Upaya Menanam Pohon Jati

Upaya Menanam Pohon Jati

Menyambut Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI)

Oleh : Zulfaisal Putera*

 

Majalah sastra Horison Jakarta kembali berbuat sesuatu bagi masyarakat sastra di daerah, khususnya bagi para pelajar. Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) di sekolah-sekolah beberapa kota dan kabupaten di Indonesia sepanjang tahun-tahun yang lewat, kali ini Horison memberikan kepercayaan kembali kepada daerah untuk membentuk dan mengelola sebuah sanggar sastra. Sanggar tersebut diberi nama Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI).

Sebelum tahun 2005, Horison telah mendirikan SSSI di 10 kota dan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Bahkan, ada beberapa anggota sanggar yang kemudian memiliki prestasi sastra di tingkat nasional, tercatat menjadi penulis-penulis di media massa atau menjadi penulis buku. Sepuluh sanggar yang telah eksis tersebut adalah: (1) SSSI Serang, Banten, (2) SSSI Cianjur, Jabar, (3) SSSI Yogyakarta, DIY, (4) SSSI Semarang, Jateng, (5) SSSI Gresik, Jatim, (6) SSSI Sumenep, Jatim, (7) SSSI Tabanan, Bali, (8) SSSI Padang, Sumbar, (9) SSSI Palembang, Sumsel, dan (10) SSS Kendari, Sulteng.

 

Sanggar bukan sangkar

Penggunaan istilah ‘sanggar’ pada sastra mengingatkan kita pada penggunaan istilah yang sama pada kegiatan seni yang lain. Ada sanggar lukis, sanggar tari, sanggar teater, dan sebagainya. Istilah sanggar memang identik dengan dunia seni. Hanya satu lembaga di luar seni yang memakai kata itu, yaitu sanggar pramuka.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada dua pengertian ‘sanggar’. Salah satunya adalah “tempat untuk kegiatan seni (tari, lukis, dsb)”. Kalau dipadukan dengan kata ‘sastra’, maka terbayanglah sebuah tempat untuk melakukan kegiatan seni sastra. Kalau sanggar tari hanya mengurusi masalah tari atau sanggar lukis hanya untuk lukis, sesungguhnya sanggar sastra lebih kompleks lagi. Sebuah sanggar sastra mengurusi banyak hal yang merupakan variannya, seperti puisi, prosa, teater, dan menulis kreatif.

Mendirikan sebuah sanggar sastra tentu boleh dibilang sukar – mudah. Apalagi pendirian itu disertai tujuan-tujuan yang ideal. Dalam suratnya, Taufik Ismail, selaku Redaktur Senior Majalah Sastra Horison menyebutkan bahwa tujuan pendirian SSSI adalah meningkatkan:

  • 1. motivasi cinta membaca buku;

  • 2. pelatihan menulis, serta disain grafis untuk menambah keterampilan dalam bidang penerbitan;

  • 3. apresiasi sastra lewat kerjasama dengan sastrawan-sastrawan daerah; dan

  • 4. interaksi sesama anggota untuk menumbuhkan ide-ide kemandirian, yang dibina oleh instruktur yang telah ditetapkan.

Adapun bentuk kegiatan sanggar yang dianjurkan oleh pihak Horison, antara lain :

  • 1. bimbingan membaca buku;

  • 2. bimbingan menulis karangan;

  • 3. diskusi, baca puisi / cerpen, musikalisasi puisi.

Mencermati tujuan dan bentuk kegiatan yang ditawarkan di atas dapat dibayangkan ke arah mana SSSI akan dibawa. Sebagai sebuah sanggar yang pengelolaannya diserahkan ke sekolah tentu sangat memerlukan banyak konsentrasi dan kerja keras. Apalagi dengan varian sastra yang baragam, diperlukan juga profesionalisme dalam pengelolaan.

Ada banyak pemikiran yang muncul bagaimana ‘memelihara’ SSSI yang sebentar lagi akan dilahirkan ini. Pemikiran tersebut antara lain bagaimana agar SSSI ini benar-benar menjadi wadah penggodokan para siswa yang mempunyai minat dan motivasi dalam bidang sastra dan kepenulisan. Bagaimana agar SSSI adalah tempat ‘mangandung’ calon-calon sastrawan dan penulis masa depan. Dan yang lebih jauh lagi, bagaimana agar SSSI dapat melahirkan para sastrawan dan penulis tersebut dengan normal, tanpa melalui ‘sesar’.

Seperti diketahui bersama, dalam era serba ‘instan’ ini, sudah sangat jarang orang berminat untuk menekuni dunia baca dan tulis. Apalagi dalam kehidupan kota, kecendrungan masyarakat adalah lebih memuliakan dunia pandang dan dengar. Untuk menjadi ‘sesuatu’ cenderung ditempuh dengan jalan tol dan menomorduakan proses. Tak banyak yang mau bersusah-susah untuk melakukan mulai dari nol dan kemudian mencapai angka sampai seratus dan seterusnya. Hanya sedikit yang benar-benar ‘beriman’ memulainya dengan belajar.

Mengorganisasi siswa, walau dalam tataran sebagai orang terpelajar, masih dihadapkan pada tantangan lain. Meratanya penguasaan iptek dan teknologi yang menempel dalam kesehariannya membuat sebagian besar pelajar sekarang jauh dari upaya kerja keras untuk mewujudkannya. Dunia dapat dibuka sekaligus ditelannya dengan hanya menjentikkan satu jari pada papan panel komputer dan telepon genggamnya. Alih-alih mau membuka buku halaman demi halaman.

Menyadari kondisi dunia semacam ini maka mendirikan sanggar sastra yang kegiatan utamanya adalah membaca dan menulis tentu sebuah tantangan yang menjanjikan. Apalagi untuk mengakrabkan makhluk yang bernama ‘sastra’. Memancing, mengajak, dan membuat para siswa ‘jatuh hati’ dengan sastra dan kepenulisan memerlukan sebuah siasat yang jitu bagi pengelola sanggar. Diperlukan suatu racikan menu yang betul-betul mampu membuat para anggota sanggar seperti berada dalam dunia nyatanya sehari-hari, yaitu memindah nuansa remaja yang serba ‘gaul’ dalam kegiatan sanggar. Membuat anggota merasa ‘bebas’ dalam sanggar dan bukan seperti mengurung mereka dalam sangka

 

Sanggar yang segar

SMA Negeri 2 Banjarmasin sebagai sekolah yang beruntung mendapat ‘beban’ untuk mendirikan dan menjadi basecamp SSSI untuk wilayah Banjarmasin dan sekitarnya ini sudah menyiapkan jiwa dan raga. Secara organisasi, SSSI sudah terbentuk dan diresmikan oleh Walikota Banjarmasin, Selasa, 24 Januari 2006 lalu. Sarana dan prasarananya sudah pula disiapkan. Sebuah ruangan yang refresentatif, sebuah lemari tempat buku-buku sastra, sebuah komputer yang lengkap dengan pencetak dan pemindainya untuk menunjang administrasi dan pengarsipan, serta sejumlah alat dan bahan tulis.

Sebuah konsep wajah SSSI versi SMA Negeri 2 pun sudah pula dibuat cetak birunya. Sanggar ini nanti akan membawahi empat bidang: (1) bidang pelatihan; (2) bidang penerbitan; (3) bidang perpustakaan dan pengarsipan; dan (4) bidang pameran dan pergelaran. Sementara keanggotaan sanggar pun bersifat terbuka, yaitu pelajar semua tingkatan (dari sekolah dasar sampai tingkat atas) serta anak putus sekolah usia sekolah yang (diutamakan) berdomisili di kota Banjarmasin.

Melihat banyaknya bidang yang akan menjadi ‘ladang’ garapan pengelola sanggar tentu memerlukan banyak ‘tangan-tangan terampil’ untuk mencangkulnya. Komunikasi dan diskusi-diskusi kepada sesama rekan kerja, baik guru, sastrawan, wartawan, dan hartawan terus intensif dilakukan. Yang diperlukan adalah bukan sekadar kerjasama saling menguntungkan – karena ada reward dan tetek bengeknya, tapi kemauan dan keihklasan berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk adik asuh yang terlanjur punya harapan besar.

Langkah awal telah dimulai. Usai diresmikan, kegiatan langsung dirangkaikan dengan pelatihan awal serta pameran dan pergelaran apresiasi selama 2 hari. Selain sdr. Agus R. Sarjono dari Horison Jakarta, ada banyak kawan yang terlibat di pelatihan awal, sejumlah penulis dan praktisi bidang sastra, yaitu Ersis Warmansyah Abbas, untuk menulis kreatif; Jamal T. Suryanata, untuk menulis prosa; Ali Syamsudin Arsi, untuk menulis puisi; dan M. Syahriel M. Noor, untuk teater .

Yang lebih menyanjungkan adalah turun gunungnya para sepuh seni benua ini yang mau meluangkan waktu menemui para siswa. Beliau adalah Bp. Anang Ardiansyah, yang akan mengenalkan lagu Banjar, serta Bapak Norman S. Dan Ulie S. Sebastian yang akan mengenalkan bagaimana melukis. Terlepas dari kedua materi itu bukan persoalan sastra, tapi paling tidak ada geliat awal yang bagus bahwa sanggar ini benar-benar segar.

 

Penerbitan dan pengorbitan

Salah satu bidang yang tidak kalah pentingnya dalam kegiatan SSSI Banjarmasin adalah bidang penerbitan. Hal yang tentu membanggakan bagi seluruh orang yang menyukai dunia kepenulisan adalah kalau hasil karyanya bisa diterbitkan, baik di media massa maupun dalam buku-buku tersendiri. Apalagi kalau media yang menerbitkan karyanya itu diedarkan secara luas, minimal dalam kota tinggalnya, maksimal secara nasional. Bisa dibayangkan bagaimana semaraknya sanggar kalau karya anggota-anggotanya bisa diterbitkan.

Menyaksikan bagaimana SSSI yang sudah eksis dengan penerbitannya, seperti SSSI Tabanan dan Serang, ditambah dengan pengalaman siswa-siswa SMA Negeri 2 dalam mengelola Koran Jendela Radarschool (tanggal 1 Maret ini berumur setahun jagung), maka ada nada optimisme yang bisa dilantunkan. Apalagi sudah ada penerbit (yang baru berdiri belum sebulan ini) yang bersedia ‘berkorban’ akan menerbitkan hasil-hasil karya anggota SSSI Banjarmasin dalam bentuk bulletin ukuran majalah. Tentu hal ini sebuah angin sorga sekaligus tali pecut yang memacu semangat pengelola.

Kalau semua ‘khayalan tingkat tinggi’ ini terwujud tentu SSSI Banjarmasin akan punya prospek yang lebih menjanjikan. Tidak sekadar wadah kumpul-kumpul pelajar untuk mengisi waktu luang. Namun, semacam rahim tempat bertemunya pembaca dan penulis bertemu. Kelak, sanggar ini akan mampu melahirkan karya dan penulis besar yang mengorbit di masa depan. Tentu pada saatnya nanti, sastrawan-sastrawan yang berjaya sekarang akan masuk kandang dan berharap ada generasi yang menggantikannya. Sanggar inilah salah satunya yang akan membidaninya.

 

Dana dan daya

Yang paling akhir dibicarakan adalah vitamin yang akan menjadi darah dari SSSI ini, yaitu dana. Banyak orang mengganggap bahwa masalah dana justru adalah yang tersulit dicapai dari sekian rencana. Pengelola SSSI tetap menganggap hal ini penting dan akan terus berusaha untuk menggalinya dari berbagai sumber. Pengelola sanggar apa pun dan siapa pun harus optimis dalam hal ini.

Majalah sastra Horison sebagai biang semua ini memang telah berjanji akan mensubsidi kegiatan selama setahun. Namun, bukan berarti setelah itu lantas mati. Sekarang pun ada beberapa pihak yang menyatakan akan membantu, terutama pemerintah kota / propinsi dan pihak ketiga lainnya. Persoalannya sekarang adalah bukan bagaimana sulitnya mencari dana, tapi bagaimana berbuat sesuatu agar orang-orang yang dirahmati Allah itu dengan senang hati ikut mendanai kegiatan sanggar.

Langkah yang harus dilakukan oleh sebuah sanggar semacam SSSI ini adalah menunjukkan eksistensi dan hasil karyanya. Sehingga kebanggaan akan ‘hasil’ keluaran sanggar ini akan menjadi ‘hasil’ masukan dalam bentuk apa pun, termasuk dana. Banyak contoh daerah yang SSSI-nya eksis tetap berdiri dan berkarya sampai sekarang karena antara lain didukung oleh sumber dana dan sumber daya yang optimal. Kita bersangka baik saja dengan pemerintah kota dan pemerintan propinsi.

Memang, hasil dari pembinaan di SSSI ini tidak bisa begitu saja terlihat. Seperti menanam pohon jati, seperti itulah gerak langkahnya. Empat, lima tahun ke depan baru memetik buahnya. Apa pun persoalan yang menghantui bangsa ini, sastra tetaplah harus dipelihara. Apa pun yang sedang dihadapi oleh para generasi (baca: pelajar) kita, membaca dan menulis tetaplah harus diakrabkan dengan mereka. Sekarang, apa yang bisa Anda perbuat untuk SSSI?

*Penanggung jawab SSSI, guru SMA 2 Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s