yang sudah ada.

Copy the master bukanlah sesuatu yang baru. Proses perkembangan psikis dan psikologi manusia sejak lahir sampai proses pertumbuhannya adalah melalui kegiatan meniru. Ketika proses itu berlangsung dan berhasil meniru, maka reaksi selanjutnya adalah munculnya identitas diri yang sudah berbeda dengan contoh yang ditiru sebelumnya. Metode demikian dipergunakan oleh seluruh aspek kehidupan di semua jenjang dan kebutuhan. Begitu juga dalam penulisan cerpen.

Copy the master dalam penulisan cerpen adalah dengan meniru cerpen-cerpen yang sudah ada. Peniruan bisa dilakukan dengan mengadaptasi latarnya, mengadopsi temanya, mencontoh alurnya, meminjam nama tokoh-tokohnya, memiripkan konfliknya, atau mengambil seutuhnya cara penyelesaian cerita (ending). Boleh meng-copy sebagiannya, boleh juga seluruhnya. Tentu proses selanjutnya adalah bagaimana pengembangannya.

Latihan pertama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran penulisan cerpen adalah dengan, pertama, mengubah akhir cerita sebuah cerpen; atau yang kedua, melanjutkan akhir cerita sebuah cerpen yang belum selesai. Cara demikian biasanya akan menumbuhkan kemampuan penyelesaian konflik sebuah cerita. Kalau latihan pertama ini berhasil dilalui maka latihan selanjutnya adalah membuat awal cerita sebuah cerpen yang bagian awalnya sengaja dihilangkan. Jika latihan kedua ini berhasil dilalui, maka sesungguhnya kemampuan menulis cerpen itu sudah ada.

Bahan copy the master bisa dari mana saja. Bisa diambil dari cerpen-cerpen penulis yang sudah terkenal. Bisa juga diambil dari cerita-cerita hikayat dan legenda. Bahan yang paling mudah diolah sebenarnya adalah (kalau memang sudah menjadi kebiasaan) mengambilnya dari buku harian si penulis sendiri. Buku harian yang berisi segala hal yang menyangkut kehidupan seseorang (penulis) tentuu merupakan contoh yang paling gampang diolah menjadi cerpen karena penulis sudah terlibat secara material dengan cerita yang akan digarap.

Pengembangan materi dari copy the master bisa denganmengubah tema, mengubah latar, mengubah nama dan perwatakan tokoh, mengubah konflik, mengubah alur, mengubah gaya bercerita, atau mengubah sudut pandang. Pengubahan yang komprehensif – walaupun secara bertahap – terhadap contoh cerita yang ditiru sudah bukan lagi sebuah perbuatan plagiat karena style penulis cerpen yang baru sudah muncul mengganti style lama penulis asli. Kalau hal demikian terjadi, maka cerpen pengarang lain yang menjadi contoh bukan lagi menjadi master, tetapi sudah menjadi sumber ilham (hypogram). Bukankah menulis cerpen jadi begitu mudah.

Kembali ke masalah ide. Seorang penulis cerpen, ke mana pun perginya tak pernah lepas dari pulpen dan kertas, atau voice recorder, atau HP comunikator, atau laptop. Alat-alat itu berfungsi sebagai jurnal pribadi penulis, Hal tersebut dilakukan karena ide bisa datang dari mana saja dan muncul kapan saja. Seorang penulis cerpen yang kreatif akan sesegeranya mencatat, merekam, atau menulis ide tersebut. Bahkan, bukan sekadar mencatatnya, pada sebuah kesempatan, seorang penulis cerpen langsung mengembangkan ide tersebut menjadi (minimal) kerangka, bahkan cerpen seutuhnya melalui HP comunikator atau laptopnya. Banyak pengalaman, ide yang ditunda untuk dikembangkan langsung, biasanya cukup makan waktu lama baru bisa dikembangkan menjadi cerita.

Kalau kemampuan mengembangkan langsung sebuah ide cerita menjadi cerita utuh tidak maksimal bahkan minimal, maka harus membiasakan diri memulai menulis cerpen dengan membuat kerangka karangan. Cara ini sesungguhnya banyak membantu karena selain dapat dengan cermat mengembangkannya menjadi cerita yang utuh, juga dapat mengakomodasi kalau ada alternatif-alternatif pengembangan atau perubahan-perubahan pada bagian cerita tertentu pada kerangka karangan yang menurut si penulis bagus untuk diubah. Dengan (sementara) mengembangkan ide menjadi sebuah kerangka karangan saja dahulu akan memudahkan penulis kapan pun untuk melanjutkannya menjadi cerita utuh.

Penulis cerpen yang rajin biasanya suka melakukan riset setelah menyusun kerangka karangan. Riset yang dilakukan tentu dalam bentuk sederhana sesuai kebutuhan cerita. Riset bisa berupa studi kepustakaan saja, bisa pula (dan ini yang paling banyak) melakukan pengamatan terhadap objek. Riset dengan pengamatan terhadap objek biasanya banyak memperoleh bahan-bahan yang dibutuhkan, bahkan hal-hal yang di luar perkiraan sebelumnya. Hal semacam ini tentu akan memperkaya isi cerita pendek yang akan digarap. Sebuah riset sesungguhnya adalah sebuah pembelajaran. Cerpen bahkan novel yang spektakuler biasanya merupakan hasil ramuan antara riset dan kemampuan penulis.

Sebenarnya hal-hal tersebut di atas adalah langkah-langkah awal yang tepat dan pragmatis untuk memulai menulis cerpen. Mencoba melakukan berbagai kemungkinan untuk memulai menulis cerpen adalah sikap yang bijak untuk mengembangkan minat tersebut. Mencoba menulis dan terus menulis adalah suatu tekad yang baik. Akan banyak tulisan berupa cerpen yang akan dihasilkan. Dibaca dan terus dibaca lagi cerpen-cerpen yang telah dihasilkan akan menjadikan punya pengalaman untuk memperbaiki kekurangan. Termasuk bagaimana penulisan yang benar sesuai ejaan yang disempurnakan untuk ragam cerita. Hal itu secara bertahap akan mampu dikuasai. Yang penting cobalah dulu untuk menulis cerpen. Menulis dan terus menulis tanpa henti.

 

Mitos-Mitos Menyesatkan

Ada banyak mitos yang bisa menghalangi Anda untuk menulis cerpen. Mitos seringkali sangat mempengaruhi pola pikir kita. Padahal belum tentu sebuah mitos seratus persen benar. Anda cukup lihat dengan sudut pandang yang berbeda, maka mitos itu tidak akan menghalangi Anda untuk menjadi penulis cerpen yang handal. Di sini akan dibahas beberapa buah mitos yang mengkin mengurungkan niat Anda untuk menulis cerpen.

Mitos 1 : Menulis cerpen membutuhkan banyak waktu

Hal ini sangat mengganggu, terutama untuk orang yang baru mencoba menjadi penulis. Orang yang sangat sibuk tentu akan bingung membagi waktunya untuk menulis. Boro-boro menulis cerpen, pekerjaan kantor menumpuk di meja kerja, pekerjaan rumah tangga bejibun banyaknya, mengurus anak, dan segala macam urusan lainnya. Bahkan penulis yang sudah senior pun kadang susah menyempatkan diri mencari waktu untuk menulis. Selain itu, orang enggan menulis, karena membayangkan harus menulis sebegitu tebal, berapa lama waktunya, kapan selesainya. Ada benarnya menulis itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Beberapa penulis membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan tulisannya. Namun, sebenarnya Anda bisa membagi waktu yang sangat lama itu dalam waktu yang singkat, tapi kontinyu. Anda dapat meluangkan waktu sedikit saja untuk menulis. Anda bisa lakukan itu saat menunggu antrian di salon, waktu naik kendaraan umum, atau Anda bisa saja mengurangi menonton sinetron tidak keruan yang ditayangkan di TV. Dengan waktu yang pendek tapi kontinyu maka Anda akan dapat menyelesaikan cerpen Anda dengan baik

Mitos 2 : Anda harus menulis sesuatu yang spektakular

Banyak orang enggan menulis buku karena beranggapan mereka harus menulis sesuatu yang sensasional, dan tidak boleh yang kacangan. Mungkin ini ada kaitannya dengan gengsi. Pada dasarnya, setiap orang bebas menulis apa saja. Tidak melulu harus menulis sesuatu yang sangat rumit. Jika Anda menulis cerpen yang sederhana pun, tidak menjadi masalah. Bila Anda bisa menuliskan dengan baik dan menarik, maka cerpen yang paling sederhana pun akan menjadi cerita yang menakjubkan.

Mitos 3 : Anda harus menjadi pakar sebelum bisa menulis

Ini adalah anggapan yang salah. Setiap orang berhak dan bisa menulis cerpen. Anda tidak harus menjadi seorang seorang ahli dalam bidang tertentu sebelum “boleh” menulis buku. Kata “boleh” saya beri tanda petik, karena ada beberapa orang yang beranggapan kalau menulis cerpen nanti kalau sudah jadi cerpenis, baru berani menulis. Ini adalah anggapan yang salah, menulislah bahkan sewaktu Anda masih belajar. Apakah Anda pernah membaca buku Rich Dad Poor Dad? Apakah penulisnya menulis buku itu pada saat berlimpah kekayaan? Sama sekali tidak, justru ia menulis buku itu waktu sedang dalam keadaan melarat.

Mitos 4 : Anda harus menghasilkan tulisan yang sempurna

Mitos ini masih berkaitan dengan mitos sebelumnya, yaitu Anda harus menjadi pakar dulu baru “boleh” menulis. Lucunya, banyak orang sudah jadi pakar, tetapi malah belum menulis juga. Kenapa? Takut tulisannya tidak berbobot, gengsi kalau salah tulis, bahkan ragu apakah tulisannya layak dibilang tulisan yang baik. Seorang Stephen R Covey pernah menulis 7 Habits of Highly Effective People. Sekarang ia menulis The 8th Habit. Berarti apa yang ia tulis dahulu belumlah lengkap. Tidak masalah, bahkan ia bisa menjual ketidaksempurnaannya menjadi dua buah buku. Apakah ia akan menemukan ketidaksempurnaannya lagi sehingga menulis The 9th Habit? Why not?

Menulis cerpen itu mengasyikkan. Membiarkan otak kanan kita bekerja, menerbangkan imajinasi kita sampai ke langit ke tujuh, mengeksplore dunia yg belum kita sentuh, dan mungkin takkan pernah. Namanya juga imajinasi, di tengah dunia yangg didominasi otak kiri, berimajinasi yg notabene full menggunakan otak kanan bisa amat mengasyikkan. Ketika menulis cerpen, kita membentuk sebuah atau dua buah tokoh, menamai tokoh-tokoh itu, membuat dunia dan waktu yang menjadi latarnya, menentukan apa yang terjadi pada tokoh itu, dan bagaimana akhirnya cerita itu. Sesuka hati, semau apa keinginan penulis. Bukankah penulis cerpen sudah menjadi dewa?

Tulisan ini sebenarnya tidak akan pernah selesai. Namun, sebuah maxim kuno yang berasal dari nenek moyang para penulis zaman kuno, yang tersimpul dalam sajak kuno berikut akan memberi nafas jeda.

 

Panjang Tulisan

 

Bayang-bayang sepanjang badan,

Tulisan sepanjang bahan.

 

Sebelum bahan habis, teruslah menulis,

Begitu bahan habis, berhentilah menulis.

 

Jika bahan belum habis, Anda berhenti menulis,

Tulisan Anda banyak bolongnya.

 

Jika bahan habis, Anda belum berhenti menulis.

Tulisan Anda banyak bohongnya.

 

Banjarmasin, 8 September 2006


[*] Disampaikan sebagai bahan diskusi dalam Diskusi Sastra di SMKN 1 Kotabaru, Sabtu, 9 September, dalam rangka HUT SMKN 1 Kotabaru ke-42 Tahun 2006.

4 comments

  1. Maaf, ikutan promosi. Bagi yang mau download 2000 cerpen koran, klik disini. Bagi yang mau download skenario film dan ebook novel, klik disini. Terima kasih. 🙂

    Zul …

    Oke, trims atas ruang yang disediakan.
    Semoga banyak yang memanfaatkan untuk itu.

    Tabik!

  2. saya tersanjung dan bangga dengan para penulis kita, apapun bentuknya.secara pribadi say ingin menulis karya sastra seperti novel dengan genre novel etnik karena pengaruh background saya ilmu antropologi budaya. thanks 4 transfer ilmune. danke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s