Religiusitas Seorang Kacong

Religiusitas Seorang Kacong

Ulasan Terhadap Antologi Puisi

“Bantalku Ombak Selimutku Angin”

Karya D. Zawawi Imron

Oleh : Zulfaisal Putera

 

Madura adalah fenomena. Pulau kecil yang dikelilingi oleh laut Jawa dan berseberang dekat dengan kota Surabaya ini dikenal sebagai pulau yang khas. Banyak hal yang menarik yang dapat dilihat dari pulau tersebut. Selain potensi alam dan keragaman budayanya, juga yang lebih menarik adalah sosok penduduknya.

Siapa yang tidak mengenal sosok orang Madura. Di mana pun di Nusantara ini ada koloni orang-orang Madura yang mendiami suatu tempat. Seorang manusia dengan gambaran kebanyakan berpenampilan sosok yang tegas, tatapan mata yang tajam, kulit yang cenderung hitam legam, dan tabiat yang dikenal keras. Bahkan yang paling khas orang Madura dapat dikenali dari logat bicaranya.

Kelebihan orang Madura adalah bagaimana mereka dapat memelihara rasa kekerabatan yang begitu kental di mana pun mereka berada. Madura-Madura di perantauan membentuk kelompok-kelompok huni tersendiri. Kita akan menemukan kampung-kampung atau gang-gang yang dihuni oleh orang Madura. Uniknya, mereka dapat hidup bersama beberapa keluarga dalam satu rumah.

Sisi lain dari sosok Madura kebanyakan adalah bagaimana penampilan mereka dalam berpakaian. Cara berbusananya terkesan apa adanya dan seperti dikenakan tergesa-gesa. Pilihan terhadap baju berwarna hitam menambah kesan kuat pribadi pemakainya. Menggunakan peci hitam (yang dipasang sedikit miring) dan berselempang sarung pada pinggang atau bahu. Apakah ada hubungan antara penampilan orang Madura dengan kepribadian dan pola pikir atau pola hidupnya?

Kalau kita mengaitkan bagaimana kebiasaan orang Madura mengenakan peci dan berselempang sarung sebagai suatu indikasi bahwa mereka memiliki pandangan yang baik terhadap konsep ketuhanan. Seperti yang kita ketahui, peci dan sarung identik dengan orang Melayu yang secara histories penganut Islam yang taat. Apakah ini juga merupakan cerminan bahwa orang Madura cenderung sebagai penganut agama yang fanatik.

* * *

Untuk menemukan jawaban – paling tidak – sedikit gambaran bagaimana hubungan antara orang Madura dengan Tuhannya, atau sejauh mana pandangan orang Madura terhadap agama yang dianutnya, salah satunya bias kita dekati dengan mengenal sosok orang Madura sebagai pribadi.

D. Zawawi Imron adalah orang asli Madura yang dapat kita jadikan model. Sebagai seorang sastrawan, sosok yang lahir di desa Batang-Batang di ujung timur Pulau Madura ini mempunyai karya-karya besar, terutama dalam bentuk puisi, yang dapat memberikan gambaran melalui rangkaian kata-kata puitisnya. Persoalannya adalah apakah refresentatif menjadikan D. Zawawi Imron sebagai model orang Madura.

Jamal D. Rahman, pemimpin redaksi Majalah Sastra Horison, dalam Jurnal Puisi (2001: 83) menyebut D. Zawawi Imron sebagai Duta Madura untuk sastra Indonesia. Alasannya yang bersangkutan adalah “penyair Madura” yang menulis puisi dengan mengangkat khasanah Madura (2001: 83). Apalagi kalau kita membaca biografinya, D. Zawawi Imron juga dikenal sebagai seorang santri dan kyai.

Prof. Dr. Henk M.J. Maier, seorang professor pada Malay Studies, Universitas Leiden, dalam komentar di sampul belakang Antologi Puisi “Kujilat Manis Empedu” D. Zawawi Imron (2003) menyebut sang penyair sebagai yang paling memukau dalam kesusastraan Indonesia dewasa ini. Penanya telah menjadi “celurit emas” yang secara giat melahirkan mitologi baru terus menerus. Menurut Maier, Madura dalam diri Zawawi menjadi alam raya.

D. Zawawi Imron telah menerbitkan beberapa antologi puisi. Salah satunya adalah antologi “Bantalku Ombak Selimutku Angin” (2000). Antologi ini merupakan empat kumpulan sajak antara tahun 1963-1995. Banyak puisi dalam antologi yang pertama terbit tahun 1996 ini yang menggambarkan hubungan yang begitu kental antara D. Zawawi Imron (orang Madura) dengan Tuhan. Berikut ini akan diulas beberapa puisi yang menunjukkan nilai religiusitas tersebut.

* * *

Puisi “Di Tengah Hamparan Sawah’ (halaman 118-123) menggambarkan bagaimana si aku lirik menempatkan Tuhan yang berkuasa dan menguasai hambanya. Puisi yang ditulis tahun 1975 ini terdiri dari 22 bait ini berisi tentang percakapan si aku lirik dengan seorang kakek. Terjadi dialog intens tentang Allah, nabi, puasa, dan sebagainya. Perhatikan kutipan berikut:

 

“Aku ingin jadi hamba

bagi pencipta diriku

yang meniupkan hidup ke dalam tubuhku

yang menempatkan iman ke dalam dadaku” (bait 7)

 

atau

 

“…

Aku sedang mencari rahmat Tuhan

yang ingin kudapatkan lewat keringatku sendiri

Aku miskin

Tapi aku malu kepada Allah” ( bait 10, larik 4-7)

 

atau

 

” …

Di tengah keluasan lautan jerami itu

menyala cahaya rohani” (bait 22, larik 3-5)

yang lebih benderang dari matahari”

 

Dari beberapa kutipan di atas secara eksplisit tergambar bagaimana pengakuan si aku lirik – yang dalam hal ini adalah si penulis D. Zawawi Imron sebagai orang Madura – akan keberadaan Tuhan dan rasa kagum yang luar biasa terhadap kekuasaan Tuhan. Si aku lirik mengalami betapa ia berada dalam kekuasaan Tuhan yang diwakili oleh lirik “lebih benderang dari cahaya matahari“.

 

Pada puisi lain sosok Madura digambarkan sebagai orang yang merasa sangat tergantung dengan Tuhan.

“…

dalam teka-teki hidup dan mati

mengapa

hanya tuhan yang paling dekat

…” (Di Bawah Layar, halaman 117-118, bait 24, larik 1-3)

 

Bahkan juga digambarkan sosok manusia yang takut dengan Tuhan.

 

“…

hai darahku dalam kandungan

sedesir hidup yang akan kembang!

bila pada Tuhan tak akan patuh

serta takut mengusir musuh

gugurlah engkau, sebelum subuh!

Darah Gerilya, halaman 83-85, bait 4, larik 4-8)

atau

 

“…

dan pohonan yang lunglai sebelum berbunga

terimalah kutukan Tuhan padamu!”

(Pembunuh, halaman 84-85, bait 6, larik 4-5)

 

Orang Madura yang diwakili oleh D. Zawawi Imron juga telah menjadikan doa sebagai alat untuk mendekati Tuhan. Kutipan puisi berikut melukiskannya.

 

dalam doamu, sahabatku!

Kulihat kupu-kupu akan hinggap

Ke kembang randu. oh, tuhanku!”

(Lagu Petani, halaman 95, bait 4)

 

atau

“…

nanti malam kamu bertanya kepada angin

kepada bintang

sayap-sayap doa yang cepat sampai”

(Kembang-Kembang Tanah Sumekar, hal 91-93, bait 7, larik 3-5)

atau

 

kembali doaku menembus lagu

butir-butir darah bangkir dari angin

…” (Di Bawah Layar, halaman 117-118, bait 3, larik 1-2)

 

Sebagai seorang yang beragama, orang Madura menganggal doa adalah mediator dalam berkeluh kesah, mengadu, meminta sesuatu, atau sekadar mencari perhatian Tuhan, seperti pada kutipan puisi berikut

 

“…

doa terbang mengetuk surga

…” (Senja yang Merah, halaman 109-110, bait 3, larik 3)

 

Sikap demikian bagian dari rasa keimanan seorang manusia, seperti iman kepada malaikat.

 

tiba-tiba seorang malaikat

mendekatinya dengan senyum yang ikhlas

dan memberinya selengkap sayap”

(Pahlawan dari Sampang, halaman 107-108, bait 2)

 

atau iman kepada nabi

 

“…

Dan di sorga kelak

Engkau bias menjadi bunga

Di samping para Nabi dan para saleh”

(Di Tengah Hamparan Sawah, halaman 118-123, bait 13, larik 15-17)

Kepercayaan yang begitu dalam dari seorang kacong (sebutan bagi laki-laki Madura) terhadap Tuhan juga digambarkan melalui kepercayaan mereka pada roh-roh, seperti kutipan berikut …

 

“Dengan keras kuteriakkan adzan dalam hati

agar pelupuk mataku bisa terbuka

melihat roh subuh yang sebenarnya”

(Pertemuan denga Pak Dirman, halaman 125-134, bait 45)

atau

 

“…

memacu roh agar aku tak jijik menyeka tanah

…”

(Dialog Bukit Kemboja, halaman 135-137, bait 14, larik 5)

 

Selain masalah pemaknaan setiap lariknya yang dikaitkan dengan masalah ketuhanan, ada hal menarik juga kita temukan dalam penulisan hurupnya. Dari sekian banyak puisi yang memuat kata “tuhan” dengan hurup awal ‘T’ yang ditulis kapital, ada dua puisi yang hurup awal ‘t’ pada kata “tuhan” ditulis dengan hurup kecil. Penulisan hurup semacam itu ditemukan pada puisi “Di Bawah Layar’ dan “Lagu Petani”.

Terlepas dari persoalan sengaja atau tidak menulis hurup ‘t’ pada kata “Tuhan” dengan dua versi tersebut, kita dapat menelaah hal tersebut dari hubungan bentuk hurup dengan makna kontekstualnya. Tampaknya, kata “tuhan” ditulis dengan hurup awal ‘t’ kecil kalau si aku lirik merasa bergitu dekat dengan sang pencipta tersebut dan ‘T’ ditulis kapital apabila si aku lirik sangat begitu kagum dan terbekap akan kebesaran dan kekuasaan Tuhannya.

* * *

Beberapa contoh kutipan puisi di atas memang bukan jaminan mutlak sebagai refresentasi keseharian orang Madura secara keseluruhan. Namun, melihat sosok penyair D. Zawawi Imron yang sejak kecil dekat dengan kehidupan pesantren, maka tidak heran kalau masalah-masalah ketuhanan menjadi bagian dari tema kehidupannya. Apalagi orang-orang di dusunnya lebih mengenal sosok D. Zawawi Imron sebagai Kiai yang sering berkhotbah di mesjid-mesjid, tinimbang seorang penyair yang menulis dan membacakan puisi-puisinya di berbagai forum.

Terlepas dari sejauh mana kapasitas iman orang Madura, D. Zawawi Imron memberikan gambaran bahwa suasana religiusitas telah terbangun melalui karya-karyanya yang juga merupakan lukisan kehidupa kesehariannya. Antologi “Bantalku Ombak Selimutku Angin” bukan sekadar dipenuhi oleh suasana budaya Madura, tetapi juga suasana religiusitas.

Sementara itu, gambaran bahwa orang Madura itu keras dan sebagainya adalah kewajaran kehidupan masyarakat yang tinggal di alam yang juga keras, seperti pantai, pasir, dan laut. Namun, rasa ketuhanan tetaplah sebagai suatu keharusan yang melekat pada seorang hamba di muka bumi ini, tidak terkecuali bagi orang Madura sekali pun.

Banjarmasin, 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s