Perginya Sang Panglima

Perginya Sang Panglima

Catatan Tercecer dari Wafatnya Hamid Jabbar

Oleh: Zulfaisal Putera

 

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!

(Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana.
Angin masih berhembus, topannya entah ke mana.
Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana?
Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?)

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali hilir-mudik di suatu titik
tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku:
Sampai tetes-embun pun selesai, tak menitik!

(Gelombang lain datang begitu lain.
Topan lain datang begitu lain.
Gelap lain datang begitu lain.
Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain!)

 

(Aroma Maut, Hamid Jabbar : 1977/1978)

 

Sabtu malam, 29 Mei 2004, pukul 23:47:09, menjelang pergantian hari, aku menerima dua buah pesan melalui SMS. Pesan pertama dari Joni Ariadinata (JA), cerpenis Jogja. Isinya memang cukup mengagetkan, Bang Hamid Jabbar (HJ) meninggal. Aku tidak begitu terusik karena aku beranggapan JA hanya bergurau seperti biasa SMS yang JA kirim kepadaku. Aku buka pesan kedua yang datang beberapa detik setelah itu. Pengirimnya Jamal D. Rahman (JDR), Pemred majalah sastra Horison. Kali ini aku mulai terusik. Bunyi pesannya sama dengan yang dikirim JA:

 

Innalillah wa inna ilayhi ro jiun. Meninggal dunia saudara kita HAMID JABBAR, jam 23 WIB mlm ini, di tengah baca sajak di UIN (IAIN) Ciputat.

 

Pesan kedua ini betul-betul membuat aku kaget dan termenung. Betulkah HJ meninggal? Padahal kurang lebih dua jam sebelumnya aku sempat dua kali saling ber-SMS dengan HJ. Aku memberitahukan bahwa aku akan ke Jakarta hari Senin (31 Mei) dalam rangka dinas dan menjanjikan akan membawakan oleh-oleh ikan saluang goreng untuknya. HJ bilang asyik. Aku tahu HJ suka ikan saluang goreng. Selesai SBSB di Kalteng akhir April tadi, HJ titip lewat JA yang pulang lewat Banjarmasin untuk dibelikan ikan saluang goreng dan sepat kering. SMS dari JDR ini betul-betul membuyarkan keinginan itu.

 

Aku mencoba telepon dan bicara langsung dengan JDR. Dengan suara setengah terisak, JDR yang saat itu sedang berada di klinik tepat di seberang UIN, menemani jasad beku HJ, menceritakan sedikit kronologis meninggalnya HJ. “Saya sedang menunggu Bu Ati dan TI (Taufik Ismail)”, katanya menutup pembicaraan. Aku mulai yakin bahwa HJ memang telah wafat. Saat itu juga, aku menghubungi beberapa kawan. SMS dari JDR aku forwardkan ke Ali Syamsudin Arsi di Banjarbaru, Boerhanuddin Soebly di Kandangan, dan aktor Imam Saleh (IS) di Bandung. Aku juga menelepon D. Zawawi Imron di Sumenep, juga Sandy Firly di Radar Banjarmasin sambil berharap berita ini sempat dimuat di edisi Minggu. Namun, karena sudah naik cetak, maka tidak mungkin lagi memberitakan hal ini.

 

Sampai dini hari, HP-ku tak sepi dari SMS. Pesan yang sama – yang belakangan baru diketahui dikonsep oleh Agus R. Sarjono (ARS) – masuk silih berganti dari beberapa kawan penyair. Pukul 03.34, JDR mengirim SMS kembali yang menyampaikan pesan Bu Ati agar kalau aku ingin mengikuti prosesi pemakaman HJ maka diharap ke Jakarta hari itu juga (hari Minggu, bukan pada hari Senin seperti rencana semula). Aku pun memutuskan setuju dan memajukan keberangkatanku pada pagi itu. Aku pikir, ini kesempatan terakhir bagiku untuk memberikan rasa hormatku pada almarhum.

 

Hari itu, Minggu, 30 Mei, pukul 07.25 WIB aku sudah menginjakkan kaki di Jakarta. Sesuai janji, aku langsung menuju rumah TI di Utan Kayu Raya. Bu Ati menyambutku di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata sembab. “Hamid pergi Zul. Saya masih tak percaya. Semalaman saya tidak bisa tidur!”. Suasana di rumah TI pagi itu sangat muram. TI dan Bu Ati secara bergantian mengungkapkan kesedihannya. Setelah menunggu beberapa saat, aku dengan Bu Ati ke kantor Horison yang terletak di Galur Sari II Utan Kayu Selatan, menjemput para awak majalah sastra itu untuk sama-sama ke rumah duka. Suasana kantor majalah sastra tempat HJ menghabiskan waktunya puluhan tahun terakhir itu juga seperti muram. Mbak Inong, Mas Yono, Wakrim, Syarif dan Ade, para awak yang biasa libur hari Minggu berkumpul dengan wajah kedukaan. Sebagian duduk dan sebagian membuka-buka majalah sastra Horison edisi bulan Maret 2004, yang memuat sosok dan karya HJ di sisipan Kaki Langit.

 

Pukul 09.15, dengan dua buah mobil kami meninggalkan Horison menuju rumah duka. Sepanjang perjalanan takhentinya bagi cerita tentang pertemuan terakhir atau kesan termanis tentang HJ. “HJ Seorang laki-laki periang, ekspresif, lincah bagai bola bekel, tegur-sapanya sejati, mudah bergaul dengan semua orang. Dia tidak suka dan tak pernah kami dengar bergunjing, tidak hobi memperkatakan kejelekan orang lain. HJ tidak pemarah dan cepat meminta maaf. Bila mendengar musik, badannya tidak akan tahan diam, senantiasa bergoyang, kedua tangannya naik melambai-lambai seperti hutan tangan kerumunan anak muda dalam konser musik pop dan kepalanya akan bergerak ke kiri dan ke kanan” (Pernyataan ini kemudian ditulis TI pada GATRA, Edisi 30 : Jumat, 4 Juni 2004). Aku sendiri masih terbayang ekspresi HJ ketika di suatu malam Minggu di bulan April. Ketika itu, tanggal 17 April, sambil memecah kepenatan SBSB di Kalteng, kami bersama-sama menikmati live music di kafe Liz, di gedung Batang Garing Palangkaraya. Saat aku, JA, ARS, Wan Anwar, Cecep Syamsul Hari (CSH), dan tiga rekan yang lain tengah bergoyang di dance floor menikmati musik yang disuguhkan, HJ hanya duduk-duduk berdua dengan Elky. Namun, ujung jari, tangan, bahu, kepala, dan bola matanya bergerak lincah mengikuti irama.

 

Setelah hampir satu jam perjalanan, kami akhirnya sampai di sebuah kampung yang bernama Kelapa Dua Wetan, wilayah Cibubur. Sebuah bendera kuning terpancang menyambut di mulut gang. Pada papan tulis yang berpangku pada tiang tercantum:

Telah Meninggal Dunia

Abd. Hamid Jabbar bin Zainal Abidin A. Jabbar

27 Juli 1949 – 19 Mei 2004

 

Memasuki gang sempit menuju rumah duka mulailah terasa aroma kesedihan. Ada puluhan orang duduk berjejer sepanjang tembok yang berseberangan dengan rumah duka. Sebagian besar berbaju hitam. Tampak beberapa aku kenal, Adi Kurdi dan Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Tiga karangan bunga menyapa di teras rumah. Masing-masing dari Emha Ainun Najib se-keluarga, Dewan Kesenian Jakarta, dan Majalah Sastra Horison. Selintas bau dupa tercium dari dalam rumah. Aku jadi makin yakin bahwa HJ memang telah tiada.

 

Menengok ke dalam, sesosok tubuh terbujur kaku di ruang tamu sebuah rumah yang teramat sederhana untuk seorang nama besar pemiliknya. Rambutnya yang putih dan wajah tenangnya memastikan bahwa dia adalah HJ. Tak ada keperihan yang tergambar sekali pun kematian merenggutnya melalui serangan jantung – yang pasti sangat menyakitkan. Yang ada hanya senyum tipis karena kematiannya begitu indah, menyapa dirinya saat tengah melakukan tugas sucinya sebagai penyair, membaca puisi di podium kecil sebuah panggung budaya, saat Dies Natalis ke-2 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, Sabtu malam, 29 Mei, pukul 23.00 WIB.

 

“Biar Indonesia menangis

mari kita tetap bernyanyi …”

 

Itulah larik terakhir yang HJ bacakan dari Nokia Comunicator-nya sesaat kemudian ia terduduk di belakang podium, dan beberapa detik kemudian terlentang. Demikian kesaksian JDR saat peristiwa tragis itu terjadi. Sementara hadirin bertepuk tangan dan musik pengiring makin keras karena mengira gerakan HJ itu bagian dari akting. Sejenak berlalu, mulailah JDR dan beberapa mahasiswa berlari mendekati HJ dan mengangkat tubuhnya yang lemah ke kantor BEM UIN. Sempat ada gerak nafas dua-tiga kali, kemudian diam. Tubuh HJ dibawa ke klinik seberang kampus. Dokter di klinik menyatakan bahwa HJ telah pergi. Semua menangis. Indonesia betul-betul menangis.

 

Sekarang HJ telah terbujur kaku di ruang tamu rumahnya. Di samping kiri kepala HJ, duduk seorang perempuan berumur memangku seorang anak kecil yang tak berhenti menagis. Perempuan itu adalah Anis, isteri HJ, dan anak kecil itu adalah cucu ke-2 HJ. Wajah Bu Anis terlihat tenang. Tak ada bekas air mata. Mungkin sudah habis terkuras sejak tadi malam. Yang tampak hanya wajah kelelahan. Di samping kanan kepala HJ, sebuah foto berbingkai. Tampak HJ sedang mengangkat tangan membaca puisi. Kaca mata kecil yang terikat rantai kecil di kedua ujungnya hampir jatuh menjuntai di batang hidungnya. Penampilan HJ yang khas seperti itu sangat dikenal baik kurang lebih 50.000 siswa dari sekitar 100 SMA di 24 propinsi dalam kegiatan SBSB yang selalu mendapat tepukan tangan sangat meriah. Siswa pasti akan mengenangnya karena dalam baca puisi dia juga menyanyi dan terkadang berjoget, dalam berdiskusi senantiasa hangat dan edukatif, geraknya lincah bagai bola bekel, karena rambutnya putih pernah dipanggil kakek atau eyang,
dan tersebab postur badan serta matanya mirip, disebut Habibie.

 

Siang selepas zuhur, setelah dishalatkan di mesjid yang letaknya beberapa blok di belakang rumahnya, jasad HJ dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Diusung oleh mobil ambulan paling depan, jasad HJ diiring oleh arak-arakkan mobil yang teramat panjang sepanjang jalan. Aku tidak tahu berapa banyak yang menggiring. Yang aku tahu, ternyata sudah banyak orang yang menunggu di pemakaman. Sebuah komplek pekuburan yang sangat indah. Dengan luas sekitar 2 hektar, gundukan-gundukan makam di atasnya tertata rapi. Ada dua kelompok agama yang menanamkan keluarganya di tempat ini, yaitu islam dan nasrani. Beralas rumput hijau yang lebat, di kepala setiap makam berkalung rangkaian bunga plastik warna warni. Tak pernah aku menemukan komplek pemakaman seindah ini, termasuk di kampungku sendiri. Bu Ati sendiri sempat berseloroh dengan TI akan memakamkan dirinya di komplek ini apabila wafat. TI hanya tersenyum. Itulah komplek pemakaman Pondok Rangun, Munjul, Cibubur.

 

Pemakaman HJ berlangsung hikmad dan fenomenal. Tak ada suara sia-sia yang mengusik selain sedikit isak tangis dari orang-orang yang tak rela almarhum pergi. Ada banyak orang yang melepas HJ ke peristirahatannya. Tak terhitung sastrawan dan budayawan yang hadir. Selain yang disebut di awal, ada Jajang C Noor, Nano dan Ratna Riantiarno, Leon Agusta (LA), Salim Said (SS), dan Emha Ainun Najib (EAN). Juga teman-teman HJ sastrawan di Horison. Sejumlah wartawan cetak dan audiovisual juga larut dalam suasana. Usai penamaman jasad, berturut-turut sambutan diberikan di depan makam HJ, yaitu oleh TI, JDR, SCB, ARS, SS, dan EAN. Dalam bagian sambutannya, EAN menyebutkan bahwa “HJ adalah orang yang beruntung. Dalam sejarah kepenyairan, sejak zaman romawi sampai sekarang, belum pernah ada penyair meninggal saat membacakan puisinya di atas panggung. HJ telah melakukannya. Seperti dalam sebuah perang, setiap panglima selalu berkeinginan mati di medan perang. Dan HJ telah merasakannya, meninggal saat ‘perang’!” EAN memang merasa sangat dekat dengan HJ, bahkan HJ pernah minta perbaiki Nokia Comunicator-nya dengan EAN. Menutup upacara, EAN berinisiatif memimpin dan mengajak hadirin ikut acara haul, berjongkok mengelilingi makam sambil memanjatkan doa buat almarhum.

 

Pukul 15.30, kami mulai beranjak meninggalkan Pondok Rangun kembali ke Horison. Sore hari, pukul 17.30, SCTV memberitakan wafatnya HJ. Bahkan, memutarkan rekaman saat-saat HJ melepas ajal, ketika tengah membaca puisi di podium kecil sebuah panggung budaya, saat Dies Natalis ke-2 UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Sebuah dokumentasi yang sangat berharga dan langka. Kami semua tercenung dan terhentak melihat HJ tergeletak beberapa saat di balik podium. Sementara kamera mendekat dan musik pengiring semakin nyaring berpadu dengan tepuk tangan penonton. Malam itu, kami berdiskusi panjang di ruang olahraga Horison. Aku, JDR, ARS, dan LA, diseling kopi dan asap rokok, menghabiskan waktu sampai pukul 23.00 hanya untuk mengenang HJ.

 

***

 

Surat buat Kekasih, dikirimkan setiap hari, dengan tangan gemetar. Surat buat Kekasih, kembali ke tangan sendiri:
alpa dan nanar!

Surat, diri sendiri, alpa dan nanar: remuk dalam postcard. Melayang dan melayang, luruh dan luruh tak bisa lagi gemetar!
(Kembali, Hamid Jabbar: 1978)

Selasa, 8 Juni, atas undangan BEM UIN lewat mediator JDR, aku dan 23 orang guru-guru Bahasa Indonesia SMA dari 24 propinsi yang sedang mengikuti Pelatihan Instruktur Bahasa di PPPG Bahasa, Srengseng, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berkesempatan menghadiri acara “Malam Mengenang Hamid Jabbar”. Acara yang disatukan dengan pergantian kepengurusan BEM UIN ini diselenggarakan tepat sepuluh hari setelah HJ wafat dan dilaksanakan pada tempat di mana HJ wafat, kampus UIN. Sungguh sebuah acara yang bersejarah di tempat yang juga bersejarah. UIN (dulu IAIN) sebenarnya bukan kampus yang asing bagi HJ. Selain tempat dia melepas nyawa, jauh sebelumnya, di tempat ini pula HJ menemukan Bu Anis, seorang sarjana agama, yang kini menjadi isterinya.

 

Memasuki gerbang keluar menuju centralpark UIN, kami disongsong pemandangan yang menggiris sepanjang trotoar kampus. Di setiap kaki pohon yang memagar trotoar tersender foto-foto HJ dalam bingkai besar dan hanya diterangi sebatang lilin. Sebuah ide artistik yang juga dokumentatif. Tampak secara berurutan foto-foto terakhir HJ malam itu (29 Mei) sejak hadir di UIN, duduk menunggu giliran tampil, memberikan orasi, mendapat ucapan selamat, membaca puisi, tergeletak di belakang podium, terbujur kaku di klinik, terbaring di rumah duka, saat dishalatkan, sampai foto-foto pemakaman. Menyaksikan foto-foto tanpa keterangan itu, kita seperti dijelaskan bagaimana prosesi perginya HJ. Kemudian beberapa puisi HJ juga dibingkai dengan indah dan diterangi redup lilin. Sejenak kami beristirahat di ruang sekretariat BEM UIN. Hadir juga saat itu EAN dan awak Kyai Kanjengnya, Hamsad Rangkuti, Diah Hadaning, dan keluarga HJ.

 

Pukul 20.00 acara dimulai. Kami dan ribuan hadirin yang sebagian besar mahasiswa UIN duduk lesehan menghadap sebuah panggung lebar tanpa atap ber alas kain hitam. Duduk di baris paling depan, kami bersisian dengan keluarga HJ dan civitas akademika UIN yang diwakili oleh Purek III. Sementara di panggung yang berlatar kain putih berbingkai kain hitam, tergeletak seperangkat peralatan musik Kyai Kanjeng EAN. Langit tanpa bintang dan angin sejuk menyapu kami semua yang hadir di situ. Dan suasana mengenang HJ benar-benar terasa malam itu ketika sesudah sambutan, panitia memutar film dokumentasi detik-detik wafatnya HJ. Semua orang tertegun dan hening. Kakak, adik, dan anak-anak HJ yang duduk di samping kami tak mampu menahan tangis menyaksikan saudara dan ayah mereka dijemput Yang Kuasa. Sementara, Bu Anis, hanya menatap tanpa berisak. Aku tidak bisa mengucap apa-apa, hanya membahanakan Allahu Akbar pelan-pelan ke hati saya sendiri. Betapa Allah mahabesar dan mahakuasa. Kapan pun dan di mana pun Dia ingin menjemput orang yang dikasihinya, maka jadilah!

 

Malam itu, benar-benar milik HJ. Betapa tidak, EAN dengan Kyai Kanjengnya menggebrak keheningan dengan shalawat-shalawat dan lagu-lagu doanya. Paduan musik pentatonik dan diatonik berharmonisasi dengan vokal EAN yang sangat syahdu menusuk ke relung hati. Beberapa kali EAN menyenandungkan kata “Ya Hamid, Ya Hamid!”. Hampir 30 menit EAN dan Kyai Kanjengnya memukau kurang lebih 5.000 hadirin. Kemudian, seperti biasa, EAN bercerita panjang tentang kelebihan dan keajaiban hidup orang-orang yang dikasihi Allah. Seperti kelebihan dan keajaiban HJ yang dijemput Allah dengan begitu nikmat, begitu indah, dan begitu agung. EAN sempat mengutarakan keinginannya (dalam bahasa Jawa), “… saya juga ingin sekali meninggal saat bersyair dan terekam oleh kamera!”. Tentu tak mudah untuk berkesempatan seperti itu.

 

HJ tampaknya sudah merasa akan mendapat kesempatan wafat dalam situasi yang indah seperti itu. Aktor IS bercerita kepada TI, ketika 13-14 April di Palangkaraya, bersama Rendra di sebuah rumah makan di tepi sungai, HJ sakit, napasnya tersengal-sengal dan dia bilang, “Ini bukan serangan jantung. Ini diabetes. Jangan khawatirkan kesehatanku.” Kemudian katanya, “Cita-citaku, kalau tidak mati di depan Ka’bah di Makkah, ya mati di atas panggung,” sambil ketawa-ketawa. Selanjutnya HJ bilang: “Ini penting!” IS tak paham apa yang dimaksud Hamid penting itu. Di kamar hotel Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 21 April, penyair CSH ketika mengobrol berdua, HJ berulang-ulang membicarakan maut. Sesudah capek bicara dua jam, “Kami turun ke kafe hotel dan bernyanyi dan menari disaksikan penyair Jamal T. Suryanata dan Elki.” Allah Yang Maha Pemurah mengabulkan cita-cita

penting penyair ini, cepat sekali, cuma 45 hari kemudian

Acara mengenang HJ di UIN malam itu betul-betul malam bersejarah bagiku dan rekan-rekan guru. EAN mengundang kami untuk tampil ke panggung diiringi Kyai Kanjeng. Rekanku Bu Rahmi dari SMA 13 Padang (sepulau dengan tempat lahir HJ) tampil membacakan puisi HJ yang berjudul Aroma Maut. Kemudian aku berduet dengan Bu Rani- adik perempuan HJ – membacakan puisi HJ paling populer di telinga siswa-siswa kami: Indonesiaku. Puisi ini begitu dikenal karena dalam membawakannya HJ selalu mengawali bait-bait yang terulang pada puisi ini dengan dinyanyikan. Aku yang sejak 2001 sudah menyaksikan HJ membawakan puisi ini sampai tur SBSB di Kalsel dan Kalteng, hapal betul irama lagu puisi ini. Malam itu, ribuan orang hadir dan dengan iringan Kyai Kanjeng menyanyikan lagu puisi ini

 

jalan berliku-liku

tanah airku

penuh rambu-rambu

indonesiaku

 

Pukul 23.00 hujan tiba-tiba menyiram centralpark UIN. Kami dan ribuan penyaksi kebesaran HJ bubar mencari tempat berlindung. Panggung ditutup dengan terpal lebar. Semua awak beristirahat. Kami kembali ke ruang sekretariat BEM UIN. Ruangan yang sebelumnya kosong dengan hiasan, tiba-tiba berubah. Dinding-dindingnya sudah dipenuhi foto-foto HJ yang sebelumnya tadi dipajang di sepanjang trotoar masuk kampus. Sekretariat itu pun jadi seperti seperti sebuah ruang pamer. Kami pun kembali menatap wajah-wajah akhir hayat HJ. Hati pun kembali diiris menyaksikan gigihnya perjuangan seorang HJ di medan perang sastra. Selamat jalan, Panglima! Selamat beristirahat di tempat abadi. Kau tak perlu pikirkan Indonesia ini lagi. Karena tangisnya tak pernah henti. Dan kami tetap bernyanyi!

Utan Kayu, 11 Juni 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s