Jukung

Cerpen : Zulfaisal Putera

JukungSubuh belum lagi luruh. Angin sisa malam masih belum pulang. Dingin masih memeluk kulit. Cahaya-cahaya dari lampu yang menerang gelap masih memancar di balik hunian penduduk sepanjang tepian. Lamat-lamat, suara wirid masih terdengar dari menara-menara langgar[1]. Tak ada gerak, tak ada geliat. Kecuali segelintir orang yang terbiasa memulai hidup sejenak sesaat subuh menyergap.

Perempuan tua itu masih duduk tertunduk di tepi batang. Badan ringkihnya menekuk. Balutan usia yang sudah mulai lanjut tampak membungkus tubuhnya. Matanya redup. Kerudung yang melingkari kepala menambah remang rona wajahnya. Sebagian ujung kakinya menjuntai menyentuh permukaan sungai. Tangannya masih memegang bibir jukung.

Sejak tadi, seusai shalat subuh, setelah segala keperluan sudah disiapkan, ketika sudah mengulur jukung dari samping lanting[2] dan siap berangkat, perempuan tua itu tak menemukan kayuh yang biasanya tergeletak begitu saja di dalam jukung. Padahal tanpa kayuh itu, dia tak mungkin menjalankan jukung ini. Sementara itu, cahaya kemerahan sudah mulai mengintip di ufuk.

Perempuan tua itu tak tahu harus ke mana lagi mencari kayuh itu. Dia sudah mencari ke segala tempat di sekitar lantingnya. Barangkali mengapung di samping jukungnya bertambat karena terjatuh. Mungkin tergantung di dinding lantingnya, seperti biasa dia menggantung tanggui[3] penutup kepala. Atau tak sengaja  terbawa masuk ke dalam lanting dan menumpuk di sudut dapur bersamaan ketika dia meletakkan peralatan makan dan minum. Kayuh itu tak juga ditemukan.

Perempuan tua itu tak ingin membangunkan orang rumah hanya sekadar menanyakan itu. Dia tahu,  anak, menantu, dan dua cucunya pastilah masih tidur lelap. Apalagi mereka tinggal di rumah sendiri yang berdiri di tepi sungai bersisian dengan lantingnya. Jika perempuan tua itu ingin, dia tinggal meniti kayu lebar titian penghubung ke pelataran rumah dan mengetuk pintunya. Namun, dia tidak melakukannya. Perempuan tua itu terbiasa mengatasi masalahnya sendiri.

Seperti subuh ini, seperti saat ini, perempuan tua itu seharusnya sudah menuju tengah sungai Barito. bergabung bersama puluhan jukung yang lain. Memusat dan menambat pada jukung tiung[4] atau klotok-klotok[5] besar. Memilih, menawar, dan memindahkan barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari ke jukung masing-masing untuk dijual kembali. Dan perempuan tua itu biasanya membeli sayur mayur dan ikan dari perahu besar itu. Selanjutnya, dia menuju sungai-sungai kecil untuk menjajakan kembali sayur dan ikan itu.

Perempuan tua itu tak tahu lagi harus berbuat apa. Tak mungkin dia melarutkan jukungnya tanpa pengayuh. Apakah aku hari ini tidak menarik[6], tanyanya dalam hati. Kelopak matanya yang berkerut membuka. Matanya memicing melempar pandang jauh ke muara sungai. Kerlap-kerlip cahaya dari lentera yang dimainkan angin menggaris di kejauhan. Bergerak seiring perahu-perahu yang menggulir di permukaan air. Teman-temanku sudah mulai jalan, bisiknya. Mata perempuan tua itu kembali redup.

 ***

Pian[7], tidak jualankah, Ma?”

Seorang perempuan muda menyela lamun perempuan tua itu.

Tangan kanannya mengendong seorang anak lelaki kecil dan tangan kirinya menggandeng seorang lagi, anak perempuan yang sudah mulai tumbuh besar,

“Sini, Cu!” sapa perempuan tua itu sambil menyorongkan kedua tangannya pada anak kecil dalam gendongan.

“Mama sakit?’ kembali perempuan muda itu menanyakan kepada perempuan tua itu sambil menyerahkan anak dalam gendongannya.

“Kayuhku hilang!” jawab perempuan muda itu.

“Hilang? Lupa meletakkan mungkin, Ma?”

“Tidak. Aku tidak pernah lupa meletakkannya”.

“Sudah pian carilah?”

Perempuan muda itu melepas baju anaknya. Menjongkokkan tubuh anaknya dan menyiramkan air ke badannya,

Beginilah rutinitas setiap pagi tiba di sepanjang sungai itu. Para penghuni tepian memenuhi batang-batang[8] dan lanting untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Batang-batang itu saling bersisian dengan jarak dua tiga buah rumah dan saling berseberangan dengan dipisahkan sungai yang membelah. Di atasnyalah semua aktivitas pagi warga dilakukan. Ada yang mandi, berenang, mencuci pakaian, buang hajat di jamban, bahkan sekadar duduk sambil menghirup udara segar pagi,

Seperti yang dilakukan perempuan muda itu, memandikan anak-anaknya sebelum dia mandi untuk dirinya sendiri.

“Kenapa tidak minta bantuan kakak? Siapa tahu, sidin[9] bisa mencarikan,” kata perempuan muda itu sambil menggosok badan anaknya dengan sabun.

“Nanti, bila sidin bangun ulun[10] kisahkan!”

“Tidak usah, Anang tidak usah tahu! Aku malas minta bantuan inya[11]. Nanti aku malah disalahkan!”  kata perempuan tua itu sambil menimang-nimang anak kecil dalam gendongannya.

Sidinkan anak pian. Masa menyalahkan pian. Sidin harus tahu. Siapa tahu bisa mencarikan kayuh Pian. Kasian Pian, malah jadi tidak bisa berjualan pagi ini.”

“Rul, pejamkan mata! Ayo!” perintah perempuan muda itu sambil mengusapkan cairan sabun ke wajah anaknya.

Perempuan tua itu tak menjawab. Dia turunkan anak dalam gendongannya. Mendudukkannya di lantai lanting sambil melepas baju anak itu. Anak itu tampak gembira. Sambil melihat kakaknya yang sedang dimandikan ibunya, anak kecil itu memain-mainkan ember kecil berisi air di hadapannya.

“Ayo, sayang, sini nini mandikan dulu, ya!’

Perempuan tua itu mengambil handuk kecil. Merendam sebentar ke air dalam ember. Memerahnya dan kemudian mengusapkannya pada tubuh anak itu. Anak itu menggigil sejenak ketika disentuh dinginnya air. Matanya nyala memandang perempuan tua yang tengah memandikannya. Sementara itu,  matahari sudah mulai mengintip. Suara gemericik air yang disiramkan beradu dengan suara perahu dan klotok yang mulai hilir mudik memulai hidup. 

“Biarlah, Ma, anggap saja pian istirahat jualan hari ini,” perempuan muda itu mencoba mendinginkan suasana.

“Kalau tidak, pian tidak bisa ikut memandikan cucu!” kata perempuan muda itu lagi sambil menyungging senyum.

Kedua anak menantu itu akhirnya larut dengan keasyikkannya masing-masing. Saling memandikan anak-anak itu.

 ***

 Seorang lelaki sedang duduk menghadap jendela. Badannya gempal tak berbaju. Mata dan wajahnya kucel. Lelaki itu seperti baru bangun tidur. Sudut bibirnya memain-mainkan sebatang rokok. Asap yang mengepul dari ujung batang rokoknya mengabur di sela-sela rambutnya yang kusut. Mata lepas memandang keramaian di batang dan sungai.

“Bah, Abah …!”

Seorang anak perempuan kecil, berbalut handuk, berlari mendekat.

“Ee …, Nurul sayang! Anak abah. Sini, Nak!”

Lelaki itu melepas rokok dari tangannya dan meletakkannya di bibir jendela.

Upph, harumnya anak abah!” kata lelaki itu sambil memeluk anaknya dan menempelkan hidungnya ke pipinya.

Ading mana?”

“Sama mama. Tuh!” sahut anak itu sambil menunjuk ke depan pintu.

Anak kecil yang ditunjuk itu memberi reaksi dan berusaha melonjak dari gendongan ibunya.

“Uji sudah mandi, Sayang!” kata lelaki itu sembari memegang tangan anaknya yang menjulur ke arahnya.

“Nininya yang memandikan Uji tadi,” kata perempuan muda itu kepada suaminya.

“Nini? Mama, maksudmu?”

“Iya!”

“Mama tidak jualan hari ini. Sidin kehilangan pengayuh jukungnya,” lanjut istrinya menjelaskan.

“Di mana sidin meletakkan?”

“Di tempat biasa. Katanya sidin sudah mencari, tapi tak ketemu. Pian tolong pang[12] carikan! Kasian, sidin.”

“Iya, nanti!”

“Sekarang saja, Kak. Tampulu[13] pian belum berangkat kerja.”

Lelaki itu tak bergeming dari kursinya. Tangannya kembali meraih rokok yang sudah terbakar separunya. Diisapnya dalam-dalam dan diembuskannya asapnya.

“Kak …,” perempuan muda itu kembali mengingatkan suaminya.

“Biar sajalah dulu, biar mama beristirahat dulu berjualan hari ini!” kata lelaki itu kalem.

“Kalau pian tidak cari sekarang, apa nanti harus menunggu malam saat pian pulang kerja. Kasian mama. Esok subuh sidin pasti memerlukan kayuh itu,” pinta perempuan muda itu dengan menghiba.

“Biar sajalah!” suara lelaki itu mulai meninggi.

“Biarkan mama beristirahat! Aku lebih suka mama tidak jualan keliling pakai perahu lagi. Mama itu sudah tua, Ding[14], ai!”

Lelaki itu kembali mengisap rokoknya yang tinggal beberapa senti lagi itu. Secepat itu diisapnya, secepat itu pula diembuskannya asapnya. Sekali lagi diisapnya, diembusnya, sejenak kemudian rokok itu dilemparnya keluar jendela.

Melihat gelagat suaminya seperti itu, perempuan  muda itu pun langsung meraih kedua anaknya, menuntun tangannya, dan bergegas membawanya ke kamar.

Pikirannya langsung melayang, teringat kejadian tadi malam saat suaminya bertengkar hebat dengan ibunya mengenai masalah itu.

 ***

 “Mama tidak usah jualan keliling pakai jukung lagi!”

Begitu kata suamiku memulai pembicaraan dengan ibunya.

“Mama kan sudah tua. Sudah enam puluh tahun. Sudah saatnya pian di rumah saja.”

“Mama tidak bisa, Nang!” sahut ibu ketika itu.

“Mamakan perlu cari nafkah untuk hidup,” kata ibu melanjutkan.

“Mama cari nafkah buat siapa?”

“Ya, buatku sendiri. Buat cucu-cucuku.”

“Mama tidak usah cari uang lagi. Tidak usah ada alasan buat cucu segala!” tangkis suamiku.

“Biar ulun saja yang cari nafkah, Ma! Gaji ulun di perusahaan cukup saja untuk membiayai seisi rumah ini. Untuk pian juga!”

“Sombong!” sahut mama ketus, “Ikam itu sejak dalam perut sampai besar aku beri makan dari jualan keliling pakai jukung!”

“Bukan sombong, Ma! Justru ulun ingin membaktikan diri ulun sepenuhnya kepada pian. Sudah saatnya pian menikmati hari tua pian dengan santai.”

“Apa ikam anggap mama sudah uzur? Mama masih sanggup mengayuh jukung untuk berjualan, Nang! Tidak usah ikam[15] larang!”

“Percaya, Ma! Percaya ulun, pian masih kuat mengayuh. Tapi kalau ada apa-apa di jalan. Sakit garing[16]? Siapa yang menolong? Kasian, Pian!”

Ikam mendoakan mama sakitkah? Baguslah!”

“Bukan! Bukan mendoakan, Ma! Justru ulun tidak ingin pian sakit. Baik pian istirahat di rumah. Banyak yang pian kerjakan.”

“Bekerja bagi mama adalah mengayuh jukung berjualan. Lalu, kenapa mama mesti dilarang?”

“Ma, tolong dipahami! Ulun, bini[17] ulun, cucu-cucu pian, ingin sekali melihat pian santai menikmati hari tua pian!”

“Tidak! Mama tidak akan berhenti jualan!”

“Ma, tolong, Ma! Apa nanti kata orang, tuh lihat si Anang, pekerjaan sudah mapan, kuitan[18] masih dibiarkan mengayuh jukung!”

“Biar saja kata orang!”

“Kalau ada apa-apa dengan Pian, nanti ulun yang disalahkan orang karena membiarkan Pian!”

“Sudah-sudah! Mama tidak mau diatur. Mama mau tidur. Esok mama tetap mau jualan!” tukas ibu sambil beranjak menuju pintu.

“Ma …!” sapa suamiku setengah teriak.

“Sudahlah, Kak! Mama jangan dikerasi,” kataku ketika itu mencoba mendamaikan hati suamiku.

Suamiku tidak menyahut. Sejenak matanya mendelik. Dijemputnya bungkus rokok dari kantongnya. Diambilnya sebilah dan dinyalakannya.

Malam mulai kelam. Tak ada suara apa-apa lagi kecuali desis api yang merambat batang rokok ketika diisap oleh suamiku.

Aku pun menyimpun diri.

 ***

 Pagi kembali lagi. Cahaya mentari sudah menyibak hari. Masuk di sela-sela kusen. Menerobos ke dinding rumah, ke ruang kamar, dan ke dalam kelambu.

Terobosan cahaya itu menyilaukan seorang lelaki yang sedang berbaring. Matanya mengerjap-ngerjap. Bergegas dia bangun dan turun dari ranjang.

Digulungnya kain sarungnya yang melorot, kemudian sisiran rambut di depan cermin. Diraihnya sebungkus rokok di atas meja. Diambilnya satu batang dan dinyalakannya. Selanjutnya, seperti biasa, sambil mengisap dalam rokok, lelaki itu menuju kursi di dekat jendela.

Dari bingkai jendela dilihatnya istri dan anak-anaknya sedang mandi di pelataran lanting ibunya. Sementara di sekitarnya juga ramai oleh orang-orang yang membersihkan diri dari kotor semalam. Mata lelaki itu terus berjalan mengitari apa pun pemandangan di depannya. Sejurus matanya berhenti di samping lanting. Di tempat itu biasanya ibunya memarkir jukungnya.

Pagi-pagi jam seperti ini biasanya jukung itu memang tidak ada di tempat itu karena sedang dipakai ibunya. Jukung itu kembali menambat di situ sejak siang sepulang ibunya dari jualan di pasar terapung sampai subuh esoknya lagi. Pagi kemarin, jukung itu masih menambat di situ karena ibunya tak menarik setelah tak menemukan kayuhnya. Namun, lelaki itu jadi agak terkejut karena pagi itu kembali jukung itu tak terlihat seperti biasanya. Apakah ibunya kembali menarik untuk jualan?

“Ding, jukung mana?” tanya lelaki itu segera setelah menyusul istrinya ke pelataran lanting.

“Dipakai mama,” sahut istrinya sambil melilit rambutnya yang basah dengan handuk.

Sementara kedua anaknya yang sudah dimandikannya terlebih dahulu sedang duduk manis di depan dinding lanting neneknya.

“Mama menarik lagi?” kembali lelaki itu bertanya.

Inggih!”

“Sudah ketemu pengayuhnya?” tanya lelaki itu penuh keingintahuan.

“Lho, bukannya Pian yang mencarikan? Sudah Pian temukan?”

“Belum! Aku belum mencari!”

“Berarti sidin sudah menemukan sendiri kayuhnya,” ujar istrinya mencoba menyelesaikan keingintahuan dari lelaki itu.

“Mungkin ….”

Lelaki itu tampak seperti orang kebingungan. Dia tidak tahu apakah kayuh itu berhasil ditemukan ibunya sehingga perahu itu bisa dijalankan lagi seperti biasa.

Lelaki itu hanya berpikir bahwa ibunya tetap mengayuh jukungnya, tetap berjualan. Ibunya tak mau memahami apa yang dia inginkan sebagai anak, sekali pun tujuannya baik.

“Kita doakan saja semoga mama selamat berjualan!”

Perempuan muda itu pun berdiri. Kembali dia gendong anak terkecilnya dan menuntun jalan anak keduanya. Sejenak perempuan muda dan kedua anaknya itu menyusuri titian menuju teras rumahnya. Sementara lelaki itu tetap terpaku berdiri di pelataran lanting. Sekali ini matanya tak jelas memandang apa. Yang terlihat adalah sosok tubuhnya yang hanya mengenakan sarung dan tak berbaju. Tak jelas terbaca, apakah dia lagi bingung atau lagi kesal.

“Sudahlah, Kak! Kita tunggu saja nanti mama pulang,” teriak perempuan muda itu kepada suaminya dari pintu rumah.

 ***

Menjelang siang, matahari sudah mulai berjarak dengan bumi. Permukaan sungai sudah mulai memantul cahaya perak. Sementara, berserak perahu dan orang-orang yang melintas di atasnya.

Sebuah jukung mengalur pelan. Seorang perempuan tua berbadan ringkih duduk di pangkalnya. Kepalanya tertutup tanggui. Hanya ada bayangan redup di wajahnya. Di badan jukung masih terlihat sedikit sisa sayur dan beberapa kantong plastik yang ada isinya.

Perempuan tua itu merapatkan jukung ke lantingnya. Pelan-pelan dia menempatkan tubuh jukungnya masuk ke palung di sisi lanting agar pas. Setelah merasa pas, perempuan itu pun berdiri dan melangkahkan kaki mendaki pelataran lanting sambil menarik tali jukung. Dikalungkannya ujung tali pada sebatang tongkat yang menancap di sisi lantingnya. Tanggui dilepasnya dan dikaitkan ujungnya pada dinding lanting. Sejurus kemudian, dia pun mengambil satu persatu barang yang berada di jukungnya.

Sementara itu, dari balik jendela yang tak jauh jaraknya, sepasang mata memperhatikan gerakan perempuan itu. Itulah sepasang mata perempuan muda, sang menantu. Sejak mertuanya merapatkan jukungnya ke sisi lanting, tak berkedip matanya menyaksikan. Matanya setengah menyelidik. Namun, dia ternyata tak juga melihat pengayuh itu pada pegangan tangan mertuanya. Dengan apa mama mengayuh jukungnya, tanyanya di benak.

“Ma …!” sapa perempuan muda itu kepada mertuanya setelah turun ke lanting.

“Eh, Mariati. Mana cucu-cucuku? Ini mama ada bawakan kue untuk mereka,” kata perempuan tua itu sambil menyerahkan sebuah kantong plastik.

“Uji lagi tidur, Ma. Nurul lagi main di rumah sebelah!”

“Maaf, Ma, ulun bertanya,” ujar perempuan setengah baya itu memberanikan diri.

“Pengayuh yang Pian cari sudah ketemukah?”

“Belum!”

“Belum?” tanyanya keheranan, “Lalu pakai apa pian mengalurkan jukung?”

“Pakai papan yang ada di jukung!” kata perempuan tua itu menjawab dengan enteng.

Perempuan muda itu tak bisa mengomentari lagi pengakuan mertuanya.

Baginya, mertuanya tak habis akal. Memang, setiap jukung diberi lantai dari papan-papan yang disusun agar permukaannya rata. Jadi, jika diambil salah satunya untuk pengganti pengayuh, ya masuk akal.

“Kenapa diam?” perempuan tua itu menggugat menantunya yang masih mencoba memahami tindakan mertuanya itu.

“Kamu tidak usah bingung memikirkan aku. Aku masih bisa mengatasi masalahku,” katanya kemudian sambil mencuci rantang dan gelas bekas bekal makan minumnya di atas jukung.

“Aku jangan dilarang untuk menjalani apa yang aku sukai. Aku mengayuh jukung dan mengaluri sungai dari kampung ke kampung untuk jualan bukanlah sekadar mencari rezeki. Aku mengayuh jukung karena memang aku mencintai pekerjaan ini. Sejak Anang suamimu masih dalam kandungan, aku sudah mengaluri sungai-sungai di kota ini. Jukung ini adalah jiwaku. Sungai ini adalah ruhku. Jadi jangan dipisah aku dengan jukung dan sungai ini. Apa pun cara kalian agar aku tak menarik jukung, tidak akan mampu menghalangiku.”

Astagfirullah hal azim!

Perempuan muda  itu beristigfar dalam hati. Dia tiba-tiba takut dan terpukul dengan kalimat terakhir dari ucapan mertuanya. Dia tidak tahu maksudnya, apakah mertuanya menduga dia dan suaminya sengaja menghalang-halanginya untuk menarik. Apa mertuanya menduga dia atau suaminya yang sengaja menghilangkan pengayuh itu.

“Tolong jangan pisahkan aku dengan jukungku!”

Kembali terdengar suara tersedak dari mertuanya. Tampak ada guliran air mata mengalir di pipi perempuan tua itu.

Perempuan muda itu pun bergegas balik badan. Dia tak enak hati lagi dekat dan memandang wajah mertuanya. Dibawanya kantong plastik berisi kue masuk ke rumah. Sejenak kemudian, saling sunyi saling sepi.

 ***

 Malam itu, ketika suaminya sedang beristihat, setelah makan malam, beberapa saat setelah pulang dari kerja, diceritakannyalah oleh perempuan muda itu apa yang diomongkan mertuanya tadi siang. Alasan yang telah dikemukakan oleh mertuanya tadi siang betul-betul mengusik nuraninya. Dia berharap suaminya bisa mengerti dan tidak lagi mengusik apa yang dilakukan oleh ibunya.

“Aku mengerti apa yang telah diungkapkan mama padamu,” kata lelaki itu menanggapi apa yang disampaikan istrinya.

“Tapi, aku berharap mama juga mau mengerti maksud baikku melarang sidin menarik!” tukasnya selanjutnya.

Perempuan muda itu juga menceritakan kepada suaminya bagaimana kecerdikan mertuanya mencari pengganti kayuh untuk mengalurkan jukungnya.

“Mama memang keras kepala!” kata lelaki itu sambil geleng-geleng kepala.

Lelaki itu kemudian mengambil sebatang rokok dari bungkusnya. Diletakkannya di bibirnya. Ujung rokok itu pun disulutnya. Sejenak dia isap dalam-dalam. Sejenak berikutnya dia embuskan asapnya. Matanya menatap dinding-dinding rumahnya seperti ada yang melintas dalam pikirannya.

Lelaki itu berdiri. Sambil terus mengepulkan rokoknya, dia pun melangkah ke luar rumah menuju lanting.

Perempuan muda itu tampak tersenyum. Dia maklum dengan kebiasaan suaminya. Setiap malam, setelah makan, suaminya selalu menemui ibunya dan seterusnya duduk-duduk di pelataran lanting, menghabiskan rokoknya dan sambil menikmati fantasi sungai pada malam hari. Apalagi bila bulan bulat bersinar. Langit yang terang menimpakan cahayanya ke permukaan sungai. Seperti ada cahaya yang melindap dari dalam sungai. Indah sekali. Suaminya itu bisa berlama-lama menikmatinya. Dan ketika ngantuk sudah mulai menuntut, baru suaminya kembali balik ke rumah.

“Aku berharap mama tidak memaksakan diri lagi mengayuh jukung,” kata lelaki itu sambil menutup tirai kelambu dan merebahkan diri di samping istrinya.

Pian mengajak mama bicara lagikah tadi?” tanya perempuan muda itu sambil mengalungkan tangannya di dada suaminya.

Tak ada sahutan dari lelaki itu.

Yang terdengar adalah suara dengkur.

Lelaki itu rupanya langsung tertidur.

Sepasang manusia itu tak sempat mengucap salam kepada malam.

Yang tertinggal hanya lelap dan gelap.

 ***

 Pagi datang lagi. Rutinitas pagi mulai lagi. Setiap orang mulai mengisi tepi-tepi sungai, di batang-batang, atau pelataran lanting. Mereka mandi, mencuci, atau buang air, sambil bercengkrama, berdendang, atau sekadar bergumam. Semua gembira. Semua suka cita. Setiap pagi adalah awal hari yang memiliki harapan.

Namun, ada satu orang yang tiba-tiba terdiam. Lelaki itu. Ketika duduk di balik jendela sambil mengisap rokok, dia terkejut karena tak menemukan jukung itu menambat di sisi lanting. Sekali ini, lelaki itu seperti terperanjat. Rokok yang baru seseguk dia isap langsung dia lempar tak tentu arah. Matanya liar.

Ding …, Ading..! Imar.., Imar…!” teriak lelaki itu memanggil-manggil istrinya sambil lari menuju lanting.

Perempuan yang dipanggil itu pun terkejut. Dia langsung berdiri mencari arah suara. Sementara, tangannya mengangkat kembali anak yang sedang dimandikannya.

“Ada apa, Kak? Kenapa teriak-teriak?”

“Mama mana, mama mana, Ding?” tanya lelaki itu kepada istrinya.

“Mama? Sudah berangkat jualan!”

“Berangkat? Pakai jukung itu?”

“Iya, Kak. Kan setiap pagi juga begitu!”

“Tapi kan tadi malam mama sudah setuju untuk tidak menarik lagi,” kata lelaki itu. Tampak kegelisahan di wajahnya.

“Memang, ada apa, Kak?” perempuan itu pun jadi ikut bingung.

 “Ayo kita susul mama. Jukung itu cepat atau lambat pasti karam …!”

“Akan karam? Memangnya ada apa dengan jukung itu, Kak?”

“Nanti kujelaskan. Yang penting, kita cari mama!” tegas lelaki itu.

Wajah lelaki sudah pucat pasi. Begitu juga wajah perempuan muda itu, terlihat sirat kebingungan .

Tak ada lagi kecerahan pagi itu. Semua mencampur menjadi redup. Ada nada kekhawatiran tergambar dari ronanya. Ditariknya tangan anak perempuannya sambil tetap menggendong anak lelakinya. Dituntunnya pulang ke rumah.

Beberapa orang yang berada di batang terdekat ikut memperhatikan kepanikan suami istri itu. Mereka pun bertanya ada apa. Tapi, satu pun tak dijawab oleh lelaki itu. Mereka hanya bisa menduga-duga tanpa tahu ada apa.

Sementara itu,  lelaki itu bersegera melambai klotok yang sedang melintas di depannya. Dengan hanya menggunakan sarung dan tanpa berpakaian, dia langsung meloncat ke dalam klotok. Dia minta kepada pengemudi klotok untuk memacu dengan cepat dan mengikuti petunjuknya.

Lelaki itu ingin menyusul ibunya. Dia akan mengikuti jalur sungai yang sering dilewati ibunya dengan perahunya. Dia akan mencari ibunya. Dia berharap tak terjadi apa-apa dengan ibunya.

Perempuan muda itu hanya bisa diam. Kedua buah hatinya didekapnya erat. Di kepalanya masih berkecamuk pernyataan suaminya bahwa cepat atau lambat jukung itu akan karam. Ada apa sebenarnya dengan jukung itu? Kembali pertanyaan itu menyergap batinnya.

Dari balik jendela, dilihatnya suaminya menaiki klotok itu. Mata suaminya menatap ke arahnya, seakan pamit dan minta doa. Perempuan itu pun segera menyimpan kesalnya. Dia pun melepas keberangkatan suaminya mencari ibunya hanya dengan tatapan mata. Termasuk tatapan dari mata anak-anaknya.

Perempuan muda itu terus menanti. Sampai menjelang siang, saat matahari sudah mulai berjarak dengan bumi. Saat permukaan sungai sudah mulai memantul cahaya perak. Ketika mulai berserak perahu dan orang-orang yang melintas di atasnya. Saat begini, biasanya mertuanya sudah pulang. Namun, tak ada bayangannya sekali pun. Begitu juga bayangan suaminya yang sedang mencari. Perempuan muda itu semakin resah hatinya.

Menjelang zuhur, kedua anak perempuan muda itu sudah tertidur. Matahari sudah mendaki puncak langit. Bayangan perak di permukaan sungai sudah berganti dengan siluet emas. Dari balik jendela, tiba-tiba dia melihat suaminya bersama beberapa orang sedang merapat ke lanting. Mereka masih menggunakan klotok tadi pagi. Tampak mata suaminya mencari-cari dirinya.

Perempuan muda itu pun berdiri dari duduknya dan berlari memburu suaminya. Lelaki itu sudah berdiri di pelataran lanting. Sarung yang dikenakannya basah kuyup. Badannya pun basah. Terlebih-lebih, matanya, mata lelaki itu sembab. Tampak ada bekas guliran air mata.

“Kak, mama bagaimana, Kak?” tanya perempuan muda itu kepada suaminya sambil memegang kedua tangannya.

Lelaki itu menatapnya tak berkedip, tapi mulutnya seolah berat bergerak.

“Kak ..!” pinta perempuan itu lagi dengan memelas.

Ding, maafkan aku!” lelaki itu akhirnya bicara.

“Kami tadi hanya menemukan jukung yang karam! Tepat di tengah sungai Barito”

“Mama …?”

“Tak ada …!”

“Jadi …?”

“Belum tau! Kita berdoa saja!”

“Kak, mengapa jukung itu sampai karam?” selidik perempuan muda itu sambil berisak.

“Kenapa, Kak?” tanyanya mengulang sambil mengoyak pundak suaminya.

“Aku yang salah, Ding!”

Jukung itu, sebelum subuh tadi, aku bolongi lantainya …”, jawab lelaki itu terbata sambil meraih bahu istrinya.

Kedua makhluk itu pun berangkulan. Mereka saling menghambur tangis. Siang mulai memijar. Udara kering. Sungai tiba-tiba hening. Tak ada suara apa-apa lagi kecuali isakan.

***

 Di sebuah tempat, di kesunyian.

Seorang perempuan tua. Bajunya terkoyak. Sarung yang menutup bagian bawahnya sobek di sana sini. Tubuhnya basah. Kulitnya mulai membiru. Sebagiannya tampak beberapa goresan seperti terluka. Kakinya, tangannya, dan wajahnya. Rambutnya berserak. Ada bagian seperti terserabut.

Perempuan tua itu duduk beringsut. Lunglai.

Dia menatap dengan mata lelah sebuah gundukan tanah beku.

Dengan lemah, kedua tangannya mengelus-elus permukaan gundukan tanah itu. Ujung-ujung jarinya sesekali mengorek-ngorek.

Kedua bibir perempuan itu seperti hendak membuka.

Pelan.

“Maafkan ulun, Bang!’

Suaranya datar. Samar terdengar.

“Maafkan ulun tak bisa menjaga amanat Pian!”

Ulun tahu, Pian pasti kecewa mendengarnya.”

Suara perempuan tua itu makin  menghiba. Matanya dingin menatap gundungan tanah di depannya.

“Bang, Pian masih ingat dengan jukung kita? Jukung yang sering kita gunakan berdua ke mana-mana?” tanya perempuan itu seakan sedang berdialog dengan seseorang.

Matanya mulai tajam menatap.

Jukung itu memberi hidup bagi kita, Bang!  Dengan jukung itu Pian bisa mencari nafkah untuk kelangsungan hidup kita dan di jukung itu pula kita menjalani lebih banyak waktu hidup.”

“Dan ketika Anang anak kita lahir, di jukung itulah waktu kita habiskan untuk membesarkannya!”

“Yang paling kuingat, di jukung ini pula Abang meninggalkan kami!”

“Ketika itu, Abang sesak nafas. Aku pikir Abang masuk angin biasa. Namun, ternyata sesak nafas itu yang mengantarkan Abang pergi …”

Mata perempuan itu mulai sembab. Gundungkan tanah di depannya pun seperti mulai berair.

“Abang benar-benar pergi! Abang telah meninggalkan aku dan Anang yang masih kecil!”

“Satu hal yang selalu kuingat. Di setiap kesempatan Abang selalu bilang, jaga dan pelihara jukung ini!”

Jukung inilah yang akan menghidupimu kelak, kata Abang!”

Perempuan tua itu menarik tangannya dan mengusap pipinya yang mulai basah.

“Bang, jukung yang pian titipkan pada ulun tak bisa lagi ulun pertahankan. Jukung itu telah karam, Bang!”

“Maafkan ulun, Bang!”

Sekarang air mata perempuan itu sudah benar-benar menganak sungai.

“Ulun tidak kuat lagi, Bang!”

“Izinkan ulun hendak menemani Pian, Bang!”

“Izinkan, Bang!”

 Langit tiba-tiba sengit. Awan beradu. Cahaya yang sebelumnya terang berangsur muram. Guliran-guliran air mulai tumpah dari langit. Menyiram pelan lantai-lantai bumi.

Tempat kesunyian itu tetap sunyi.

                                                                           Banjarmasin, 28 Mei 2008

   

 Catatan :

Cerpen ini menempati urutan 8 pada Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Depdiknas bekerjasama dengan Majalah Sastra Horison

 

 


 

[1]   sebutan lain untuk mushala atau surau

[2]  rumah tinggal terbuat dari kayu yang diapungkan di sungai dengan berandal pada kayu glondongan dan  diikat pada tepi sungai aar tak dibawa arus.

[3]   semacam topi berukuran lebar seukuran tudung saji yang terbuat dari daun pandan kering

[4]   perahu besar tak bermesin yang terbuat dari kayu dengan kapasitas muatan yang lebih banyak

[5]   perahu kecil atau besar yang dijalankan dengan mesin

[6]   menjalankan usaha dengan menggunakan alat transportasi

[7]   kata sapaan untuk orang lebih tua atau dituakan

[8]   semacam lantai yang berandalkan batang-batang kayu glondongan yang diapungkan tempat warga melakukan kegiatan MCK

[9] kata sapaan untuk orang ketiga yang lebih tua atau dituakan

[10] kata ganti orang pertama untuk berbicara dengan orang lebih tua atau dituakan

[11] sama dengan -nya, kata ganti orang ketiga

[12] semakna dengan ‘dong’

[13] semakna dengan ‘mumpung’

[14] kependekan dari kata ‘Ading’ yang berarti adik, biasa digunakan sebagai kata sapaan suami kepada istrinya

[15] kata ganti orang kedua yang diucapkan kepada orang yang seusia atau lebih muda.

[16] Semakna dengan ‘sakit’, penggunaan yang mendampingkan dengan kata sakit dimaksudkan untuk penegasan

[17] istri

[18] orang tua

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s