“the poet knows everything and doesn’t know everything”

“the poet knows everything

and doesn’t know everything”

atau : Setelah Pesta Usai

(Surat Terbuka untuk Lilies M.S.)

Oleh : Zulfaisal Putera*

 

Lis, aku terharu menerima SMS-mu siang itu yang menanyakan kenapa aku tidak terlihat pada “Aruh Sastra IV” (AS-IV) di Amuntai, 14-16 Desember 2007 kemarin. Mungkin, aku pantas kecewa dengan diriku sendiri karena tidak bisa menghadiri kegiatan. Padahal, beberapa hari sebelumnya, aku sudah menghubungi saudaraku Hasbi Salim untuk memastikan hadir. Padahal, aku sudah menyiapkan mata dan telinga untuk menjadi saksi kesuksesan Hulu Sungai Utara menjadi tuan rumah hajat besar sastrawan banua ini. Padahal, aku sudah ingin sekali membuktikan bahwa aruh kali ini benar-benar mampu sebagai klimaks dari berbagai persoalan sastra dan budaya yang membahana selama ini.

Ketidakmampuanku untuk berhadir pada AS-IV sedikit terobati setelah Radar Banjarmasin edisi Sabtu (16/12) memuat dua dari tiga makalah yang dibicarakan pada kegiatan itu. Aku pun langsung melahap isi makalah Raji Akbar dan Hasbi Salim itu sembari membayangkan seakan-akan membacanya di tengah ruang diskusi sambil menyimak kedua pembicara itu membacakannya. Menurutku, kedua makalah itu telah mampu menghadirkan gambaran bagaimana iklim berkarya sastra di HSU.

Lis, ada perasaan bangga menyelinap karena dari tiga makalah itu, hanya satu yang ditulis oleh orang luar kabupaten, yaitu Kakanda Korrie Layun Rampan dari Kalimantan Timur. Amuntai betul-betul jadi tuan rumah yang membumi. Aku jadi teringat saat Banjarmasin (Kalimantan Selatan) jadi tuan rumah Kongres Cerpen Indonesia V (KCI V) yang berskala nasional akhir Oktober lalu. Dari sembilan orang pemakalah dan tiga instruktur workshop yang telah tampil hanya satu orang yang berasal dari tuan rumah, yaitu Jamal T. Suryanata(?).

Aku juga ‘himung’ dengan teman-teman di HSU karena seperti AS sebelumnya, AS-IV di Amuntai kali ini juga ada peluncuran buku Kumpulan Puisi dan Cerpen tuan rumah (sayangnya aku belum kebagian buku tersebut). Aku pun kembali teringat pada KCI V yang ternyata tak sempat meluncurkan satu pun buku karya urang banua. Padahal kegiatan itu merupakan peluang emas bagi daerah ini sebagai penyelenggara untuk menampilkan diri. Entah lupa atau sengaja dilupakan, tapi yang tampak adalah pemandangan yang sangat kontras.

Kita memang harus belajar dari hal-hal kecil untuk menjadi besar. Empat kali pelaksanaan AS, sejak Kandangan sampai Amuntai, sebenarnya dapat dijadikan pelajaran bagaimana seharusnya menjadi tuan rumah. Ada kebanggaan tersendiri jika kita mampu menampilkan siapa kita melalui karya-karya kita. Bahkan, para tamu dan undangan luar daerah yang hadir juga akan senang karena dapat menambah pengetahuan mereka tentang karya-karya tuan rumah. Semua sudah berlalu, tetapi tetap ada tanya di hatiku, dengan operator yang sama, kedua kegiatan tersebut ternyata punya nasib yang berbeda.

Lis, kembali ke soal AS-IV kemarin. Ada dua sahabat yang juga mengobati kecewa diriku yang tidak bisa berhadir ini. Kedua orang itu adalah Helwatin Najwa (HN) dan Sainul Hemawan (SH). Dua nama ini memang betul-betul mencuri perhatianku sepanjang tahun 2007 lalu. HN, ibu guru Bahasa Indonesia SMKN I Kotabaru ini mulai lantang menyuarakan karya sastra bumi saijaan melalui esai-esainya dan karya parasiswa anggota Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) binaannya. Sementara  SH, pendatang baru yang belum satu Pelita di banua ini sudah sanggup protes ke ‘atasan’nya sambil menantang untuk mundur dari organisasi yang merangkulnya.

Aku bertemu HN pada hari Rabu (19/12) di sebuah mal kota ini. Sambil menikmati segelas Capuccino, HN yang baru pulang dari AS-IV Amuntai itu bercerita banyak bagaimana kegiatan itu berlangsung. Uniknya, HN mengawali pembicaraan dengan kalimat “beruntung Kau Zul tidak hadir di Amuntai!”. Lalu HN pun menceritakan laporan pandangan matanya. Satu hal yang bisa kusampaikan soal istilah ‘beruntung’ itu adalah soal perdebatan di antara teman-teman di sana mengenai adanya sedikit ‘penyesalan’ akan ketidakhadiran dan dukungan langsung dari petinggi Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalsel terhadap dua agenda sastra terakhir ini.

Konon, jika aku hadir, aku pun akan ikut merasa berdosa karena telah terlibat dalam penentuan kepemimpinan organisasi itu, seperti yang – katanya – sempat dilontarkan oleh satu dua orang sastrawan senior saat kegiatan itu. Dan hal itu terbukti dalam tulisan Bapak Syarifuddin R. pada alinea terakhir catatannya di Radar Banjarmasin (23/12), yang ditujukan kepada Eko Suryadi W.S. dan Rock Syamsuri Sabri dengan kalimat  “… mudah-mudahan saatnya nanti kita tidak lagi menjadi orang yang merasa berdosa.” Aku ingat bahwa aku memang termasuk tim formatur waktu itu. Apa aku juga harus ikut merasa berdosa atas hasilnya?

Menyoal tentang susahnya meminta bantuan dari pihak pemerintah kabupaten / kota untuk membiayai sebuah kegiatan sastra juga dibeber habis oleh HN saat itu. Ibu guru cantik ini menguraikan bagaimana perjuangannya mencari dana untuk mendanai kegiatan SSSI-nya dan membawa siswa-siswa anggota sanggar mengikuti kegiatan sastra di luar Kotabaru, seperti Tadarus Puisi di Banjarbaru dan KCI V. Dia memaparkan fakta bagaimana harus ‘mengemis’ ke kantor bupati dan disbudpar setempat. Dengan agak nekat dan bulat tekad, sedikit dana bisa didapat walaupun sampai harus mengumpat. Dan ujung-ujungnya memang harus mengeluarkan tambahan dana dari kocek sendiri.

Lis, aku jadi teringat  cerita budayawan W.S. Rendra (WSR) kepada Media Indonesia (3/12/2004) yang mengeluhkan persoalan serupa. WSR mengatakan kebudayaan dan kesenian bisa menghidupi dirinya. Sebelum ada dunia pariwisata antarnegara, kebudayaan dan kesenian di nusantara sudah hidup dan menghidupi masyarakat. WSR mencontohkan bahwa kesenian di Bali telah hidup dan tetap akan hidup sekalipun tidak ada pariwisata. ”Yang menghidupi kesenian di Bali itu lembaga pura (rumah ibadat agama hindu), bukan pariwisata,” tegas penyair burung merak ini.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh budayawan Ayip Rosidi (AR) usai menerima penghargaan Profesor Teeuw di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Rabu (1/12) tiga tahun yang lalu. Menurut AR, sejak Republik Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945 sampai sekarang, pemerintah tidak peduli terhadap masalah kebudayaan. Kondisi itu menyebabkan sendi-sendi kehidupan bangsa rapuh dan mudah tergoyahkan. Pemerintah tidak pernah membuat program yang jelas tentang kebudayaan. Termasuk pemerintahan baru di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Buktinya, kebudayaan masih bergabung di pariwisata. Itu kan menunjukkan bahwa pemerintah menganggap kebudayaan adalah semata barang jualan saja. Negara kita ini memang parah, apa-apa dijual habis,” ujar AR

Lis, barangkali aku dan HN tidak akan sampai berani mengumpat setajam WSR dan AR, walaupun  kami meng’amin’i kedua pendapat tokoh sepuh itu. Namun, tidak berani bukan berarti pasrah menerima keadaan. Ada kesadaran yang muncul bahwa makhluk yang bernama sastra, atau yang lebih luas lagi kesenian dan kebudayaan, hanyalah sebuah benda abstrak. Untuk memanen hasil menanamnya, memerlukan waktu yang cukup lama dan kadang tak berbatas. Dan bagi pemerintah, lebih baik membangun jembatan, jalan, gedung, atau monument karena hasilnya cepat dan bisa dilihat.

Pun juga muncul kesadaran jika ternyata kebudayaan dibedakan dengan olahraga. Sekali pun sama-sama hasil cipta dan karsa manusia, tapi dunia olahraga dalam kacamata penguasa lebih menarik dan bisa dijual. Makanya jangan heran, jika untuk menghidupkan sepakbola melalui PSSI, dananya wajib disisihkan dari APBD tiap provinsi. Makanya jangan kaget, jika untuk mensukseskan POMNAS atau pecan-pekan olahraga yang lain, para pejabat pemerintah bahu membahu dengan pengusaha untuk mendanainya. Makanya jangan stress jika baliho kegiatan sastra jauh lebih kecil dari baliho kegiatan olahraga.

Selanjutnya jangan terpana bila para olahragawan yang berhasil mendapatkan medali dalam kompetisi nasional, apalagi internasional, dijanjikan oleh pemerintah akan diangkat menjadi pegawai negeri. Jangan iri dan jangan minta perlakuan yang sama untuk dijanjikan sebagai pegawai negeri jika seorang sastrawan, seniman, dan budayawan menjuarai lomba tingkat nasional, apalagi internasional. Diberitakan di media massa saja sudah untung, apalagi untuk mendapat kalungan bunga di bandara dan diliput wartawan infotainmen seperti para olahragawan, mungkin kita harus sabar menunggu giliran nanti di tahun ‘wau’.

Aku bukan sedang mengeluh, Lis! Aku tidak ingin seperti yang dilakukan oleh sahabatku satunya, SH. Dengan gagah perkasa – untuk kegagahannya ini aku memang salut – SH melagukan ‘Kecamuk Perasaannya’ pasca KCI V, seperti yang dimuat Radar Banjarmasin (18/11/2007). Aku berterimakasih atas kemampuan SH mengutarakan kekecewaannya terhadap petinggi banua ini yang dianggapnya tidak peduli dengan agenda budaya yang baru didandaninya. tapi aku menganggap itu hanya sebuah nostalgia manis. Makanya ketika malamnya rekan Ali Syamsuddin Arsy melalui SMS minta komentar padaku atas tulisan SH itu, aku cukup menjawab “Sainul sedang berziarah!”

            Aku sudah menduga bahwa tulisan SH itu akan mendapat reaksi, baik mendukung atau menuding si penulis. Duga itu ternyata benar karena setelah itu halaman Cakrawala Sastra dan Budaya Radar Banjarmasin ramai diisi oleh tulisan yang ikut memberi catatan yang sama. SH pun katanya juga menerima banyak SMS reaksi. Ketika salah satu SMS dari nomor yang tidak dikenal masuk ke hp SH yang isinya bernada kecewa atas keluhan SH tersebut dan diforward ke-hp aku, maka aku pun cukup membalas SMS SH dengan kata-kata “Selamat menuai badai!” Aku masih ingat balasan balik SH padaku: “Sialan. Kau!”

Sekali pun dengan nada bercanda, pada suatu siang Minggu (23/12) ketika SH bertandang ke rumahku, aku jelaskan mengapa aku menyatakan bahwa SH sedang berziarah. Ziarah adalah kegiatan menjenguk kembali tempat-tempat keramat, semacam masjid atau makam, yang dianggap punya arti penting sepanjang masa. Apa yang dikeluhkan oleh SH melalui tulisannya itu sebenarnya sudah pernah dan sering dikeluhkan oleh para sastrawan dan budayawan pada tahun 80 dan 90-an. Tengoklah tulisan-tulisan yang mendampingi rubrik ‘Dahaga’ BPost dan ‘Lengking’ Dinamika Berita pada tahun-tahun tersebut. Bertebaran tulisan yang berisi kekecewaan.

Jadi, masalah ketidakpedulian pemerintah terhadap sastra, kebudayaan dan kesenian itu sudah ada sejak zaman dulu. Ibarat makhluk, masalah semacam itu sudah menjadi mummi. Entah kapan akan mencair. Namun, tiap orang boleh menziarahi jika mau, tak terkecuali SH. Mendegar celotehku itu SH senyum-senyum saja. Aku sangat mengerti karena bagi SH bukanlah penting masalah yang dikeluhkannya itu mendapat perhatian pihak yang ditembak, tapi sangat penting jika menjadi polemik dan banyak mendapat tanggapan dalam bentuk tulisan. Maka, jika tulisan-tulisan itu dikumpul akan jadi sebuah buku. Dan sebagai editor yang baik, SH akan mendapat angka kredit dari buku itu jika terwujud.

Lis, aku yakin SH tidak sewot baca tengaraiku di atas karena sesungguhnya sebagai seorang akademisi akan berpikir logis dan terurai serta jauh dari sikap emosional. Sikap demikian juga seharusnya kita bawa dalam menghadapi sebuah masalah yang sangat sensitif, terutama yang menyangkut kebijakan pihak penguasa. Tidak semua pejabat suka dikritik melalui media massa, bahkan kritik dengan bahasa yang halus sekali pun. Untuk menyelesaikan masalah ketidakpedulian petinggi dewan kesenian di daerah ini perlu dilihat juga faktor-faktor yang melatarinya. Lebih manis jika dilakukan pendekatan persuasif persis ketika kita melakukan pendekatan untuk meminta kesediaan yang bersangkutan memangku jabatan tersebut.

Namun, semua itu adalah sekadar pendapatku. kok Lis! Aku mencoba memahami dan menjalankan apa yang aku pikirkan dan bicarakan. Aku tidak ingin mengalami nasib seperti cemooh yang ditimpakan kepada sebagian besar para penyair karena sering tidak memahami kata-katanya sendiri. Lis mungkin ingat T.S. Eliot pernah menyindir bahwa “the poet knows everything and doesn’t know everything” (seorang penyair itu mengetahui segala sesuatu sekaligus tidak mengetahui segala sesuatu). Semoga tahun 2008 dan seterusnya, kita makin dihargai karena karya-karya kita. Bukan karena omongan kita! Tabik!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s